Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Saya Khawatir


__ADS_3

Maaf ya aku baru update lagi, aku cuma mau kasih tau kalau setiap awal bulan 1-3 hari aku bakalan ambil libur guys, karena emang dapet jatah 3 hari libur dari NT. Nah kalau akhir bulan biasanya aku up banyak. Ya begitulah guys. Aku mau up satu chap dulu ya btw, nanti kulanjut lagi soalnya mau update yang lain. Happy reading~



"Pipi kamu berdarah," ucap Agam seraya menatap pipi Alana yang memang terdapat luka di sana.


Agam sedikit menjauhkan tubuhnya lalu mengambil selembar tisu basah dari tas pinggangnya dan mengusapkan perlahan di wajah Alana dengan hati-hati. Perlahan, mulai dari dahi, hidung, dagu, hingga kedua pipinya dia usap secara bergantian.


Dengan teliti dia membersihkan luka itu dari wajah cantik Alana. Tidak terlalu dalam tetapi cukup banyak darah yang merembes dari sana. Rasanya mungkin tidak sakit, tapi Agam yakin itu pasti perih sekali.


Alana nampak salah tingkah sendiri, dia berpikir terlalu jauh jika Agam akan menciumnya. Tetapi pria itu hanya membersihkan wajahnya, sungguh semoga saja Agam tidak bisa melihat pipinya yang kini nampak panas dan merona.


Kenapa sih manusia yang satu ini selalu saja membuat Alana bingung dengan sikapnya? Tidak bisa ditebak akan kemana, dia melakukan apapun secara spontan tanpa bisa ditebak lebih dulu. Tangan Agam terus bergerak di sekitar wajah Alana meski gerakannya kaku, rasa hangat yang menjalar itu mampu meringankan rasa sakit dan perih yang terasa di wajahnya.


"Awwww, sakittt, Kakak!!" Protes Alana saat Agam mengusap tepat pada luka yang terbuka. Walaupun Alana meringis kesakitan, tapi Agam tidak menghentikan aktivitasnya membersihkan tanah-tanah itu dari beberapa bagian tubuh Alana.


Bukannya dia kejam, tapi kalau dibiarkan luka itu akan infeksi dan itu hanya akan memperparah luka Alana. "Kakak bisa gak sih mikirin aku kesakitan?"


"Kamu bisa diam, tidak? Kalau tidak diobati nanti infeksi!" Balas Agam.


Alana kembali terdiam, beberapa menit berlalu hingga kini pandangan Agam beralih pada tangan Alana yang terluka. Agam tidak tau itu karena apa, luka itu cukup dalam dan sepertinya Alana baru sadar jika tangannya terluka.


"Jatuh terus," gumam Agam seraya membersihkan sisa-sisa tanah yang basah itu. Suara itu nampak pelan, namun dalam. Membuat jantung Alana berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Gak cukup luka yang tadi pagi? Mau tambah berapa lagi?" Tanya Agam yang kini menatap Alana seolah memberikan seluruh atensinya pada gadis yang ada di hadapannya ini.


"Saya khawatir," lanjut Agam.


"Maaf," katanya lirih. Alana hanya Bisa menunduk dan mengulum bibirnya sendiri, sembari mengamati perlakuan Agam yang manis. Jarang-jarang Agam yang dingin bisa bertindak seperti ini. Bahkan kepada Alana, yang rasanya sangat Agam abaikan sejak awal. "Gam!"


Suara Anggara memecahkan keheningan mereka. Fokus Alana teralihkan pada Anggara yang muncul dari arah belakang sana. Anggara datang menghampiri Agam dengan setengah berlari.


"Alana, kenapa bisa sih?" Tanyanya saat melihat Agam membersihkan tangan Alana. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Dalam hati dia salut, Ketua OSIS yang tidak tersentuh itu bisa berlaku baik kepada Alana yang notabenenya seseorang yang mengajaknya berdebat di hari pertama MOS.


"Kenapa, Gam? Kenapa dia luka-luka gitu?" Tanya Anggara yang tak mendapat respon dari Alana.

__ADS_1


"Jatuh," jawab Agam singkat sembari melipat tisu kotor yang dia gunakan tadi.


Anggra lalu melihat arlojinya. "Udah hampir jam 11, kita harus keluar dari sini sekarang, sebelum mereka nyusul ke sini.


Agam mengangguk, lalu menggandeng tangan Alana berjalan, tetapi Alana berjalan tak nyaman, dia bahkan terseok-seok saat menyelaraskan langkah dengan kedua kakak kelasnya itu.


Merasa Alana tidak bisa berjalan dengan baik, Agam menghentikan Langkahnya, disusul dengan Anggara yang juga mendadak berhenti.


Alana meringis dan mengaduh tanpa suara. Gadis itu memilih menggigit bibirnya sendiri dari pada harus berteriak. Setelah itu Alana menghela napasnya. Dia ingin menangis sebenarnya, belum lagi napasnya yang sesak. Dia ingin bertemu Alano sekarang.


"Sakit?" Tanya Agam yang dijawab dengan satu anggukan oleh Alana. Tanpa di duga sebelumnya, Agam berjongkok di depan Alana. Alana yang tidak tahu maksud Agam sontak mengerutkan dahinya. Apa maksud Agam berjongkok di depannya?


