Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Satu Salah Semua Salah!


__ADS_3


Hari kedua ospek, Alana memutar bola matanya malas. Apalagi menjelang siang seperti ini mereka semua digerakan untuk berkeliling di sekitar sekolah dan membersihkan sampah.


Katanya sih untuk sosialisasi, tapi sangat menyebalkan sekali. Alana pikir ospek zaman sekarang sudah tidak kuno lagi yang melakukan tindakan seenaknya, ternyata sama saja. Apalagi senior di sini nampak gila hormat.


"Lelet! Pungutin tuh sampah! Jangan manja!", Celetuk Via seraya menyenggol bahu Alana keras dengan sengaja.


Alana mendengus kesal memang dia salah apa sih pada senior ini, perasaan sejak awal dia masuk mereka nampak memiliki dendam tersendiri pada Alana, apalagi Celine.


"Awas aja, gak akan pernah aku restuin kalian sama Alano!" Gerutu Alana.


Alana kembali melanjutkan jalannya, dia bukan tidak ada teman, tapi memang jalannya begitu cepat sampai meninggalkan rombongannya. Bukan karena rajin juga, tapi dia ingin cepat sampai di sekolah.


"Eh Alana," panggil seseorang dari arah belakang. Ternyata itu Aiden.


"Ada apa, Kak?" Tanya Alana to the point tanpa menghentikan langkahnya.


"Gapapa, cape ya? Nih minum punya gua aja," ucap Aiden seraya mengulurkan air minum pada Alana.


"Gak usah, aku ada asma gak boleh satu botol minum sama orang. Makasih, Kak." Alana mempercepat jalannya dan meninggalkan Aiden, dasar tidak jelas!


Bukan tersinggung Aiden malah menyunggingkan senyumnya, mereka ini bisa dibilang paling diincar di sekolah, siapa sih yang bisa menolak mereka? Baru Alana yang berani melakukannya.


Lagi, Alana berbeda sekali sikapnya saat bersama keluarga dan orang lain seperti ini. Padahal dia tau kalau di rumah Alana sangat manja, sangat lembut, tapi kalau di luar seperti ini juteknya minta ampun.


"Fix gua harus cari restu Abangnya!" Tekad Aiden yang kini menyusul Alana. Yang begini nih yang dia cari selama ini.


1 Jam mereka berjalan, akhirnya Alana sampai di gerbang sekolah. Namun baru juga sampai para senior itu sudah berteriak. Siapa lagi kalau bukan Agam.


"PERATURAN NOMOR 5, SATU SALAH SEMUA SALAH. BENDING 3 SERI SEKARANG!" Teriak Agam dari depan sana.

__ADS_1


Alana yang berada di paling depan melongo, sungguh? Mereka tidak tau siapa yang salah dan mereka harus terkena hukuman, yang benar saja. Semua peserta mengambil jarak. Tapi tidak dengan Alana yang kini malah melipat tangannya di dada menatap sang ketua OSIS yang kini menatapnya dengan tajam.


"Tolong ambil posisi sekarang dan tidak membantah!" Tegas Agam.


"Bisa gak sih, Kak kalau kasih hukuman itu yang jelas? Jelasin dulu siapa yang salah dan apa kesalahannya, jangan main hukum-hukum aja. Peraturan tetap peraturan tapi kalau kaya gini gimana kita bisa percaya kalau salah satu dari kita melakukan kesalahan."


"Bisa aja ini akal-akalan panitia aja buat ngerjain peserta ospek," lanjut Alana.


"Alana tolong kembali ke barisan dan lakukan hukuman sekarang juga!" Kini Alano yang bicara.


Alana menghela napas, walaupun Alano ini kembarannya ya tetap tidak mau. "Tidak mau, saya mau melakukan hukuman kalau kalian memberi alasan yang jelas."


Aiden dan Anggara tiba-tiba berjalan dari arah belakang dan membawa 2 orang yang sepertinya peserta ospek dan memaksa mereka berdiri di depan semua peserta ospek. Mereka berdua menunduk, membuat Alana mengernyitkan dahinya, ada apa?


