Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Berdebat Dengan Agam


__ADS_3


Dengan tertatih-tatih Alana berjalan menuju kerumunan teman-temannya, tetapi baru beberapa langkah seseorang muncul berjalan berlawanan arah dengannya.


"Alana? Alana kamu kenapa?" Aiden kaget, ketika pria itu menemukan Alana berjalan dengan kaki yang pincang.


Alana hanya mengedikan bahunya, dia kesal. Dia sedang kesal dengan Agam yang tidak punya hati itu, padahal Alana kesakitan sekali ini. "Gapapa."


"Jangan bohong, itu kakinya kaya gitu? Kenapa bisa? Ada yang jahatin lagi?" Tanya Aiden panik. Panik lah nanti dia juga kena amuk Alano kalau sampai Alana kenapa-kenapa, apalagi Aiden adalah pembimbing kelompok Alana.


"Gapapa, tadi jatuh di sana aja," kata Alana menunjuk ke arah tepat dia jatuh tadi sembari menahan sakit yang teramat pada jari kakinya.


Aiden memgarahkan pandangan selurus dengan telunjuk Alana. Aiden jelas tahu jika rafia itu sengaja dipasang oleh dia dan Agam untuk kegiatan outbond nanti sore. Lalu dia menoleh kembali dan bertanya, "Kenapa bisa jatuh?"


"Kesandung tali rafia itu! Siapa sih yang masang begituan, Kak? Iseng banget lagian."


Aiden hanya memaksakan senyumnya. "Sorry, ya, yang pasang tadi saya sama Agam. Buat outbond nanti sore. Kamu mau kemana?"


"Mau ke sana, Kak, itu kenapa pada rame?" Tanya Alana.


Bukannya menjawab Aiden justru tertawa renyah, setelahnya dia tersenyum manis. "Pembagian kamar. Tapi kayaknya list udah dibagi perkelompok. Sekarang kamu harus cek kaki kamu dulu. Siapa tahu kenapa-kenapa?" Ucap Aiden perhatian.


"Gak per–"


"Cek, dulu, Alana." Aiden kemudian berjongkok di hadapan Alana. "Buka dulu sepatunya," perintahnya kemudian.


Alana lantas menurut, melepas tali sepatunya dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain dia jadikan tumpuan di bahu Aiden agar bisa tetap berdiri.


Setelah sepatu itu terlepas, Aiden mengamati pergelangan kaki Alana tanpa melepas kaus kakinya.


"Gak apa-apa ini, keseleo dikit aja. Di kasih krim analgesik juga sembuh," ucap Alana karena memang dia tidak nyaman di posisi seperti ini. Lagian Alano kenapa tidak ada sih, dia tidak bisa meminta tolong pada Alano jadinya.


Krim analgesik sejenis krim yang digunakan untuk meredakan nyeri otot. Alana sering memakainya dulu saat sering mengikuti ekstrakurikuler tari klasik yang tak jarang membuatnya sakit badan.


"Gak bisa, ini harus dipijet. Saya bantu ya? Mau digendong?" Tanya Aiden.


"Gak usah, Kak, nanti juga sembuh sendiri," balas Alana lalu memakai sepatunya kembali. Aiden bangkit berdiri lagi setelah selesai membantu Alana menggunakan sepatu ya. "Kalau ada yang bisa cepat kenapa engga? Kalau gak mau ayok saya bantu jalan."


"Tapi–"


"Ikut aja," tukas Aiden lalu meraih tangan Alana dan mengajaknya pergi ke sebuah ruangan.


Sesaat pandangan Alana beralih pada sebuah teras. Di sana Agam sedang berdiri dengan bersidekap seraya memandang lurus ke arahnya. Meskipun tatapannya datar Alana bisa melihat jelas ada hal yang berbeda pada wajah cowok itu.


