
Alana duduk dengan gelisah, entah kenapa perasaannya sedikit tidak enak. Tapi dia berusaha biasa saja karena dia juga tidak bisa mengutarakannya di depan Agam.
Tapi jangan ditanya soal kepekaan, meski datar begitu dia peka dengan Alana yang mendadak jadi cemas tak karuan begitu. "Kenapa?"
Alana menggeleng, bukannya sombong atau bagaimana. Tapi juga tidak tau haru mengutarakannya bagaimana. Dia tidak tau dirinya ini kenapa.
Agam berdecak pelan, dasar wanita. Kenapa mereka sulit sekali untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan? Padahal tinggal bilang dan semuanya selesai. Namun tiba-tiba suara ponsel Alana berbunyi, tertera nama Alano di sana. Dengan segera Alana mengangkat panggilan itu.
"Halo Alan kena—"
"..."
Wajah Alana panik, tuhkan kalau dia sudah begini berarti ada yang tidak beres dengan Alano. "Sekarang di mana? Ini siapa? Terus Alan gimana?"
"..."
"Iya, aku ke sana. Makasih ya, jagain Alan!" Peringat Alana yang setelah itu langsung bergegas untuk pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah, tanggannya ditahan oleh Agam yang nampaknya juga khawatir.
"Alano kenapa?"
"Alan— Alan tangannya patah karena latihan. Aku mau ke rumah sakit. Aku duluan," ucap Alana cepat sembari melepaskan genggaman tangan Agam.
"Tunggu."
"Apasih, Kak. Aku gak bisa basa basi, Alano lagi di rumah sakit jadi tolong kalau mau gangguin akun nanti aja. aku gak ada waktu, aku mau ketemu Alan." Alana tanpa sadar meninggikan suaranya karena panik, matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak mau kalau sampai Alano kenapa-kenapa. Dia takut sekali. Jadi setelahnya dia berbalik dan meninggalkan Agam.
Agam menghela napasnya, lalu kembali mengejar Alana dan menggenggam pergelangan tangannya tanpa menghentikan langkah mereka. "Memangnya kamu tau dimana rumah sakitnya? Jangan gegabah karena panik, jangan kebiasaan, kalau kamu hilang itu malah akan mempersulit. Biar daya antar!"
Alana terdiam, dia sebenarnya juga jadi berpikir kesana. Tapi karena sudah digulung ke khawatiran dia memilih untuk diam saja dan mengikuti Agam yang membawanya ke parkiran.
Setelah merasa aman, Alana pun menaiki motor Agam yang kini melaju keluar dari gerbang sekolah. Semoga Alano tidak kenapa-kenapa, batinnya.
__ADS_1
Agan melajukan motornya sedikit lebih ceoat, namun sesekali dia melirik ke arah Alana dari spion. Terlihat jelas kalau gadis itu mengusap air matanya yang sesekali turun. Ah kenapa ya dia tidak suka sekali melihat Alana menangis. Meskipun dia tau kalau sebenarnya memang gadis itu saja yang cengeng dan mudah menangis.
"Alano pasti baik-baik saja, jangan menangis," ucap Agam dengan mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Alana.
Alana tak menggubris, memangnya dia tidak boleh menangis? Wajar saja, kan? Dia sangat menyayangi Alano, hanya Alano satu-satunya orang yang ada bersamanya jadi tentulah dia khawatir sekali sekarang.
Agam menghela napasnya, bagaimana menjelaskan pada Alana kalau dia merasa gelisah kalau Alana menangis? Memang sudah gila Agam sepertinya dan Alana yang telah membuatnya begini. Namun memang sepertinya Alana perlu meluapkan perasaannya, jadi Agam tidak memperingatinya lagi. Lebih baik Alana menangis sampai dia lega, mungkin itu jauh lebih baik.
Karena tidak mungkin juga Agam membujuk gadis itu dalam keadaan seperti ini, belum lagi Agam yang tidak pintar dalam membujuk seseorang.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Alana belum bisa masuk karena di ruangan itu masih melakukan tindakan. Iya dokter menjelaskan kalau tangan Alano patah dan retak dan itu yang membuatnya juga harus berada di ruang operasi sekarang.
