Alana With 4 Prince Charming

Alana With 4 Prince Charming
Sibling


__ADS_3


Setelah melalui beberapa kegiatan, akhirnya mereka sampai di puncak acara pada malam ini. Malam yang dinamai dengan malam akrab karena memang tujuannya adalah untuk saling mengakrabkan diri.


Alana tersenyum melihat api unggun yang sudah dikobarkan sekaligus ucapan penutupan ospek dari Agam. Akhirnya setelah satu minggu lamanya mereka mengikuti acara ospek ini, sekarang selesai juga.


Jadi setelahnya diadakan pentas seni, ada yang bernyanyi, menari ada yang membaca puisi dan lain-lain. Alana sebenarnya ingin sekali bernyanyi, tapi Alano sedari tadi menggenggam tangannya seolah tidak mengizinkan Alana untuk jauh darinya.


"Alan," panggil Alana.


"Apa?"


"Ana boleh nyanyi?" Tanya Alana dengan mata berbinar.


Alano menggeleng, dia tidak akan mengizinkan Alana kemana-mana lagi. Padahal hanya maju ke depan, membuat Alana memajukan bibirnya. "Terus bolehnya ngapain?"


"Diem aja di sini. Makan." Alano memberikan sosis bakar yang memang diberikan Celine tadi untuknya pada Alana.


"Itu punya Alan," kata Alana.


"Lagi gak mau makan, makan. Perutnya harus diisi."


Mendengar itu Alana menerima sosis itu dan menganggukkan kepalanya pelan. Sejujurnya Alana tidak enak pada peserta yang lainnya. Dia takut dianggap spesial karena kembaran Alano. Padahal tidak begitu.


Itu kenapa dia kemarin memilih untuk menyusul, karena dia tidak mau kalau sampai teman-temannya merasa kalau Alana dianak emaskan. Meskipun memang dianak emaskan sih. Sekarang saja dia duduk di tengah-tengah panitia.


Banyak yang menatap senang karena Alana bisa kembali bergabung, tak sedikit juga tatapan iri padanya yang membuat Alana sedikit risih. ATapi Alana selalu bilang kalau Alana tidak boleh mendengarkan perkataan orang lain yang tidak penting, karena bagi Alano Alana memang spesial.


"Baik, masih ingat peraturan nomor satu?" Tanya Agam dari depan sana.

__ADS_1


"MASIHHH," teriak semua peserta dengan semangat.


"Selama ospek saya sudah membiarkan kalian mengolah pikiran dan menganalisis tentang peraturan yang menurut kalian di luar nalar. Jadi, ada yang berhasil?" Tanya Agam.


Wajahnya nampak tenang, mungkin lebih tepatnya dia sedikit bersahabat malam ini, apa mungkin karena namanya malam akrab ya? Karena tau sendiri kalau Agam adalah manusia yang paling cuek sama seperti Alano.


Tidak ada yang mengangkat tangan ataupun instruksi. Namun tiba-tiba Alana mengangkat tangannya. "Saya!"


Semua mata langsung tertuju pada Alana. Karena Agam menunjuk Alana untuk maju, mau tidak mau Alano melepaskan genggamannya pada Alana dan membiarkan Alana maju ke depan.


Alana yang dibiarkan bebas begitu saja tersenyum, seolah sejak tadi dia memang ingin berekspresi. Lalu dia menghampiri Agam menampilkan cengiran khasnya.


Nahkan Alana tersenyum begitu malah jantung Agam yang tidak aman. Kenapa harus Alana sih yang maju ke hadapannya. Cukup lama mungkin Agam perang batin dengan dirinya sendiri. Agam pun berdeham. "Jadi?"


Tanya Agam sok cool, membuat Alana mengedikan bahunya dan menghadap ke ar


ah teman temannya. Alana nampak memilah kata-kata yang akan dia ucapkan. Mencoba merangkai ingatan beberapa hari ini dan apa yang dia alami.


"Pertama sejak awal ospek mungkin kalian tau kalau saya sama sekali tidak menyukai peraturan yang dibuat oleh kakak kakak panitia OSIS karena menurut saya itu di luar nalar. That's a fact. Karena kita sama sekali tidak diberi tau apa itu MT2 dan tiba-tiba diberi hukuman."