Agam sedang memperhatikannya dengan rahang mengeras dan tatapan yang tidak bisa Alana artikan. Mungkinkah cowok itu marah? Bukannya seharusnya Alana yang marah ya?

__ADS_1


"Ada krim analgesik gak?" Tanya Aiden saat sampai di sana.


"Krimnya ada di Agam, tadi dia minta, katanya punggungnya sakit." Jawaban Athena membuat Aiden menggaruk pelipisnya.


Pasca Alana jatuh Aiden membawanya ke ruang kesehatan dimana Athena dan beberapa senior bagian kesehatan berjaga. Niat awalnya hanya mencari krim analgesik untuk Alana.


"Agam dimana?" Tanya Aiden Lagi.


"Ga tau. Lo cari aja deh, gue sibuk harus urusin ini." Athena menunjukkan lembaran kertas yang berisi tabel.


Entah itu apa Alana tidak tau. Akhirnya Athena berjalan keluar ruangan sebelum mendapatkan persetujuan dari Aiden. Aiden lalu menoleh ke arah Alana yang ada di sampingnya.


"Ternyata krimnya dibawa Agam. Kamu tunggu di sini, ya. Saya cariin dia dulu." Belum sempat Alana menjawab, Aiden sudah lebih dulu berlari keluar. Meninggalkan Alana sendirian di sana.


Seketika Alana merasa moodnya menjadi buruk. dia tidak perlu krim itu. Yang dia perlukan sekarang adalah kembali pada kelompoknya. Jangan sampai senior yang lain memanfaatkan kesempatan untuk menghukum kelompoknya karena dia tidak ada.


Dia juga tidak mau merepotkan Talia membawakan barang-barangnya. Tempat ini luas, Alana belum hafal susunan dan arah koridor pada vila ini. Jika dia nekat untuk pergi maka kemungkinan Alana besar dia akan tersasar.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan kesehatan itu terbuka. Anggara dan Agam muncul dari sana.


"Alana? Kenapa kamu?" Anggara lah yang pertama kali membuka suara. Sementara Agam hanya diam mengamati Alana dari atas ke bawah.


Rasanya malas sekali Alana bertemu dengan Agam. Ditambah lagi, cowok itu tak ada niatan untuk menolongnya sedikitpun saat dia jelas-jelas jatuh di hadapannya.


"Saya ... Maaf, Kak, saya tadi jatuh. Terus Kak Aiden bawa ke sini buat cari krim, tapi katanya krimnya di bawa Kak Agam, terus Kak Aiden sekarang pergi buat nyari Kak Agam." Alana berusa sebisa mungkin untuk sopan meskipun dia kesal sekali pada Agam.


Entah sudah berapa kali Alana berada dalam satu ruangan bersama Agam. Baginya itu tidak penting, sekarang bagaimana caranya agar pergi dari pria itu. Alana memutuskan untuk berdiri.


Sekuat tenaga dia berusaha untuk berjalan, meninggalkan Agam dengan kaki tertatih. Namun, baru baru beberapa centi dia menyeret langkahnya, kaki Alana kembali terasa nyeri, membuat Alana menggigit bibirnya menahan rasa sakit itu.


Agam yang berdiri persis di depan Alana hanya menatapnya Heran. Kenapa dia selalu menggunakan logika yang pendek?


"Permisi, Kak! Aku mau keluar!" Ucap Alana dengan nada datar. Tapi Agam justru terpaku di sana. Hanya menatap Alana dengan tatapan misterius.


"Kakak jangan pura-pura gak denger!" katanya setelah mencebikkan bibirnya.


"Aku mau keluar!"


Sialnya, Agam masih belum membuka suara. Hanya helaan napas kasar yang terdengar di telinga Alana. Agam lalu mengurai dekapan tangannya sendiri.


Alana yang tidak ingin berdebat lantas memutar bola matanya malas. Agam mau apa lagi sih? Dia masih marah dengan Agam. Tidak mau berinteraksi dengannya barang sedetik pun.


