
"Kapan sih hidup aku bisa tenang?sabar-sabar Mona kamu nggak boleh stres menghadapi manusia seperti itu."gumam Mona sambil menyetir.
Begitu melihat mobil majikannya mendekat,Pak Amir langsung sigap membukakan pintu.Mona buru-buru turun setelah memarkirkan mobilnya.
"Mama..Papa!!"teriak Mona,ia begitu rindu dengan kedua orang tuanya.
"Kebiasaan nih anak,kalau masuk tuh minimal ucap salam."tapi ia juga membalas pelukan sang anak.
"Ma,aku rindu bangat sama Mama."
"Ehem.jadi cuman Mama doang ni yang di rindukan?".
"Nggak dong Pa.aku juga rindu bangat sama Papa."Mona bergantian memeluk sang Papa.
" Papa juga rindu dengan Putri kecil Papa ini."meskipun sudah dewasa,tapi bagi orang tua Mona adalah gadis kecil bagi mereka.
"Kamu nggak papa kan sayang?maafin kami yang nggak ada di saat kamu butuh sandaran."Bu Rosa menatap sedih pada putrinya.
"Mama sama Papa nggak usah sedih, aku nggak papa kok masalah kayak gitu aku masih bisa atasin sendiri.kan kalian sendiri yang mengajarkan aku untuk menjadi wanita kuat dan nggak lemah."Mona tersenyum.
"Bu Rahma gimana sekarang kabarnya?"
" Aku nggak tahu Pa. semenjak kejadian itu aku benar-benar kecewa sama ibu.padahal aku begitu sayang sama dia."
Mereka tidak membahas masalah mantan besannya lagi,sebagai orang mereka juga tidak ingin membuat Mona mengingat luka yang pernah ada.
"Lebih baik sekarang kamu mandi sana,Mama mau bantu Bik Sur dulu masak."
"Siap Bos."Mona memberi hormat.
"Bik,betah nggak kerja sama anak saya?soalnya kan dia cerewet suka lagi main pukul apa lagi sama orang yang nggak suka sama dia."
"Betah bangat Bu.justru aku sangat beruntung bisa bekerja di sini,si Neng sangat baik kok sama saya.kadang saya aja yang sungkan setiap di beliin apa-apa."ucap Bik Sur apa adanya.
"Syukurlah kalo gitu,setiap pemberian Mona anggap aja rezeki tambahan buat Bibik jadi nggak usah sungkan-sungkan.anggaplah kita ini satu keluarga."
Bik Sur begitu terharu mendengar ucapan majikannya sekali lagi ia sangat bersyukur bisa hadir di tengah-tengah keluarga baik seperti mereka ini.
"Sel.kapan kamu bawa calon istri mu ke rumah ini?jangan cuman janji-janji aja Mama nggak suk."
"Sabar dong Ma,semalam aku udah ngajak dia kesini cuman dianya lagi ada urusan yang nggak bisa di tinggal."ucap Marsel.
"Mama tunggu kamu sampe tiga hari ini,jika ternyata kamu masih ingkar janji.tarima atau tidak kamu akan Mama jodohkan dengan Karin."
Marsel menatap sang Papa meminta pembelaan namun yang di tatap hanya cuek aja,membuat Marsel mendengus kesal.
"Mama kenapa sih ngotot bangat mau jodohin aku?ayolah Ma.ini bukan jaman sitin Nurbaya lagi di mana zamannya main jodoh-jodohan."
"Mama pengen gendong cucu,Sel.kamu tau sendirikan umur Mama sama Papa udah nggak mudah lagi."
Di dalam kamar Marsel begitu gelisah,dia bingung harus melakukan apa sekarang ingin menghubungi Mona tapi ia sangat gengsi.
"Apa aku telepon aja ya si kelinci?tapi kalo dia ge'er gimana?entar dia kira lagi aku rindu." Marsel mondar-mandir di kamarnya.
Setelah beberapa menit berfikir akhirnya Marsel memutuskan untuk menghubungi Mona[Halo,kelinci.]
[Halo,Pak.tumben nelfon jam segini?]
[Kamu nggak usah ge'er dulu,aku nelfon kamu cuman mau nanyak soal berkas tadi,takutnya kamu lupa itu kan berkas penting]
[Ya ampun,Pak.waktu bahas pekerjaan itu udah habis,sekarang waktunya istirahat sama bobo cantik]omel Mona.
