
Maaf ya aku baru update lagi. Semoga aja aku update terus, karena aku emang lagi sibuk guys, jadi panitia bukber berturut-turut. Makasih yang masih setia membaca. Happy reading~
Mereka sudah sampai di rumah, namun memang sepertinya Alana sangat kelelahan, Al hasil Alano lah yang harus menggendongnya ke kamar, namun baru saja akan melangkah ke kamar tiba-tiba Abella datang menatap ke arah mereka.
"Adeknya tidur?" Tanya Abella.
"Tidur, kecapean," jawab Alano seadanya.
Abella tadinya hanya mengangguk, namun matanya tertuju pada wajah Alana yang penuh luka-luka kecil, Abella menatap ke arah Alano seolah meminta penjelasan.
"Nanti Alan ceritain, sekarang Alan mau ke kamar dulu, Ma. Mau istirahat," kata Alano.
"Yasudah, kamu istirahat ya. Nanti biar Mama yang urus Alana," ucap Abella, setelah itu tersenyum.
Sebenarnya ini nih yang sering membuat Abella harus berpikir beberapa kali untuk mengizinkan Alana keluar, karena selain daya tahan tubuhnya yang kurang baik, Alana juga orang yang nekad dan ceroboh. Pantas saja perasaannya tidak enak sejak kemarin.
Ah sudahlah, Alana ini memang keras kepala. Jadi lebih baik dia sekarang mengambil handuk kecil dan obat setelah itu mengurusi putrinya yang sangat nakal itu.
Di sisi lain saat Alano sudah menidurkan Alana di kasurnya, sekarang dia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Agam, Aiden dan Anggara mereka katanya akan menyusul ke sini nanti malam. Mereka akan mengambil barang-barang di sini lalu pulang. Baguslah, karena sejujurnya sekarang dia bukan senang kalau teman-temannya datang, tapi lebih banyak khawatirnya karena sekarang Alana di sini bersamanya.
Katakan Alano posesif, tapi sebenarnya dia hanya ingin melindungi Alana. Tapi itu malah membuatnya disangka menyukai adiknya sendiri, memang teman-temannya di luar nalar. Bagi Alano, Alana itu masih kecil. Dia masih membutuhkannya untuk selalu memberikan perlindungan. Termasuk soal begini, jangan sampai dia kecolongan.
Selesai mandi perlahan Alano keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar Alana. Dilihatnya Abella yang sedang fokus dan telaten mengobati luka-luka yang ada di wajah adiknya itu.
"Maaa ... "
Mendengar itu Abella tersenyum dan mengisyaratkan agar putranya mendekat. Dengan anggukan Alano pun menurut dan duduk di sisi kasur yang satunya sambil menatap Abella.
"Ma Alan minta maaf karena gak bisa jaga Ana," ucapnya dengan penuh penyesalan. Mereka selalu diajarkan meminta maaf untuk kesalahan sekecil apapun, jadi Abella tidak masalah selagi Alano mengakui kesalahannya.
__ADS_1
"Emangnya adek kamu kenapa bisa begini?" Tanya Abella.
Alano menceritakan semua kejadian di Villa itu, dari mulai kejadian kaki Alana tersandung, sampai kejadian saat Alana menghilang. Pokoknya dia menceritakan segalanya tanpa dikurang-kurangi atau dilebih-lebihkan.
"Asmanya kambuh?" Tanya Abella.
"Hmm."
Abella menghela napas, bagaimana ya. Kalau mendengar itu Abella jadi merasa dilema. Selalu ada sisi egois dalam dirinya untuk menahan Alana di rumah saja. Karena ya begitu, dia tidak mau Alana sakit. Karena kalau sakit yang merasakannya adalah dirinya sendiri, Abella tidak bisa berbuat apa-apa.
Tapi Abella juga tau bagaimana rasanya dikekang, bagaimana rasanya dilarang ini dan itu. Jadi itulah yang membuatnya dilema. "Makasih ya udah berusaha jaga adeknya dengan baik, Sayang. Gapapa, bukan salah Alan. Alan udah bener kok jagain Alana. Mama berterima kasih untuk itu."
Abella mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Alano. Ya meskipun Alano bukan tipe anak yang banyak bicara mengenai apa yang dia rasakan tapi Abella juga tau kalau Alano butuh sandaran. Jadi sebagai ibu dia juga harus mengerti perasaan yang dirasakan oleh kedua anaknya.
.
.
.
Lebih tepatnya dia memang lebih sering menghabiskan waktu di sini, karena memang apa yang dia butuhkan adalah ketenangan. Kejora yang sedari tadi menempel pada sang kakak terus senyum-senyum.
