
Semua anggota OSIS berkumpul di lapangan, mereka bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Kemudian setelah mereka berbaris Agam menceritakan apa yang terjadi sekarang, mendengar itu Alano cukup geram, tapi tidak mungkin langsung marah saat ini juga.
"Peraturan nomor 2, jangan membawa masalah pribadi ke dalam ospek! Peraturan nomor 7, tidak boleh ada 1 orang pun yang bertindak berlebihan apalagi melakukan tindak kekerasan! Karena Celine melanggar, sesuai kesepakatan panitia, satu salah, semua salah!" Seru Agam seraya menatap barisan anggotanya.
"Loh, Gam gak bisa gitu lah! Ini urusan Celine!" Ucap salah satunya.
"Tidak dengar? Satu salah semuanya salah, satu dihukum, semua dihukum. Semua ambil jarak, kita push up lima seri!"
Semua orang mengambil jarak, mereka mulai mengambil posisi dan turun sebanyak 50 kali. Alana yang berada di pinggir lapangan terdiam. Ini dia menyebabkan semua orang dihukum kah? Bahkan ada Alano di sana.
Pandangannya fokus pada Agam, ternyata dia cukup adil. Bahkan dia menghukum dirinya sendiri, Alana kira dia hanya akan menghukum anggotanya, ternyata hukuman ini berlaku untuk dirinya sendiri. Dia kejam sih, tapi melihat ini kekejamannya sedikit hilang dari pandangan Alana.
Setelah menyelesaikan hukuman, Agam memberikan banyak wejangan dan juga peringatan untuk anggotanya. Mereka nampak menunduk dan mengikuti arahan Agam, tentu bermain-main dengan Agam mereka akan habis. Meskipun datar begitu Agam tidak main-main dengan ucapannya.
Selepas itu mereka dibubarkan dan beberapa panitia perempuan menghampiri Alana. Sebut saja namanya Athena dan Zahra.
"Kamu gapapa, kan?" Tanya Athena seraya melihat pergelangan tangan Alana yang memerah.
Alana mengerjapkan matanya dan menggeleng pelan. "Engga kok, Kak aku gapapa. Maaf ya, Kak karena aku kalian jadi dihukum."
"Kok kamu yang minta maaf, kami yang harusnya minta maaf karena membiarkan ini terjadi. Ayok kita obatin ke UKS, ini harus dikompress," kata Zahra.
Alana ingin menolak namun mereka menarik lembut lengan Alano, tapi ternyata di belakang sudah adala Alano dan kawan-kawannya. "Biar gua aja."
Setelah mengatakan itu Alano menarik pergelangan tangan Alana yang tidak sakit lalu mengajaknya untuk mengikutinya.
Athena dan Zahra Hanya terdiam, mereka membiarkan Alano mengambil alih Alana. Sementara Agam, Anggara dan Aiden mengikuti Alano dari belakang.
"Diapain tadi?" Tanya Alano tanpa menghentikan langkahnya dan menuju UKS.
"Gak diapa-apain," ucap Alana yang masih menunduk.
"Gak diapa-apain gimana, tangan lu sampe kaya gitu gak diapa-apain?" Kesal Alano.
"Yaudah sih jangan pake lu lu segala ke Ana," balas Alana kesal.
Alano menghela napasnya dan mendudukkan Alana di tepi brankar UKS. Aiden yang tadi sudah mengambil Es batu dan alat kompresan di ruang panitia, kini memberikannya pada Alano. "Yaudah maaf."
Alano mulai mengompres pergelangan tangan Alana, padahal Alana merasa biasa saja, tidak sakit juga. Ya sedikit sih tapi kan bukan luka yang besar? Sementara ketiga teman Alano menatap interaksi mereka berdua yang sangat romantis ini menurut mereka.
__ADS_1
"Lu beneran Alan, kan?" Tanya Aiden tak percaya.
"Gila baru kali ini gua liat lu kaya gini, Men!" Ucap Anggara seraya menepuk-nepuk bahunya.
Berbeda dengan Agam yang sedari tadi bersidekap dada di pinggir nakas seraya terus memperhatikan Alana. Gadis yang berani menentangnya, tapi di hadapan Alano nampak seperti anak kucing.
Alano hanya diam, tak menanggapi. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah Alana, kalau adiknya ini sampai kenapa-kenapa, dialah orang yang paling merasa bersalah di sini.
"Btw, lu diapain Celine dah?" Tanya Anggara pada Alana.
"Ya gitu," balas Alana pelan.
"Gitu gimana? Gua tau lu dicengkeram tangannya, tapi apa yang bikin dia kaya gitu? Pasti ada penyebabnya, kan?" Tanya Aiden.