"Naik," titahnya, tapi Alana tidak langsung menurut. Apa maksudnya Agam akan menggendongnya hingga sampai di villa? Tidak, tidak. Ini merepotkan.


Agam sudah menunggu beberapa detik menyediakan punggungnya sebagai tempat Alana bersandar tapi gadis itu malah menggelengkan kepalanya tegas. "Aku bisa jalan sendiri kok, Kak."


"Ini perintah, naik!" Tegas Agam. Bukan perhatian juga, tapi dia sudah berjanji pada Alano kalau akan membawa Alana dalam keadaan baik-baik saja. Wajahnya sudah penuh luka, sekiranya dia masih bisa membuka matanya agar Alano tidak terlalu khawatir.


"Naik, aja, Na. Perjalanan Kita masih cukup jauh, kaki kamu gak mungkin buat jalan selama itu," ucap Anggara meyakinkan Alana, membuat Alana menurut dan segera naik di punggung Agam.


Mereka bertiga pun berjalan menyusuri jalan setapak di bawah gelapnya malam. Hening, hanya ada suara derap langkah mereka dan suara binatang malam yang menemani mereka berjalan. Anggara fokus dengan tanda-tanda yang dia buat sebelum dia menemukan Alana. sementara Agam masih enggan membuka suaranya.


"Kak," panggil Alana kepada Agam. Agam sebenarnya mendengar, tapi dia memilih untuk diam saja. Dia tidak suka bicara banyak hal sebenarnya.


"Kak! Denger gak sih?" Kesal Alana, bahkan mulai lagi ini Alana. Padahal tubuhnya pasti sedang remuk semua, tapi masih bisa mengomel.


"Hm?"


"Aku berat ya?" Tanya Alana, basa-basi saja sih. Tapi sejujurnya Alana memang takut kalau Agam merasa berat karena menggendongnya.


"Menurut kamu?"


"Berat," jawab Alana seraya menaruh dagunya di bahu Agam.


"Ya sudah."

__ADS_1


"Jadi aku berat beneran, ya?" Tanyanya lagi.


"Gak."


Kedua alis Alana saling bertaut. Bagaimana bisa Agam berubah lendapat dengan cepat? "Hah? Tadi katanya iya? Yang bener."


Ketua OSIS-nya itu tidak segera menjawab. Agam terdiam sebentar, kemudian sebelum Alana melayangkan protes, dia segera menjawab, "Gak seberat rasa khawatir saya."


Astaga! Entah Anggara mendengar atau tidak yang jelas jantung Alana ingin mencuat keluar dari tempatnya saat ini.


Di sisi lain, Alano dan Aiden sedang menunggu di ujung jalan yang sudah mereka sepakati untuk menunggu Agam, Anggara dan Alana. Jujur ini Alano tidak bisa tenang. Bagaimana bisa tenang, jam sudah menunjukkan pukul 23.45.


Agam mengatakan kalau tengah malam tepat mereka tidak ada, mereka harus menyusul dan itu terjadi sesuatu pada mereka.


"Anjing!" Umpat Alano.


"Kenapa?" Tanya Aiden.


"Harusnya gua ikut, udah jam segini. Gimana keadaan Alana, dia ada asma!" Alano mencoba menenangkan dirinya sendiri. Rasa takutnya menjalar kemana-mana, bahkan dia belum makan sejak tadi hanya karena mengkhawatirkan Alana.


"Lu sabar, kita tunggu. Agam pasti tepatin janjinya. Dia pasti bawa Alana kembali. Lu tenang, masih ada 15 menit lagi."


Alano masih berusaha positif thinking, meskipun dia tidak bisa berpikir positif jika sudah seperti ini. Ada banyak ketakutan dalam diri Alano. Apalagi mengingat pernah hampir kehilangan Alana beberapa bulan lalu.


Seharusnya dia bisa menjaga Alana lebih baik lagi, seharusnya dia tadi berada di samping Alana terus. Rasanya sebagian dari diri Alano menghilang begitu saja.


Athena dan Celine berusaha memberikan beberapa makanan namun Alano tak menyentuhnya sama sekali. Dia malah mondar-mandir tidak jelas. Jujur dia benci khawatir begini tapi merasa tidak berdaya.


"LAN! Itu mereka," tunjuk Aiden saat melihat 3 orang itu muncul dari kegelapan.


Melihat itu Alano berlari dan mendekat pada Alana yang kini turun dari gendongan Agam. "Alaaann!!"


Tanpa menjawab Alano langsung memeluk Alana dengan erat, Alana harus tau kalau ada banyak kekhawatiran yang Alano rasakan sekarang. "Bisa gak jangan bandel?"


Meskipun dia kesal tapi dia tidak benar-benar marah sebenarnya karena terus menciumi puncak kepala Alana, membuat Alana mengeratkan pelukannya pada Alano. "Maafin Ana ya, Alan?" Ucap Alana dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Udah, bawa masuk dulu. Dia syok," ucap Agam dingin dan melewati mereka begitu saja."


Anggara yang melihat itu melengkungkan senyumnya, nahkan memang Agam ini entah menyadari perasaannya atau tidak, tapi dia nampak berusaha menyangkal, padahal sedari tadi Anggara memperhatikan Agam yang sengat khawatir saat Alana terluka.


__ADS_2