
"Aku gak mau pulang bareng Kak Agam!"
Agam kembali menghela napas, nah kan sudah dia bilang gadis ini awalnya memang terlihat begitu polos, tapi aslinya galak sekali seperti ini. Ahh kenapa juga Alano menitipkan gadis seperti ini padanya.
"Yasudah kamu tunggu saja Alano sampai malam," ucapnya tak peduli.
"Yaudah!" Alana berbalik dan memutuskan untuk menunggu Alano saja namun ...
"Biasanya kamu harus menunggu di luar lapangan dan biasanya penghuni sekolah kalau sore menjelang malam suka bermunculan."
Alana menghentikan langkah dan membulatkan matanya. Apa benar yang dikatakan Agam? Tapi bukannya setiap sekolah pasti mempunyai sisi gelap kalau soal 'penghuni sekolah'.
"Belum lagi lorong itu luas, biasanya kelas sudah dimatikan juga semuanya."
Alana mundur dan berbalik menuju ke arah Agam. "Y-yaudah ayok pulang!"
Melihat itu Agam tersenyum miring, mudah sekali ternyata membuat gadis ini menurut. Meskipun dia ikut dengan wajah yang cemberut, tapi tidak apa-apa. Lebih bagus daripada dia merengek.
"Pake dulu jaketnya, inget kata Alano," peringat Agam.
Alana menganggukkan kepalanya lalu melingkarkan jaket di pinggangnya. Kenapa sih Alano menitipkannya pada Agam? Dia kan canggung kalau bersama pria begini, lebih baik dia menunggu lama untuk dijemput.
Melihat Alana yang masih terdiam menatapnya Agam berdecak. "Ck, ayok naik."
"Sabar!" Ketus Alana yang kini menaiki motor Agam dan memegang bahu pria itu.
"Pegangan."
"Udah pegangan loh!"
"Bukan tukang ojek! Turunin!"
__ADS_1
Alana mendengar sebal, kini dia mencengkeram kedua sisi jaket Agam. Tidak mungkin dia memeluk Agam, kan? Dia hanya berani pada Alano saja.
Agam geram sekali, bukan modus ya tapi motornya ini besar, terkadang juga bisa membuat kaget orang yang ada di belakangnya. Karena kepalang gemas Agam menarik kedua tangan Alana dan melingkarkannya di perutnya.
"Pegangan itu begini, kalau kamu jatuh saya juga yang akan dihabisi Alano."
Tanpa menunggu jawaban Alana, Agam pun melakukan motornya. Nahkan baru sebentar saja Alana sudah kaget, bayangkan kalau dia tidak berpegangan. Akan dimutilasi Agam oleh Alano kalau Alana sampai terluka.
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Agam memang banyak wanita, tapi dia bukan seperti buaya. Dia menerima siapapun yang menyukainya dengan alasan memberikan kesempatan mereka untuk membuka hatinya dalam 2 Minggu.
Jadi dia bukan tukang modus atau tukang gombal. Dia berbeda pokoknya dengan Aiden dan Anggara. Lagi, Alana juga tidak bicara karena tidak tau harus bicara apa. Tapi dia merasa aneh saja memeluk seseorang selain Alano. Rasanya ada sesuatu yang dia rasakan tapi tidak tau apa.
Alana melonggarkan pelukannya namun Agam kembali menarik tangannya agar tidak melonggar, gadis ini sulit sekali diberi tahu. "Sudah saya bilang nanti kamu jatuh! Atau mau saya tinggalkan saja di sini?"
Alana mendengus saat melihat Agam dari kaca spionnya. Ah kenapa perjalanan ini rasanya lama sekali sih? Dia tidak nyaman kalau harus berlama-lama di sini bersama Agam.
Apalagi Agam suka mengancam, Alana paling tidak suka diancam. Tapi pria ini seolah memiliki power saja mengancamnya ini itu. Kesal sekali, tapi kalau sudah begini ya dia harus menurut pada Agam karena dia juga masih sadar diri kalau sekarang menumpang pada pria itu.
"Kenapa berhenti?" Tanya Alana saat turun dan ditarik oleh Agam untuk berteduh di halte. Hanya ada mereka berdua saja di sini, membuat Alana takut.
