
"Siapa kalian?"ucap Tika heran karna melihat tiga pria berbadan sangar yang datang ke rumahnya.
"Apa benar ini rumah selingkuhan,Pak Bram? kalo benar suruh wanita itu keluar sekarang juga,kami ditugaskan untuk mengambil semua barang-barang miliknya."
"Dia sudah diantarkan oleh Adik ku kerumahnya,tapi barang-barangnya masih disini."ucap Tika gugup,ia kira tadi orang yang menagih hutang.
Salah satu diantaranya menjauh untuk menghubungi Bosnya"Baik.kami minta izin dulu mau mengambil semua pemberian suami Bos kami,apakah Ibu keberatan?"
"Tidak! kalo gitu mari aku antar ke kamar mereka."
Di rumah Wina masih terjadi keributan lantaran Wina terus-menerus memanggil Dani.
"Cukup! jangan bikin kami semakin malu lagi.dulu bukannya Ibu sudah memberi nasehat sama kamu,Win.tapi semua sia-sia sekarang nikmati hasil dari perbuatan mu sendiri."
Para tetangga mulai melihat keributan di rumah Wina, mereka mulai berbisik-bisik apa lagi setelah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah Wina.
"Permisi."
"Iya,maaf Mba mau cari siapa ya?" ucap Risa sopan.
"Wina."saat satu kata itu lolos perasaan Risa menjadi tak enak.
Wina keluar saat Risa memberitahu kalo ada yang m mencarinya,ia pikir tadi Dani yang berubah pikiran.
Plak.
"Awwwww."jerit Wina pipinya semakin panas karna untuk ketiga kalinya menerima tamparan.
"Bu Yuni."
"Ya,ini aku.bagaimana rasanya tidur dengan suami ku? apa suami mu tidak bisa melayani kamu hingga kamu mencari laki-laki lain."Yuni menarik rambut Wina dengan kuat.
"Lepas! Ibu jangan hanya menyalahkan aku aja.seharusnya tanya suami mu apa yang membuat dia lebih nyaman dengan ku."ucap Wina sinis.
"Dasar pelakor nggak tau malu,kamu emang perlu diberi pelajaran,saya udah berbaik hati dulu menerima kamu bekerja di Resto miliki saya,tapi kamu malah nggak tau diri."bentak Yuni.
"Stop,jangan sakiti Wina lagi."Bram datang melindungi tubuh Wina.
"Mas..."
"Mas,kamu lebih membela pelakor ini dibandingkan aku sebagai istri mu,apa kurangku selama ini? aku sudah berbaik hati mengangkat derajat mu."jerit Yuni.
"Seharusnya kamu sadar diri,Yun.kamu emang memiliki banyak harta tapi kamu tidak bisa memberikan aku anak?"
Kata-kata Bram sangat melukai hati Yuni,hatinya sangat sakit setelah mendengar itu.
"Kamu juga lebih sering pergi-pergi bertemu dengan teman-teman mu dibandingkan menghabiskan waktu dengan suami mu sendiri,kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri hingga kamu lupa daratan,jadi kalo aku selingkuh kamulah penyebabnya."
Wina menatap Yuni dengan sinis ia sangat senang karna Bram datang tepat waktu.
"Untung Om datang tepat waktu,kalo tidak mungkin aku sama calon anak kita udah di bunuh sama istri gila Om ini."Wina memeluk lengan Bram dengan manja.
"A..anak."ucap Yuni terbata.
"Ya,Wina sekarang mengandung anakku yang Sampai kapanpun nggak bisa kamu berikan."Bram mengelus perut Wina yang sudah mulai buncit.
"Kamu akan menerima balasan dari aku,Bram.dasar laki-laki nggak tau diri,kamu akan miskin lagi seperti dulu."ancam Yuni.
"Benar-benar ya kelakuan si Wina,untuk kedua kalinya dia menghancurkan rumah tangga orang,apa dia nggak takut karma apa?"
"Betul,kasihan keluarganya harus menanggung malu lagi,kalo aku jadi orang tuanya udah aku usir anak nggak tau diri itu."
Wina mengabaikan semua ucapan miring tentang dia,tou bukan mereka yang membiayai hidup ku pikir Wina.
"Bawa kembali barang kamu ini,Win.pergilah kemanapun yang kamu inginkan, lakukan semua yang kamu mau.tapi jangan pernah datang lagi kerumah ini anggap kami bukan siap-siapa kamu."setelah itu Bu Rahayu menutup pintu cukup keras.
"Ibu."desis Wina lirih.
"Kamu nggak usah cemas,sayang.Om yakin suatu saat nanti orang tuamu bakalan maafin kamu kok,lebih baik sekarang kita pergi dari sini."
"Kita mau pergi kemana,Om.bukannya semua udah di sita sama Bu Yuni."
