AMBIL SAJA BEKASKU

AMBIL SAJA BEKASKU
BAB 15-BERDUKA.


__ADS_3

"Bapak nggak bisa seenaknya gitu dong.seluruh keluarga Bapak sangat mengharap pernikahan ini.mana mau shoting nggak bilang-bilang dulu lagi."Mona terus mengomel selama dalam perjalanan pulang.


"Nggak usah ngomel-ngomel mulu,anggap aja itu sebagai ganti hukuman kamu."


"Hukuman si hukuman tapi nggak gitu juga kali,emang kenapa sih Bapak nggak terima aja perjodohan ini dengan wanita tadi?".


"Aku nggak bisa! karna aku nggak menyukai dan mencintai dia."


"Cinta itu akan datang seiring berjalan dengan waktu,Pak.yang penting di coba aja dulu."


"Kalo gitu nggak salah dong aku sama kamu pura-pura jadi pasangan?kalo soal cinta urusan belakang yang penting kita jalani aja dulu."


Mona merasa terjebak dengan ucapannya barusan,ia pun segera mengalihkan pembicaraan.


"Selama menjadi pasangan pura-pura Bapak.aku mau gaji ku di tambah."


"Ternyata kamu matre juga kelinci!"ucap Marsel sinis.


"Bukan matre,anggap aja itu sebagai gaji tambahan buat ku,apa harus berpura-pura capek tau."


"Kalo nggak mau pura-pura gimana kalo kita jadikan betulan aja."


"Nggak lucu tau becandanya."


Mona pura-pura tidur agar Marcel berhenti membahas soal pernikahan itu"Ya allah.aku memang meminta jodoh seorang Bos,tapi nggak kulkas ini juga."


"Kelinci,bangun kita udah sampai di rumah mu." karena tidak kunjung di sahut,Marsel mencolek hidung Mona.


"Arrhhggg.Bapak jangan macam-macam ya,ingat.kita ini hanya pasangan pura-pura jadi tolong jaga batas."ucap Mona kaget karna melihat wajah Marsel begitu dekat.


Marsel menyentil kening Mona," emang kamu pikir aku mau ngapain kelinci?"


"Terus.ngapain dekat bangat tuh muka sama ku?"


" Sudahlah lebih baik kamu turun aja karena kita udah sampai, dari tadi aku udah bangunin kamu tapi kamu tidur seperti orang mati."


Dengan wajah cemberut Mona keluar dari mobil Marsel,"Kalo gitu aku permisi dulu,Om..Tante."ucap Marsel sopan.


"Nggak mampir dulu,Nak?"


"Lain kali aja Om.soalnya ini udah malam,"tolak Marsel.


" Yaudah,kalau gitu kamu hati-hati di jalan."Marsel hanya mengangguk tanda ia.


" kamu lagi mikirin apa sih Mas? dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus."Wina menghampiri Dani.


"Nggak ada sayang,Mas cuman pusing aja mikirin lamaran yang Mas jatuhkan satupun belum ada yang memanggil."tentu Dani berbohong,tak mungkin ia cerita soal penolakan Mona tadi.


"Sabar aja dulu Mas,kalo emang rezeki nggak akan kemana kok.dari pada Mas pusing mikirin itu gimana kalo kita bikin dedek."ucap Wina manja.


Dani pun tersenyum menatap wajah Wina,selanjutnya mereka sama-sama memberi kenikmatan hingga keringat membasahi tubuh kedua manusia yang sedang memadu kasih itu.


Tak terasa hari sudah pagi,karna hari ini libur Mona masih anteng di bawa selimut tampa terusik sedikit pun.


Sementara Tika dan Wina lagi berbelanja di warung langganan mereka"Kak.kita mau masak apa pagi ini?"Wina bingung karna begitu banyak macam-macam sayur dan ikan di warung Bu Inem.


"Hmmmm.gimana kalo sayur sop aja terus goreng ayam?"


"Boleh deh."ucap Wina.


"Wih.sama ipar yang ini kompak ya Tik?beda sama dulu."