"Kamu tidak lihat ini hujan?" Tanya Agam masih dengan wajah datarnya.
"Kan udah terlanjur basah juga."
"Mengurangi resiko kecelakaan dan asma kamu akan kambuh."
Alana terdiam, bagaimana Agam bisa tau tentang penyakitnya ya? Mendengar itu Alana diam saja dan memutuskan untuk duduk di samping Agam tanpa protes lagi.
Sesekali Alana menghela napasnya sambil memperhatikan air hujan yang terjatuh. Belum lagi aroma petrikor yang selalu dia suka. Dia jadi ingat, kalau setiap turun hujan Alano akan selalu mengajaknya main hujan-hujanan, tapi setelahnya mereka dihukum oleh Abella karena nakal sekali.
Tiba-tiba Agam memakaikan jaketnya yang anti air itu pada Alana. Tubuh gadis itu basah, dia pasti kedinginan. Meskipun datar begini dia juga masih gentle untuk tidak membiarkan wanita dalam kondisi seperti ini.
Alana menatap ke arah Agam. "Gak usah, Kak Agam juga butuh."
__ADS_1
"Kamu lebih butuh dan jangan GR, saya hanya ingin kamu baik-baik saja dan tidak berurusan dengan Alano," peringat Agam.
Alana mencibir, memang siapa juga yang GR. Dia terbawa perasaan juga tidak. Tapi ya memang Agam baik sih, padahal mereka tidak pernah akur sepertinya. "Yaudah makasih."
Alana kembali menatap ke arah jalanan, sementara Agam menghela napasnya beberapa kali. Dia suka hening, dia tidak suka banyak bicara tapi tidak sebening ini.
"Sedeket itu sama Alano?" Tanya Agam memulai pembicaraan dan mengalihkan pandangannya pada Alana lagi.
"Kita itu satu rahim yang sama, Alan yang jaga aku sejak masih di dalam kandungan Mama. Apa masih harus ditanyain ya, Kak?" Tanya Alana tanpa menatap Agam.
Agam mengangguk-menganggukkan kepalanya paham. Ya untuk bahan pembicaraan saja sih sebenarnya. "Alan gak pernah cerita apa-apa emangnya?"
"Tidak, dia orang yang tertutup. Dia cuma mengatakan apa yang menurutnya penting saja."
"Jadi maksudnya aku gak penting?!!!" Tanya Alana tak percaya.
Agam menghela napasnya, mudah sekali gadis ini marah. Padahal harusnya dia bisa mencerna maksud ucapan Agam dengan baik. "Bukan gitu, siapa tau karena memang sangat penting makanya dirahasiakan."
Alana menatap wajah datar sialan itu dengan kesal. "Tapi tadi katanya Alan cuma bilang yang penting aja."
"Ya kalau mengobrol maksudnya, Alana." Agam menyerah, suka sekali gadis ini berdebat dengannya padahal kondisinya sedang seperti ini. Yang ada kepalanya bisa pecah kalau diajak berdebat terus oleh Alana.
"Dia cuma cerita kalau dia punya kembaran dan koma. Setelah itu tidak ada membicarakan apapun lagi."
"Hoo gitu. Aku kira kalau ke temen deket cerita, apalagi kalian deket banget sampe ambil semua atensi Alan dari aku," ucap Alana jujur.
"Posesif."
"Bukan posesif tapi emang kenyataannya kaya gitu, sekarang apa-apa sama kalian, kan?" Alana tidak tau sih kenapa dia bicara seperti ini, tapi ya karena dia memang kesal saja karena Alano sering mengabaikannya.
"Dia sayang banget sama kamu, Na. Setelah kita tau kamu adiknya, kita lebih sering bahas kamu di kamar daripada bahas game."
Setelah itu Agam mengambil ponselnya dan fokus pada layar, sementara Alana terdiam memikirkan kata-kata Agam. Benarkah? Tapi apa yang mereka bahas ya kita-kira. Ah tidak penting, yang jelas dia senang karena ternyata Alano tidak melupakannya.
__ADS_1