
Setelah mengganti pakaiannya karena Alano merasa khawatir, dia membawa Alana ke kamarnya bersama ketiga pria yang lainnya. Awalnya Alana tidak mau, tapi Alano bilang kalau dia akan aman bersamanya.
Bukannya apa-apa, dia tidak mau kalau sampai Alana seperti kemarin yang keluar kamar tanpa bicara pada siapa-siapa. Agam, Aiden dan Anggara bisa melihat sih seperti apa sayangnya Alano pada Alana.
"Buka mulutnya."
"Ana bisa sendiri Alan, kenapa Alan pakein terus?" Tanya Alana..
"Cepet."
Alana sedikit menghela napasnya lalu dia membuka mulutnya dan sedikit mengadahkan wajahnya. Perlahan Alano menyemprotkan inhaler ke dalam mulut Alana.
Untuk beberapa saat Alana menghirup obat itu dan mengulanginya sampai dua kali. Kalau seperti ini Alano tenang walaupun dia melihat wajah adiknya ini penuh luka sekarang.
Dengan manja Alana duduk di pangkuan Alano dan menyandarkan kepala di dada bidangnya. Mereka memang melakukan ini sejak kecil. Kalau Alana tidak bisa tidur Alano akan mendekapnya seperti ini sampai mereka sama-sama tertidur.
"Alan maafin Ana," ucap Alana seraya memejamkan matanya.
"Hmm."
"Alan marah ya sama Ana?" Tanya Alana.
"Hmm."
Mendengar itu Alana jadi membuka kembali matanya dan menatap ke arah Alano yang masih terdiam dengan wajah datarnya. "Jangan marah."
Tanpa menjawab Alano kembali menarik Alana dan mendekapnya erat seolah takut kehilangan. "Tidur, meremin matanya."
"Gak bisa tidur kalau Alan marah."
"Gak marah."
"Serius, kan?"
"Iya."
Setelah mendengar itu Alana bisa memejamkan matanya dengan tenang. Karena kalau Alano belum memaafkannya dia tidak akan bisa tenang. Tapi sebenarnya Alano tidak marah kok pada kembarannya itu.
__ADS_1
Dia kesal karena tidak bisa menjaga Alana, dia kesal karena membuat Alana seperti ini, dia merasa gagal menjaga Alana padahal dia sendiri yang mengatakan kalau Alana akan aman bersamanya. Tapi sejak kemarin rasanya dia tidak menjaga Alana dengan baik.
Dengkuran halus mulai terdengar, ternyata Alana sudah tertidur pulas. Membuat Aiden yang kasurnya berada di sebelah Alano melirik sekilas ke arah Alana. Dia juga khawatir, tapi kalau ada Alano mama mungkin dia berani.
"Kecapean dia, lu nemuin dia di mana, Gam?" Tanya Aiden pada Agam yang kini tengah fokus pada ponselnya.
"Di hutan paling dalam," singkatnya.
"Kenapa bisa ketemu?" Tanya Aiden lagi.
"Takdir."
Jujur ya Agam malas menanggapi Aiden semenjak melihat dia memberikan coklat pada Alana. Ya tidak suka saja, meskipun di hatinya dia menganggap rasa tidak suka itu karena Aiden tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai OSIS.
Aiden menghela napasnya, memang tidak akan benar bicara pada seorang Agam Alviano Abraham ini. Dia adalah beruang kutub yang sangat dingin dan irit bicara. Sekalinya bicara menyebalkan.
"Gua gak bisa bayangin dia sendirian di hutan, pasti ketakutan," gumam Aiden lagi.
"Orang dia nangis, gua yang liat semalem aja kaya ngerasain gimana takutnya dia. Gua aja mau nyerah sebagai cowok," kata Anggara jujur.
Alano melirik wajah Alana. Dia jadi kepikiran dengan apa yang Anggara katakan. Dia tau kalau Alana ini penakut dan semalam dia harus berada di sudut paling gelap.
Agam yang melihat jelas kekhawatiran dalam wajah Alano menghela napasnya. "Tapi dia lebih kuat dari yang kita bayangin. Jadi gak usah ngeremehin dia, buktinya dia baik-baik aja. Gak usah nyalahin diri atau gimana. Yang penting dia baik-baik aja."
.
.
.
Alana mengerjapkan matanya berkali-kali, sudah pagi ternyata. Tapi ... Alana langsung terlonjak kaget saat melihat kalau dirinya sedang ditatap oleh ketiga pria yang disebut teman Alano itu, siapa lagi kalau bukan Agam, Aiden dan juga Anggara.
Siapa coba yang tidak kaget meskipun mereka berada kasur masing-masing tetap saja Alana kaget. "A-alan mana?"
