Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Emosi Yang Aneh


__ADS_3


"Akhh sakit!!" Pekiknya saat Agam berusaha


menyentuh jempolnya. Pria itu nampak melihat apa masalah dari sakitnya Alana tanpa mempedulikan sang empu.


"Sakit!" Kata Alana lagi karena tak merasa mendapat respon.


"Tahan ini awalnya sakit, rileks." Selepas mengatakan itu Agam memberikan tekanan pada luka memar di jempolnya membuat Alana meringis menahan sakit.


Lalu tekanan itu berubah menjadi pijatan ringan yang menenangkan. Agam lantas mengambil sebuah pengompres dari dalam kotak yang dia ambil tadi. Rasa dingin langsung terasa ketika Agam menempelkan tepat di kaki Alana.


Setelah itu dia meraih bendelan perban elastis yang masih baru. Agam membalut memar pada kaki Alana dengan hati-hati dan telaten. "Lain kali jangan suka ceroboh, untung masih dalam jangkauan orang, kalau tidak?"


Sementara Alana hanya bisa diam dan menerima semua perlakuan lembut Agam dengan pasrah. Ada rasa hangat yang menjalar di dalam dadanya. Ada perasaan tenang juga aman. Bahkan Rasa kesalnya yang sejak tadi membuncah sempat sirna begitu saja.


Sosok yang mengerikan tadi sudah berubah menjadi seseorang yang penuh perhatian. Meski wajahnya masih belum memberikan ekspresi apapun.


Ah, pria itu selalu pandai membuatnya terbawa perasaan. Namun, akal sehat Alana tak sejalan dengan hatinya. Kepalanya justru memerintahkan dirinya untuk merasakan hal yang berlawanan dengan hatinya.


"Udah tau di mana kamar kamu?" Tanya Agam seraya membereskan kotak berisi obat-obat pertolongan pertama pada itu.


Dengan sedikit rasa takut yang merayap, Alana menggelengkan kepalanya. "Tadi aku mau ikut kumpul terus jatuh, Kak Agam sendiri, tapi gak nolongin aku," katanya membuang pandangannya dari Agam.


Agam terdiam sebentar. Beberapa detik setelahnya dia berdiri seraya mengembalikan kotak itu. "Kamu sendiri yang minta saya pergi."


Alana menautkan alisnya. "Aku minta pergi karena Kak Agam gak mau nolongin aku! Malah kak Aiden yang bawa aku ke sini? Senior apa macam apa yang gak peduli ketika juniornya jatuh tepat di depan kakinya sendiri?!" Nada Alana terdengar tinggi. Sungguh dia memang emosi sekarang.


Agam masih terpaku, tanpa melontarkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu saat Alana memojokkannya dengan kata-katanya.


"Jangan ngaku senior, kalau Kak Agam sendiri gak peduli sama juniornya!" Kali ini dia bicara penuh penekanan.


Alana lalu bangkit dari duduknya. Mensejajarkan diri dengan Agam dan menatap lurus cowok itu. Dia tertawa getir. "Oh, ya. Aku lupa, kalau seniorku yang satu ini manusia yang gak pernah punya hati, gak punya perasaan!"


Agam masih urung membuka bibirnya. Masih enggan juga untuk berbalik badan menatap Alana.

__ADS_1


"Jangan lupa kalau manusia masih saling membutuhkan. Seharusnya Kak Agam lebih bisa menghargai orang-orang di sekitar Kakak! Anggap aja ini ocehan dari orang yang suka berdebat tapi kali ini kakak keterlaluan buat aku!"


Agam hanya bisa menelan ludahnya kasar. Mencoba menelaah kata-kata dalam kalimat yang diucapkan Alana satu persatu.


"Terima kasih!"


Usai mengatakan itu Alana membawa dirinya pergi meninggalkan Agam yang bergeming dan terpaku pada tempatnya. Meskipun sedikit pincang tapi kakinya merasa lebih baik saat digunakan untuk berjalan.


Jika saja Alana tau apa yang terjadi sebenarnya, tidak mungkin dia akanbberbicara seperti itu. Kenyataannya Agam pergi bukan karena dia tidak mau menolong. Pria itu pergi mengambil sebuah krim analgesik untuk Alana sampai-sampai mencari alasan jika punggungnya sakit kepada Athena, tetapi saat dia kembali Alana sudah bersama dengan Aiden.


Agam menghela napas berat. Detik berikutnya dia memijat pelipisnya sendiri. Mencoba menahan amarah yang sejak tadi melonjak hingga puncak kepala. Tangannya mengepal erat menampakkan buku-buku jarinya.


Emosi itu akhirnya dia lampiaskan kepada sebuah tembok tak bersalah yang berdiri kokoh di depannya. Sebelumnya dia tak pernah merasakan begini. Tidak pernah peduli jika seseorangnmarah padanya atau bahkan membencinya.


Entah kemana perginya sosok Agam acuh tak acuh itu jika dia memiliki masalah pada satu perempuan bernama Alana. Sosok itu seakan lenyap dan pergi begitu saja.


Bahkan tadi? Apa yang dia perbuat sudah terlalu jauh dari seorang Agam. Semua itu tidak ingin dia lakukan tetapi hatinya berkata lain, dan apa yang terjadi tadi semua itu di luar kendalinya.


