
"Nggak terasa ya Mas.kita udah hampir satu minggu liburannya dan hari ini kita akan pulang."ucap ku sambil menyusun baju ke koper.
"Apa kamu masih betah disini?kalo iya biar kita tunda aja kepulangan hari ini?"
"Eh jangan dong,Mas.aku udah nggak sabar tau pengen cepat-cepat sampai rumah,aku udah kangen tau sama mereka.apa lagi masuk kerja."
"Emang kamu masih mau kerja?apa nggak sebaiknya di rumah aja gitu?"
"Bosan tau Mas kalo di rumah terus,okelah kalo untuk saat ini karna masih ada Mama sama Oma teman ngobrol.nanti kalo kita udah pindah rumah kan sepi sementara Mas tiap hari kerja."
"Jadi aku masih boleh kerja kan Mas?kecuali kalo udah hamil baru aku berhenti kerja.tapi yang jadi pertanyaan apakah aku bisa hamil atau nggak."
"Hey.nggak boleh ngomong gitu dong semua kita serahkan aja sama yang maha kuasa,sekarang daripada sedih-sedihan mending siap-siap sana.sebelum kita pulang lebih baik kita pergi cari oleh-oleh."
"Eh iya.aku hampir lupa dengan titipan Mama kemarin."aku bergegas berganti baju setelah keluar dari kamar mandi.
"Apa kamu sengaja ingin mengoda ku!"Marsel memeluk Mona dari belakang,Marsel juga mencium leher putih Mona.
"Mas.nggak usah macem-macem deh,kita mau pergiloh jadi tolong lepasin."aku merasa geli atas tindakan yang Marsel barusan.
"Ah...."satu ******* lolos dari bibir Mona yang membuat Marsel semakin gila.
"Aku butuh tenaga sayang sebelum pergi."jika sudah begitu Mona hanya bisa pasrah,sejujurnya ia juga sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Marsel.
Tampa melepaskan ci*uman mereka Marsel mengangkat tubuh langsing Mona dan merebahkannya.
Permainan mereka semakin panas,Marsel membuka kaki Mona lebar-lebar hingga ia bisa melihat dengan jelas l*b*ng yang membuat dirinya seperti orang mabuk.
"Ahhhh.Mas"
"Sekarang aja Mas.aku udah nggak kuat."pinta Mona dengan lirih.
"Sesuai permintaan mu sayang!"Marsel tersenyum dan mengarahkan senjatanya tepat di sasaran.
Di lain tempat.
Wina semakin senang menjalani kehamilan-nya,mempunyai dua orang laki-laki yang mampu membuat dirinya semakin bahagia.
Dani selalu berusaha menjaga Wina dan tidak membolehkan dirinya capek,sementara Bram selalu sigap saat ia meminta ini dan itu.
"Tia.beliin buat Tante rujak dong."
"Iya Tante,uangnya mana?"
__ADS_1
"Nih.nanti kembaliannya buat kamu aja."Tia girang yang akan mendapat uang jajan.
"Win.sesekali kamu bantuin aku dong beres-beres rumah,jangan karna hamil kamu jadi malas begini."Tika betul-betul kesal dengan kelakuan Wina.
"Kak.bukannya aku nggak mau bantu tapi emang Dokter nyuruh aku buat istirahat total,Kaka tau sendirikan kandungan aku lagi lemah."
"Ck.alasan aja kamu,emang dasarnya kamu itu emang malas."cibir Tika.
"Kok ngomongnya gitu sih,Kak?Mas Dani aja nyuruh aku buat istirahat total karna dia nggak mau terjadi sesuatu pada anaknya."
"Hmmmm.belum tentu juga anak itu milik Dani."
Deg.
"Mak...maksud Kaka apa ngomong seperti itu?jelas-jelas ini anak suami ku!"bentak Wina.
"Selow aja dong Win,aku kan cuman menduga aja apa itu salah."
"Jelas salah! secara tidak langsung Kaka menuduh aku bermain gila,aku nggak terima ya Kaka bilang seperti itu lagi."Wina bergegas pergi namun langkahnya terhenti.
"Kamu bisa membodohi Dani dengan mudah,tapi tidak dengan aku Win.aku hanya perlu bukti untuk mengungkapkan itu semua."ucap Tika sinis.
Wina mengepalkan tangannya dengan kuat,ia tak mau rahasianya terbongkar sekarang,apa lagi jika ia di ceraikan Dani setelah tau semuanya.
"Aki nggak boleh tinggal diam,perempuan itu nggak boleh diremehin."pikir Wina.
Saat Dani masuk Wina langsung bersandiwara,Wina menangis sesegukan agar ektingnya semakin bagus dan Dani langsung percaya.
"Kamu kenapa sayang?apakah ada yang sakit?"tanya Dani lembut.
