
Ospek telah selesai dan sekarang hari pertama Alana menjalani kehidupan sebagai siswa kelas 10. Aneh rasanya kembali ke sekolah seperti ini, tapi Alana pastikan kalau dia akan menjalaninya dengan baik. Meskipun ya dia tidak terlalu pintar seperti Alano tapi ya dia standard lah.
Alana duduk di meja kedua di ujung kiri kelas. Tidak bisa dia kalau duduk di depan, pasti akan mudah mengantuk. Kebetulan juga Talia satu kelas dengannya di X IPA 3. Jadi Alana tidak perlu bersusah payah lagi mencari teman yang satu frekuensi.
"Taliaaaaaa," teriak Alana saat Talia baru saja memasuki kelas.
"Anaaaaaaaa," balas Talia sambil setengah berlari ke arah Alana lalu mereka berdua pun berpelukan sambil loncat loncat tidak jelas.
"Untuk kita sekelas, aku pikir kita bakalan pisah," ucap Alana dramatis.
"Engga lah, gue sih yakin kalau kita pasti sekelas. Ayok duduk, gue bawa sesuatu." Talia menarik tangan Alana lalu mereka berdua pun duduk di bangku mereka. Tentulah mereka harus sekelas.
Talia mengeluarkan dua buah roti sandwich dan memberikannya satu pada Alana. Ya apapun sekarang mereka berdua berteman, tentulah mereka saling berbagi. Jadi meskipun sudah kenyang Alana menerimanya dengan senang hati lalu bercerita tentang banyak hal.
Ya apalagi kalau bukan soal di Villa, rasanya menceritakan hal-hal seperti itu untuk sekarang menarik karena memang ospeknya juga seru. Jadi sulit untuk dilupakan. Tanpa sadar, keseruan mereka mengundang atensi orang-orang di kelas.
Ada yang menatap senang, ada yang menatap tak suka ada juga yang nampak memperhatikan Alana dan Talia diam-diam. Bagaimana tidak, mereka sepertinya murid paling cantik di kelas ini. Tentulah menarik atensi siapapun.
Termasuk ...
"Hai." Seseorang menghampiri mereka. Tubuhnya tinggi tegap, kulitnya putih, rambutnya rapi dan juga mata hitam yang membuatnya terlihat kharismatik membuat Alana dan Talia langsung mengarahkan tatapannya pada pria itu.
"Iya?" Tanya Alana. Sementara Talia bengong karena seolah terhipnotis oleh ketampanan pria yang ada di sampingnya ini.
"Seru banget keliatannya. Kenalin, gua Bara." Pria itu mengulurkan tangannya melewati Talia yang paling terdekat dengannya, iya dia mengulurkan tangan pada Alana.
Melihat itu Alana membalas uluran tangan Bara dengan sedikit ragu. "Aku A—Alana."
Tidak lama karena setelah itu Talia langsung meraih tangan Bara dan memperkenalkan dirinya spontan. "Gue Talia, temen sebangkunya Alana. Hehehe."
Bara menundukkan kepalanya dengan sedikit mengernyitkan dahinya, tidak heran jiga karena sering sekali wanita bertingkah seperti itu di hadapannya. Hanya Alana saja yang terlihat biasa.
"Kamu gak ikut ospek atau—"
"Iya gua gak ikut ospek, kebetulan baru pulang dari amrik. Nice to meet you girl," ucapnya.
__ADS_1
"Wahhh pindahan dari Amrik?" Tanya Talia.
Bara mengangguk. "Hmmm, kerjaan bokap di sana."
Mendengar itu Alana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya dia tidak kepo juga sih pada pria yang ada di hadapannya ini. Biasa saja.
"Kita bisa temenan?" Tanya Bara.
"Bisa, bisa banget. Kalau mau ke kantin atau butuh temen kelompok, sama kita aja. Tenang, kita welcome kok. Iyakan, Na?" Tanya Talia dengan cepat.
Alana sedikit terkekeh, dia tidak tau harus membalas apa. Ya sebenarnya kurang nyaman juga dia berteman dengan pria. Tau sendiri Alano segarang apa. "Haah? Emm– iya iya bisa," balas alana pelan, pelan sekali.
"Oke bagus, seneng bisa kenalan sama kalian. Kalau gitu gua ke ruang TU dulu, ada urusan."
"Iya sana gapapa, kalau gak tau dari sini belok ke kanan, terus lurus, deket lapangan, nah di sana. Atau mau gue anter?" Tawar Talia.