"Udah makan?" Tanya Agam dengan perhatian.
"Belum, Kak. Kak boleh gak Kejora tinggal sama Kaka aja di sini?" Tanya Kejora.
"Kamu ganti baju dulu, Kakak pesan makanan, lalu kita bicara. Bagaimana?" Kejora sedikit memajukan bibirnya. Tapi memang kakaknya benar sih, dia juga lapar. Jadi karena itu instruksi kakaknya, Kejora menurut saja. Memang siapa yang bisa dipatuhi Kejora selain Agam? Kedua orang tuanya saja kini selalu dia bantah.
Kejora mengecup pipi kakaknya setelah itu dia berjalan menuju kamar, Agam sudah menyiapkan baju untuk sang adik, jadi dia tidak perlu khawatir, juga dia sudah meminta izin pada ibunya membawa Kejora. Mengingat perkataan Alana malam itu yang bilang, kalau dia tidak boleh berbohong membuat Agam memberanikan diri untuk bicara kepada sang ibu. Akhirnya Kejora bersamanya untuk satu Minggu ke depan.
Ngomong-ngomong soal Alana. Bagaimana ya keadaannya? Pasalnya sejak tadi Agam berusaha mengabaikannya karena dia sudah tau kalau Alano mulai waspada padanya. Tapi tadi sejak dalam perjalanan dia sesekali memperhatikan Alana kok. Dia nampak kelelahan, bahkan tertidur sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Ah sial, kenapa Agam memikirkan gadis merepotkan itu sih? Kenapa juga dia harus memikirkan Alana yang selalu mengacaukan hari-harinya. Sudah gila memang.
Jadi daripada memikirkan Alana terus menerus, Agam mengalihkan pikirannya dan memilih beberapa menu makanan untuk dia pesan. Dia sekarang harus lebih fokus pada Kejora. Pasti ada banyak hal yang ingin dia ceritakan.
Beberapa jam berlalu, di sinilah Agam dan Kejora berada. Di meja makan sambil sesekali Agam memperhatikan adiknya yang nampak ceria. "Are you happy, girl?" Tanya Agam.
"Happy! Seminggu cuma sama Kakak, aku lebih suka tinggal sama Kakak. Aku punya ide!" Ucap Kejora dengan antusias.
"Apa?"
"Gimana kalau Kakak izin ke mama buat ajak aku tinggal sama kakak aja, gimana kalau–"
"Gak bisa, Dek."
Kejora yang semula antusias, kini wajahnya berubah. Kenapa tidak bisa? "Kenapa? Aku gak akan ngerepotin kakak kok, aku gak agak bikin kakak kesulitan cuma karena ada aku dalam hidup kakak."
"Bukan begitu, Kejora. Mama pasti gak mengizinkan itu."
"Tapi kenapa? Aku juga di sana sendirian kok, aku gak punya siapa-siapa untuk diajak bicara di rumah itu. Bahkan aku gak dibolehin banyak hal, aku gaboleh kesana, kesini. Kenapa kakak gak mau berusaha dan usahain itu buat aku?" Tanya Kejora yang mulai terlihat melankolis.
Sejujurnya Agam membenci keadaan seperti ini sih. Dia benci dengan keadaan keluarganya yang seperti ini. Dia benci karena meskipun Agam tidak peduli dia menjadi korban, tapi tidak dengan Kejora. Kejora pasti butuh sosok keluarga utuh dalam hidupnya.
"Bukan gitu." Agam menghela napasnya. Harus banyak pertimbangan untuk bicara dengan Kejora yang masih kecil untuk memahami ini semua. Banyak emosi yang dia rasakan dan pastinya itu membuat Kejora lebih sensitif. "Kakak belum punya jaminan untuk itu, Kejora. Tolong bertahan beberapa tahun, setelah itu Kakak akan bawa kamu dari sana."
"Kenapa gak bisa sekarang?"
Bagaimana cara menjelaskan pada Kejora kalau dia juga tidak baik-baik saja di rumah sang ayah tapi banyak tuntutan yang dia rasakan. Bagaimana cara mengatakan posisinya sebagai anak pertama yang membuatnya muak? Tentu Agam tidak bisa menjelaskannya.
Kejora yang melihat kakaknya terdiam ikut terdiam. Agam itu adalah kakak terbaik yang dia punya, kalau dia diam seperti itu sudah pasti ada banyak hal yang dia pikirkan.
Pada akhirnya mereka berdua sama-sama terdiam dan kembali melanjutkan makan malam mereka. Mungkin timingnya kurang tepat. Mereka sekarang sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1