"Ak...aku nggak papa kok,Mas."tapi air mata Wina tetap menetes membuat Dani nggak percaya begitu aja.
"Sekarang kamu cerita aja sama,Mas.kalo emang nggak ada apa-apa kenapa kamu nangis?sekarang cerita ya."
"Kalo aku cerita Mas janji nggak boleh marah ya?"
"Iya,Mas janji nggak bakalan marah kok."
"Ini soal Kak Tika,Mas.tadi dia marah karna aku nggak ikut bantuin bersih-bersih rumah,Mas sendirikan tau apa kata Dokter,udah aku jelasin tapi Kak Tika nggak mau percaya,yang paling membuat aku sedih dia mengatakan kalo anak ini bukan anak kamu,Mas."ucap Wina lirih.
"Apa?serius Kak Tika tega ngomong begitu sama kamu?"rahang Dani mengeras menandakan ia sedang emosi.
"Kamu mau kemana,Mas?tadi kamu udah janji nggak bakalan marah kalo aku cerita."Wina menahan tangan Dani.
__ADS_1
"Mas harus bicara sama dia sayang,Kak Tika itu udah keterlaluan dengan menuduh kamu yang nggak-nggak."Dani melepaskan tangan Wina dan bergegas keluar untuk mencari Tika.
"Kak Tika!!"Dani menggedor pintu kamar sodaranya dengan kuat.
"Apa sih,Dan?kamu pikir aku budek makanya kamu ngedor pintu begitu kuat!"omel Tika.
"Sekarang coba jelasan,Kak.apa maksud Kaka ngomong seperti itu pada Wina?gara-gara ucapan Kaka dia jadi nangis aja di kamar.Kaka tau sendirikan dia nggak boleh stres dan banyak pikiran."Dani mencoba untuk menahan emosinya.
"Oh,istri mu udah ngadu ternyata.kalo nggak merasa ngapain dia tersinggung begitu,kamunya aja yang bodoh mau dikibulin sama dia,apa kamu nggak curiga darimana dia bisa membeli barang mewah sementara dia udah nggak kerja lagi,meskipun kamu memberikan dia hampir seluruh gaji itu sangat mustahil."
"Semalam dia dapat kiriman satu set perhisan dengan harga pantastis,kalo di taksir harganya sekitar 100 juta.coba kamu pikir darimana dia mendapatkan itu semua.jadi laki-laki jangan terlalu bodoh napa,belum lagi dua hari yang lalu aku dengar dia telfonan sama orang tengah malam.udah aku bilang berapa kali sama kamu cari tau semua sebelum kamu menyesal."
"Tapi aku nggak pernah lihat di kamar ada barang-barang mewah dia,Kak."ucap Dani
mulai melunak,ia benar-benar kaget atas apa yang di sampekan oleh Tika barusan.
"Yang jelas kamu nggak tau,apa kamu buka atau periksa bagian lemari dia?coba kamu periksa ketika dia lagi nggak ada biar kamu percaya."
Emang selama ini Dani nggak pernah membuka lemari milik Wina,emang pernah ia ingin mengambilkan baju untuk Wina kenakan namun Wina langsung melarang.dan ia pun tidak pernah merasa curiga walau sedikitpun.
"Aku akan ikuti saran Kaka,kalo gitu aku mau balik lagi ke kamar."dengan lesuh Dani berjalan ke arah kamar mereka.
"Mas.kamu nggak berantam kan sama Kak Tika?aku nggak mau dia semakin membenci aku."ucap Wina.
"Nggak kok sayang,tadi Mas hanya negur dia aja."Wina kecewa dengan ucapan Dani,padahal tadi ia berharap kalo mereka berdua akan berantam hebat.
"Kamu kenapa,Mas?"
"Mas nggak papa sayang.hanya merasa lelah aja hari ini."
"Kalo emang benar Wina selingkuh,aku nggak akan tinggal diam."batin Dani.ia berencana akan mengecek lemari Wina tengah malam agar aman.
Sementara di tempat lain,Mona dan Marsel baru aja tiba di rumah kediaman Wijaya.
"Gimana liburan-nya sayang?Marsel nggak macam-macam kan sama kamu.?"
"Nggak kok Ma.justru suami ku ini menjaga ku dengan baik."ucap Mona.
"Kalo gitu sekarang kalian istirahat dulu sana,pasti kalian capek setelah melakukan perjalanan jauh."ucap Bu Nisa.
"Ayok sayang."Marsel mengandeng tangan Mona.
"Semoga pernikahan mereka langgeng ya,Bu?dan cepat diberi momongan."
__ADS_1
"Amiin,kita doakan aja yang terbaik buat mereka,dan Ibu lihat sepertinya Marsel sangat mencintai Mona."ucap Oma Tari.
"Iya Bu,aku juga bisa melihat dari cara dia memperlakukan dan menatap Mona tadi."