Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Alana Hilang


__ADS_3


"Kalau suka perjuangin," ucap seseorang dan sontak saja membuat Agam melirik ke arahnya.


Iya, Agam sedang berdiam di belakang taman untuk menjernihkan pikirannya. Dia benar-benar merasa aneh. Kenapa dia bisa se-kepikiran ini melihat Alana marah padanya.


"Maksud lu?" Tanya Agam tak mengerti maksud ucapan Anggara.


Anggara terkekeh, sebenarnya tadi dia melihat kejadian di ruangan itu dari jendela yang menghadap ke luar. Dia bisa mengetahui detik itu juga kalau Agam menyukai Alana.


"Gua tau kali lu suka sama Alana," kata Anggara to the point.


"Lu kali, bukan gua."


"Gua emang suka, suka sama kepribadiannya yang unik. Gua tau dia dari sisi yang berbeda dan gua tau kedua sisinya. Yang manja dan ceroboh, sama yang pemberani dan kritis. Unik, kan?"


"Terus kenapa jadi gua?" Tanya Agam yang terlihat sedikit sensi.


"Yang tadi itu bukan Agam. Agam mana peduli sama cewek sih? Tapi tadi lu sekhawatir itu sama dia. Gua tau lu gak ninggalin dia dan ambil obat buat Alana, kan?"


Agam tidak menjawab, dia saja bingung dengan dirinya sendiri. Bahkan dia sekarang belum tenang karena Alana marah padanya. Dia merasa ada yang mengganjal karena memang belum tuntas.


"Gua suka bukan berarti obsesi, gua malah seneng lu bisa jatuh cinta lagi. Tapi ya gua saranin gerak cepet. Daripada gua lu harus liat Aiden. Gimana gencarnya dia deketin Alana. Gua gak mihak, tapi untuk sekarang gua bahagia karena lu bisa jatuh cinta lagi."


"Gua gak jatuh cinta."


Anggara terkekeh, mereka ini kenal hampir beberapa tahun dan sungguh Agam begini? Tapi tidak apa-apa setidaknya dia sudah mengingatkan Agam untuk jujur pada hatinya sendiri.


Tepat pukul 14.00 WIB, semua pendamping kelompok memanggil satu persatu peserta untuk berkumpul di aula. Aiden, panitia yang bertugas menjadi pendamping kelompok Alana dan Talia segera mengetuk pintu saat dia telah sampai di depan kamar yang tercantum di list.


Tanpa dia sadari kalau Alano masih di dalam sana. Alano meminta Alana agar tidak berisik. Alano bersembunyi di balik pintu, sementara Alana membuka pintu.


Setelah 3 ketukan, Pintu terbuka dan ternyata itu adalah sesuai harapan, siapa lagi kalau bukan Alana. "Kak Aiden?"


Aiden berdiri tegap, tangan kanannya membawa lembaran check list pendamping kelompok. Pendampingnya itu tampak menawan dengan parfum manis yang melekat pada tubuhnya. Tapi tetap terlihat biasa saja kalau di mata Alana.


"Hai, Na, udah better kakinya?" Tanya Aiden, lalu mengamati kaki Alana yang kini terbalut perban elastis.


Dia tau yang membalut luka itu adalah Elang. Setelah briefing tadi, dia sengaja bertemu Agam di kamarnya, dia bertanya kepada Agam tentang krim untuk kaki Alana, lalu ketuanya itu mengatakan bahwa kaki Alana sudah dia tangani.


"Udah, kok, Kak. Tadi udah dibantu Kak Elang. Makasih banyak tadi udah bantuin aku," jawab Alana seraya menarik sudut bibirnya. Ya harus dia akui memang kalau Aiden ini sangat baik padanya. Meskipun suka modus.


"Syukurlah. Nih, saya bawa cokelat buat kamu," katanya sembari menyerahkan sebuah bungkus coklat berbentuk piramid kepada Alana.


"Hah?" Dahi Alana menekuk dalam. Meskipun begitu, tangannya terulur menerima cokelat itu. "Kakak ngapain bawa coklat,repot banget. Aku kan cuma kesleo aja."


Gelak tawa lolos dari bibir Aiden. Pria itu selalu renyah kalau tertawa. "Buat peletin kamu biar suka sama saya."

__ADS_1


"Hah?"