Apakah dia sudah terjebak lagi dalam percintaan remaja yang sempat menimbulkan bekas luka cukup dalam serta kehilangan rasa peduli kepada sesamanya itu? Atau ini hanyalah sebuah bentuk rasa bersalah darinya karena tidak segera menolong Alana dan memilih meninggalkannya sendirian?


Sialnya kata-kata Alana terulang-ulang dalam


Sekali lagi dia melayangkan bogem mentah kepada susunan batu bata yang tinggi menjulang itu. Cukup keras membuat jarinya terasa nyeri. Namun itu tidak sebanding dengan rasa aneh yang kini bermukim di dadanya. Entah ini perasaan apa. Yang jelas, perasaan itu muncul sejak dia bertemu dengan Alana, dan sekarang semakin parah saat Alana marah padanya.


Langkah kaki terdengar di telinga Agam. Sepertinya panitia lain masuk dalam sebuah ruangan. Alano dan Zahra yang nampak berbicara serius tentang planning yang akan mereka jalankan hari ini. Zahra mendadak kaku ketika melihat Agam berdiri dengan kedua tangan berada pada saku celananya. Pria itu sangat menyeramkan sekarang.


"Kenapa?" Tanya Alano dengan wajah datarnya.


"Gapapa. Btw adek lu jatuh, liat sana. Dia nyariin lu."


Alano yang mendengar itu menghela napas, pantas saja perasaannya sedikit tidak enak. "Udah diobatin? Dimana?"


"Udah, kamar Bougenville lantai 2." Agam nampak terlihat santai di sela-sela emosi yang meruak dalam kepalanya.


Tanpa pikir panjang Alano berbalik dan menyusul Alana untuk memeriksa keadaannya. Ceroboh, memang selalu seperti itu Alana. Seharusnya dia meminta pada Agam untuk menjadi pendamping kelompok Alana, tapi sialnya tidak diberikan izin.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Alana, Alano mengetuk pintu terlebih dahulu. Ternyata itu Talia, gadis itu terpaku melihat pria yang tinggi menjulang itu di hadapannya. Ternya pria itu jauh lebih menawan dari dekat seperti ini. "A-ada apa ya, Kak?"


"Alana ada?" Tanya Alano.


"O-oh Alana? Ada dia lagi istirahat, k-kakinya sakit katanya," jelas Talia.


"Boleh saya masuk?" Tanya Alano.


Talia langsung mengangguk dengan cepat, kebetulan yang lainnya sedang berkeliling dan menyisakan dia dan Alana saja di kamar. Talia dengan senang hati membuka pintu kamar mereka lebar-lebar dan membiarkan Alano masuk ke sana.


"Terima kasih." Setelah mengucapkan itu Alano masuk ke dalam dan melihat Alana yang sedang bermain dengan ponselnya.


"Alana."


Alana melirik ke sumber suara dengan wajah yang dibuat memelas, memang dirinya ini suka saja kalau caper pada kembarannya. "Alan kemana aja?"


Nahkan mulai kan manjanya, padahal tidak tau saja Alano kalau kembarannya ini habis berdebat dengan ketua OSIS mereka. Melihat itu tentulah Alano tidak tega dan menghampiri Alana. Di ceknya kaki Alana yang berbalut perban itu. "Ini kenapa bisa?"


Alano menatap Alana seraya mengusap pipinya dengan lembut dan mencium puncak kepala Alana. "Alan tau tali yang di pasang di rumput sana, gara-gara itu!"


"Bukan mereka yang salah, Ana yang gak liat-liat," ucapnya. Ya sedari kecil mereka di didik seperti itu. Kalau terjadi sesuatu jangan langsung menyalahkan benda mati, tapi itu artinya mereka yang kurang hati-hati.


"Ya lagian kenapa dipasang di situ. Sakit banget Alan," Adu Alana.


Dengan lembut Alano mengusap kaki Alana dan meniup-niupnya dengan hati-hati. Setelah itu dikecupnya jadi-jari itu, membuat Alana kembali tersenyum. Jangan heran karena mereka memang seperti itu sejak kecil. Kalau Alana terluka Alano selalu melakukan itu, begitu pun sebaliknya. "Ihhh itu kaki, Alan. Kenapa dicium juga?"


"Biar cepet sembuh. Udah sembuh?" Tanya Alano perhatian.


Alana mengangguk-mengangguk-anggukkan kepalanya senang. "Udah, Ana udah sembuh. Alan maafin ya udah buat Alan khawatir terus sama Ana."


"Hmm, jangan lagi."


Talia yang melihat itu dari sisi kasur yang lainnya langsung meremas jaket miliknya sendiri. Mereka ini sibling goals sekali. Ah Talia jadi iri, tapi kalau tidak bisa menjadi adik Alano, bisa jadi pacarnya tidak ya? Dia jadi senyum-senyum sendiri.


Alano dan Alana yang melihat itu langsung melirik ke arah Talia secara bersamaan, ya heran loh dia senyum-senyum begitu. "Kenapa?"

__ADS_1


Talia kaget dan gugup seketika. "Hah, e-enggak kok, lanjutin aja gih. Lanjutin aja gapapa."


Alana dan Alano menggelengkan kepalanya seraya menghela napas, memang ada ada saja kelakuan Talia ini.


__ADS_2