
Pengajian pun sudah selesai beberapa hari berturut-turut di rumah Dani,kini mereka kembali beraktifitas seperti biasanya.dan Wina pun mulai bekerja hari ini.ya beberapa hari yang lalu sebelum Bu Rahma meninggal Wina sudah melamar di salah satu sebuah Restoran.
"Semangat ya Win.apa lagi ini hari pertama kamu kerja semoga lancar nggak ada kendala."
"Amin."
"Emang di situ udah nggak ada lowongan lagi ya,Win?"
"Nggak tau juga aku,Kak.emang kenapa kalo misalnya ada?apa Kaka mua lamar kerja?"
"Bukan buat aku Win.tapi ini untuk Papa Tia daripada kerja bangunan kan?udah hasil nggak seberapa tapi capeknya minta ampun.kamu bisa lihat sendirikan wajahnya udah mulai gosong."
"Namanya juga panas-panasan Ma.kerja salah nggak kerja makin salah."ucap Dedi ketus.
"Bukan gitu maksud aku,Pa.cuman kan kalo ada yang lebih bagus kenapa nggak di situ aja."ucap Tika membela diri.
"Nantilah aku tanya Kak.semoga aja ada."
Mereka pun mengahiri obrolan dan lanjut untuk sarapan pagi.
"Kamu udah selesai sarapannya sayang?biar kita berangkat sekarang takutnya kamu telat nanti."ucap Dani.
"Udah kok Mas.yuk kita berangkat sekarang."Wina begitu semangat.
Sementara di rumah keluarga Wijaya pun sama sedang melakukan sarapan pagi sebelum beraktifitas.
"Sel.kapan kita ke rumah Mona untuk melamar dia secara langsung?kalo bisa jangan lama-lama dong."
"Sabar dong Ma.nanti coba aku tanyakan dulu sama Mona,takutnya kedua orang tua dia masih ada kesibukan untuk saat ini."ucap Marsel.
"Ya.tapi kalo bisa secepatnya ya,Mama udah nggak sabar bangat pengen cepat punya mantu."
"Hmmmm.Mama doakan aja semoga semuanya berjalan dengan lancar."
"Entah apa yang terjadi saat aku melihat Mona?apakah ini yang di namakan cinta?tapi masah aku jatuh cinta sih sama kelinci rakus itu."pikir Marsel.
"Aku udah selesai sarapannya,aku berangkat sekarang ya Ma.Pa,tak lupa juga Oma ku yang cantik ini."
"Kamu hati-hati ya,ingat pesan Mama tadi kamu harus segera ngomong sama Mona."
"Hmmmm."hanya itu jawaban yang Marsel berikan.
"Anak sama Bapak sama aja,sama-sama dingin."gerutu Bu Nisa.
Begitu tiba di perusahaan Marsel di sambut para karyawan yang melihatnya.Amel takkala semangat begitu melihat Marsel masuk ia sengaja berdiri di posisi yang paling deket pada pintu masuk.
"Selamat pagi.Pak,"ucap Amel tersenyum manis.namun orang yang di senyumin hanya berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Ehemmm.apa berkas-berkas yang di perlukan untuk rapat nanti sudah siap?"Marsel mengangetkan Mona yang sedang sarapan.
"Su....sudah Pak!"ucap Mona dengan mulut penuh.
"Telan dulu makanan yang ada di mulut mu baru bicara."
"Maaf Pak."
"Dasar kulkas hobi bangat bikin orang kaget,"Mona ngedumel dalam hati.
"Padahal ini belum waktunya makan siang,tapi kamu udah makan lagi."
"Isssh bukan gitu Pak.tadi di rumah aku nggak sarapan karna telat bangun,jadi aku bawa bekal pagi ke sini."
"Aku nggak bertanya."
"Lama-lama aku hajar juga Bos kulkas ini.sabar Mona orang sabar makin cantik."dengan kesal Mona kembali duduk dan menghabiskan sarapannya.
"Kita berangkat sekarang."ucap Marsel dingin.Mona pun segera mengikuti dari belakang,Amel melihatnya Mona dengan tatapan tajam.
"Hmmmm.kayaknya aku harus bicara nanti dengan mantan suami janda itu,semoga aja dia mau aku ajak kerja sama."Amel tersenyum licik.