[Lagian kan besok juga bisa]
[Kamu berani mengomel sama Bos mu.apa kamu nggak takut di pecat?]
" Dikit-dikit ngancam,dasar kulkas!"gumam Mona.
__ADS_1
[Maaf...]
[Sebagai hukumannya,besok malam kamu temani aku ke sebuah acara]
[Tapi...]
[Nggak terima penolakan,besok aku jemput jam 8 malam] setelah mengatakan itu Marsel langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Enak banget ya jadi Bos bisa main perintah sesuka hati kita, pengen jadi Bos juga,ya Allah semoga jodoh hamba seorang Bos."doa Mona dalam hati sebelum berbaring.
Sementara Marsel kini tersenyum puas,akhirnya ia bisa mengajak Mona meskipun berdalih hukuman.
Tak terasa hari sudah pagi,Mona sudah rapi dengan pakaian kerjanya saat ini ia sedang sarapan bersama keluarganya.tak lupa juga Bik Sur ikut sarapan dengan mereka semua.
"Nak.kamu nggak ada niat gitu mau nikah lagi?"
"Niat sih ada Ma.cuman belum sekarang masih takut gagal lagi.dan aku juga harus betul-betul mengenal laki-laki yang akan menjadi calon suami ku nanti,Mama tau sendirikan sebagian orang itu menganggap kalo status janda itu sangat hina,apa lagi orang yang nggak tau menau."ucap Mona panjang lebar.
" Untuk itulah aku nggak mau terburu-buru dalam memilih pasangan lagi."
"Ternyata pikiran anak Papa semakin dewasa,Papa dukung keputusan mu sayang lagi pula umur kamu masih 22tahun belum terlalu tua."
"Makasih atas dukungan Mama sama Papa,kalo gitu aku berangkat dulu ya.assalamualaikum."
"Walaikumsalam."ucap ketiganya kompak.
"Kalo boleh tau apa Neng Mona anak satu-satunya,Bu?maaf kalo saya lancang."
"Nggak Bik,Mona memiliki sodara laki-laki yang sedang merantau di luar negeri."
"Kami cuman memiliki sepasang anak."timpal Pak Leo.
"Enak ya Bu kalo kita punya anak,sementara saya yang udah nikah bertahun-tahun belum juga di karuniai seorang anak.itulah sebab nya keluarga suami tidak pernah menganggap saya ada."ucap Bik Sur lirih.
"Tapi saya beruntung,Bu. Meskipun belum mempunyai anak,tapi suami saya nggak pernah sedikitpun mempermasalahkannya makanya hingga sampai saat ini pernikahan kami masih langgeng."
"Ya Allah,terimakasih telah mempertemukan aku dengan keluarga baik ini."gumam Bik Sur.
"Sekarang kita nggak usah sedih-sedihan lagi,lebih baik kita cuci piring biar cepat istirahat."
" Nggak usah Bu,biar saya aja yang nyuci."ia merasa tidak enak gaji yang ia terima full,tapi pekerjaan tidak semua ia pegang.
"Udah nggak papa,bosan soalnya kalo duduk terus apa lagi udah terbiasa."dengan senyum bu Lina menatap Bik Sur.
Di perusahaan tempat ia bekerja Mona, sedang disibukkan dengan beberapa berkas.
"Ini berkas yang Bapak minta."ucap Mona sopan.
"Hmmmm.letak saja di situ dan kamu boleh kembali ke ruangan mu."ucap Marsel tampa menoleh.
"Mona yang cantik seperti barby kantin yuk."Desi menghampiri Mona yang masih sibuk dengan tumpukan berkas.
" Kayaknya hari ini aku nggak ikut ke kantin deh." ucap Mona tanpa menoleh.
"Tumben,emang kamu nggak lapar ya?ini udah jam istirahat kali jadi nggak usah segitunya kerja buat cari duit,emang gaji kamu masih kurang besar apa?"
" bukan masalah besar atau enggaknya Desi,kamu nggak lihat banyak bangat berkas yang harus aku kerjakan?mana Pak kulkas minta harus segera di selesaikan,tau sendirikan gimana sifat idola mu itu?"bisik Mona.
