
Setelah acara api unggun selesai Alana memilih untuk tidur di kamar bersama teman-temannya. Karena tidak enak kan kalau dia harus tidur di kamar Alano dan yang lainnya. Mana laki-laki semua. Dia tidak nyaman pastinya.
Namun sepertinya keputusannya kali ini salah lagi. Terbukti yang lain sudah terlelap tidur, Alana malah tidak bisa tidur. Karena bosan akhirnya dia memilih untuk keluar villa.
Niatnya sih ingin mencari angin malam, tapi matanya tiba-tiba mengarah pada sosok pria yang kini tengah duduk di kursi taman sembari bersidekap dada.
Tatapannya lurus ke depan, entah apa yang dia pikirkan. Tapi itu mampu membuat Alana penasaran dan langsung menghampiri Agam Iya itu Agam.
Agam menghela napas dan menunduk sedikit, tapi sorot matanya tiba-tiba menangkap sepasang kaki entah milik siapa dan berada di depannya.
"Alana?"
Alana tak menjawab, dia hanya diam lalu duduk semaunya tanpa meminta izin di samping Agam. Membuat Agam lagi-lagi menghela napasnya karena bingung juga harus bersikap bagaimana.
"Tidur."
"Tidur bukan aturan, kan? Jadi kalau mau ke sini juga boleh asal gak keluar villa," jawab Alana santai sembari merenggangkan tangannya ke depan.
Tubuhnya ini memang tidak enak, belum lagi luka-luka kecil di wajahnya masih terasa sedikit perih walaupun sudah setengahnya mengering.
"Jadi kenapa menemui saya?" Tanya Agam to the point.
"Aku gak ada loh mau nemuin Kak Agam. Aku keluar Villa mau cari udara malam dan kebetulan ada Kakak. Daripada Kak Agam kesambet mending aku temenin," jawab Alana beralasan.
"Saya bisa menjaga diri saya sendiri."
"Adakah aku bilang mau jagain Kakak? Dih GR," ucap Alana membalikan kata-kata Agam tadi pagi saat memberikannya segelas teh.
Agam terdiam, akan rumit kalau dia meladeni Alana yang memang senang berdebat, tidak akan ada ujungnya. Alana yang merasakan perubahan suasana yang Agam berikan, kini menatap ke arah pria itu.
"Kak Agam kenapa mau nolongin aku malam itu?" Tanya Alana. Dia tidak bisa saja kalau begini hanya diam saja. Lagi pula mereka sudah saling mengenal.
"Kewajiban."
"Padahal Kak Agam bisa berusaha buat gak peduli. Tapi oke, aku mau bilang makasih sama Kak Agam karena nolongin aku kemarin di hutan. Aku mau mau ubah pikiran aku yang kemarin, yang bilang kalau kakak gak ada perasaan, ternyata Kakak itu baik."
__ADS_1
Degh ...
Mendengar itu kalau boleh jujur membuat Agam sedikit salah tingkah. Meskipun pada kenyataannya kini Agam hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya. Membuat Alana sedikit mencibir dalam hatinya karena pria ini begitu arogan.
Tapi berhubung Agam menyelamatkannya kemarin, dia harus menahan rasa julidnya itu. Padahal dia tidak suka kalau sedang bicara tapi diabaikan. Bikin emosinya berkobar saja.
"Kak Agam emang gini ya?" Tanya Alana seraya memperhatikan wajah Agam lekat dari samping.
"Bagaimana?"
"Ya settingannya begini dari lahir, datar aja gitu heran. Padahal aku tadi minta maaf loh terus aku bilang kalau kakak itu baik, tapi malah kaya patung. Kakak itu–"
"Kamu bisa tidak jangan buat kepala saya pusing, ocehan kamu itu penging di telinga saya," ucap Agam jujur.
Alana yang merasa di hina memajukan bibirnya. Ya lagian dia bicara baik-baik tapi tidak ditanggapi. Siapa coba yang tidak kesal kalau diabaikan begitu oleh lawan bicaranya. Apalagi Alana memang sedikit kesal pada pria yang ada di hadapannya ini.
"Jadi mikir orang kaya kakak ini bisa jatuh cinta gak sih?" Tanya Alana yang tiba-tiba mengarahkan wajahnya pada Alana.
Alana yang melihat itu sedikit kaget, jarak mereka ini begitu dekat. Membuat Alana berpegang erat pada ujung kursi. Agam menatap Alana lekat. "Gimana?"
