Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Perasaan Aneh


__ADS_3


Setelah hujan reda, Agam dan Alana langsung pulang ke rumah. Gadis itu nampak sudah kedinginan. Tapi ya mau bagaimana lagi, Agam juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya tidak terlalu kedinginan.


Sesampainya di rumah, mereka langsung di sambut oleh Abella yang nampak terlihat khawatir dengan putrinya. Memang sih mereka sudah lama berpisah, jadi wajar saja kalau apapun mengenai Alana itu sangat penting untuk Abella. "Maaf, Tan. Tadi di jalan kehujanan."


"Iya, iya gapapa. Sekarang kalian langsung bersihkan diri dan turun ke bawah ya. Nanti Mama buatin susu hangat. Langsung ganti baju, untuk kamu Alana kalau sesak nebu dulu ya, Sayang."


Mendengar instruksi Abella mereka menurut dan sama-sama pergi ke atas. Seperti saat tadi di motor, mereka tidak ada percakapan. Hanya sekali melirik saja saat Alana akan memasuki kamarnya.


Setelah itu merekanya kembali hidup masing-masing. Alana menutup pintu kamarnya dan menyenderkan punggung di belakang pintu. "Kenapa dia jadi kepikiran Agam ya saat memegang jaket yang dia berikan. Wanginya enak sekali, aroma maskulin tapi yang tidak over. Membuat Alana sedikit tersenyum.


"Ishh kamu kenapa sih, Alana?!" Alana menggelengkan kepalanya, dia rasa kepalanya ini terbentur saat tadi jatuh dari pohon, makanya pikirannya mulai kemana-mana.


Tanpa berlama-lama Alana berlari ke kamar mandi untuk mandi air hangat, setelah itu dia akan menemui Ibunya dan minum susu hangat yang sepertinya enak kalau di minum di cuaca seperti ini.


Lain halnya dengan Agam yang kini nampak terdiam di depan wastafel setelah mencuci mukanya. Kenapa Alana rasanya selalu membuat dia ingin tersenyum. Apalagi kejadian di bawah pohon tadi. ada suatu perasaan yang tidak bisa dijabarkan oleh Agam apalagi saat tetesan air mata Alana jatuh di pipinya.


Dia menggeram, kenapa rasanya gadis itu menghantui pikirannya. Sebelumnya tidak ada yang pernah tuh membuatnya kepikiran seperti ini. "Arghtt, semua cewek sama aja, Gam. Lu harus inget itu!"


Agam langsung menyiram dirinya di bawah shower. Sepertinya ini karena Alana sering membuatnya naik darah dan mengajaknya berdebat sampai-sampai wajah Alana terbayang dalam pikirannya.


Karena memang ada banyak trauma dalam kehidupan Agam yang tidak pernah diketahui orang lain selain Alano, Aiden dan Anggara. Perasaannya seperti tidak bisa merasa lagi pada wanita manapun, dia sudah mencobanya beberapa kali dan sama saja.


Tidak ada satu orang pun yang bisa merebut hatinya. Perasaan yang pernah dia miliki pernah dihancurkan oleh beberapa wanita. Selain pasangannya, oleh ibunya sendiri. Hingga sampai saat ini Agam hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan orang di sekitarnya. Itu kenapa dia benci pengkhianat.


Beberapa menit berlalu, setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya Alana keluar dari kamar dan duduk di meja makan. Terlihat di sana sudah ada Agam dan kedua temannya. Tapi seperti biasa Alana akan cuek kalau sudah di rumah. Tapi sebenarnya mau di mana saja Alana memang cuek menurut mereka.


Benar saja kan Abella sudah menyediakan susu strawberry hangat kesukaannya. Membuat mata Alana berbinar. "Makasih Mama."

__ADS_1


"Sama-sama sayang, Alana mau makan apa hari ini? Biar Mama buatin kalau Ana mau sesuatu untuk makan malam."


Alana menggeleng dia tidak mau apa-apasih sekarang. "Ikut Mama aja maunya masak apa."


Abella mengangguk dan kembali ke dapur. Kini posisi Alana berseberangan dengan ketiga teman Alano yang sedang asik mengobrol soal OSIS. Tapi dengan santainya dia minum susu dan memakan biskuit.


Sesekali Aiden dan Anggara mencuri-curi pandang pada Alana namun diabaikan oleh gadis itu, nampaknya biskuit lebih menarik perhatiannya daripada ketiga cowok tampan di hadapannya.


