Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Ketakutan


__ADS_3


"Gua sama anak-anak udah nyari seluruh villa, tetep aja gak ada," lapor Gerald beserta anak keamanan yang lainnya setelah dia tiba di sebuah ruangan CCTV.


Laporan Gerald. dijawab dengan satu anggukan oleh Agam. Agam kemudian bergegas mengenakan jam tangannya yang sudah disambungkan dengan GPS. Pokoknya mereka harus berangkat dengan persiapan yang matang.


Agam dan Anggara saling menatap. Mereka beradu tos seolah menguatkan satu sama lain. Sementara Alano menghela napasnya. Sungguh dia ingin ikut, masalahnya dadanya terasa sakit sekali sekarang. Seolah terkoneksi dengan Alana tiba-tiba dia merasa gelisah.


"Gua mau minta satu permintaan sama kalian," ucap Agam seraya menatap satu persatu temannya.


"Apa?" Tanya Alano dan Aiden.


"Kalau lebih dari jam 12 gua gak balik, tolong jemput gua. Karena itu berarti semuanya gak baik-baik aja," ucap Agam.


Mereka berdua mengangguk paham, tapi mereka tetap berharap kalau Agam dan Anggara bisa pulang dengan selamat dan membawa Alana kembali ke villa dalam keadaan baik-baik saja.


Di sisi lain Alana meringis saat dia jatuh tersungkur akibat tersandung akar pohon tua. Alana hanya mengandalkan sinar bulan yang temaram sebagai penerangan hingga tak melihat jika ada penghalang saat dia berjalan. Alana mengumpulkan energi yang tersisa dalam tubuhnya untuk bangun dari posisinya, kemudian mendudukkan diri dan bersandar pada pohon tua yang tinggi menjulang.


Sesekali Alana mengatur napasnya yang tersengal. Juga menetralkan debaran jantungnya yang tak terkendali. "Alan, Ana takut."


Alana tiba-tiba menangis karena dia benar-benar ketakutan sekarang. Alana tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya jadi Alana benar-benar takut. "Alan, maafin Ana ya kalau Ana dimakan harimau, maaf kalau Ana suka gak nurut ke Alan, maafin Ana suka bikin Alan pusing, Maaf kalau Ana suka bikin Alan repot. Maafin Ana."


Cukup lama Alana di sana sembari meratapi dirinya sendiri, sekarang dia harus ke mana? Kenapa tidak ada orang yang mencarinya ke sini? Apa mereka tidak sadar kalau dirinya tidak.


Alana mengusapkan kedua tangannya yang penuh dengan tanah basah. Rasa nyeri terasa di kakinya lagi, juga kedua telapak tangannya yang perih. Alana hanya bisa duduk memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Sejenak Alana menyesal telah bertindak kelewat nekat untuk menyusul teman satu kelompoknya. Seharusnya dia memikirkan ini matang-matang. Alana tak membawa apapun, hanya membawa sebotol air mineral yang kini sudah sepenuhnya habis. Pun juga penerangan ia tak membawa sama sekali.


Ada rasa panas yang menjalar di kedua bola matanya. Sedetik setelahnya Kabut tipis itu mulai memenuhi pelupuk mata. Alana kembali menangis, kali ini lebih deras. "Maa ... Ana takut."


"Papa tolongin Ana. Ana janji gak akan berantem lagi sama Mama. Ana bakalan nurut ke Mama, beneran deh ya Allah. Ana gak akan ngelawan Mama lagi."


Alana mengusap air yang akhirnya luruh di wajahnya. Dan terisak, tubuhnya berguncang hebat. Suara yang biasanya melengking kini hanya terdengar parau dan serak.


"Ana takut, Mama, Papa, Alan," isaknya lagi seraya meremas jaket yang dia gunakan.


