Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Ucapan Terima Kasih


__ADS_3


Alano menatap datar pada Aiden yang sepertinya sudah mulai pendekatan dengan Alana. Inilah Alana, dia mudah sekali diculik. Bagaimana Alano tidak posesif padanya kalau seperti ini.


Perlahan Alano menghampiri mereka dan menangkup pipi Alana dari belakang untuk mengadah ke arahnya. "Ihh Alan, kaget tau!"


Alano terkekeh melihat pipi gembul itu mengembung. Lucu sekali adiknya ini. "Jangan mau sama Aiden modus."


"Modus apa, orang kita nonton little pony kan, Na?" Ucap Aiden meminta persetujuan Alana.


"Iya orang nonton little pony kenapa sih Alan," cibir Alana.


"Nanti sama Alan aja. Pindah lu," usir Alano pada Aiden.


Anggara dan Agam tertawa melihat ekspresi kesal Aiden, kasihan sekali. Padahal butuh perjuangan keras untuk mendekati Alana, eh Alano sudah pulang saja.


Alano mencium puncak kepala Alana dan menaruh tas di kursi sebelah Alana agar tidak di tempati. Setelah itu dia menghampiri ibunya dan mengecupi pipi Abella. "Selamat malam, Mamaku."


Abella menghela napas. "Kamu ini kaya papa aja ngagetin. Lancar latihannya?"


Alano mengangguk pelan. "Papa belum pulang?"


"Lembur, Sayang. Sana gih mandi dulu, udah bau asem. Setelah itu turun dan kita makan malam ya."


Mendengar itu Alano mengangguk, kegiatan seperti ini memang rutin dilakukan. Mereka memang diajarkan untuk saling berkomunikasi dalam keluarga, sehingga rasanya ada yang kurang jika tidak dilakukan.


Abella menyiapkan makanan di meja, sementara Alana masih sibuk dengan iPad milik Aiden yang menayangkan little pony. Membuat Abella menghela napasnya. Kenapa ya Alana ini berbeda sekali dengannya dulu.


Abella meskipun tidak tertarik pada pria tapi dia sudah dewasa, tapi Alana ini masih seperti anak kecil yang sangat polos. Tapi memang Abella dan Gala memanjakannya sih. Mungkin memang anak itu bertumbuh karena pola asuh dan pola asuh orang tua memiliki cara masing-masing sekaligus kekurangan dan kelebihannya juga.


"Kamu kenapa suka sekali nonton film kartun?" Tanya Abella.


"Loh bagus Mama, daripada Ana nonton film dewasa," jawabnya asal membuat orang yang ada di sana langsung menatap ke arahnya. Gamblang sekali Alana.

__ADS_1


"Heh, diajarin siapa gitu?" Tanya Abella tak percaya.


"Kan Ana bener, Mama harusnya seneng kalau anaknya lebih suka kartun. Artinya anak mama lurus-lurus aja. Harusnya Mama–"


"Ssstttt." Abel menutup mulut Alana dengan tangannya, berisik sekali Alana kalau sudah mengomel. "Udah-udah, iya nonton aja sayang. Mama yang salah. Oke fine."


Kali ini Abella mengalah saja, pusing sekali kalau harus berdebat dengan Alana karena masalah film kartun. Tapi memang apa yang dikatakan Alana benar juga.


Alana berbeda dengan Alano, kalau Alano lebih berbakat di akademik dan Alana di non kademik. Alana suka bernyanyi, dia mudah mempelajari sesuatu, dia pintar menulis seperti ibunya dan Alana suka dengan hal yang estetik. Sementara Alano dia seperti Gala, dia ambisius, pekerja keras, tangguh dan suka lupa dunia jika sudah mengerjakan sesuatu.


Alano itu dewasa dan bijak, kalau Alana itu seperti anak kecil yang manja dan keras kepala. Tapi dibalik semua itu Abel tetap bersyukur mereka tumbuh dengan baik. Mereka saling melindungi dan menjaga. Meskipun akan lengkap sepertinya kalau Azriel ada bersama mereka. Sayangnya kejadian belasan tahun itu tidak bisa dia hindari dan membuatnya kehilangan Azriel.


.


.


.


Pukul 10 malam, Agam keluar dari kamar Alano dan menuju balkon lantai dua ini. Dilihatnya pintu kamar Alana terbuka. Ternyata gadis itu sedang bersiap-siap untuk besok ditemani oleh ibunya.