"Iya dong.kalo ipar yang ini baik nggak perhitungan kayak yang dulu."Wina tersenyum mendengar pujian Tika.


"Perhitungan gimana?kita aja tau gimana kelakuan mu sama Mona dulu.tapi ngomong-ngomong si Mona makin cantik ya?rezekinya makin lancar lagi."


"Berapa semua ini Bu?"Tika tak suka jika ada yang memuji Mona di depannya.


" Ayok kita pulang Win. di sini kebanyakan ibu-ibu tukang gosip,"Tika menarik tangan Wina.


"Ma.beliin aku sepeda dong."ucap Tia sambil nonton kartun kesukaan-nya.


"Sepeda.!"


"Iya.soalnya sepeda yang lama udah jelek terus sering rusak lagi.beliin ya Ma."ucap Tia imut.


"Tapi uang darimana,Tia?semua uang Mama udah habis buat ngerayain ulang tahun kamu itu kemarin."


"Yah.semua anak-anak di kampung ini punya sepeda yang bagus-bagus.masa aku nggak."Tia mulai mengeluarkan jurus andalannya yaitu menangis.


"Emang berapa harganya,Kak?"tanya Wina.


"Lumaya mah kalo yang bagus."Tika pun menyebut harga satu buah sepeda.


"Yaudah,nanti siang kita ke toko sepeda buat beliin Tia.jadi jangan nangis lagi ya."


"Kamu benaran Win?".


"Benaran dong Kak,tapi aku nggak bisa beli yang mahal-mahal kali."


"Nggak papa kok Tante.asal aku punya sepeda baru aja soalnya aku malu di ejek terus kalo main."

__ADS_1


"Iya sayang."


"Astaga,ayok kita buruan masak Kak.nanti keburu mereka bangun."


"Ayok.hampir aja kita kesiangan buat masak."


Sementara di sebuah Cafe,Karin sedang berkumpul bersama teman-temannya.


"Rin.kapan rencananya pernikahan mu sama Marsel di adakan?"


Karin hanya tersenyum kecut"Batal."ucap Karin lirih.


"Batal.tunggu-tunggu maksdu kamu batal gimana."


"Ya,aku nggak jadi menikah dengan Marsel."


"Hah.bukannya..."


"Iya.tapi Marsel udah mempunyai calon istri,bahkan semalam aku ketemu sama perempuan itu."


Bagaimana tidak kaget,dulu Karin begitu sombong saat mengatakan bahwa akan segera menikah dengan Marsel setelah pulang dari luar negeri.


"Kamu terima aja gitu?"


"Ya nggaklah,aku ini sahabat kecil sekaligus calon istrinya.jadi mana terima aku kalo akhirnya dia sama yang lain juga.kalian tau sendirikan gimana perasaan aku sama Marsel?dalam bangat.tapi aku nggak mau asal ambil tindakan aja."


"Pertama aku akan cari tau asal usul perempuan itu,aku yakin pasti dia punya cap buruk."Karin tersenyum sinis.


Entah kebetulan atau apa,Mona juga datang ke Cafe itu bersama Desi.


"Kalian lihat perempuan yang pake maron itu?dialah calon istri Marsel."


"Cantik pantasan aja Marsel mau?"


"Cantikan juga aku."Karin tak terima.


[Halo,kalian cari tau identitas wanita yang baru saja aku kirim fotonya,setalah berhasil makan bayaran kalian akan aku tambah]


"Kamu mau ngapain,Rin?"


"Udah kalian diam aja.nanti juga kalian akan tau."Karin menatap tajam ke arah Mona.


"Kebetulan kalian lagi ada di sini?nih aku juga bawa buah-buahan karna suami ku habis panen di ladang.gimana kalo kita ngerujak aja."ucap Bu Darmi.ia siang ini sengaja berkunjung ke rumah Tika selain untuk ngerujak tentu aja buat ngegosip.


