
"Begini,Pak.dengan berat kami menyampaikan kabar ini bawah calon anak Bapak tidak dapat kami selamatkan!"
Ucapan dokter barusan membuat lutut Bram lemas, bagaimana tidak anak itu sudah ia tunggu sejak lama dan sekarang ia harus menerima kabar yang begitu menyakitkan.
"Dokter,tidak salah bicarakan calon anak-ku masih baik-baik ajakan?"Bram berharap tadi ia salah dengar.
"Yang kuat dan sabar ya,Pak.dan satu lagi kabar yang harus Bapak dengar."
"Apa itu,Dok?"tanya Bram dengan suara serak.
"Akibat kecelakaan yang dialami oleh istri,Bapak.dan benturan yang dialaminya juga sangat kuat jadi terjadi kerusakan yang sangat parah dibagian rahimnya, untuk itu kami meminta persetujuan pada Bapak untuk melakukan tindakan operasi pengangkatan rahim."
"Lakukan saja yang terbaik buat dia,Dok."
"Baik,kalo gitu Bapak silahkan tanda tangan disini dan segera melunasi semua tagihan rumah sakit ini."dengan cepat Bram menuruti perintah Dokter itu.
Sementara Dara hanya diam saja dan menyaksikan semuanya itu, meskipun ia sangat yakin bahwa nanti Bram akan bertanya apa sebenarnya yang terjadi pada Wina.
"Kamu ini taunya bikin masalah aja,Win.aku nggak yakin apakah suami masih mau bertahan sama kamu tau malah sebaliknya."gumam Dara.
"Apa kamu temannya,Wina?"tanya Bram.
"Iya Om."sahut Dara gugup.
"Bisakah kamu ceritakan gimana kronologi yang sebenarnya,apa benar Wina mabuk?"
"Benar,Om.padahal aku sudah melarang dia agar tidak mabuk karna aku tau alkohol itu nggak baik buat Ibu hamil,tapi Wina nggak mau dibilangin."Dara-pun menceritakan semua pada Bram tampa ada yang disembunyikan.
Menurut Bram kalo Wina itu benar-benar keterlaluan, bagaimana mungkin nafkah yang ia berikan masih kurang sementara itu khusus buat kebutuhan pribadinya sendiri, sedangkan untuk makan mereka lebih sering membeli daripada memasak,itu semua Bram lakukan agar Wina dan bayinya tidak merasakan kelelahan.
Kalo sudah begini menurut Bram pernikahan ini sudah tidak bisa lagi dipertahankan,seketika Bram teringat dengan mantan istrinya yang tidak pernah mengeluh berapapun yang ia kasih,bahkan Yuni masih setia mengurus semua kebutuhan-nya.
Setelah beberapa jam akhirnya Wina sadar dari masa kritisnya,ia meraba perutnya yang sudah tidak menonjol lagi.
__ADS_1
"Mas."ucap Wina lemah.
"Akhirnya kamu sadar juga."ucap Bram dingin.
"Mas, kenapa aku bisa ada dirumah sakit ini,dan Kenapa perut ku jadi rata seperti ini? apakah aku sudah melahirkan?"
"Coba kamu ingat-ingat lagi apa penyebabnya kamu masuk rumah sakit?"Wina mulai mengingat semua kejadian yang ia alami.
"Mas...aku"
"Selamat ya akhirnya keinginan kamu kirbauntuk melenyapkan calon anak-ku berhasil,kamu udah berhasil membunuh anak-ku Wina!"bentak Bram.
"Mas."
"Cukup! coba katakan apa kurang-ku selama menjadi suami-mu? aku korbankan semua untuk mu apapun keinginan mu aku selalu berusaha penuhi,termasuk meninggalkan wanita yang tulus bersama-ku waktu itu."
"Namun dengan teganya kamu, balasan kamu sangat sakit sekali Wina kamu tau sendiri anak itu adalah harapan ku satu-satunya,kamu tau juga dari dulu aku sangat ingin memiliki anak-kan?"