Mendengar itu Alana jadi ingat sesuatu dan mengabaikan pertanyaan mereka. "Tunggu-tunggu. Alan ... "
"Apa, Na?" Tanya Alano yang masih fokus mengompres pergelangan tangan Alana.
"Cewek yang tadi calon pacar Alan? Yang marahin Ana itu? Serius itu calon pacarnya Alan? Kok Alan mau sih sama cewek kaya gitu?" Tanya Alana.
"Dia bilang apa?" Tanya Alano.
"Bilang jangan deketin Alan soalnya Alan calon pacarnya," jawab Alana.
"Jadi lu dilabrak gara-gara deket Alan? Gila si Celine. Masih aja obses sama Alan, kalau gak Alan sama si Agam," ucap Anggara.
"Kocak, gak kapok-kapok tu orang," gumam Aiden.
"Jadi dia calon pacarnya Alan?" Tanya Alana pada Anggara dan Aiden karena tak merasa mendapat jawaban dari Alano.
"Lu kan pacar Alan, kenapa tanya calon yang lain. Udah jelas lu pacarnya." Kali ini bukan Aiden dan Anggara yang menjawab, tapi Agam.
Alana menatap pria yang menatapnya datar, ya dia bicara karena geram mendengar pertanyaan Alana yang di luar akal sehatnya.
"Kalian kenapa masih salah paham sih? Alan belum kasih tau kalian ya? Oh atau Alan malu ya punya kem–"
"Dia adek gua, kembaran gua. Alana."
Agam, Anggara dan Aiden sontak membulatkan matanya tak percaya. Selama ini mereka tau kalau Alano memiliki kembaran, tapi mereka kira kembaran Alano itu laki-laki.
"Hah, bercanda lu?" Tanya Aiden.
__ADS_1
"Pernah gua bercanda?" Tanya Alano menatap ketiganya.
"Ya engga sih," jawab Anggara.
Aiden menatap Alana dan Alano secara bergantian. "Serius kembar? Kenapa beda banget muka kalian? Kenapa gua gak pernah liat fotonya di rumah lu? Kenapa lu gak pernah bilang punya kembaran cewek?"
"Panjang."
"Jadi ke rumah lu, kan? Jelasin di sana," ucap Anggara.
Alano hanya mengangguk. Anggara kini duduk di samping Alana, membuat Alana melirik sekilas ke arah Anggara. "Mau gua bantu, Lan?"
"Gak usah." Alano sudah tau nih gelagat Anggara, ini kenapa kemarin dia malas menjawab soal Alana, pasti adiknya akan jadi mangsa para predator sekolah ini.
"Sakit, Alana?" Tanya Aiden.
"Gak usah pura-pura baik karena aku adeknya Alan, kalau jahat ya jahat aja!" Ucap Alana.
"Kok jahat sih anjir," balas Aiden.
"Ya jahat, yang tadi ngurangin hitungan lari aku siapa kalau bukan kalian," kesal Alana, dia mengadu sih pada Alano. Biar saja, biar Alano tau kalau teman-temannya ini tidak punya hati.
Benar saja kan kini Alano menatap tajam pada Anggara dan Aiden. Ya tadi mereka bermain-main saja saat putaran pertama dan kedua tidak mereka hitung, alhasil Alana berlari sebanyak 17 putaran.
"Bercanda, Lan. Salam perkenalan. Lagian yang kasih hukuman kan si Agam, kenapa kita yang dibilang jahat, yakan?"
Alana hanya mengedikan bahunya. "Ayok Alan kita pulang."
"Tangannya masih sakit?" Tanya Alano.
"Yang dipake jalan kaki, bukan tangan, kan?" Tanya Alana berbalik. Alano berpikir sejenak, benar juga. Kenapa dia merasa bodoh sih.
"Yaudah ayok."
Alana turun dari brankar, setelah itu dia mendahului keempat cowok itu dan keluar dari UKS dengan dikawal keempat pria tampan itu. Mereka menatap Alana yang berjalan di depan mereka dengan pemikiran masing-masing.
Anggara menepuk pundak Alano. "Cantik banget adek lu, boleh lah–"
"Gak."
"Udah lampu merah aja, baru juga mau mengutarakan niat," ucap Anggara.
__ADS_1
"Gua gak akan biarin Alana sama salah satu dari kalian, paham?!" Tegas Alano.
Aiden dan Anggara mendesah pelan, posesif sekali Alano pada Alana, tapi tidak apa-apa. Berusaha kan tidak ada salahnya, kalau Alana menyukai salah satu diantara mereka mana mungkin Alano melarangnya.