"Pas bangat itu Bu.apa lagi cuacanya sangat mendukung kalo gitu kalian tunggu sini ya,aku mau ke dalam dulu ngambil bahan buat bumbunya."Tika sangat semangat.


"Udah isi belum,Win?"


"Oh.kamu banyakin makan toge sama minum jamu aja.bisa di bilang promil gitu lah."


"Udah kok,Bu.cuman belum waktunya aja kali."


"Nih.bumbunya udah siap aku buat."Wina bersyukur karna Tika tiba-tiba datang karna ia cukup risih dengan omelan Bu Darsih.


"Tik.itu orang tuanya Mona ada datang jenguk Ibu kamu?"ucapnya sambil melap keringat.


"Ada.kira-kira dua hari yang lalu mereka cuman bawa kue sama buah doang."


"Pelit bangat.ngasih uang gitu masa nggak ada?"cibir Bu Darmi.


"Sama Bu.aku juga berfikir mereka bakal ngasih uang gitu walaupun nggak banyak.tapi ini boro-boro padahal kami ini kan mantan besannya juga."


"Kak.ini bumbu rujaknya pake berapa cabe?"Wina berulang kali minum walaupun kepedasan ia tetap lanjut makan.


"Nggak banyak kok,kalo nggak salah sekitar 20biji cabe rawit semua."


"Astaga pantes aja pedas banget.tapi enak."


"Eh.semalam kalian lihat nggak si Mona di antar sama cowok ganteng bangat.mana mobilnya bagus bangat lagi."


"Ah.yang benar ni Bu?entar salah lihat lagi?"


"Ya nggak mungkin dong salah lihat,aku sempat sembunyi kok di balik pohon mangga sana.makanya aku berani bilang."


"Apa mungkin pacar Mona?"tebak Wina.


"Kalau emang betul cowok itu pacarnya Mona sayang banget.bagus dia sama anak ku Manda aja udah cantik dan tentunya nggak janda."


Bu Darmi nggak tau aja gimana kelakuan anaknya tiap malam,alasan kerja taunya kerja jadi simpanan Om-om,andai ia tau anaknya kerja nggak benar mungkin Bu Darmi akan serangan jantung.


"Emang si Manda kerja apa,Bu?"


"Kerja di salah satu Restoran terkenal di kota ini.jabatan Manda juga lumayan tinggi di sana makanya setiap aku minta ini dan itu dia nggak pernah keberatan,katanya uang segitu nggak masalah buat dia."ucap Bu Darmi sombong.


"Wah,enak bangat ya jadi Manda.kira-kira di tempat kerjanya ada lowongan nggak ya?"ucap Wina.


"Emang kamu mau ngapain,Win?"


"Mau kerjalah,Kak.biar aku bisa tamba-tambahin untuk belanja dan beli obat untuk Ibu."


"Nanti coba aku tanyakan sama Manda,semoga aja masih ada lowongan buat kamu."

__ADS_1


"Makasih ya Bu."


"Sama-sama.yuk kita lanjut makan lagi sampe nggak tersisa."


Mereka bertiga pun lanjut untuk makan rujak meskipun bibir mereka bertiga udah pada merah karna kepedasan.


Di sebuah hotel mewah,Manda baru saja selesai melayani salah satu pelanggannya.


"Kamu emang selalu bisa bikin Om puas,sayang."


"Tentu dong Om.selagi bayaran aku lancar aku akan selalu memberikan servis terbaik untuk Om."ucap Manda genit.


"Om rasa mulai hari ini kita akan jarang bertemu sayang?"


"Loh.emang Om mau kemana?apa jangan-jangan Om udah punya ganti ku lagi."sampe kapan pun Manda nggak akan rela kehilangan tambang emasnya,karna berkat Om Handoko lah ia mampu membeli apapun yang ia mau seperti hp keluaran terbaru.baju-baju bermerek dan masih banyak lagi.


"Bukan begitu sayang.mana mungkin Om punya pengganti mu sementara pelayanan mu selalu memuaskan."


"Terus?"


