AMBIL SAJA BEKASKU

AMBIL SAJA BEKASKU
BAB 38: UNDANGAN.


__ADS_3

Setelah selesai sarapan Suster-pun sudah keluar dari ruangan ini,aku segera mengambil hp dari tas dan untungnya hp-ku masih bisa di gunakan walaupun kaca-nya udah ada yang pecah.


Tak membuang-buang waktu lama aku langsung menghubungi Dara agar dia datang kesini,selain butuh sesuatu aku juga kesepian sendirian disini sementara Bram tidak mau menjawab-nya.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Dara sampai juga disini meskipun aku lihat wajahnya sama sekali tidak bersahabat,namun aku tidak peduli sama sekali yang terpenting sekarang dia mau menolong dan menampungku untuk sementara waktu ya kalo bisa selamanya-pun jadi.


"Ada apa,Win?"tanya dengan ketus.


"Aku butuh bantuan kamu sekarang,Dar? karna cuman kamu sekarang harapan ku satu-satunya."


"Bantuan apa? kenapa nggak minta bantuan sama suami kamu aja."


"Pengennya juga gitu.tapi aku udah di talak sama Om Bram,makanya sekarang aku bingung."ucap Wina pelan, sementara Dara yang mendengar ucapan Wina barusan hanya tersenyum sinis.


"Itulah akibat jika kamu tidak mau mendengar apa yang aku bilangin,Win.coba aja kamu nggak keras kepala tadi malam kan semua ini nggak akan terjadi sama kamu,kalo udah seperti ini kamu juga yang rugi."


"Udah-lah nggak usah bahas itu lagi semuanya udah terjadi, intinya kamu mau nggak bantuin aku sekarang? karna yang aku butuhkan cuman itu bukan ceramah tau apa."disaat seperti ini aja Wina masih bisa bersikap angkuh.


"Emang kamu butuh bantuan apa?"


"Kamu kan sendirian tinggal di kostan mu? dan aku lihat kost itu juga lumayan besar,nah untuk itu boleh nggak sementara aku tinggal disana sampai aku pulih dan bisa bekerja lagi?"ucap Wina memelas.


Meskipun kesal Dara juga tak tega melihat keadaan Wina yang sekarang,mungkin kalo untuk sementara nggak masalah juga nampung dia"Boleh.tapi cuman untuk sementara aja ya."


"Iya-iya,kan tadi udah aku bilang juga cuman sementara doang."ucap Wina."Dasar pelit,takut bangat dia kalo aku bakalan ngerugiin."gumam Wina


"Emang kapan kamu akan keluar dari rumah sakit ini?"


"Belum tau juga,karna aku belum nanya sama Dokter."

__ADS_1


"Hmmmmmm,aku nggak bisa lama-lama nemanin kamu disini Win,nanti malam aku harus kerja lagi."ucap Dara.


"Ya aku tau kok,tapi habis kerja kamu kesini lagi ya dan minta tolong sekalian bawain aku makanan,kamu tau sendirilah kalo makanan disini rasanya nggak enak."


"Iya nanti aku bawain,kalo gitu aku pergi sekarang ya."ucap Dara pamit.


"Ok,kamu hati-hati ya di jalan.semangat kerjanya."


Dara hanya mengangguk"Dasar,kalo ada maunya aja bersikap manis mengalahkan gula, coba kalo nggak butuh apa-apa, sombongnya minta ampun."batin Dara,ia melangkah keluar dari ruangan Wina.


Sementara di rumah Marsel.


"Minggu depan aku harap kalian bisa datang ya ke acara pernikahan kami,ini undangan-nya."ucap Kiara,ya Dady-nya begitu marah setelah tau Kiara pergi ke kantor milik Marsel dan merendahkan harga dirinya agar dinikahi oleh Marsel.


Untuk itu mereka memutuskan menikah-kan Kiara dengan Riko,ya meskipun awalnya Kiara bersikeras menolak perjodohan itu namun setelah mendengar ancaman sang Dady yang tidak main-main akhirnya Kiara mau juga.


