Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Gara-Gara Jelly


__ADS_3


Sore ini Alana telah selesai mandi, tubuhnya kembali segar saat sudah berendam. Tentulah dia berendam air hangat, tubuhnya ini seolah remuk karena ospek menyebalkan tadi. Jadi dia memutuskan untuk memanjakan dirinya sekarang.


Alana menatap dirinya di cermin, ya suka saja melakukan mirror selfie, namun tiba-tiba suara berisik terdengar di telinganya.


Aaaaaaaargghttt, Lan! Lempar-lempar!


Woiii ahhhh ini gimana anjirrr!!


Lu diem di situ! Dieemm!!!!


Arghhhtt dia mendekat!!!!!


Alana menghela napasnya, pasti ini dari kamar Alano, kenapa sih mereka begitu berisik. Tapi Alana tak menggubris, dia kembali menatap dirinya di cermin sambil senyum-senyum. Sepertinya cocok untuk dia posting di Instagram.


"ALANAAA! ANAAAAAA!!!!" Teriak Alano dari dalam kamarnya.


Alana mendengus kesal, pasalnya ini mereka terus berteriak loh, berisik sekali. Alano lagi, kenapa dia berteriak seperti itu. Dengan kesal Alana menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar Alano yang sedikit terbuka.


"Ada apa sih Al–"


"AAAAAAAAARGHTTT MUSNAHIN ITU!" Teriak mereka secara bersamaan dari sudut kamar.


Alana mengernyitkan dahinya dan menatap objek yang dimaksud. Oh dia paham jadi ketiga pria itu sama seperti Alano yang takut dengan kucing? Bukannya membantu Alana malah tertawa.


Apalagi saat kucing itu kembali melangkah mendekati mereka dan membuat mereka kembali berteriak. "AAAAAAA KUCING SIALAN!!!!


"HAHAHAHAHA." Alana tergelak memegangi perutnya, sungguh ini lucu sekali. Katanya mereka paling ditakuti, serius?


"NAAAAAAA, AWASIN SI JELLY!" Pinta Alano.


Aduh perut Alana sakit melihat ini semua, tapi kasian juga mereka semua nampak sesak dan berkeringat dingin, perlahan Alana menggendong kucingnya dan menciumi Jelly. "Apasih sama kucing aja takut."


"Bawa keluar!" Titah Alano.


"Orang Jelly mau di sini kenapa sih, pelit banget. Yakan Jelly, kamu suka sama temen-temennya Alan? Mau main sama mereka? Boleh Kok." Dengan iseng Alana melangkahkan kakinya seraya mengulurkan Jelly pada mereka dan sontak membuat mereka kembali berteriak.

__ADS_1


"AAARRGGGHHTTT BUANG GAK!" Teriak mereka bersamaan.


"HAHAAHHAHAHA." Alana kembali tertawa.


"Na ... Please," pinta Alano dengan sangat kali ini.


"Oke oke, yaudah ayok kita makan, Jelly. Alan sombong banget emang gak mau main sama kita. Wlek!" Alana menjulurkan lidahnya pada Alano, setelah itu dia membawa Jelly keluar dan turun untuk menemui ibunya.


Di sisi lain mereka berempat bernapas lega, bagaimana tidak? Mereka sedang asik bermain PS dan makhluk itu tiba-tiba saja masuk menjilati paha Anggara, jelas mereka langsung menghindar. Sisi yang tidak pernah diketahui semua orang, mereka semua takut dengan kucing! Geli!


"Adek Lo sinting anjir!" Keluh Aiden.


Alano masih mencoba menetralkan napasnya, benar-benar deh Alana. Jatuh harga dirinya di depan adiknya sendiri. Dia sebenarnya bukan takut, tapi memang geli saja. Dulu ibunya juga sewaktu dia kecil memiliki kucing, Alano pernah mengajaknya bermain tapi dicakar dan sampai sekarang Alano tidak suka dengan anabul yang satu itu.


"Sumpah gak bisa tenang gua nginep di sini kalau ada makhluk itu," geram Anggara.


"Sumpah stress!!" Lanjut Agam.


"Ntar gua bilang nyokap dah," ucap Alano menenangkan mereka, padahal napasnya saja masih memburu, benar-benar kucing sialan.


Harga diri mereka benar-benar jatuh dihadapan Alana hanya karena seekor kucing. Hancur sudah kalau dia menceritakan atau melakukannya di sekolah.


"Seneng banget mukanya anak mama," ucap Abella dari sofa saat melihat Alana turun dari atas tangga.


Alana kembali tertawa dan mendekat ke arah Abella sembari membawa Jelly. "Masa mereka semua takut sama kucing."


"Mereka siapa?" Tanya Abella tak mengerti dengan ucapan putrinya.