"Maafin aku,Mas."ucap Wina menangis.
"Mas,aku mohon jangan talak aku.kemana lagi aku harus pergi jika kamu menceraikan aku?"raung Wina,ia tidak menyangka Bram akan menalak dirinya dalam kondisi seperti ini.
"Terserah kamu mau pergi kemana karna sekarang kamu bukan siapa-siapa ku lagi,oh iya.atas saran dari Dokter kamu baru saja menjalani operasi pengangkatan rahim, selamat ya mungkin itu karma atas perbuatan mu pada bayi yang tak berdosa itu,kalo gitu aku pergi dulu."ucap Bram bergegas keluar dari ruangan Wina.
"Mas,jangan tinggalkan aku sendirian disini,aku udah nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu."ucap Wina menjerit.
Dokter dan Suster segera masuk dan memberikan suntik penenang pada Wina agar ia tidak mengamuk lagi.
Tak terasa hari sudah pagi Wina mulai membuka matanya,ia masih berharap kalo kejadian semalam adalah sebuah mimpi dan Bram masih ada bersamanya.
"Pagi, waktunya sarapan dan minum obat."ucap Suster yang masuk keruangan Wina.
"Sus, numpang nanya, bagaimana tentang biaya rumah sakit ini?"Wina sangat takut kalo Bram lepas tangan dengan masalah ini.
__ADS_1
"Semua biayanya sudah lunas dibayar sama suami, Ibu."Wina bernafas lega mendengar jawaban sang Suster setidaknya ia tidak pusing mencari biaya rumah sakitnya.
"Nggak ada cara lain selain minta tolong sama Dara,karna cuman dia sekarang harapan ku satu-satunya."batin Wina.
Sementara di rumah Marsel kini sudah mulai dipadati oleh tamu-tamunya,baik itu rekan kerjanya ataupun teman arisan bu Nisa.
"Cantik bangat ya bumil yang satu ini."
"Mama juga cantik kok, bahkan masih terlihat seperti anak gadis."ucap Mona.
"Ah kamu ini bisa aja buat Mama jadi salah tingkah,kalo gitu kita kesana yuk gabung sama besan Mama."
Marsel sedari tadi terus memperhatikan Mona yang terlihat berbeda har ini"Biasa aja natap mantu,Papa.padahal tiap hari saling lihatnya."
"Ya mau gimana nggak ditatap terus,Pa.dia itu terlalu sempurna sebagai seorang wanita dan aku sangat bersyukur bisa memiliki dia seutuhnya."ucap Marsel,dan tiba-tiba ia melihat dari arah kejauhan kedatangan Kiara bersama seorang pria.
"Pah,apakah Papa melihat Kenzo ada dimana?"
"Sepertinya dia ada di dapur tadi lagi makan,emang ada apa?"
"Tidak,kalo gitu aku mau nyusul Kenzo dulu sebentar.",Marsel sengaja tidak bercerita kepada keluarganya mengenai ancaman Kiara tempo itu, menurutnya masalah seperti ini masih bisa ia atasi sendiri.
"Apakah semua sudah aman,Ken?"
"Astaga, untung paha ayam ini nggak ketelan semua sama aku,kalo sampe itu terjadi bisa mati aku padahal aku belum nikah dan belum ngerasain belah duren."ucap Kenzo kesal.
"Ya maaf,aku cuman ingin memastikan itu doang kok sama kamu,soalnya wanita ular itu udah datang aku lihat."
"Kamu nggak usah khawatir kalo masalah itu semuanya udah aman kok,aku jamin semuanya bakalan aman dan istrimu tetap sehat tidak lecet sedikit-pun."ucap Kenzo masih tetap mengunyah.
"Kamu itu persis seperti orang kelaparan aja, padahal tadi sebelum tamu berdatangan kamu sudah makan cemilan begitu banyak."Marsel geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
"Cemilan sama nasih itu beda tau."
__ADS_1
"Terserah kamu sajalah,kali gitu aku mau kedepan dulu sepertinya acara akan segera dimulai."