"Terimakasih,kami pasti akan datang ke hari bahagia kamu,Ki."ucap Marsel tersenyum.


"Aku harap kamu nggak menyesal karna sudah menyia-nyiakan perempuan secantik aku,dan aku tau kamu nggak benar-benar serius menjalani rumah tangga bersama wanita kampung ini."bisik Kiara.


Riko yang mengetahui suasana semakin tidak enak ia segera menarik tangan Kiara untuk menjauh dari Marsel dan Mona.


"Kita berdua duluan ya,sekali lagi saya doakan selamat dan semoga lancar sampe hari persalinan-nya."ucap Riko ramah.


"Terimakasih."ucap Marsel dan Mona.


"Kamu apa-apaan,Rik? ngapain pake narik-narik segala."Kiara menghempaskan tangan Riko dengan kasar.


"Kamu yang apa-apaan,Ki.jadi perempuan itu mahal dikit napa nggak usah sampe segitunya,apa kamu nggak malu kalo sampe orang-orang pada dengar terutama kedua orang tua kamu?"ucap Riko.

__ADS_1


"Itu bukan urusan mu,dan kamu jangan senang dulu karna aku sudah mau menikah dengan kamu,kalo bukan terpaksa aku sangat-sangat tidak sudi jadiin kamu sebagai suamiku."ucap Kiara sinis.


Sebagai seorang pria Riko merasa harga dirinya telah di rendahkan oleh Kiara namun untuk saat ini ia lebih memilih banyak diam dan pasrah,namun tidak tau kalo sudah menikah apakah ia masih diam saja saat mendengar kata-kata kasar Kiara.


"Kalo gitu kenapa nggak kamu tolak aja?"


"Andai itu bisa sudah ku lakukan,namun aku tidak mau ambil resiko kamu tau sendirilah sejak kecil aku tak pernah kekurangan apapun.untuk itulah aku terpaksa menerima perjodohan sialan ini."ucap Kiara.


Ya, orang tua Kiara mengancam kalo sampe Kiara menolak lamaran ini siap-siap dia akan kehilangan semua fasilitas yang ia nikmati saat ini,Kiara yang sedari kecil sudah terbiasa dengan hidup mewah tentu saja tidak mau,apa lagi ia belum kerja sama sekali.


"Sekarang kamu paham-kan? untuk itu kamu jangan terlalu banyak berharap setelah kita menikah nanti."Kiara bergegas meninggalkan Riko yang terdiam di tempatnya.


"Kita lihat aja nanti,sampai mana keangkuhan kamu itu bertahan."Riko menatap punggung calon istrinya yang semakin jauh.


Acara hampir selesai,satu persatu tamu mulai berpamitan pulang termasuk keluarga besar Kiara.


"Apa kamu lelah,sayang?"tanya Marsel sambil memijit kaki Mona.


"Lumayan capek,Mas.tapi badan ku pegal bangat."


"Kalo gitu berbaring-lah biar Mas pijitin."dengan senang hati Mona langsung menuruti perintah suaminya.


Karna merasa pijitan Marsel sangat cocok Mona rasa hingga akhirnya dia tertidur pulas,dan Marsel tersenyum menatap wajah istrinya yang tidur dengan damai.


"Tidur yang nyenyak ya sayang bersama Bunda."ia menciumi perut buncit Mona sebelum keluar kamar.


Di rumah Dani ia termenung mengingat pertemuan pertamanya setelah bercerai dengan Mona,andai waktu bisa di ulang kembali ia tidak akan pernah mengkhianati Mona.


"Kamu tambah cantik aja setelah berpisah dengan aku,Mon.kamu emang pantas bersanding dengan laki-laki baik seperti Pak Marsel,kini semua tinggal penyesalan yang ada,andai aku ingin kembali memiliki mu rasanya tidak mungkin."batin Dani,mengingat bagaimana tadi Mona tertawa bahagia rasanya sudah tidak ada harapan lagi.

__ADS_1


__ADS_2