Alana sampai mondar mandir sambil menghubungi kedua orang tuanya. Bahkan dia tidak ada henti-hentinya menangis, membuat Agam tak melepaskan pandangan pada gadis itu.
"Alan maafin Ana ya, harusnya tadi Ana jagain Alan ..." ucap Alana lirih sembari menenggelamkan wajah di telapak tangannya.
Melihat itu Agam jadi tidak tega dan berdiri di hadapannya. Niatnya ingin mengajak Alana, namun tanpa di duga Alana malah memajukan wajahnya dan menempel pada dada bidang Agam.
Sial, kenapa jantungnya berdebar dengan kencang begini. Kalau Alana sadar bagaimana? Agan mencoba biasa saja, namun sepertinya logika dan perasaannya beda. Yang dia lakukan sekarang malah membawa Alana ke dalam pelukannya sambil mengusap-usap punggung gadis itu dengan lembut. "Jangan nangis, Alano pasti baik-baik saja."
Alana menggelengkan kepalanya pelan, membuat Agam mengeratkan pelukannya pada Alana sambil tetap memberikan afirmasi positif pada Alana.
"Alan bakalan sembuh, kan?" Tanya Alana dengan suara paraunya.
"Of course, dia patah tulang. Hanya memerlukan perawatan." Agam menundukan sedikit kepalanya menatap Alana yang kini mengadahkan wajahnya pada Agam.
__ADS_1
Tangannya mengangkat untuk menghampus air mata Alana tapi ...
"Alana ... " Sebuah panggilan membuat Agam dan Alana saling menjauh. Itu Abella dan juga Galaxy yang datang.
Dengan cepat Alana berjalan ke arah mereka dan memeluk ayahnya itu dengan erat. Gala yang sangat mengenal putrinya itu langsung menyambut pelukan anaknya. Dia pasti khawatir sekali sekarang. "Papa Alan ... "
"Udah-udah tenang ya, Sayang. Alan pasti baik-baik aja," ucap Gala menenangkan sang putri.
Abella juga mengusap punggung putrinya yang nampak terlihat kacau sekali. Ya tidak heran memang mereka sering begini jika salah satunya kenapa-kenapa. Dengan lembut Gala menangkup pipi putrinya sembari menyeka air matanya. "Udah jangan nangis, jelek princess papa. Jadi Alano masih di dalam?"
Alana mengangguk. "Katanya tulangnya patah sama retak. Papa besok jangan izinin Alan ikut taekwondo lagi ya, Ana gak mau Alan kaya gini lagi."
Gala menghela napas lalu mengangguk pelan sembari mengusap rambut Alana. Meskipun ya dia tidak akan melakukannya karena bagaimana pun pilihan anaknya itu pasti akan dia dukung selama mereka bisa mempertanggung jawabkan.
Abella membiarkan suaminya menenangkan sang putri, sementara dirinya yang melihat Agam kini menghampiri pria itu. "Agam makasih loh udah bawa Alano ke sini."
"Oh bukan, Tan. Bukan saya yang bawa, tapi teman satu ekskulnya."
"Jadi—"
"Iya, saya antar Alana ke sini karena takut dia nyasar," jelas Agam.
Abella tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya pelan. "Ohhh gitu, makasih ya. Emang Alana belum tau jalanan di sini. Untung ada kamu loh, makasih ya?"
"Sama-sama, Tan. Duduk, Tan. Perkiraan operasinya masih lama," kata Agam mempersilahkan Abella untuk duduk.
Abella pun tersenyum dan kini duduk bersama Agam sembari memperhatikan interaksi antara Alana dengan Galaxy. Agam jadi lebih tau kenapa Alana dijaga benar-benar. Karena ya keluarganya saja harmonis begini.
"Alana emang manja banget sama papanya, anaknya juga gampang tersentuh. Gampang nangis, mudah panik. Beda banget sama Alano."
Ucapan Abella membuat Agam menoleh, dia juga jadi tengsin karena ketahuan memperhatikan Alana.
__ADS_1
"Pasti kamu kewalahan menghadapi Alana yang panik tadi. Maaf ya?" Ucap Abella sambil menepuk pelan bahu Agam.
Agam tersenyum, tidak masalah sebenarnya. Bahkan Agam senang bisa membantu Alana dan membawanya untuk melihat pemandangan sepeti ini. Pemandangan keluarga harmonis.