"Tapi selama itu saya berpikir kalau peraturan itu tidak buruk juga karena pada kenyataannya panitia juga diterapkan hal sama dengan peraturan yang kita jalani. Sampai akhirnya pada satu waktu saya meminta maaf, pertolongan dan mengucapkan terima kasih atas hal itu. Sampai akhirnya saya mendapatkan tanda-tangan Kak Agam padahal saya merasa tidak melakukan apapun."


Agam menatap Alana dengan intens seray bersidekap dada, memperhatikan gadis itu bicara dengan lugas di hadapan teman-temannya. Harus diakui sih kalau publik speaking seperti ini atau berdebat Alana itu jago sekali meskipun dia anak manja yang sangat manja, cengeng dan seperti anak kecil.


"Awalnya saya pikir kalau Kak Agam memberikan saya tanda tangannya karena saya adiknya Alano, tapi setelah saya analisis apa yang terjadi saya mendapatkan apa itu MT2. MT2 itu adalah, Maaf, Tolong dan Terima kasih."


"Itu adalah budaya kita sebagai orang Indonesia yang dikenal karena keramah tamahannya, tapi di zaman sekarang kaya Maaf, tolong dan terima kasih itu sudah diabaikan dan jarang sekali diucapkan."


"Sebagai sekolah dengan akreditasi tinggi, BEA selalu menjunjung tinggi tatak Krama muridnya termasuk 3 kata sederhana untuk diterapkan sehari-hari. Jadi kesimpulannya menurut saya MT2 itu adalah 3 kata ajaib dalam hidup yaitu Maaf, Tolong dan terima kasih."

__ADS_1


Untuk beberapa saat semua orang terdiam tanpa suara, mereka merasa takjub dengan apa yang disampaikan Alana. Pasalnya mereka tidak pernah berpikir ke sana.


Bahkan mereka sempat mengira kalau Agam memberikan tanda tangannya kepada Alana karena previllage dia sebagai adik dari sahabatnya Agam.


Alana mengigit jarinya, apa dia salah ya? Namun melihat itu Agam bertepuk tangan dan membuat yang lainnya juga ikut bertepuk tangan. Jawaban yang sempurna.


"Hah, bener nih, Kak?" Tanya Alana pada Agam dan dihadiahi anggukan oleh Agam.


Alana bersorak seolah dia memenangkan suatu pertandingan. Membuat Alano terkekeh melihatnya, tidak menyangka kalau Alana bisa menjawab teka-teki ini. Tapi dia bangga sih Alana bisa menjawab dengan lugas di depan sana.


"Seperti apa yang dijelaskan. MT2 adalah Maaf, Tolong dan Terima kasih. Kenapa itu menjadi rules pertama? Karena saya mau mulai hari ini kalian menerapkan itu dalam kehidupan sehari-hari. Paham?"


"PAHAMM!!" Mereka semua kembali bersorak dan bertepuk tangan, sementara Alana full senyum melihat ke arah Agam.


Memang benar-benar meresahkan Alana. Setelah itu Agam mempersilahkan Alana untuk duduk, dia pun mendapatkan hadiah dari panitia atas apresiasi karena telah memecahkan teka-teki ini.


"Alan, Ana dapet hadiah!" Kata Alana menunjukkan kado yang besarnya sedang itu pada Alano.


"Good job, Alan bangga sama Ana."


"Enak banget Ana, gak ikut apa-apa tapi dapet hadiah, harusnya temen-temen Ana gak sih yang dapet hadiah?" Gumam Alana.


"Gak melakukan apa-apa tapi Ana berhasil buat menjawab rules pertama. Kenapa patut diapresiasi? Karena apapun yang kita lakukan, sekecil apapun harus diapresiasi. Itu baru namanya hidup."


Alana terdiam menatap Alano. Kalau bersama Alano dia selalu merasa dianggap tidak bisa melakukan apapun, tapi bersama Alano juga dia merasa kalau dirinya ini mampu melakukan apapun meskipun dengan cara yang berbeda dengan orang lain.


"Alan, maafin Ana ya?" Ucap Alana.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena Ana marah sama Alan. Ana selalu ngerasa Alan larang Ana ini itu tapi ternyata Alan selalu mengapresiasi hal kecil yang Ana lakuin walaupun kata-katanya gak secara langsung."


Mendengar itu Alano tersenyum tipis. Ya memang dia posesif kalau soal Alana, tapi percaya deh dia tidak pernah merasa lebih kuat atau lebih pintar dari Alana. Dia melakukannya karena sayang dan apapun yang Alana lakukan akan selalu menjadi hal hebat di mata Alano.


__ADS_2