
Setelah kejadian tadi semua nampak terlihat sangat bersahabat dengan Alana. Memang sejak awal bersahabat, tapi rasanya Alana menjadi pusat perhatian semenjak Alano mengumumkan kalau dia adalah saudara kembarnya.
Alana jadi merasa kalau dia hanya numpang tenar di nama Alano. Lagi, Alana tidak suka dianggap seperti itu. Dia lebih senang berteman dengan siapa saja sebenarnya dibandingkan harus membuat kubu-kubu.
Alana melirik ke arah Agam yang terlihat menaiki tangga. "Kak Agam!"
Alana berusaha mengejar Agam, namun pria itu tidak berbalik. Apa dia sengaja mengerjainya ya karena mengira akan meminta tanda tangan.
"Ishh, Kak Agam!" Alana mempercepat langkahnya namun.
Bugh ...
Kepalanya tiba-tiba menabrak punggung Agam yang tiba-tiba berhenti. "Awhhhh sakitt!!!"
Agam berbalik dan menatap Alana dengan wajah datarnya. "Ada apa? Mau minta tanda tangan? Saya tidak akan memberikan tanda tangan saya."
Alana terdiam, tidak apa-apa sih sebenarnya. Lagian memang bukan itu tujuannya. Melihat Alana yang diam, Agam kembali berbalik.
"Aku minta maaf!"
Suara Alana berhasil membuat Agam berhenti, namun pria itu masih nampak terdiam tanpa berniat menatap ke arah Alana.
"Aku minta maaf karena sejak awal aku selalu protes dengan semua hal, aku minta maaf karena aku bikin semua panitia di hukum di hari pertama, aku minta maaf karena aku bikin kalian pusing."
"Terus?"
Alana menghela napasnya. "Aku juga mau ucapin terima kasih karena Kakak udah tunjukin ruang TU waktu itu, aku juga mau ucapin terima kasih karena kak Agam waktu itu tolongin aku walaupun emang udah kewajiban, aku mau bilang terima kasih juga kak Agam kasih minum terus obatin kaki aku, terakhir aku mau bilang makasih karena kakak bantuin aku tadi sampe jatuh. Aku gak sengaja."
Mendengar itu Agam berdeham, kemudian tanpa menjawab apa-apa dia berbalik. "Buku."
Alana yang keheranan melihat tangan Agam yang terulur mengernyitkan dahinya. "Buku apa?"
"Lama." Agam mengambil buku yang ada digenggaman Alana dan menuliskan sesuatu di sana.
Beberapa detik dia menunggu kemudian Agam memberikan buku milik Alana dan kembali berbalik meninggalkan gadis itu yang masih mematung.
Alana melirik ke arah bukunya tak percaya. Dia mendapatkan tanda tangan Agam, tapi kenapa? Alana membulatkan matanya tak percaya. Serius ini? Bahkan tanda tangannya pun serumit jalan pikirannya. Tidak bisa bisa ditebak oleh siapapun.
Alana termenung, apa yang membuat Agam memberikan tanda tangannya pada dirinya. Padahal Alana tidak meminta? Apa karena dia adiknya Alano? Tapi tadi Alana sudah mencoba kok dan Agam tidak memberikannya. Jadi apa?
"Ihhh aneh banget ... "
__ADS_1
Alana berbalik dan kembali menuruni tangga sambil menggigit ujung kukunya. Bukannya apa-apa, dia takutnya nanti orang mengira kalau Agam memberikannya karena dia adalah adik dari Alano.
Alana tidak mau kalau sampai mereka salah paham dan menganggap Alana adalah anak emas. Namun Alana kembali terdiam, sebuah pemikiran muncul dalam benaknya.
Senyumnya mengembang sempurna. "Aku tau!"
Setelah itu Alana tersenyum menang seraya berlari menuju kelas. Dia harus melakukan beberapa perkejaan karena merasa mendapatkan apa yang dia inginkan.
.
.
.
Pengurus OSIS sedang heboh, pasalnya dari semua buku hanya ada satu orang yang berhasil mendapatkan tanda tangan lengkap.
"Serius Agam kasih tanda tangannya?" Tanya Zahra tak percaya.
"Ini beneran tanda tangan Agam," jawab Aiden seraya memperhatikan betul-betul buku yang dipegang oleh Athena.
Lebih kaget lagi itu adalah buku milik Alana, peserta paling brutal yang sejak awal menentang Agam habis-habisan. Apa yang sudah Alana lakukan sampai Agam memberikan tanda tangannya.
Alano yang melihat itu langsung melirik agak yang nampak fokus dengan jurnalnya. "Lu gak perlu kasih Alana tanda tangan hanya karena dia adek gua."