Melihat ekspresi Alana yang terkejut dan bingung, Aiden terkekeh geli. "Hahaha cuma bercanda, Na. Orang bilang kan, coklat bisa buat naikin mood seseorang. Soo i hope you feel better than this," ucapnya.


Tanpa dia sadari Alano yang mendengar itu mengepalkan tangannya bisa-bisanya Aiden menggoda adiknya. Talia yang melihat itu sedikit meringis ngeri melihat rahang Alano yang mengeras.


Aiden lalu memeriksa jam tangannya. Detik berikutnya dia mendongak kembali menatap Alana. "Talia di mana?"


"Itu Talia lagi siap-siap, Kak, sebentar lagi kita ke aula," jawab Alana.


Mendengar jawaban Alana, Aiden justru mengernyitkan dahinya. "Kita?"


Alana menganggukkan kepalanya cepat. "Aku sama Talia maksudnya, Kak."


Aiden lantas melebarkan senyumnya. "Kaki kamu kan lagi sakit, kamu tinggal di sini aja. Ini bakalan jauh, loh."


Gelengan cepat Alana berikan sebagai jawaban. Kedua alisnya menekuk bersamaan. "Engga, Kak, aku udah baikan. Aku bisa jalan, kok."


Alana Bisa jalan memang, tetapi kondisinya untuk berjalan jauh itu mustahil. Apakah perempuan itu tidak berpikir kesehatannya? "No, ini nanti bakal jalan selama satu jam kurang lebih, ada banyak batu, jalanan Jicin, saya rasa kamu lebih baik tetap di sini saja," bujuk Aiden kembali. Tetapi Alana justru menampakkan wajah tak suka.


"Kak"


"Alana," tukas Aiden cepat.


"Saya gak mau kamu kenapa-kenapa, termasuk teman-teman kamu juga, medan sore ini gak bersahabat dengan kaki kamu yang lagi sakit. Saya bicara sebagai pendamping kelompok kamu di sini, jadi kamu harus nurut ya," kata Aiden tersenyum lebar. Sementara Alana meneguk Ludahnya karena tidak tau harus membalas apa.


Setelah itu Aiden dan Talia pergi meninggalkan Alana dan juga Alano yang masih berdiri di belakang. Dia harus memeriksa kelompoknya memang tapi Alana jauh lebih penting.


"Kan coklat aja, Alan," ucap Alana.


Alano menghela napasnya, bukan masalah soal kata-kata pelet yang Aiden ucapkan. Dia takut Alana terbawa perasaan pada Aiden yang dia ketahui pasti kalau Aiden itu buaya. "Jangan pernah terima apapun lagi, Alan bisa beliin yang lebih besar kalau Ana mau."


Setelah itu Alano mengusap puncak kepala adiknya dan segera menyusul yang lainnya untuk memulai jelajah sore ini. Alana menghela napasnya, kenapa sih dia dimana mana selalu dianggap lemah? Padahal dia juga mampu menjaga dirinya sendiri.


.


.


.


Jalan yang cukup menantang adalah jalan yang akan mereka jelajahi siang ini. Merka harus berjalan menyusuri pita-pita berwarna tertentu yang merupakan sebuah kode.


Yang tidak hadir bukan hanya Alana sendiri, ada beberapa siswa perempuan dan laki-laki yang terpaksa tidak mengikuti kegiatan karena alasan kesehatan. Ada yang asma, maagh, pusing, dan lain sebagainya. Namun, kondisi masih dapat terkendali.


Tak berapa lama kemudian, para peserta sudah berangkat sesuai dengan urutan kelompoknya. Bisa dipastikan kegiatan hari ini akan berjalan hingga malam hari lalu disambung dengan acara lainnya. Karena outbond akan diundur untuk besok.


Sudah hampir pukul enam sore, Alano dan Agam masih berjaga di pos terakhir. Tidak ada obrolan-obrolan seru. Keduanya bergeming sembari tenggelam dalam ponsel mereka, menyelami dunia maya sembari sesekali berkoordinasi melalui Handy talky atau pesan grup, dan panggilan telepon.

__ADS_1


Lalu kedatangan seseorang memecah keheningan mereka. "Lan, Gam?"


"Kenapa, Then?" Tanya Alano.