"Mandi," jawab Agam singkat.
Aiden yang melihat Alana sudah bangun langsung menghampiri Alana dan duduk di tepi ranjangnya. "Alana gimana keadaan kamu? Apa masih ada yang sakit? Butuh apa?"
Alana mengernyitkan dahinya dan kebingungan. Dia tidak butuh apa-apa sebenarnya. Jadi dia hanya menggeleng. "Aku baik-baik aja."
__ADS_1
Alana meremas ujung selimutnya, kenapa ya dia nampak ketakutan sekali. Dia merasa tidak aman karena Alano tidak ada di sini. Apalagi di sini pria semua.
"Ngapain lu?" Tanya seseorang yang baru keluar dari kamar mandi.
"Hehehe ampun, silahkan. Gua mau– mau ke luar dulu ngontrol anak-anak." Aiden yang memang ketar-ketir karena ketangkap basah sedang menggoda Alana langsung beranjak, tidak hanya itu dia langsung menarik Anggara untuk ikut bersamanya.
Kini di kamar itu hanya ada Agam, Alano dan juga Alana. Agam sih jelas, dia harus memeriksa acara hari ini dan memikirkan beberapa acara yang di rasa harus diubah agar aman. Dia tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.
Sementara Alano memang mandi terakhir karena tidak mau kalau adiknya ini diganggu oleh teman-temanya. Alana menatap Alano yang sedang mengeringkan rambutnya. "Alan, Ana pusing."
"Jangan ikut kegiatan," putus Alano.
"Tapi Ana mau ikut yaa? Masa Ana di sini diem aja, Ana mau ikut yaa Alan," pinta Alana.
"Mau nurut atau Alan bilang papa suruh jemput sekarang?" Tanya Alano mengancam.
Alana mengigit bibir bawahnya. Dia sadar sih kalau dia salah kemarin, dia juga merepotkan banyak orang. Jadi dia menurut saja kalau Alano melarangnya.
Setelah itu Alano mengambil sebuah alat kecil dan memasangkan obat berbentuk tabung kecil di sana. "Nebu dulu."
Alana kembali mengangguk dan membiarkan Alano memasangkan alat itu pada hidungnya. Sebenarnya Alana benci sekali dianggap seperti anak kecil begini. Apalagi di depan orang, dia jadi merasa lemah.
Agam bisa merasakan bagaimana Alana merasa kalau dirinya tidak bebas tapi dia juga takut. Akhirnya jadi punya ide untuk acara hari ini. "Bener kata Alan, saya tidak akan mau direpotkan seperti tadi malam. Kecuali nanti malam, kamu bisa ikut karena ada acara api unggun."
Mendengar itu Alana senang dan menatap ke arah Alano. "Kalau nanti malem Ana boleh keluar?"
Alano nampak berpikir, memang tidak ada yang salah sih untuk acara nanti malam. Jadi perlahan dia mengangguk. "Boleh, tapi jangan jauh-jauh dari Alan."
Alana pun mengangguk, tidak apa-apa deh dia tidak boleh ikut sekarang. Asal nanti malam dia bisa ikut, secara kan acara api unggun itu adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh siapapun.
Beres dengan alat nebu dan memastikan sarapan Alana, Alano pun keluar dari kamar dan menyisakan Agam juga Alana di dalamnya. Mereka nampak canggung hingga akhirnya Agam turun dari ranjang dan berjalan ke sebuah dispenser untuk menyeduh teh.
Alana sedikit memperhatikan bagaimana pria itu dengan tenang menyeduh teh. Aroma teh yang menenangkan ditambah wajah Agam yang seperti itu membuat perasaan Alana juga ikut menghangat. Dia jadi teringat dengan perkataan Agam kemarin malam.
Bolehkah Alana terbawa perasaan pada pria kulkas itu? "Apasih, Alana. Kamu gak boleh suka-sukaan!" Rutuknya dalam hati.
Tak selang beberapa lama Agam menghampiri Alana dan mengulurkan teh hangat pada gadis kecil itu. "Minum."
Dengan ragu Alana mengambil gelas itu dari tangan Agam dengan pandangan yang tak lepas dari pria itu. "Makasih, Kak Agam. Makasih juga–"
__ADS_1
"Jangan GR, saya berlaku seperti ini pada semua orang," peringkatnya yang langsung keluar dari kamar itu dan meninggalkan Alana yang mematung karena ucapannya.
Memang Alana GR ya? Perasaan dia tidak berpikir apa-apa. Tapi ya kalau dia baper ya jelas, memang siapa juga yang tidak melting diperlakukan seperti itu oleh lawan jenis. Apalagi Agam adalah orang yang terlihat cuek selama ini.