
Alano kini sedang mencari Alana keliling Villa untuk memastikan, sementara yang lainnya kini sedang berpikir dan mencoba melihat kilas balik. Namun ini tidak akan selesai. Agam bangkit dari duduknya. Kemudian pandangannya tertuju pada Talia dan teman-temannya yang kini menunduk diam. Zahra, Aiden dan Athena yang ikut terlonjak kaget. "Kalian silakan kembali, bersih-bersih dan makan malam," katanya secara spesifik kepada para peserta itu.
Talia lantas mendongakkan kepalanya menatap Agam dengan cemas. Bagaimana bisa mereka kembali tanpa ikut mencari Alana? "Tapi kami—"
"Saya dan panitia lainnya yang akan mencari Alana," potong Agam membuat Talia tak melanjutkan kalimatnya. Lalu dengan terpaksa mereka semua menuruti perintah Agam, kembali ke villa, dan mempersiapkan diri mengikuti acara selanjutnya.
"Gua ikut kalian," ucap Aiden mengusulkan keinginanya.
Athena yang sedang berhadapan dengan Agam spontan menoleh ke arah Aiden. Athena lalu menggeleng. "Gak, Aiden, lo harus di sini, anak-anak lo bakal kacau kalau lo tinggal. Biar keamanan sama Agam yang nyari Alana. Zahra lo balik urus dan handle kegiatan malam ini!" Ucap Athena yang memang koordinator lapangan.
Tanpa basa-basi, Zahra setuju. "Gue balik dulu. Hati-hati," pamitnya. Setelah itu dia berbalik badan dan memghilang dari pandangan mereka yang ada di sana.
Di sudut lain, Aiden berpikir sebentar. Athena ada benarnya, tetapi Aiden tetap tidak bisa tenang sebelum memastikan keberadaan Alana.
"Gua tetep mau ikut kalian!" Tegasnya tak Mau kalah.
"Gak bisa, Aiden—"
"Gua dampoknya Alana, Then, gua juga harus tanggung jawab sama dia." Aiden tetap kekeh dan Athena lalu diam, tidak ingin memicu pertengkaran.
Sementara Agam tidak berkomentar, pria itu mengambil mengambil handy talky yang dia bawa untuk segera memberikan koode dan perintah, "Echo Lima Golf, Keamanan, sweeping Villa cari Alana. Alano udah duluan ke sana."
Perintah itu Lalu di jawab dengan suara bising dari Handy Talky di tangan Kiri Agam. Sesaat kemudian seseorang berbicara.
"Keamanan, Alpha Charlie Lima, ada apa, Gam?" Itu Anggara.
"Alana hilang," jelas Agam lagi.
"Kok bisa?" Tanya Anggara kaget.
"We don't have time to explain, hurry up!" Tegas Agam
"Oke! Roger, that! Gua ke sana dan keamanan lainnya susul Alano."
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban Anggara sang ketua divisi Keamanan, Aiden dan Agam kembali bertatapan. Keduanya saling menganggukkan kepala, nampak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Kini Agam menyerongkan badannya ke arah Athena. "Lu bantu cari di sekitar Villa, gua sama Aiden cek cctv," perintahnya.
Perintah Agam dijawab dengan satu anggukan oleh Athena. Setelah itu mereka lantas melakukan planning masing-masing. Athena pergi ke arah Villa, sementara Aiden dan Agam pergi ke pusat cctv.
Di ruang cctv.
Aiden dan Agam masih belum menemui titik temu. Tiba-tiba saja Alano dan Anggara menyusul ke sana. Namun mereka tak bersuara dan menatap ke arah layar. Sudah hampir lima belas menit mereka mengutak-atik komputer berisi data salinan rekaman cctv. Sayangnya, mereka hanya menemukan sedikit clue untuk mengetahui dimana Alana berada saat ini.
Sekarang, mereka sedang menyimak sebuah video dimana Aiden tengah berdiri di depan kamar Alana mengetuk pintu kamar itu, sesaat kemudian Alana muncul dari dalam, Agam tau benar jika gadis itu adalah Alana. Agam menatap layar tanpa ekspresi, lalu keningnya berkerut saat melihat adegan Aiden memberikan cokelat kepada Alana.
Aiden yang ditatap ketiganya menyunggingkan senyum kaku, apalagi saat dia melihat ternyata ada Alano di sana.
"Kenapa?" Tanya Alano dingin.
"Peace, gua kasih coklat doang kok. Kalem," ucap Aiden yang panik melihat wajah murka Alano.
"Jangan lagi!" Setelah itu Alano kembali fokus saja pada layar.
Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri Agam. Ada rasa nyeri dan desiran halus yang melonjak tinggi hingga puncak kepala. Kemudian tubuhnya menjadi panas. Dengan sendirinya tangan itu mengepal namun tidak erat.
"Ceilah, dikasih cokelat," bisik Anggara pada Agam yang tak mendapat respon apa-apa dari Agam.
"Saingan lu udah maju banyak, masa lu gak maju juga? Kalah telak nanti," bisiknya lagi lalu mengelakkan tawa ringannya.
