
Hari ini semua peserta ospek nampak dipencar, mereka akan diarahkan untuk survive mencari tanda tangan dari para pengospek dan harus lengkap.
Tentu saja orang yang pertama kali dia datangi adalah Alano. Katanya dia dan Agam paling pelit memberikan tanda tangan. Tapi apakah Alano akan bersikap hal yang sama pada Alana.
Dengan percaya diri Alana menghampiri Alano yang masih di kerumuni banyak wanita untuk di mintai tanda tangannya, tapi laki-laki itu nampak bergeming dan fokus pada ponselnya dan membuat mereka lama-lama jengah juga.
Bukan jutek, tapi tadi Alano sudah memberikan 1 pertanyaan dan mereka tidak bisa menjawab, jadilah dia mengabaikannya. Melihat kesempatan yang ada Alana berdiri di depan Alano dengan gummy smilenya.
"Psstt," desis Alana.
Alano yang melihat itu menghela napasnya, bisa-bisanya Alana dengan gemas menggodanya begitu. "Kenapa?"
"Gak mau kasih saya tanda tangan gitu, Kak Alan?" Tanya Alana.
"Gak."
"Parah banget, padahal papa bilang kalau Ana di sekolah itu pasti yang jaga pertama kali itu kakaknya, tapi kakaknya kaya gini sama adeknya? Parah sih Papa harus tau " Alana mengambil ponselnya namun Alano mengambil ponsel milik Alana.
"Oke, tapi jawab satu pertanyaan."
Mendengar itu Alana mengangguk cepat, memang pertanyaan apa sih yang akan ditanyakan oleh Alano, dia sudah pasti bisa menjawab. "Apa?"
"Jangan mau dideketin temen Alan dan jangan jatuh cinta sama mereka. Deal?!"
Alana memasang wajah berpikir, sebenarnya tidak perlu berpikir sih. Padahal kemarin dia sudah menganggukkan kepalanya untuk itu tapi Alano menanyakanya lagi.
"Yaudah–"
"Oke deal, ayok cepet ih keburu di luar orang. Tanda tangan, Ana mau hunting tanda tangan lagi masih banyak!" Cerocos Alana.
Alano sangat puas dengan jawaban adiknya, dengan itu dia mengambil buku Alana dan memberikannya tanda tangan. Mendapatkan apa yang dia inginkan Alana tersenyum puas.
"Makasih mbarr ganteng!" Setelah itu dia menarik kedua pipi Alano dan berlari meninggalkan pria itu yang kini harus mengatur napasnya karena sudah menghadapi Alana yang super duper ajaib.
Tidak sudah bagi Alana mendapatkan tanda tangan beberapa seniornya, apalagi sekarang dia dikerjai oleh dua pria bernama Anggara dan Aiden. "Alana mau tanda tangan?"
Lucu kan? Seharusnya dia yang meminta tanda tangan dan mengejar senior, ini malah sebaliknya Tapi tentu dia tidak akan menerima begitu saja. Alana menghentikan langkahnya dan menatap Anggara dan juga Aiden dengan wajah yang dibuat sedih. "Tapi jangan susah syaratnya."
__ADS_1
"Gak, gak susah. Iyakan Gar?" Tanya Aiden meminta persetujuan.
"Iya buat Alana gratis, beneran mana sini bukunya kita kasih."
Alana menghembuskan napasnya lemas. "Jangan nanti dimarahin Kak Agam. Ayok kasih aja syaratnya gapapa."
"Agam marah? Hahaha kecil itu." Anggara tertawa sumbang, sebenarnya dia takut juga sih pada Agam tapi ini aman kok sepertinya.
"Kalau Agam marah itu urusan kita, kan kita yang kasih. Jadi mana bukunya." Aiden mengulurkan tangannya.
Alana tersenyum lebar mendengar hal itu dan langsung saja mengulurkan bukunya. "Yaudah nih."
Aiden dan Anggara membalas senyuman Alana setelah itu secara bergiliran menandatangani buku gadis itu. Alana sih santai saja, toh mereka yang meminta bukan dirinya. Padahal kalau diberikan syarat juga akan Alana lakukan.
"Nih." Aiden mengulurkan buku Alana, namun tangannya malah menggenggam tangan gadis itu sambil tersenyum.
Alana tersenyum canggung dan berusaha melepaskan tangannya. Tapi nampaknya Aiden belum mau melepaskan tangannya. Tapi tidak hilang akal, Alana langsung melirik ke belakang mereka dan .. "Eh Alan."