"Besok harus banget panitia jam 6, gak kepagian?" Tanya Aiden saat melihat rundown yang dia dapatkan."


"Keberatan?" Tanya Agam datar.


"Iyalah gua masih males-malesan jam segitu gila!" Kesal Anggara.


"Oke kalau kalian keberatan, gua kurangin jadi jam 5." Agam mengedikan bahunya dan kembali meminum susu hangat buatan tangan Abella. Kalau mereka protes justru akan Agam tambah penderitaan mereka.


"Terserah lu dah, gak ada hati bener," ucap Aiden.


"Memang besok ada acara apa loh?" Tanya Abella.


"Penutupan terakhir di Villa, Tan. Dua malam aja kok, paginya langsung pulang," jelas Agam.


"Oh begitu, lalu kenapa Alana gak bilang sama Mama, Sayang? Emang udah siap-siap? Alana jangan ikut ya?" Ucap Abella yang kini duduk di samping Alana dan memperhatikan anaknya yang nampak cuek.


"Nanti Ana siapin kok, Ma. Ikut aja ya Mama? Masa Ana gak ikut, lagian juga ada Alan yang jagain," jawab Alana santai.


Abella menghela napas. "Kamu habis kehujanan loh, cuacanya juga gak bagus gimana kalau kambuh di sana?" Tanya Abella sekali lagi.


"Engga Mama, Ana bakalan baik-baik aja. Ana janji bakalan baik-baik aja." Alana tersenyum dan berusaha meyakinkan Ibunya. Begini memang tidak enaknya menjadi anak perempuan satu-satunya. Pasti Alana selalu dilarang ini dan itu. Berbeda dengan Alano.

__ADS_1


"Tenang, Tan panitia bawa tabung oksigen juga jadi kalau Alana kenapa-kenapa bisa ditangani. PMR sekolah juga udah dikasih pembekalan untuk itu," ucap Anggara.


"Panitia juga pasti akan mempertimbangkan soal Alana dan kondisinya, lagi pula kita games aja di sana, Tan. Gak ada test fisik atau test mental, jadi aman," jelas Aiden.


Mendengar itu Abella jadi sedikit lega. "Oh begitu ya? Tapi Tante beneran titip Alana ya sama kalian."


"Iya, Tan aman." Balas mereka bertiga.


Kini Alana yang menghela napas. Kenapa sih harus dititipkan pada mereka. Kesal juga lama-lama kalau begini. Membuat Alana merasa kalau dia tidak diberikan kepercayaan untuk menjaga dirinya sendiri. Tapi ya sudah, dia tidak bisa marah juga pada ibunya.


Sementara itu di sisi lain Aiden dan Anggara tersenyum penuh makna. Kita ambil dari yang paling mudah dulu, hati ibunya Alana. Setelah itu baru yang lainnya.


"Alana kalau ada yang gak ngerti tanya aja ya?" Ucap Aiden.


"Kalau butuh bantuan juga bilang aja," lanjut Anggara.


"Engga ada," jawab Alana datar.


Mereka berdua menghela napas, ternyata memang gadis ini cuek sekali. Tapi mereka tidak menyerah. "Na tau film little pony yang episode terbaru?"


Mendengar itu Alana mengalihkan fokusnya pada Aiden. "Emang ada episode baru, Kak?"


Aiden mengangguk, tidak sia-sia memang tadi dia menemani keponakannya menonton itu. Tau darimana Aiden Alana menyukainya? Tentu saat Alano curhat kalau dia pusing dimintai Alana menonton little pony.


"Mau nonton?" Aiden melihat Alana yang nampak antusias kini membawa iPadnya dan duduk di samping Alana.


Seperti berhadapan dengan anak kecil kini Aiden memutar film itu di hadapan gadis itu. Alana awalnya nampak risih sih saat Aiden mendekat, tapi dia memang penasaran juga.


Benar saja ada episode terbaru dari film itu. Membuat Alana kini anteng memakan biskuit dan menonton bersama Aiden. Anggara menatap tajam pada Aiden, bisa-bisanya dia kalah satu langkah. Sementara Aiden tersenyum kemenangan.

__ADS_1


"Pony kecilku, pony kecilku~" Mereka berdua bersenandung.


Berbeda dengan Anggara yang panas, Agam malah tidak kuat menahan kekehannya. Aiden loh? Seorang Aiden yang terkenal cool menonton little pony hanya demi Alana. Luar biasa. Tapi Aiden terlihat cuek saja, yang terpenting dia bisa mengambil hati Alana.


__ADS_2