"Istri Om mulai curiga jika Om bermain di belakang.akibat kecerobohan Om yang nggak langsung membuat Nota belanjaan kamu waktu itu.jika semua terbongkar sekarang maka Om akan hancur."


"Hmmm.yaudah deh Om aku ngerti.tapi kalo ada waktu kita main lagi ya."ucap Manda mendes*h.


"Ahhh.Om nakal deh."


"Satu ronde lagi ya sayang sebelum kita berpisah."tangan kekar itu pun sudah meraba area sensitif Manda.


"Tentu Om.lagi pula aku juga masih pengen."dan terjadilah pergulatan panas untuk kesekian kalianya.


Balik lagi ke Tika dan Wina.


"Nenek!!"teriakan dari rumah Tika membuat mereka kaget dan buru-buru untui masuk ke dalam.


"Ada apa Tia..."


"Ya ampun Ibu,bangun Bu."Tika menepuk pipi Bu Rahma.


"Win.kamu cari bantuan sana ke rumah tetangga.badan Ibu udah dingin bangat ini."


Bu Darmi juga ikutan heboh,ia mengambil minyak kayu putih dan mengolehnya ke hidung Bu Rahma.


"Ma,Nenek nggak papa kan?"Tia menangis melihat Nenek yang tak kunjung sadar.


"Nggak papa sayang,Nenek hanya pingsan aja kok.jadi Tia jangan nangis aja lagi,emang kok bisa Nenek seperti ini?"


"Tadi aku masuk ke kamar Nenek buat minta bolu yang semalam,tadi aku lihat Nenek nggak ada di tempat tidur,pas aku lihat di kamar mandi Nenek udah telungkup."jelas Tia.


"Kak,aku udah dapat bantuan itu.kita bawa Ibu sekarang ke rumah sakit."ucap Wina tak kalah panik.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil tetangga,Wina menghungi Dani agar segera menyusul ke rumah sakit nanti.


"Dokter...Dokter!,tolong selamatin Ibu ku Dok."teriak Tika.


Dokter mendekat beserta satu surter"Ibu nggak boleh masuk.jadi sebaiknya tunggu diluar saja."cegah Suster tersebut saat Tika ingin ikut masuk.


"Tapi..."


"Biarkan mereka bekerja Kak.kita berdoa saja semoga Ibu nggak papa."Wina menuntun Tika untuk duduk.


"Win.bagaimana keadaan Ibu?"Dani dan Dedi datang ngos-ngosan karna berlari.


"Ibu masih di dalam Mas di periksa."


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Kami juga nggak tau,Mas.tadi aku sama Kak Tika ngerujak bersama Bu Darmi,tapi saat kami asyik mengobrol tiba-tiba Tia teriak,pas kami masuk Ibu udah nggak sadar kan diri."


"Kalian berdua nggak becus kali sih jagain Ibu?"bantak Dani.


"He Dani.maksud kamu nggak becus gimana?kita tuh nggak pernah lalai jagain Ibu,dan baru tadi aja kok kami tinggal itu pun hanya diluar nggak jauh-jauh,jadi kalo ngomong itu di pikir dulu.kamu pikir jaga orang sakit itu gampang apa?"Tika membentak balik Dani.


"Udah-udah.kalian berdua kok jadi malah berantam sih.kita lagi di rumah sakit loh kalian nggak malu apa di lihatin banyak orang?"


"Keluarga pasien?"


"Ya Dok.saya anaknya bagaimana keadaan Ibu saya Dokter?"


"Begini Pak,maaf ternyata saat di bawa kesini Ibu ada sudah tiada."


"Maksud Dokter apa?"ucap Tika gemetar.


"Yang sabar ya Mba.Ibu anda sudah tiada sabar dan ikhlas."


duarrrr.


Mereka semau berlari masuk ke dalam ruangan Bu Rahma.


"Bangun,Bu.kenapa Ibu pergi ninggalin kita Bu."tagis Dani pecah.


Wina menghungi. Bu Darmi agar memberitahu tetangga di sana.

__ADS_1


__ADS_2