Tepat jam istirahat Amel menemui Dani yang kebetulan sedang sendirian"Hay.apa boleh aku bicara sesuatu dengan mu?"Amel tersenyum.
"Tentu,apa Mba mengenal ku?"Dani heran tiba-tiba ada perempuan **** menghampirinya.
"Baiklah."mereka berduapun berjalan bersama tak lupa Amel dengan gaya centilnya.
Mereka berduapun duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman"Kalo boleh tau.."
"Panggil aja Amel."ucapnya cepat.
"Baiklah.emang sesuatu apa yang ingin kamu bicara dengan ku,Amel?"
"Begini.aku punya penawaran yang bagus buat kamu,aku tau kalo kamu itu masih mengharapkan Mona kan?karna waktu itu aku nggak sengaja mendengar pembicaraan kalian."
"Terus?"
"Gimana kalo kita berdua kerja sama?srbenarnya aku suka sama Bos kita yang sekarang dan rencananya aku ingin memiliki dia seutuhnya."ucap Amel.
"Apa?tapi bagaimana caranya.Mel?ini resikonya cukup berbahaya buat kita berdua."tak di pungkiri Dani sangat ingin kembali lagi pada Mona.
"Ya kita harus bermain cantik dong.kita jebak salah satu dari mereka gimana?"lama berfikir akhirnya Dani setuju dengan rencana Amel.
"Ok.kita udah sepakat sekarang,kamu simpan nomor ku baik-baik.agar kita lebih gampang buat melakukan rencana itu."setelah di rasa cukup Amel pergi meninggalkan Dani.
Sementara di Cafe,Marsel dan Mona baru saja selesai melakukan pertemuan dan selanjutnya makan siang.
__ADS_1
"Win.kamu bantu aku ya antar makanan ini ke meja no sana."
"Baik Mba."
"Tapi harus hati-hati ya jangan sampe kita ngelakuin kesalahan,bisa-bisa nanti kita kena pecat lagi."
"Emang kenapa,Mba?"
"Karna yang makan ini orang penting.bisa di bilang Bos besar."mereka berduapun mulai mengantar makanan itu.
"Permisi."sambil menata makanan di meja Mona dengan pelan,sementara Wina cukup terkejut melihat mantan istri suaminyalah yang dia layani,Wina begitu malu sedangkan Mona hanya cuek aja.
"Ayok silahkan di nikmati,Pak Marsel,Bu Mona."
"Terimakasih,Pak."Mona tersenyum dan mulai menikmati.
"Makanlah dengan elegan kelinci,kita ini bukan lagi berdua."bisik Marsel.
Mona begitu kesal mendengar bisikan Bosnya.ia hanya tersenyum.
"Terimakasih atas kerja samanya,Pak Marsel.kalo gitu kami permisi dulu."
"Sama-sama.kami juga senang bisa bekerja sama dengan perusahaan Bapak."ucap Marsel dingin.
Kini tinggal Mona dan Marsel yang duduk kembali setelah rekan kerja sama mereka pergi.
"Apa nggak bisa mode kulkasnya di hilangin saat rapat begini?"ucap Mona pelan.
"Kamu bilang apa barusan?apa kamu tidak takut kualat karna mengatai Bos kamu sendiri?"
"Emang siapa yang ngatai Bapak?kepedean bangat jadi orang."
"Terserah kamu ajalah kelinci.hmmm,kapan kedua orang tua ku bisa datang ke rumah mu?"
"Aduh,jangan bilang aku mau di lamar secara resmi,Pak."
"Betul."
"Pak,kita jujur aja yok.kita harus bilang kalo hubungan ini hanya pura-pura."
"Apa kamu nggak kasihan pada keluarga ku jika kita mengatakan yang sejujurnya,apa lagi Mama sangat mengharapkan mu."
Di satu sisi Mona belum ada niat untuk menikah lagi,apa lagi dia nggak ada rasa sedikitpun pada Bosnya.tapi yang di bilang Marsel ada benarnya juga Mona begitu melihat ketulusan dari bu Nisa saat ia datang kesana waktu itu.
"Kasih aku waktu buat berfikir dulu,Pak.besok aku kabari."ucap Mona lirih.
"Baiklah,sekarang kita kembali ke kantor."dengan datar.
__ADS_1