Aiden dan Anggara langsung menoleh ke belakang dan seketika karena merasa ada kesempatan Alana kabur dari kedua kakak kelasnya.
"Makasih, Kaakkk!!!" Teriak Alana seraya melambaikan tangan.
Aiden dan Anggara menghela napas, gagal deh mereka modus dengan Alana. Lagian Alana membawa nama Alano, jelas mereka panik. Bisa habis mereka kalau ketangkap basah sedang menggoda Alana.
Sudah beberapa tanda tangan yang dia dapatkan, dengan di bantu Aiden tadi dia bisa mendapatkan tanda tangan dari Genk Celine, tapi sayangnya tidak ada Celine di sana. Jadi dia harus mencari wanita itu karena tinggal tanda tangannya dan juga Agam yang belum dia dapatkan.
Matanya tertuju pada Celine yang berada di pinggir kolam ikan. Mau tidak mau dia harus menghampiri Celine, kalau tidak penting sih dia mana mau ya begini. "Permisi, Kak. Aku–"
"Minta tanda tangan?" Tanyanya dengan wajah tidak bersahabat.
Alana mengangguk dan berusaha untuk biasa saja. Meskipun ya dia kesal juga melihat nenek sihir yang satu ini. Sementara Celine kini hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Ambilin gue mangga."
"Mangga?" Tanya Alana tak mengerti.
"Tuh di sana ada pohon mangga, lo manjat dan ambilin buat gue," kata Celine enteng.
Alana menahan napasnya, masalahnya dia bisa memanjat tapi tidak bisa turunnya, bagaimanakah dia terjatuh? Ah bagaimana ini? Mana tidak ada Anggara dan Aiden lagi yang mengikutinya.
__ADS_1
"Mau gak?" Tanya Celine karena tidak mendapat respon dari Alana.
"O-oke aku coba."
Alana memberanikan diri, meskipun tidak yakin. Lagi pula dia memanjat dan tidak bisa turun itu sewaktu kecil, kini tubuhnya sudah semakin tinggi, jadi seharusnya tidak masalah.
Alana mendekati pohon itu dan mencoba mencari cara untuk naik. Ah persetan dengan yang lain, Alana langsung menaiki pohon itu dengan senyuman puas dari wajah Celine.
"Gue mau yang itu!" Tunjuk Celine pada buah yang berada diujung ranting.
"Jauh, Kak kan sama aja ... "
"Gak mau tau gue mau yang itu!"
Mendengar perintah Celine Alana kembali menuruti permintaannya. Tubuhnya sudah bergetar karena harus merangkak ke ranting yang lebih kecil. Dia takut jatuh.
Tiba-tiba dari bawah sana Celine menggoyangjan salah satu ranting yang bisa dia jangkau dan membuat Alana menjerit. "KAKKK JANGAN NANTI AKU JATUH!!"
Namun seolah tidak mengindahkan permintaan Alana Celine terus mengerjai Alana bahkan kini Dea menghampiri mereka dan melemparkan kecoa mainan pada Alana. Memang ini sudah direncanakan sejak awal.
"HAHAHAHAHA." Tawa mereka pecah melihat Alana yang kini sudah menangis.
"ALANNNN TOLONG ANA ALAANNN!!" Teriak Alana dengan tangis yang semakin pecah.
"Apasih ganjen, Alan-Alan. Alan itu punya gue!" Celine yang kesal kini kembali menggoyangkan rantingnya.
"ALANNNN!!!" Teriak Alana lagi sambil mengeratkan pegangannya pada ranting pohon, sungguh dia takut sekarang. Dia juga masih tidak bisa turun dari pohon ternyata.
"HAHAHAHAHA."
"CELINE, DEA!" Suara barithon itu menginstruksi Celine dan Dea untuk menjauh dari sana.
Agam menghela napasnya apalagi yang sudah mereka lakukan pada Alana? "Keterlaluan! Saya bilang boleh beri syarat tapi bukan perpeloncoan!"
"G-gue ... "
"Saya bicara sebagai Ketua OSIS!! Sa–"
"KALIAN KENAPA BERDEBAT SIH AKU GAK BISA TURUN TOLONGIN. AAAAA ALAN MANA SURUH BANTUIN AKU AJA KALAU KALIAN GAK MAU!" Rengek Alana yang sudah benar-benar kesal karena ini. Tidak peduli ini sekolah atau bukan dia sangat kesal dikerjai seperti ini.
__ADS_1