Beberapa menit Agam di balkon seraya menikmati hembusan angin malam. Perlahan dia menghela napasnya saat menatap photo beserta pesan adiknya.


Kejora ❤️ : Kak


Kejora ❤️ : I miss you soo much.


Kejora ❤️ : Kapan kakak ke rumah Mama?


Kejora ❤️ : Kejora tidak suka di sini, tolong bawa aku pulang saja!


Rupanya adik kecilnya ini sudah mulai protes. Tapi bagaimana lagi? Agam tidak bisa membawanya ke rumah, lagi suasananya lebih kacau daripada di rumah ibunya.


"Setelah selesai kegiatan ospek, kakak ke sana. Jangan bilang mama. Kita bertemu setelah kamu pulang sekolah. Kakak yang akan jemput kamu, jadi siapkan alasan ya?" Agam mengirimkan pesan suara itu pada Kejora. Semoga saja gadis itu bisa memberi alasan yang masuk akal kepada ibunya.

__ADS_1


"Parah banget adeknya disuruh bohong," ucap seseorang dari pintu balkon ini.


Benar, itu Alana. Agam tidak menjawab, bukan urusan Alana juga. Lagi pula kenapa tiba-tiba dia ada di sini.


"Kak Agam gak asem ya mulutnya cuma diem aja? Kenapa gitu kakak paling irit bicaranya dari kak Aiden, kak Anggara, sama deh kaya Alan suka irit bicara," ucap Alana yang kini berdiru di sebelah Agam.


"Bukan urusan kamu juga."


"Iya juga sih, yaudah kalau gak mau jawab. Orang nanya tuh biasanya membutuhkan jawaban tapi kayanya aku salah deh nanya sama orang yang sukanya diem."


"Kalau saya bicara panjang lebar nanti kamu jatuh cinta," balas Agam.


Alana menatapnya sinis. "Dih narsis banget kak Agam. Emang kak Agam pikir semua cewek bakalan tergila-gila sama kakak gitu?"


"Tentu," singkatnya.


Alana melongo sih, bisa-bisanya Agam se-percaya diri itu. Ya memang Agam cukup tampan sih tapi kan bukan berarti Alana juga kan jatuh cinta padanya. Dasar menyebalkan! Sepertinya memang Agam ini narsis juga.


"Kenapa ke sini?" Tanya Agam.


Alana menaruh 2 snack bar, beberapa permen yupi dan susu kotak strawberry di pagar tembok tidak terlalu tinggi yang ada di hadapan mereka. "Mau bilang makasih karena kak Agam anterin aku tadi, makasih juga buat jaketnya. Nanti dicuci dulu sama Mabel katanya, baru nanti aku balikin ke kakak."


Agam terdiam dan menatap Alana datar. Membuat Alana kebingungan karena tidak mendapatkan respon dari pria itu. "Kenapa liatin?"


"Tidak apa-apa, terima kasih kembali," balas Agam.


"O-oke kalau gitu aku masuk dulu." Melihat wajah Agam yang datar membuat Alana takut sih. Jadi Alana langsung berbalik, namun baru satu langkah tangannya sudah di tarik oleh Agam membuat Alana menghadap ke arah pria itu.


Alana menelan salivanya, dia kaget sih. Belum lagi dia merasa ada atmosfer yang berbeda saat dekat seperti ini dengan Agam. Perlahan Agam mendekatkan wajahnya pada Alana. Membuat Alana berteriak dalam hatinya. Agam mau apa?!


Sejenak Agam memperhatikan wajah panik Alana. Lalu ... "Cuci sendiri, kamu yang pakai berarti kamu juga yang harus bertanggung jawab."


Mendengar itu Alana buru-buru melepaskan tangan dari Agam. Pikirannya sudah aneh-aneh pokoknya, jadi tanpa menjawab Alana berlari masuk dan meninggalkan Agam yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


Jujur ini pertama kalinya Alana mengalami hal itu, tentu dia kaget dan tidak terbiasa. Bahkan sepertinya pipinya sudah memerah akibat perlakuan Agam yang mendadak seperti tadi. Memang meresahkan sekali Agam Alviano Abraham ini.


Setelah Alana masuk, Agam melirik ke arah makanan yang gadis itu bawa. Senyumnya melengkung. Bukankah ini manis sekali? Sebenarnya Agam tidak suka makanan terlalu manis, tapi entah karena lapar atau karena sedang gabut dia memakan dan meminum susu kotak itu.


__ADS_2