
"Kenapa sih harus terperangkap di sekolah ini, kalau tau se-nyebelin ini mending gak usah pindah, mending di Bandung aja!" Gerutu Alana.
Kemarin dihukum, sekarang dihukum. Kenapa Agam suka sekali menghukumnya. Padahal apa yang dia katakan benar, peraturan ini tidak adil sama sekali! Pandangan Alana pada Agam benar-benar jelek pada pria tidak punya hati itu. Andai saja Alana bisa mengatur pertemanan Alano, sudah pasti dia tidak akan pernah mengizinkan Alano berteman dengan Ketua OSIS jahanam itu.
Sudah 3 seri, Agam tidak ada, kan? Karena Haus akhirnya dia kembali mengambil minuman dingin yang tadi dibeli di jalan. Namun saat akan meminumnya Agam dengan cepat mengambil botol itu dan menumpahkan isinya.
"Kakkk!!! Apa-apaan sih, gak boleh minum juga emangnya? Haus loh, bener-bener gak punya hati, kalau adek kelasnya dehidrasi terus pingsan aku aduin ke kepala sekolah biar jabatan kakak dicabut aja! Seharusnya–" Ikut saya.
Tanpa ada kata-kata lagi Agam kini menarik tangan Alana untuk mengikutinya, tolong dong ini kaki Alana sudah pegal setelah gerak jalan dan bending, sekarang jalan pria ini begitu cepat sehingga Alana susah mengimbangi. Untung saja semua orang sibuk di auditorium dan tidak melihat kejadian ini.
"Kakkk, ini saya mau dihukum lagi? Please ini tenggorokannya udah kering banget, kakkk!!! Kaki saya juga lecet!! Kak Agam!!" Omel Alana.
"Bisa diam?!" Jujur saja itu membuat penging kepala, Agam suka ketenangan dia tidak suka yang ribet dan dia tidak suka gadis cerewet seperti Alana ini. Bikin pusing.
"Ya makanya lepasin! Saya mau–"
"Duduk," titahnya.
Alana menatap tak suka pada Agam yang menyebalkan ini. Untuk apa dia di bawa keruangan pribadi Agam sebagai Ketua Osis? Tapi Alana lelah akhirnya dia menurut.
"Kenapa sih kakak jadi kakak kelas gak punya hati banget?" Tanya Alana yang sudah geram sejak tadi.
"Kenapa kamu tidak berpikir dengan logika saat akan minum?" Tanya Agam yang kini menumpukan tangannya di meja yang berada di depan Alana.
Memangnya salah ya? Ketika haus yang dibutuhkan pasti air? Kenapa juga harus bermain logika?
"Apasih, Kak?!" Kesal Alana.
Agam mengambil sesuatu dari dalam lacinya, setelah itu mengulurkan satu botol air mineral pada Alana. "Air dingin tidak dianjurkan untuk orang yang selesai berolahraga apalagi di siang hari! Minum."
Mendengar itu Alana jadi grogi. Dia baru ingat kalau air dingin tidak baik, tapi kenapa harus sepeduli itu, biasanya juga tidak. Dengan ragu bercampur rasa haus, Alana pun mengambil botol minum milik Agam.
Agam juga menghampiri Alana dan berlutut di hadapan Alana. Membuat Alana mengernyitkan dahinya. "Mau ngapain?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban, Agam meraih kaki Alana dan membuka sepatu beserta kaos kaki Alana, tidak peduli juga dengan Alana yang berontak. "Kakkk!! Apa-apaan sih?! Lepas gak??!"
"Kamu bilang kaki kamu lecet, kamu mau saya dihajar habis-habisan oleh Alano kalau sampai membuat kamu terluka?!" Kesal Agam.
Mendengar itu Alana mendengus kesal, masih ada rasa takut pada kakaknya? Tadi kemana saja sampai menghukumnya 5 seri? Menyebalkan sekali. Tapi Alana membiarkan Agam mengobati kakinya, memang sangat sakit sih.
"Akhhh," ringis Alana saat Agam mengoleskan salep di sana.
"Cengeng!" Cibir Agam, padahal dia melakukannya sudah selembut mungkin.
"Bukan cengeng loh itu emang sakit banget!!"
Agam tidak mempedulikannya, dia mengambil sendal miliknya dan memakaikannya di kedua kaki Alana. Ada perasaan aneh untuk Alana sendiri, apalagi yang melakukannya pria selain Alano, tapi ya bagus kan kalau dia bertanggung jawab.