Alana sudah pasrah. Hari semakin gelap. Tidak mungkin dia bisa keluar dari tempat ini tanpa seseorang pun yang menolongnya. Tetapi seingat ingat Alana, lokasi villa itu tak jauh dari pemukiman warga. Alana hanya berharap sekarang bisa menemukan bangunan-bangunan itu secepatnya. Hanya itu harapan satu-satunya.


Alana kembali melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarumnya menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Sudah sekian lama dia berjalan di tempat ini, namun tak menemukan jalan keluar sama sekali.


Takut. Kata itu tergambar jelas di benak Alana. Andai saja dia mengikuti kata-kata Aiden dan Alano untuk tetap tinggal di villa dan tidak memaksakan diri untuk menyusul teman-temannya, ia tidak mungkin ada di sini sekarang.


KREK!!!


Alana lantas menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Kemudian pandangan terhenti saat dia melihat semak-semak belukar yang bergoyang. Bulu kuduknya seketika meremang, seluruh tubuhnya merinding bersamaan dengan hawa dingin yang menerpanya.


KREEK!


Alana menggeleng lagi. Bukan apa-apa, itu cuma angin yang menggesek ranting-ranting kering, ucapnya dalam hati. Berulang kali dia mensugesti dirinya bahwa itu bukan hal-hal yang buruk terlebih hal-hal mistis seperti yang sering dia tonton dalam chanel konten horor langganannya. Tidak! Jangan bayangkan!


Suasana hening kembali, kini hanya terdengar suara jangkrik, dan binatang malam menemaninya.

__ADS_1


"Apa aku tersesat di sini karena kualat sama Kak Agam? Kamu jahat banget sih, Kak!" Gumam Alana bersamaan dengan Segelintir air meluncur bebas di pelupuk mata. "Aku janji deh gak bakal marah sama kakak lagi!"


"Tapi tolongin aku, Kak! Aku mau pulang! Aku takut!"


SREK!! SREEKK!!!


Tubuh Alana menegang saat mendengar Suara itu lebih keras dari sebelumnya. Dia melihat ke arah semak-semak yang bergoyang tadi, kini daun-daun itu bergerak lebih cepat. Air matanya sudah jatuh bersamaan dengan degupnya jantung yang tak terkendali. Kaki dan Tangannya bergetar hebat, apalagi dia sedang berada di kegelapan.


Alana berusaha berdiri tanpa menimbulkan suara, dia berjalan mundur perlahan. Suara bising itu masih terdengar keras. Dan ...


"AAAA!!! MAMAAAA!!!!"


Botol bekas yang Alana pegang dilempar begitu saja, dengan spontan dia berlari secepat mungkin. Dia tidak peduli yang dia lihat tadi adalah mahluk apa. Ia tidak bisa melihatnya dengan jelas ketika mahkluk itu melompat keluar dari semak-semak.


"JANGAN MAKAN ANA MONSTER, ANAK GAK ENAK!!"


Namun karena gelap Alana tidak bisa melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya. Dia hanya berlari ke sembarang arah. Yang terpenting baginya saat ini adalah menghindar dari mahkluk yang membuatnya takut itu.


BRUUK!!!


Kaki Alana tersandung batu yang cukup besar. Seketika dia meringis kembali saat tubuhnya menghantam tanah luka yang belum sepenuhnya sembuh harus kembali menghantam benda keras.


Alana mengaduh tanpa suara, kakinya mati rasa. Sekuat tenaga dia berusaha bangkit dari posisinya. Namun, baru dia saja dia sampai pada posisi duduk dia baru menyadari ada sebuah sosok telah berdiri membelakanginya.


"AAAAA MAMA, PAPA, ALAN! HUAAAAA." Alana semakin menjerit, sungguh dia benar-benar ketakutan tubuhnya bahkan sudah melemas dan tidak tau harus berlari kemana lagi. Apalagi napasnya sudah sesak, Alana tidak bisa terlalu lama terkena angin. Asmanya bisa kambuh.

__ADS_1


__ADS_2