Kemudian Agam berdecak kesal, menekan tombol spasi untuk menjeda rekaman. "Ck! Fokus lu dimana?" Sedetik setelahnya Agam melayangkan tatapan membunuh kepada sahabatnya itu. Sementara Alano dan Aiden hanya menatap mereka tak paham.
Sontak Anggara mengangkat kedua tangannya, seakan meminta Agam untuk tenang. "Nah, loh sensi, lagi. Gua kan cuma bercanda biar gak sepaneng gitu."
Agam kembali diam, lalu dia menekan tombol spasi lagi untuk melanjutkan video rekaman itu. Yang dikatakan Athena benar. Selepas Aiden dan Alano pergi dari kamar Alana, yang terjadi setelahnya adalah Alana keluar seorang diri. Gadis itu berjalan menuju ke arah aula.
Tidak ada tanda-tanda Alana keluar dari sana. 30 menit berikutnya tidak ada yang terjadi saat Agam mempercepat durasi rekaman. Hanya lalu lalang petugas villa dan beberapa peserta yang sakit. Lalu tak selang berapa lama setelah itu, mungkin sekitar lima menit, Alana pergi keluar dari kamar dengan kondisi kakinya yang sakit. Dia berjalan membawa sebuah tas kecil ke arah utara.
"Dia pergi ke arah utara, sedangkan semua peserta di aula sebelah barat gua jamin juga gak ada panitia atau guru yang ada di sana, jam segini panitia udah siap di pos masing-masing." Aiden mencoba menganalisis apa yang ia lihat.
Agam mengangguk setuju. "Kemungkinan Alana ambil shortcut."
__ADS_1
"Maksud, lu?" Tanya Alano, karena memang dia tidak paham rute, yang paham itu Anggara dan Agam. Karena mereka yang survey.
Agam lantas memutar rekaman cctv di utara Villa. Benar saja, Alana mengikuti panitia bernama Gerald yang mengambil jalan pintas untuk menuju posnya.
"Dia ambil jalan pintas biar bisa ketemu temen-temennya. Di sebelah utara ada jalan kecil yang bisa tembus rute jelajah alam, kalau dia benar ngikutin Gerald, dia bisa ketemu kelompok yang lain."
"Tapi kalau engga, mungkin dia bisa kesasar di pemukiman warga atau mungkin hutan," jelas Anggara mendeskripsikan bagaimana dugaan dalam kepalanya. Pasalnya dia dan Agam sudah mengenal medan itu saat dia bersama Agam memasang pita-pita penunjuk jalan.
"Dan lu mau kita cek ke sana dan sisir jalan itu?" tanya Aiden kemudian. "Riskan, Gam, ini udah malam. Kalau kita nyasar, kita yang repot juga. Apa gak lapor guru dulu?" Aiden memberikan alternatif.
Agam menggeleng tegas. "No! Guru gak akan izinin kita ke sana."
Sudah jelas mereka tau sendiri jika guru-guru mereka lebih setuju mengorbankan seseorang dari pada kehilangan murid yang lain.
"Lu yakin? Terus siapa yang handle acara malam ini kalau lu sama gua ga ada? Kalau sampai gua ataupun lu gak ada di acara malam ini, Guru bisa mikir aneh-aneh," kata Aiden yang memang memaksa ingin ikut.
"Gua sama Agam aja, lu di sini!" Tegas Alano.
"Lu gak tau rute, biar gua sama Agam," ucap Anggara.
"Alana adek gua, gimana gua bisa tenang?!"
"Lan! Adek lu itu adek kita juga, lu gak bisa kesana dalam keadaan gak tau rute, yang ada lu nyasar dan semuanya jadi kacau. Percaya gua sama Agam," pinta Anggara dengan sangat kali ini.
Agam diam sebentar. Dia sedang memutar otaknya untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Sementara banyak sekali yang harus ia pikirkan dan pertimbangan. Jika saja dia salah langkah, maka akibatnya bisa kemana-mana. Salah satunya jabatannya. Dia sudah mendapat teguran saat OSIS bermasalah akibat perbuatan Celine kemarin.
Logikanya berpikir untuk acuh saja menyerahkannya kepada guru, akan tetapi hatinya mendorongnya mengedepankan rasa kemanusiaan. Karena kemungkinan besar Alana sendirian sekarang, terlebih lagi dia seorang perempuan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Kejora dalam posisi yang sama?
"She need help, now. Biar gua sama Anggara yang cari." Akhirnya Agam membuat keputusan.
Agam mengatupkan kelopak matanya. Meyakinkan diri dengan tindakan yang akan ia ambil. Semoga pilihan yang dia ambil adalah benar.
"Gua khawatir, Gam. Lu tau gua sayang banget sama Alana," ucap Alano yang terlihat frustrasi.
"Kalau lu nyasar lebih gawat, Lan. Gak ada pilihan," katanya setelah membuka mata dan menatap Alano.
__ADS_1
"Gua bakalan bawa Alana kembali, lu tenang." Agam berusaha meyakinkan Alano, kemudian Alano menganggukkan kepalanya pasrah walaupun sebenarnya dia sangat ingin langsung ke sana untuk mencari keberadaan Alana.