"KALIAN SEMUA DI SINI DITERIMA DENGAN SUSAH PAYAH, PERATURAN SEKOLAH : SISWA DILARANG MEMBAWA SENJATA TAJAM DAN JUGA ROKOK!" Sekilas Agam menatap ke arah Alana seolah menunjukkan kalau ini bukan hanyalah omong kosong saja.


"SEMUA PESERTA WAJIB MENGIKUTI OSPEK INI SAMPAI DENGAN SELESAI DAN TIDAK ADA KABUR UNTUK MEROKOK DI LINGKUNGAN SEKOLAH APALAGI SAAT MEMAKAI BAJU KEGIATAN OSPEK BLACK EAGLE ACADEMY! MASIH KURANG JELAS?!" Tanya Agam dengan lantang.


"Apa masih mau ngelawan?!" Bentak Dea pada Alana.


"Dea! Saya sedang bicara dan jangan menyela!" Tegur Agam.


Alana kalau sudah begini ya mengaku kalau dia salah, lagi pula dia menyepakati peraturan ini dan bisa diterima dengan akal sehatnya. Agam kembali menatap ke arah Alana. "Menyela tanpa mengangkat tangan, menatap para pengospek tanpa rasa hormat dan bicara tanpa disaring. Silahkan lakukan. Lima seri!"


"Hukuman dimulai dari sekarang!" Tegas Agam.


Sejujurnya meskipun Alana salah dia kesal sih, sejak kemarin dia mendapat double hukuman, kan cape. Belum lagi dia seperti dikucilkan oleh senior yang lainnya karena terlalu kritis.


Peserta yang lain sudah memulai hukuman mereka tapi tidak dengan Alana. Membuat Agam menghela napasnya. "Kamu mulai sekarang atau saya tambah 3 seri lagi."


Mendengar itu Alana mundur dan melakukan hukumannya dengan baik. Tentunya dengan menggerutu pelan. Membuat Aiden terkekeh melihat kelakuan Alana. Gadis itu sejak kemarin membuat keributan dan membuat ospek ini semakin menyenangkan menurut Aiden.

__ADS_1


Sementara Alano hanya menghela napas, kalau Alana tidak bisa diam begini bagaimana dia bisa melindungi Alana dari berbagai hukuman? Harus dia akui Alana ini sangat menyebalkan, apalagi dia posisinya sebagai panitia.


"Sabar." Aiden kembali terkekeh dan menepuk pundak Alano, membuat pria itu mengedikan bahunya tak peduli.


Tiga seri berlalu dan yang lainnya sudah diperbolehkan masuk ke dalam auditorium bersama panitia lainnya, kini hanya ada Alana dan juga Agam di sana.


"Dua seri lagi" Peringat Agam pada Alana yang kini malah diam sambil berjongkok.


"Sabar, Kek. Kakak pikir 5 seri itu sedikit, kasih istirahat dulu. Dasar gak punya hati!" Maki Alana.


"Peraturan nomor 6, mengumpati senior dan tertangkap basah diberi hukuman tambahan," ucap Agam dengan santai dan bersidekap dada.


"Gila!"


"Dua kali mengumpat, mau lanjut 5 seri atau saya tambah 5 seri lagi?" Tanya Agam.


"Yakkkk!!!!! Jangan!!" Alana kembali mengambil posisi dan melakukan bending.


Agam sedikit mengulum senyumnya, ya lucu saja melihat Alana yang mengumpati dirinya seperti itu. Tapi mau bagaimana pun dia harus tetap menjaga imagenya dengan baik.


"Lain kali kalau mau protes, pastikan kalau analisis kamu benar. Jangan asal maju sampai akhirnya kamu tertembak sendiri," sindir Agam.


"Gak butuh ceramah!"


"Heran saja kenapa Alano memiliki kembaran seperti kamu, kasian dia tertekan melihat adiknya sendiri yang keras kepala dan akhirnya Boomerang untuk dirinya sendiri "


"Berisik!"


Agam kembali terkekeh. "Lakukan hukuman kamu dengan benar, kalau kamu curang saya bisa tau."


Setelah mengatakan itu Agam berbalik dan meninggalkan Alana di sana. Membuat Alana menghela napasnya. Kenapa sih pria itu suka meninggalkannya? Pertama saat daftar sekolah, kedua salah hukuman kemarin dan sekarang? Memang dasar manusia tidak punya perasaan.

__ADS_1


__ADS_2