Mereka yang berada di sana semakin kaget karena ya kalau bukan karena itu apa lagi? Belum lagi Alana memang bukan peserta yang aktif dan penurut, dia justru sebaliknya. Kan aneh ya?"
"Terus kenapa cuma kasih ke Alana?" Tanya Anggara tak percaya.
"Karena dia penuhi syarat yang gua ajukan. Puas? Kembali ke auditorium kita penutupan hari ini dan briefing.
.
.
.
Alano kali ini ada jadwal latihan taekwondo, dia sedang bingung bagaimana mengantarkan Alana pulang. Dia tidak mau membuat Alana menunggu, tapi dia tidak bisa mengantarkannya pulang. Kalau menghubungi supir pun pasti akan lama karena macet.
"Woii kenapa sih?" Tanya Aiden yang datang dari arah belakang dan menepuk bahu Alano.
"Gua latihan tapi Alana gak ada yang anter pulang."
"Gua aja, kita bertiga langsung cabut ke rumah lu, kan?" Tawar Aiden.
__ADS_1
"Eh apaan gua aja, gua lebih bisa menjaga keselamatan adek lu, Lan. Motor gua juga lebih aman dan gue jamin Alana gak akan kenapa-kenapa," timpal Anggara.
"Apaan dah gua duluan! Sama gua aja, Lan." Aiden tidak terima, orang dia yang memiliki ide, enak saja Anggara yang menyelongong ikut ingin mengantarkan Alana.
Agam menghela napas, selalu saja mereka memperebutkan wanita yang sama. Untung saja dia sedang tidak tertarik bermain dengan wanita manapun. Ribet sekali menurutnya saat ospek memiliki kekasih.
"Gua gak percaya kalian berdua. Gam, gua rasa gua bisa percaya lu. Tolong bawa Alana ya?" Pinta Alano.
Agam mengernyitkan dahinya, meminta bantuan padanya? "Bukannya lu pernah bilang kalau gua lebih brengsek?"
"Kalau soal Alana gua yakin Alana bukan type lu yang suka body modelan Gisel. Gua titip Alana ke lu, bentar lagi kayanya dia muncul dari kantin katanya laper."
Mendengar itu Agam hanya mengacungkan jempolnya sebagai tanda persetujuan. Setelah itu barulah Alano bisa lega menitipkan Alana pada Agam. Meskipun berengsek Agam juga memiliki adik perempuan, dia tau bagaimana Alano sangat menjaga Alana.
"Lu pada duluan, harus balik ke rumah dulu kan Gua sih udah siap."
"Anjir kenapa dah bukan gua aja yang disuruh Alano," kesal Aiden.
"Buruan balik, protes ke Alan!"
Agam mendorong keduanya untuk segera pergi, lalu Agam sendiri langsung menuju kantin mencari gadis itu. Lama sekali, entah apa yang dia lakukan.
Mata Agam menatap datar kearah kerumunan di kantin, ternyata Alana yang sedang memegang susu kotak dan juga rotinya di hadang oleh para peserta laki-laki.
Dengan memasukan satu tangannya ke saku celana, Agam menghampiri mereka dengan wajah datar yang dibuat sedingin mungkin. "Jangan ganggu dia, lupa peringatan abangnya?"
Mendengar suara itu mereka menoleh dan menelan salivanya. Sudah diancam dengan Alano, sekarang yang mengancamnya juga Agam. Bagaimana mereka tidak ketar-ketir coba?
"Eh, Kak ampun."
"Duluan ya, Na. See u~"
Mendengar itu Alana hanya mengangguk, membuat Agam mengulum senyumnya. Dia nampak seperti gadis lugu, tapi sebenarnya kalau di kenal lebih jauh galak sekali.
Tanpa bicara Agam menarik lengan Alana dan membawanya ke parkiran. "Ehhh, Kak ngapain?!"
Agam masih tidak menjawab, membuat Alana membulatkan matanya. Apakah dia akan dihukum atau dia akan dikerjai? Ah kenapa dia takut. "Kakkk Agam! Kak kan aku udah minta maaf! Kak ihh aku mau pulang, KAKKK!!"
"Berisik, Alana!" Agam menghela napasnya dan berbalik menatap Alana.
"Alano latihan taekwondo, jadi pulang bareng saya. Jangan banyak bicara, karena saya pusing!"
"Aku gak mau pulang bareng Kak Agam!"
__ADS_1
Agam kembali menghela napas, nah kan sudah dia bilang gadis ini awalnya memang terlihat begitu polos, tapi aslinya galak sekali seperti ini. Ahh kenapa juga Alano menitipkan gadis seperti ini padanya.