"Gue ke sini mau nanya, kelompok Aiden udah balik? Dan, posisi mereka ada di mana?" Ada raut serius yang tergambar jelas di wajah Athena. Alano lalu menekuk dahinya.


"Bentar," kata Alano, lalu memeriksa list kelompok yang sudah tiba kembali di Villa. Alano mengarahkan ujung pulpennya pada kertas berisi tabel nama kelompok dan pembimbingnya. Nama Aiden berada pada list paling akhir, artinya kelompoknya akan tiba paling akhir."


"Belum, balik, palingan bentar lagi sampe sini. kenapa?" Tanya Agam mulai serius.


"Tadi kelompoknya Aiden pas berangkat ada Alana gak?" Tanyanya membuat kedua pemuda itu mendongak bersamaan.


Detik setelahnya, Alano dan Agam sama-sama mengerutkan dahi. namun, Alano yang memilih untuk membuka suara.


"Alana gak ikut, kaki dia sakit. Gua liat sendiri Aiden larang Alana ikut. Kenapa?" Tanya Alano yang mulai merasa ada yang tidak beres.


Athena kemudian menganggukkan kepalanya. "Lo bener, tapi, pas Zahra cek kamar Alana buat nganter minuman hangat, gue terima laporan Alana gak ada di kamarnya. Makanya gue pastiin sama lo dia ikut jalan atau gak."


"Gak ada!" Alano kini mulai panik. Tiba-tiba napasnya terasa sesak. Tidak beres ini, pasti ada yang tidak beres dengan Alana.


Athena lantas mengecek kembali, ternyata Alano benar, Alana memang tidak ikut bersama Aiden.


"Lagi di kamar mandi kali? Atau lagi keluar kemana gitu?" Agam memastikan kepada Athena lagi.


"Ck! Gue habis dari sana, Gam. Gak ada. Gue bahkan udah cek ruangan-ruangan di sebelahnya, gak ada semua, gue panggil-panggil juga gak ada jawaban." Athena menyugar rambutnya Sendiri.


Alano menghela napasnya, dia tidak tenang kalau boleh jujur. Tapi mari kita lihat sampai kelompok Aiden kembali.


Tak selamanya berapa lama, terlihat Aiden berjalan bersama kelompok yang di dampinginya.


"Itu, Aiden," kata Athena menunjuk arah dimana Aiden muncul dari sana.


"Kenapa lu semua pada tegang begitu? Gaunganteng ya, rindu?" Canda Aiden, saat tiba di hadapan mereka.


"Aiden, Alana hilang!" Sahut Athena sebelum candaan Aiden berubah menjadi lawakan konyol lagi.


"Hah? Ilang gimana maksud, lu?" Pertanyaan Aiden mewakili anak-anak dalam kelompok yang dia dampingi. Lantas mereka saling menatap satu sama lain menganalisis jawaban apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Athena kemudian menjelaskan kembali apa yang dia alami tadi kepada Aiden dan siswa dalam satu kelompoknya. Talia yang mendengar Alana Hilang lantas mendadak panik.


"Kelompok gua kelompok terakhir, gua sweeper, gak ada orang lagi. Jangan ngaco deh, Then, barangkali dia cuma pergi ke tempat deket?"


"Enggak ada, Aiden, gue udah cari seluruh vila ini dia gak ada!"


Kehebohan pun terjadi, Talia mendadak cemas, Dinda yang khawatir dan enam orang lainnya turut riuh bertanya bagaimana Alana dan mereka harus apa, sementara Athena dan Aiden justru berdebat hal yang dirasa tidak perlu diperdebatkan.


"Cukup! Kita cari!" Sentak Alano membuat mereka semua terdiam.

__ADS_1


Alano benar-benar tidak bisa menahan lagi, dia lebih dulu pergi dari sana tanpa mempedulikan instruksi Agam. Sebagai anak kembar tentu mereka terkoneksi, lagi pula kenapa Alana selalu melakukan apa yang dia inginkan sih?


Apalagi daerah sini belum dia ketahui pasti, kenapa juga tidak melapor pada petugas. Sebenarnya ini yang tidak dia suka dari Alana. Anaknya keras kepala dan melakukan apapun tanpa dia pikirkan dengan matang. Apa yang harus dia katakan pada Ibunya kalau Alana benar-benar tidak ada?


__ADS_2