Matanya masih menatap Agam yang kini tengah sibuk dengan kertas-kertas yang ada di tangannya. "Jangan lihat saya seperti itu."
Alana menghela napas dan kembali meminum air mineralnya. Setelah selesai dia bangkit untuk menuju auditorium.
"Siapa yang memerintahkan kamu untuk berdiri?" Tanya Agam dengan tatapan datarnya.
"Ya mau ke auditorium, udah selesai, kan?" Tanya Alana.
Setelah mengatakan itu Agam mengambil buku jurnalnya dan meninggalkan Alana di ruangannya yang masih tetap mematung.
.
.
.
Tak selang beberapa lama Alano masuk ke ruangan Agam. Melihat Alana yang tengah badmood sepertinya hari ini. "Mau berapa kali lagi kena hukuman? Mau sampai kapan jadi orang keras kepala?"
Alano mengambil sepatu Alana dan memasukannya ke dalam paper bag, dia mengetahui apa yang terjadi pada Alana dari Agam. Untuk yang kali ini Agam tidak salah memang memberikan hukuman pada Alana.
Alana melirik ke arah kembarannya itu dengan kesal. "Mau sampai kapan? Sampai kalian mikir kalau peraturan ini gak adil!"
__ADS_1
Alana langsung mengambil tasnya dari Alano dan keluar dari ruangan itu, dia kesal sekali pada Alano. Bukan karena masalah dia di hukum, tapi kenapa seolah Alano menyalahkannya. Dia paling tidak suka kalau Alano melakukan itu.
Alano menghela napasnya, kalau Alana sudah marah begini sudah pasti dia yang harus membujuknya untuk bicara, karena dia akan bisa diam seribu bahasa berminggu-minggu kalau tidak dibujuk sekarang.
Dia mudah marah, memang Alana sejak dulu selalu dimanjakan, dia akan selalu menang dalam setiap perdebatan meskipun memang apa yang dia katakan benar, tapi maksud Alano itu adalah tolong agar Alana bisa mengerem sejenak saja saat sedang ospek begini.
Alano mengejar Alana yang berjalan di lorong, membuat beberapa peserta ospek terheran-heran dengan kedekatan Alano dan Alana, memang mereka sering begini tapi baru kali ini terang-terangan di depan peserta ospek. Tapi tidak peduli juga sih, toh bukan urusan mereka. Alano harus tetap menjaga adik kesayangannya itu.
"Jangan marah-marah terus," ucap Alano seraya merangkul pundak adiknya itu.
"Jangan suka nyalahin orang terus!" Balas Alana ketus.
"Bukan nyalahin, Na. Alan gak mau Ana dihukum terus." Alano menghela napas dan mencoba membuat adiknya ini mengerti.
"Sampai kapan sih ini ospeknya, Ana bete banget. Harusnya waktu itu Mama minta izin aja ke sekolah biar Ana gak ikut ospek rese kaya gini." Jujur dia menyesal tidak mengikuti kata-kata mamanya yang melarang dia ikut ospek, kalau tau ospeknya akan se-menyebalkan ini Alana memilih untuk di rumah saja deh.
"Cuma sampai besok kok. Jum'at sama Sabtu nanti makrab di Villa."
"Serius?" Tanya Alana yang mendadak semangat mendengar hal itu.
"Serius yang mana?"
"Ke villa?"
Alano mengangguk, membuat Alana semakin melebarkan senyumnya. Ya dia suka saja, dia bisa merasakan liburan, ya walaupun dengan berkedok ospek. Anggap saja liburan, kan?
"Harus baik-baik sama panitia," ucap Alano.
"Besok harus kumpulin tanda tangan semua panitia, kalau Ana terus kaya gini yang ada kena hukuman."
Alana mengedikan bahunya, untuk apa juga dia mengubah sikapnya. Toh panitia juga tidak berprilaku sopan terhadapnya. Heran, gila hormat sekali mereka. Alana bersumpah tidak akan mengikuti organisasi bodoh ini.
"Alana, sehari aja ya?" Pinta Alano, bukan apa-apa. Ya dia sangat menyayangi adiknya ini sebenarnya.
"Gamau ya Alan?" Ucap Alana dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Mau ya Ana?" Balas Alano mengikuti ucapan Alana.
Keduanya terkekeh, nahkan Alana tersenyum. Kalau sudah melihat senyum dari Alana, Alano bisa tenang. Itu berarti Alana tidak akan marah padanya lebih lama.