"Y-ya maksudnya kan Kakak ini banyak yang suka ya. Nah aku penasaran aja kakak pernah jatuh cinta atau engga. Secara wajahnya datar gini," kata Alana terang-terangan.
"Kak!"
"Apa?"
"Pernah gak?" Tanya Alana. Entah kenapa dia malah penasaran dengan jawaban Agam yang satu ini. Bukan karena Alana suka, tapi ya dia hanya ingin tau saja gitu loh..
"Pernah."
"Oh ya? Kapan?" Tanya Alana yang semakin penasaran.
"Sekarang."
"Hah, iyakah? Emang Kakak suka sama siapa?"
"Kamu."
__ADS_1
Beberapa detik Alana terpaku mendengarkan kata-kata dari Agam. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan Agam sadar kalau Alana kini sedang deg-degan.
Apalagi wajahnya kini nampak kaget dan pucat. Kenapa terlihat menggemaskan sekali gadis ini di mata Agam. Namun berbeda dengan Alana yang kini masih mencerna kata-kata Agam. "Hah?"
Maksud Agam apa dengan mengatakan kalau dia menyukai Alana. Bukan-bukan, tapi kenapa dia menyebutkan kata kamu saat Alana bertanya siapa orang yang dia cintai. Ini Agam tidak mengingau, kan?
"Cewek aneh!" Ucap Agam.
Alana masih mengerjapkan matanya, sementara Agam kini menjauhkan wajah dan mengambil sesuatu dari saku celananya. Terlihat kotak rokok dan korek di sana. Membuat Alana mengernyitkan dahinya.
"Kamu adalah orang yang bisa membuat saya bicara panjang lebar dan orang yang berhasil melakukannya adalah orang yang spesial di hidup saya," ucap Agam, sepersekian detik berikutnya pria itu menaruh rokok di ujung bibirnya dan menyalakan korek.
Alana masih terdiam saat Agam mulai menyesap puntung rokok itu dan menghembuskan ya ke udara.
"Jangan ngerokok ih, Kak!" Entah ada keberanian apa dia langsung menggenggam rokok itu tanpa takut panas, namun ternyata itu membuatnya meringis karena telapak tangannya terbakar.
Agam yang melihat itu kaget, bukan karena rokoknya tapi sudah pasti tangan Alana terbakar. Dengan sigap dia membuka telapak tangan Alana dan menyingkirkan rokoknya dari sana. "Ceroboh, gegabah!"
"Jangan ngerokok, Kak. Papa bilang gak baik buat kesehatan."
Agam tidak mendengarkan itu, dia langsung menarik Alana ke ruangan panitia. Mau tidak mau Alana menurut saja, daripada Agam merokok, kan. Tentu saja Agam membawa Alana untuk diobati lukanya.
"Ini ketiga kalinya saya obatin luka kamu, mau seberapa banyak lagi?" Tanya Agam yang kini menatap Alana sembari mengoleskan salep pada telapak tangannya.
Alana terdiam, memangnya dia salah ya? Perasaan dia melakukan hal yang benar. Dia pernah melakukan itu juga pada ayahnya kok. "Kalau tangan itu bisa diobatin pake salep kaya gini tapi kalau paru-paru atau jantung kakak rusak bisa bahaya."
"Kamu suka sama saya?" Todong Agam.
Alana yang ditodong pertanyaan begitu jadi gelagapan. "E-enggak, kok! Orang itu bener."
"Kenapa jantung kamu berdebar lebih kencang?"
Alana mengerjapkan matanya berkali-kali, jadi Agam bisa mengetahui debaran jantungnya? Tapi bukan berarti dia menyukai Agam, kan? Kenapa Agam malam menatapnya seperti ini, kan Alana jadi takut.
Perlahan Alana menarik tangannya untuk lepas dari genggaman Agam. Membuat Agam kini menatapnya datar. "Y-ya anggap aja rasa kemanusiaan karena kakak kemarin nolongin aku juga."
Agam mengigit bagian dalam bibirnya sesaat. Kalau ditanya soal perkataan Agam tadi di taman serius atau tidak. Biar dia perjelas, kalau dia hanya spontan saja. Kalau soal perasaan juga dia masih bingung. Namun mendapat jawaban dari Alana kenapa Agam jadi sedikit nyeri ya?
__ADS_1
"Kamu–"
"Kalian ngapain?" Suara serak itu mengintruksi mereka untuk menatap ke arahnya. Alana melihat itu memejamkan matanya erat, aduh kenapa sih Alano ada di sini?!