Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Ospek Yang Menyebalkan


__ADS_3


Terhitung sudah 11 putaran Alana selesaikan, sungguh dia benar-benar lelah, apalagi dia melihat Alano yang terlihat khawatir dari pinggir lapangan.


Alana menyilangkan tangannya ke arah Alano dan mengisyaratkan kalau dia membutuhkan inhaler setelah selesai berlari. Nahkan ini yang Alano khawatirkan. Setelah melihat itu Alano kembali masuk ke auditorium untuk mengambil tas Alana yang masih tertinggal di sana.


Iya memang kegiatan masih berlangsung, Alano tidak memikirkan soal itu. Jika tertinggal pun Alano pasti akan memberi bocoran. Persetan dengan profesional, Alana adiknya dan dia harus menjaganya lebih dari apapun. Dia juga sudah berjanji pada Ibunya, kalau sampai dia tidak bisa menjaga Alana yang ada Alana akan dilarang ini itu demi kebaikannya.


"Lan, Agam bisa marah. Ini konsekuensi dia!" Tegur Anggara.


"Dia udah lakuin, kan? Apalagi?" Tanya Alano.


"Lu gak bisa gini lah, apa jadinya kalau semua peserta liat. Gua tau dia pacar lu tapi ini hukuman dan konsekuensi–"


"Lu semua akan berhenti bicara soal konsekuensi kalau lu semua tau sekarang lagi bermain dengan nyawa!" Alano melenggang pergi dan menarik Alana ke belakang sekolah.


Padahal Alana baru mendudukkan dirinya di pinggir lapangan, tapi nampaknya Alano sedang marah sekarang, jadi Alana hanya mengikuti Alano dari belakang.


Anggara dan Aiden saling menatap, entah ada apa dengan Alano. Bahkan mereka tidak pernah melihat Alano semarah ini hanya karena seorang wanita. Tanpa mereka sadari juga kalau Agam sedari tadi memperhatikan mereka dan memantau langsung bagaimana Alana menjalankan hukuman. Dia tersenyum miring, ternyata seorang Alano yang tidak bisa tersentuh siapapun bisa jadi semarah ini kalau soal wanita yang dia cintai.


"Alan, pelan-pelan. Ana cape banget kalau cepet-cepet," cicit Alana dengan napas yang masih tersenggal-senggal.


Alano menghela napas, lalu melambatkan langkahnya. Iya dia terbawa emosi sekarang, karena meskipun Alana ini juga salah, tapi tidak sepatutnya Agam memberikan hukuman berat seperti ini.


"Duduk," ucap Alano dingin.


Alana yang merasakan aura dingin dari Alano hanya menunduk dan duduk di kursi. Tanpa banyak bicara Alano mengambil sebuah inhaler dari dalam tas Alana.


"Tarik napas panjang," perintah Alano.


"Ana bisa sendiri, Alan," ucap Alana.


"Cepet."


Ampun deh kalau Alano sudah mode begini. Alana menurut saja. Alana menarik napasnya, setelah itu Alano mendekatkan inhaler ke bibir Alana untuk dia hisap. Dengan perhatian Alano mendongakkan sedikit kepala Alana dan setelah itu memberi satu semprotan untuk Alana hisap.


Alana menghirup obat itu dan menahannya beberapa detik. Setelah itu menghembuskannya secara perlahan. Alano memperhatikan adiknya yang masih berusaha menyamankan pernapasannya. "Satu dosis lagi."


Alana menurut dan setelah itu Alano melakukan hal yang sama seperti tadi untuk memberikan dosis kedua pada Alana. Setelah pernapasannya sudah cukup nyaman Alana berkumur dengan air yang dia bawa di tasnya.


Agam terhenyuk melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Jadi gadis itu memiliki asma? Pantas saja Alano sebegitu marahnya pada Aiden dan Anggara. Tapi tak berlangsung lama, Agam memilih kembali ke ruangannya, karena memang hari ini hanya perkenalan saja jadi dia tidak terlalu banyak tugas dan hanya memantau saja.

__ADS_1


Untuk beberapa saat Alano masih menatap Alana dengan intens. "Jangan berurusan sama Agam lagi, lakuin aja ospeknya dengan baik."


"Jadi Alan pikir Ana salah gitu?" Tanya Alana tak percaya dengan apa yang Alano katakan.


"Bukan gitu, Na. Alan cuma gak mau kejadian kaya gini terulang lagi, Ana paham gak sekhawatir apa Alan sama Ana? Engga, kan?" Alano menahan emosinya, tidak bisa kalau dia meluapkannya pada Alana.


"Tapi itu gak bener loh, Alan dan Alan setuju sama peraturan yang dia buat? Alan diem aja?"