"Itu Alan sama temen-temennya takut kucing, cupu banget. Masa mereka teriak-teriak waktu Jelly masuk ke kamar hahahaha puas banget Ana liatnya."


"Heh gak boleh gitu! Pasti kamu isengin, bener kan Mama?" Tebak Abella, dia tau kelakuan anaknya yang satu ini, pasti terjadi sesuatu di atas yang tidak dia ketahui.


"Engga, Ma orang Jelly mau kenalan sama mereka. Merekanya aja yang sombong, yakan Jelly?" Alana kembali menciumi kucing kesayangannya itu, bulunya yang putih dan matanya yang berwarna biru, ah cantik sekali kucingnya ini. Bisa-bisanya mereka takut dengan kucing cantiknya.


Abella menghela napasnya, kemarin Alana menjahili Alano, sekarang teman-temannya juga, tidak tau bagaimana cara menghadapi keisengan Alana ini. Terlalu nakal, Abella sampai pusing memikirkannya padahal baru beberapa hari Alana di sini.


Tak selang beberapa lama Alano dan teman-temannya turun dari kamar lalu menatap pada Alana yang tengah anteng memberikan makanan kucing berbentuk stik di tangannya. Langsung saja dia menghela napas. "Maaaaa ... "

__ADS_1


Abella yang mendengar panggilan Alano paham. "Ana, taro dulu Jellynya yuk," ajak Abella.


"Jelly lagi makan loh, Alan kenapa sih? Tadi di atas gak boleh, sekarang di bawah pun gak boleh. Nanti kucing Ana stress, di rumah Oma sama Opa Jelly boleh kemana-mana kok, dia bebas mau lari kemana-mana," protes Alana tak terima.


"Kalau kucingnya yang bebas Alan yang stress!!" Balas Alano tak mau kalah.


"Bodo amat! Kesel ah!"


"Kan ditaro sebentar gak akan stress, Sayang." Abella mencoba memberi pengertian pada Alana, susah nih kalau Alano dan Alana sudah bertengkar begini.


"Ishh ribet banget sih, Alan! Padahal Jelly gak ngapa-ngapain! Jahat! Tidak berperikekucingan!" Alana bangkit dari duduknya dan berjalan ke taman belakang. Kesal sekali dia pada Alano, mentang-mentang ada temannya dia jadi jahat pada Alana, pikirnya.


"Buang ajalah besok itu kucing!" Gerutu Alano.


"JANGAN AWAS AJA KALAU BERANI BUANG JELLY!" Teriak Alana.


Agam, Aiden dan Anggara sedikit terkekeh melihat perdebatan Alano dan Alana, mereka ini kembar, tapi kenapa bisa bertengkar ya, mereka pikir kalau anak kembar akan selalu akur.


"Maafin Alana ya, Alana suka iseng anaknya," ucap Abella saat mereka mendudukkan diri di sofa.


"Gapapa Tante, tenang kok aman," ucap Agam.


Abella tersenyum, syukurlah kalau mereka tidak sampai bertengkar hebat. Yaudah mau nonton atau mau ngapain?" Tanya Abella.


"Mau di sini aja, Tan. Bosan di kamar," ucap Aiden.


"Oh gitu yaudah, Tante tinggal dulu ke kamar ya. Soalnya Om udah mau pulang, nanti pasti repot minta sediain baju."


"Iya, Tan. Aduh idaman banget emang Tante Abella," kata Anggara.


Abella hanya terkekeh mendengarnya, sudah biasa memang dia menjadi bahan godaan teman-teman Alano. Dia hanya berusaha memahami kalau memang diusia seperti itu wajar kok. Sementara Alano yang kesal langsung saja melempar bantal sofa ke arah Anggara. Tidak suka sekali dia kalau wanita dalam hidupnya digoda oleh teman-temannya.


"Bercanda, Lan! Astagfirullah ini muka kali bukan tembok."


Alano hanya mencibir kesal dan menatap ponselnya. Mereka kini malah bersantai di sofa sambil memakan brownies yang di sediakan Abella di meja.


Namun pandangan Agam kini malah tertuju pada Alana yang sedang bermain dengan kucingnya di taman belakang. Iya, ada kaca besar di sana yang menembus ke ruang keluarga jadi dia bisa melihatnya.

__ADS_1


Alana tengah berceloteh seolah meluapkan kekesalannya pada Alano kepada kucingnya dan sesekali kucing itu tampak menatap ke arah pemiliknya sambil mengeong seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Alana.


Gadis itu nampak anteng memberikan peliharaannya makan sambil sesekali menciumi kucingnya itu gemas, membuat Agam sedikit melengkungkan senyumnya. Gemas sekali gadis yang tadi terang-terangan menantangnya di depan podium.


__ADS_2