"Oh,kalo gitu aku duluan.semoga anu mu semakin besar setelah selesai mengerjakan itu."ucap Desi.
"Anu.maksudnya..?"
"Ehmmmm,"Marsel datang tiba-tiba dan tak sengaja mendengar ucapan Desi.
"Eh,siang Pak.permisi."ucap Desi buru-buru pergi.
"Kalo di kantor di larang membahas hal sensitiv,nanti aja setelah pulang baru kalian bahas lagi anu besar itu."ucap Marsel.
__ADS_1
"Hehehe,maaf Pak."ucap Mona menunduk.
"Gawat,pasti si kulkas salah paham sama omongan Desi barusan.lagi pula tu anak ngapain coba pake bilang gitu segala,nggak tau apa Pak kulkas kadang seperti dedem*t yang bisa muncul tiba-tiba."pikir Mona.
"Apa kamu tidak menyusul teman mu makan siang?"
"Nggak Pak,kebetulan tadi bawal bekal dari rumah."Mona mengeluarkan kotak bekal berwarna pink dari rumahnya.
Mona makan sambil mengerjakan berkas,karna Mona satu ruangan dengan Marsel hanya di batasi kaca saja.
"Apa makanan mu enak?"
"Tentu saja,ini adalah makanan yang paling enak aku rasa."ucap Mona dengan mulut penuh makanan.
"Telan dulu makanan mu baru ngomong."
"Ck.yang ngajak ngobrol siapa?nanti kalo nggak di jawab salah."umpat Mona.
"Pak.kenapa di makan?ini kan punya ku?"Mona protes karna Marsel mengambil makanannya tampa izin.
"Sama Bos sendiri nggak boleh pelit."
"Bukan masalah pelit,tapi aku belum kenyang Pak."ucap Mona kesal.
"Yaudah ni."karna masih lapar Mona merima suapan dari tangan Marsel.
"Badan mu saja yang kecil,tapi kamu makan sangat rakus."
Tampa mereka sadari ada orang yang melihat adegan mereka dengan jelas,siapa lagi kalo bukan Amel.
"Dasar janda gatal,berani bangat dia deketin laki-laki yang aku incar.aku harus ngelakuin sesuatu."
"Permisi..Pak,maaf ini minuman yang Bapak pesan tadi."Amel tersenyum manis.
"Kenapa kamu yang mengatar?"
"Kebetulan Ob yang mau mengantar kesini tiba-tiba sakit perut,Pak.jadi saya yang minta untuk membantu dia karna merasa kasihan."
Mona hanya tersenyum melihat tingkah Amel,ia tau jika wanita ini sedang berbohong.
Lagi-lagi Amel di buat melongo tak percaya,seorang Marsel tidak merasa jijik minum dari botol bekas Mona.
"Jika sudah tidak ada keperluan lagi di sini,sekarang kamu boleh pergi."
"Eh,baik Pak.kalo gitu saya permisi dulu."Mona bersikap cuek saat Amel menatapnya tajam.
Amel melampiaskan kemarahanya di kamar mandi,"Ini nggak benar.aku nggak boleh kalah dengan janda itu."Amel mengepalkan tangannya.
Tak terasa hari sudah sore semua karyawan satu persatu mulai bubar.
"Des,kamu tau nggak tadi si kulkas salah paham sama ucapan mu tadi."ucap Mona.
"Ah,kamu serius?"
" Seriuslah buat apa juga aku bohong, kamu sih ngapain coba pakai ngomong anu segala."
" Ya bukan salah aku lah,dia sendiri yang nongol tiba-tiba entah datang dari mana."
"Betul,aku juga kadang heran kok dia bisa muncul tiba-tiba gitu.jangan-jangan dia punya sihir."
"Ye,kamu pikir di nenek lampir pake punya sihir segala."
"Ya kan mana tahu,oh iya sebelum pulang kita mampir ke warung bakso yok.perut aku masih minta di isi."
"Setuju,aku juga nggak terlalu berselera tadi pas makan di kantin,bosan dengerin mereka bahas soal suami halu mereka."
Kedua sahabat itu pun bergegas masuk ke dalam mobil Mona.mereka bernyanyi mengikuti suara musik.
__ADS_1