Alano bukan setuju-setuju saja, tapi kalau soal peraturan itu semuanya Agam yang buat. Alano juga merasa kalau peraturan itu rumpang dan tidak adil. Tapi bukan berarti Alana bisa berdebat dengan Agam yang keputusannya selalu mutlak.


"Na, please ... "


Alana berdecak, setelah itu dia mengambil tas dan meninggalkan Alano di tempatnya. Dia tidak suka kalau seolah dia di salahkan, padahal dia ini merasa benar dengan apa yang dia lakukan.


Alano juga terdiam, dia tau kalau kata-katanya ada yang salah. Bagaimana caranya agar membuat Alana mengerti kalau dia hanya tidak ingin Alana kenapa-kenapa?


Teman-temannya juga pasti tidak mengerti, hanya saja mereka terlalu pasrah. Niatnya ingin menjadi siswa biasa saja, dia malah menjadi pusat perhatian sekarang saat memasuki . Menyebalkan sekali.


"Udah selesai hukumannya?" Tanya salah satu pengospek.


"Udah, Kak," jawab Alana pelan.


"Duduk dan jangan membantah lagi," peringat Celine.


Banyak yang menatap kasihan pada Alana, padahal menurut mereka Alana tidak salah. Ternyata senior di sini ganas, jadi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.


"Lo gapapa, kan?" Tanya Talia.


Alana menggeleng lalu mengangguk pelan. "Aku baik-baik aja kok."


Talia mengusap punggung Alana dengan lembut, dia tau Alana pasti lelah. "Semangat, kita satu gugus!"


Alana mengangguk senang, ya setidaknya dia masih ada Talia yang membuat moodnya sedikit membaik.


Serangkaian acara telah dilewati dan akhirnya setelah beberapa jam di auditorium mereka bisa pulang juga. Sebenarnya Alana malas harus pulang dengan Alano, selain karena kesal dia juga malas harus menunggu Alano rapat OSIS dulu. Terhitung sudah satu jam Alana duduk di sana.


"Udah berapa lama deket sama Alano?" Tanya Celine yang tiba-tiba berdiri di hadapan Alana.


Alana mendongakkan wajahnya dan menatap Celine yang menatapnya tajam. "Saya rasa hubungan dengan Alano bukan sesuatu yang harus saya jawab dalam ospek."


"Memang tapi saya ini calon pacarnya Alano."

__ADS_1


Alana mengulum tawanya, sungguh? Calon pacar Alano seperti ini? Apa Alano tidak punya selera yang lebih bagus lagi? Kenapa modelan nenek sihir juga dia dekati? Cantik sih, tapi sayang tidak punya attitude.


"Ya tanyakan saja sama Alano, jangan ke saya. Saya di sini mau ospek, bukan mau ditanya-tanya hal yang gak penting."


Alana tidak peduli lagi setidak sopan apa dia, ini di luar ospek dan seharusnya mereka tidak mengganggunya lagi.


"Saya ingatkan ya, kamu murid baru di sini. Jangan terlalu berani, karena kamu tidak tau siapa yang kamu hadapi."


Alana menghela napasnya dan berdiri di hadapan Celine, mereka seumuran, kan? Jadi tidak masalah seharusnya. "Terima kasih sudah mengingatkan."


"Kurang ajar ya lo!" Celine mencekal pergelangan tangan Alana dan membuat Alana mengaduh.


"Akhhh sakit, Kak!"


"Ini pelajaran buat lo karena–"


"Karena apa? Lepasin dia!"


Alana mengerjapkan matanya, ternyata itu bukan Alano tapi Agam. Agam melirik ke arahnya sekilas lalu kembali menatap Celine. "Gua minta proposal bukan labrak-melabrak!"


"Gam ini gak seperti yang lo maksud, g-gue–"


"Peraturan panitia nomor 2."


"Gam gue–"


"Kali ini saya bicara sebagai Ketua OSIS," tegas Agam.


Celine menunduk, dia salah kalau seperti ini. Lagi kalau Agam sudah seperti ini berarti dia sedang tidak bisa diajak untuk tawar menawar atau menerima alasan apapun.


"Lari ke Ruang OSIS, bawa semua anggota dan jalankan hukuman!"


"Whatt??! Seriously?! AGAM!"


"SATU!"


Mendengar seruan itu Celine panik namun masih termangu di tempatnya.


"DUA!"


Celine membulatkan matanya, tanpa pikir panjang dia berlari dari lapangan menuju ruang OSIS, bisa-bisa dia habis di tangan Agam kalau dia tidak segera menjalankan hukuman.

__ADS_1


Agam menatap Alana lekat. "Lain kali lawan saja kalau memang pengospeknya keterlaluan, sama seperti saat kamu melawan saya."


Setelah mengatakan itu Agam menuju ke tengah lapangan seraya memperhatikan jamnya, sementara Alana mengerjapkan matanya berkali-kali. Apa yang terjadi barusan ya?


__ADS_2