Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Cemburu


__ADS_3

Jam istirahat sudah tiba, niatnya Alana ingin pergi ke kantin dengan Talia dan Bara, tapi dia malah diajak lebih dulu oleh Alano yang tidak menerima penolakan untuk ke kantin bersamanya. Selain kesal karena tidak bebas, Alana juga kesal karena dia jadi merasa semua orang takut untuk berteman dengannya apalagi saat melihat 4 prince charming itu menjemputnya ke kelas.


Jadi di sinilah dia berada, di meja yang memang menjadi tempat Alano dan teman-temannya beristirahat dengan satu piring siomay dan juga jus mangga di hadapannya.


"Eh Alana, di makan dong siomaynya. Masa cuma diliatin," tegur Aiden pelan.


Alana hanya tersenyum kecil sambil menyuapkan siomay ke dalam mulutnya. Alano paham sekali kalau Alana merasa kesal, tapi membiarkan Alana pergi ke kantin dengan seorang pria yang baru ditemuinya hari ini. "Mukanya."


"Bisa gak Ana ke meja Talia aja?" Tanya Alana sambil melirik Alano.


"Gak bisa, ada cowoknya."


"Itu Bara, temen sekelas Ana. Dia baik kok," jelas Alana yang tentu membela dirinya sendiri agar tidak dilarang ini itu.


"Eh tapi gua baru liat itu anak, selama ospek gak ada," gumam Anggara.


"Iya Bara itu gak ikut ospek, Kak. Dia baru pulang dari Amerika. Makanya gak pernah liat, tapi dia baik kok. Alan aja yang suudzonan sama orang!" Kesal Alana.


"Tau darimana?" Tanya Agam tiba-tiba.


Mendengar suara Agam yang daritadi hanya terdiam membuat Alana sedikit serat di tenggorokan. "Tadi ngajak kenalan pagi-pagi," jawab Alana pelan.


"Modus," ucap Agam pelan namun masih bisa didengar oleh yang lainnya.


Alano mengernyitkan dahinya, tak biasanya Agam kepo apalagi sampai mencibir orang. Agam yang sadar akan itu berdeham, padahal dalam hatinya dia merutuki perbuatannya sendiri.


"Jangan deket-deket," ucap Alano mengultimatum adiknya.


"Apasih Alan orang itu gebetannya Talia juga."


"Tetep aja."


Mendengar itu Alana mendengus pelan, sudahlah. Akan sangat rumit jika memperpanjang perdebatan dengan Alano. Dia orang dengan pemikiran mutlak dan kalau sudah begitu Alana bisa apa selain menurut saja pada Alano. Lebih baik dia mengalah saja kali ini dan memakan siomay miliknya sambil mendengarkan keempat pria itu membicarakan soal basket, pelajaran, ya sangat membosankan.


Banyak tatapan aneh padanya, dia bagaikan putri di tengah-tengah pria tampan ini. Bagaimana tidak, baru kali ini ada seorang gadis yang bisa bergabung bersama mereka dan itu hanya Alana saja. Tentulah banyak orang yang iri dengan kedekatan Alana dengan mereka.


"Eh Alana, kenapa gak ikut Osis?" Tanya Aiden yang memang sangat terlihat sekali tertarik dengan Alana bahkan tidak peduli kalau Alano menatapnya tajam.


"Gak suka."


"Ikut aja, biar bisa dijagain Alano juga. Daripada ikut ekskul lain," kata Aiden mencoba untuk membujuk gadis itu.


"Gak mau. Aku mau ikut taekwondo," putus Alana.

__ADS_1


"Gak boleh," sahut Alano.


Alana langsung menatap kembali Alano. "Badminton?"


"Gak, nanti cape," balasnya lagi.


"Paskibra?" Tanya Alana lagi.


"Panas, nanti hitam."


Alana memutar bola matanya malas. "Paduan suara deh! Gimana?" Tanya Alana tak mau menyerah.


"Deal."


Alana tersenyum, akhirnya dari banyaknya penawaran ada juga yang di acc langsung oleh Alano. Ya sekiranya dia ada kegiatan lah di sekolah daripada dia tidak mengikuti apapun.


.


.


.


Pulang sekolah seperti biasa Alano ada kegiatan taekwondo dan Alana memutuskan untuk menunggu kembarannya itu. Namun saat dia akan keluar kelas tiba-tiba Bara menahan tangannya, iya Bara. Kebetulan mereka hari ini ada jadwal piket yang sama jadilah mereka masih di sekolah meskipun sudah cukup sepi.