Bara hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan sebagai tanda penolakan. Setelah itu baru lah dia meninggalkan Alana dan Talia yang duduk di bangku mereka.
Alana menghela napas lega, bukannya apa-apa. Aneh saja rasanya, tidak tau lah sosial energinya sedang tidak ada untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Berbeda dengan Talia yang nampak senang karena sudah dihampiri oleh pria jangkung itu.
"Siapa?" Tanya Alana.
"Bara. Ganteng, kan? Kayanya dia suka deh sama gue. Fix sih mulai sekarang lo harus bantuin gue, salah satunya nemenin gue buat deket deket sama dia," ucap Talia.
Alana menggelengkan kepalanya pelan, laku dia membuka tas dan mengambil buku karena bel sudah berbunyi dan guru pun sudah masuk. Ada-ada saja memang Talia ini.
.
.
.
Karena ini hari pertama sekolah, tidak ada mata pelajaran. Hanya pemilihan organisasi kelas dan juga jadwal piket. Alana bukan orang yang senang ikut keanggotaan begitu memilih untuk menjadi murid biasa saja. Memang apa enaknya? Hanya menyusahkan diri sendiri.
"Kenapa sih gak jadi sekretaris aja, wajah lo memumpuni," ucap Talia.
__ADS_1
"Gak minat."
"Padahal kalau—"
"Selamat pagi semua." Omongan Talia terputus saat beberapa orang memasuki kelas mereka.
Alana yang melihat ke sumber suara sedikit merasa kaget. Mungkin karena ada Alano di sana jantungnya jadi berdetak kencang, salah salah Alano ke sini karena ada urusan dengannya, kan malu.
Tapi ternyata tidak.
"Tidak perlu berkenalan lagi, Saya Agam, ini Alano, Anggara dan Aiden. Kami ingin mengajak kalian semua untuk bergabung dengan OSIS. Selain menjadi kepanitiaan dalam acara inti sekolah, OSIS juga membantu dalam hal memajukan sekolah seperti mewujudkan visi misi sekolah."
"Oleh karena itu bagi kalian yang berminat, bisa mengambil formulir sekarang dan dikumpulkan nanti saat jam pulang sekolah ke ruang OSIS," lanjut Agam sembari menaruh lembaran formulir di meja guru.
"Ada pertanyaan?" Kini Alano yang bertanya.
Mereka semua menggeleng. "Kalau begitu silahkan yang berminat bisa ambil ke depan," titah Aiden.
Beberapa siswa mulai maju ke depan, termasuk Talia. Tapi tidak dengan Alana, ikut organisasi kelas saja dia tidak mau apalagi yang lingkupnya lebih besar. Melihat itu Alano menghampiri Alana dan mengusap puncak palanya, membuat Alana mendengus sebal. Kan malu ya dilihat oleh teman sekelasnya. "Ihhh Kak Alan, malu!"
Alano yang mendapat panggilan 'Kak' itu sedikit terkekeh, ya gemas saja saat Alana memanggilnya dengan sebutan 'Kak' biasanya dia tidak mau. "Ikut."
"Gak mau, gak suka."
"Yaudah, jangan lupa makan siang. Obatnya juga," peringat Alano yang kembali ke depan setelah mencubit pipi Alana.
Kenapa ya Alana malu sekali apalagi satu kelas kini menatapnya. Begitu juga dengan Aiden dan Agam. Bedanya Aiden terang terangan gemas, sedangkan Agam stay cool. Walaupun ya gemas saja melihat interaksi antara Alana dan Alano. Kembar tapi tak sama. Yang satu ambisius, yang satunya lebih santai.
Namun tanpa sadar senyumnya sedikit terlihat, membuat Alana yang memang kebetulan menatap ke arah Agam entah kenapa meleleh hanya karena melihat Agam tersenyum. "Kalau gak senyum jutek, tapi kalau senyum kenapa kaya cowok novel sih?!" Batin Alana.
Tidak bisa nih begini, kenapa dia jadi salah tingkah sendiri sih hanya karena melihat senyum Agam? Sampai-sampai Talia dibuat keheranan karena Alana yang tidak bisa diam dalam duduknya. "Kenapa sih?"
"H-haahh, gapapa. Itu apasih lagi inget kemarin disenyumin beruang kutub," jawab Alana sambil cengengesan pelan.
"Beruang kutub?" Talia bergumam keheranan, tidak tau deh, temannya yang satu ini memang aneh bin ajaib. Entah kenapa juga bisa menjadi kembaran Alano yang super duper kalem begitu. Aneh tapi nyata.
__ADS_1