Selanjutnya gadis itu membuang napasnya, lalu membuka suara. "Kak, aku gak mau debat sama Kakak. Aku mau keluar. Permisi!"


"Kemana?" Akhirnya Agam membuka suaranya.

__ADS_1


"Kurang jelas, ya? Aku mau keluar. Ke-lu-ar!" Tegasnya, tidak ingin basa-basi.


Suaranya sedikit meninggi membuat Agam menatapnya bingung. Lalu Agam mendorong begitu saja tubuh Alana untuk masuk dalam ruangan itu.


"KAK AGAM MAU NGAPAIN?!" Teriak Alana.


Alana spontan memekik dan membuka matanya lebar-lebar saat Agam mendorong tubuhnya. Sementara Agam tidak berkomentar sedikitpun. Hanya mengusap telinganya yang terasa ingin pecah karena suara Alana begitu memekakkan telinganya.


"Kak Agam!" Sungut Alana seraya melepaskan diri dari kungkungan tubuh Agam. "Mau ngapain, sih?!"


"Duduk!" Titahnya. Namun Alana tidak patuh begitu saja. Gadis itu malah memandang tidak suka ke arah Agam. Lalu nekat untuk menerobos celah kosong di sebelah pria itu. Sayangnya, gerakan tangan Agam justru lebih cepat dari tubuhnya.


"Gak!" Tolaknya.


"Aku mau pergi!" Teriak Alana lagi tak kalah egois.


Agam spontan memejamkan matanya. Sungguh dia hanya ingin ini semua selesai dengan cepat. Bukan mencari ajang debat bersama gadis ini.


"MINGGIR, KAK! AKU MAU KEMBALI KE KELOMPOKKU!"


"Alana!"


"Aku mau pergi! Titik!"


"Alana!"


"Bisa denger gak sih, kalau aku mauㅡ"


Agam melemparkan tatapan tajam. "Saya masih senior kamu! Duduk!"


Suara Agam kini terdengar mengerikan. Seakan memberikan peringatan kepada Alana untuk tidak membantah apa sedang diperintahkannya. Sontak Alana bergeming. Dia terkejut bukan main. Agam seperti menjelma menjadi sosok yang mengerikan.


"Aduh Alan kemana sih, Ana takut," batin Alana.


Sempat terlintas dibenaknya untuk membantah dan tetap teguh dengan keinginannya, tetapi dia sadar kalau pria yang sedang berdiri di depannya ini adalah senior yang mampu membuat siapapun bungkam.


Dia tidak ingin mencari gara-gara Dengan terpaksa Alana mendudukkan dirinya di atas kursi yang tadi sempat dia gunakan. Sementara Agam berjalan mengambil sebuah kotak yang tersimpan rapi dalam sebuah tas jinjing berwarna hitam.


Sesaat kemudian dia kembali. Keduanya bergeming. Tidak mengatakan apapun. Hanya suara kecil yang ditimbulkan pengait yang terbuka. Agam berjongkok di hadapan Alana. Tangannya terulur meraih sepatu Alana dan melepas untaian tali berwarna putih yang sedikit kotor itu.


Setelah sepatu terlepas, Agam lalu


membuka kaos kaki hitam yang dikenakan. Betapa terkejutnya Alana saat melihat sebuah luka memar pada jempol kanannya.


Saat Aiden memeriksanya tadi memang tidak ada luka karena kaos kakinya tak dibuka. Namun, saat Agam memeriksanya semuanya baru terlihat jelas. Pantas saja rasanya sesakit itu. Sepertinya tadi dia tersandung cukup keras dan menghantam batu.

__ADS_1


"Lihat, luka kamu parah. Apa susahnya kamu diam dan mengikuti arahan saya!" Agam nampak kesal tapi wajahnya sangat datar, memang tidak bisa ditebak orang yang satu ini.


__ADS_2