"Alana," panggil Bara.


"Pulang sama siapa? Mau bareng gua?" Tanya Bara. Ya ini yang dinamakan kesempatan, siapa tahu saja beruntung.


"Engga deh kayanya, aku pulang bareng Kak Alano. Maaf ya, tapi makasih buat tawarannya," ucap Alana sopan.


Bara hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Awalnya dia bingung siapa sebenarnya Alano saat tadi melihat interaksi keduanya. Tapi saat di kantin tadi Talia menceritakan kalau Alano adalah kembaran Alana dan dia sangat posesif terhadap Alana.


"Terus kemana dia?" Tanya Bara.


"Latihan taekwondo, ini mau nungguin."


"Mau ditemenin? Ada cafe di samping sekolah, gimana kalau—"


"Gak perlu, dia sama saya," ucap seseorang dari belakang Alana.


Alana berbalik, tidak menyangka kalau itu adalah Agam. Matanya mengerjap saat tangannya diraih oleh Agam. "Pulang, sudah mau sore."


Bara mencebik dalam hatinya, siapa dia? "Why? Gak ada salahnya kalau gua gabung?"

__ADS_1


"Alano tidak suka adiknya dekat dengan orang asing. Lebih baik pulang sekarang."


Bara menggaruk ujung pelipisnya dengan telunjuk. Kalau Alano ya wajar, tapi temannya Alano yang seperti ini membuatnya merasa tidak terima. Apa ini saingannya? "Oke gua balik, Alana gua balik dulu. Next time bisa pulang bareng mungkin? Take care, girl."


Bara menepuk bahu Alana pelan, setelah itu dia meninggalkan Alana bersama Agam yang kini menarik tangannya dan entah mau di bawa ke mana.


"Kok gitu sih?" Ucap Alana dari belakang.


Agam tidak menjawab dan tetap menarik Alana untuk ikut bersamanya. Membuat Alana mengerucutkan bibirnya sebal. "Kok gitu sih, Kak Agam?!"


Agam mengehentikan langkahnya dan berbalik ke hadapan Alana dengan satu tangan yang di masukan ke dalam saku celananya. "Apa?"


"Kenapa Kak Agam gitu sama temen aku?!"


"Lupa yang Alano bilang?"


"Tapi dia kan baik, kenapa coba digituin? Kan gak ada salahnya juga, kenapa sih?"


"Salah, jangan terlaku polos. Kita tidak pernah tau niat seseorang."


"Aku juga gak tau ya niat kakak ajak aku ke perpustakaan, bisa jadi kakak yang punya niat buruk sama aku. Bisa jadi—"


"Jangan konyol."


Alana menghela napasnya, malas sekali memang bicara dengan Agam. Alana pun duduk di salah satu kursi dan memainkan ponselnya. Sementara Agam kini duduk di hadapannya sambil bersidekap dada menatap Alana. Entah kenapa dia tidak suka saja saat tadi melihat Bara menarik tangan Alana. Jadilah dia menghampiri Alana saat selesai melakukan pekerjaannya tadi di ruangan OSIS.


Beberapa menit mereka bertahan dengan posisi itu membuat Alana gugup sekali ditatap oleh Agam tanpa henti. Kan aneh saja rasanya. "Kenapa liatin aku?"


"Tidak boleh memang?" Tanya Agam santai.


"Gak boleh."


Tawa Agam tertahan, sejujurnya dia gemas sekali melihat tingkah Alana yang sok sok galak begini. "Hak saya mau melihat kemana pun."


"Ya jangan liatin aku juga, mending Kak Agam pulang deh. Males banget satu ruangan sama orang yang dinginnya kaya pintu 12 kulkas,", rutuk Alana.


Bagaimana ya, Agam memang setelannya begini. Anehnya jika di depan Alana dia semakin kaku. "Kejora nanyain kamu."


Mendengar kata Kejora Alana terkesiap. "Oh ya? Nanya apa?"


"Kucing."


"Hah, apasih?! Bisa gak jangan setengah-setengah kalau bicara?"

__ADS_1


"Dia suka kucing kamu."


"Ohhhh." Alana mengangguk-anggukan kepalanya, lagi pula apa yang harus dia balas lagi. Susah memang bicara dengan Agam yang modelannya begini.


__ADS_2