__ADS_1
"Kamu nggak usah mikirin itu,Om sudah membeli rumah untuk kita tinggalin,tapi ya nggak sebesar rumah milik Yuni."
"Nggak papa kok,Om.asalkan kita nggak tidur di jalanan."ucap Wina tersenyum.
Ya,Bram berhasil mengambil alih tiga Resto milik Yuni,dua diantaranya Bram jual buat membeli rumah dan satu ia sengaja tidak di jual agar Bram tetap bisa menghasilkan uang.
"He pelakor! jangan pernah datang lagi ke kampung ini.karna kami nggak mau terkena
sial akibat ulah kamu."ucap tetangga Wina.
"Aku yang pelakor kok situ yang sewot sih,lebih baik jaga tu lakik kalian benar-benar,nanti aku doain juga diambil sama pelakor biar tau rasa."
"Kayak doa kamu terkabul aja,banyak dosa aja belagu..hu.hu..hu."
"Udah sayang,kamu nggak usah ladeni mereka lebih baik sekarang kita pergi dari sini,Om nggak mau kamu jadi stres akibat ulah mereka."
Sementara Dani baru aja tiba dirumahnya,Tika yang melihat kedatangan Adiknya langsung menyambutnya.
"Pasti kamu capek kan? Kaka buatin kamu teh dulu."Tika bergegas pergi kedapur.
"Nih kamu minum dulu."
"Makasih banyak,Kak."Dani langsung menghabiskan teh buatan Tika dalam sekejap.
"Kamu masih waraskan,Dek? nggak gila setelah memulangkan Wina kerumahnya?"Tika bergidik ngeri.
"Kaka ngomong apa sih? yang nggak mungkinlah aku gila gara-gara wanita itu."ucap Dani ketus.
"Habisnya Kaka lihat kamu minum jadi ngeri,teh itu kan baru dibuat jadi otomatis masih panas dong,"
"Namanya juga haus,mana kepikiran lagi soal panasnya."
"Gimana respon kedua orang tua Wina tadi? mereka nggak nyalahin kamu kan?"
"Ya nggaklah,mereka itu orang tua baik-baik Kak,tadi aja saat aku jatuhkan talak mereka masih bersikap lembut."Dani kemudian bercerita pada Tika.
"Tapi kok sifat si Wina lain ya? apa dia itu bukan anak kandung mereka lagi?"
"Kalo masalah itu nggak tau,Kak.yang terpenting sekarang aku udah bebas dari wanita ular itu."
"Terus?"
"Ya Kaka bilang dong yang sebenarnya,habis itu mereka meminta semua barang-barang milik Wina,ya karna takut mereka akan berbuat kasar ya Kaka kasih dong semua."
"Termasuk perhiasan itu?"
"Ya nggaklah,Kaka cuman kasih semua tas-tas,baju sama sepatutnya doang."
"Baguslah,karna perhisan itu mau aku jual.Kaka nggak marahkan kalo aku berhenti kerja?"
"Terserah kamu aja,tapi kalo kamu berhenti terus kamu mau kerja apa?"
"Hasil dari penjualan itu nanti aku mau buka usaha,Kak."
"Kalo emang itu udah keputusan mu Kaka akan mendukung."Tika mengelus pundak Dani.
tok...tok...tok.
"Bentar ya biar Kaka buka dulu."
"Mau ngapain lagi kamu kesini, pergi sekarang juga."bentak Tika.
Ya,yang datang ke rumah mereka adalah Wina.
"Tenang dulu dong mantan ipar ku,."
"Siapa Kak?"
"Hay mantan suami ku."ucap Wina tersenyum.
"Mau ngapain lagi kamu,Hah.pergi dari sini Sekarang juga.karna rumah ini nggak menerima tamu wanita murahan seperti kamu."
__ADS_1
Wina mengepalkan tangan mendengar hinaan dari Dani"Aku juga kesini karna ada perlu kok,kalo nggak mana sudi aku datang ke rumah jelek ini."ucap Wina sinis.
"Nggak usah basa-basi,apa tujuan kamu kesini?"
"Aku cuman mau ngambil barang-barang ku,jadi ijinkan aku masuk sebentar."
"Barang-barang apa lagi yang kamu maksud? asal kamu tau aja semua barang-barang dari hasil kamu jual diri itu udah diambil sama istri sahnya."
"Pasti kalian bohong,kalian pasti sengaja mengatakan itu kan? apa lagi kamu Kak.pasti kamu ingin menguasai barang-barangku kan? secara kamu belum pernah membeli barang mahal."
"Kalo nggak percaya lihat aja sendiri,kamu juga bisa tanyakan sama tetangga sini."
Dengan angkuh Wina berjalan ke kamar yang ia tempat bersama Dani,lemas.itu yang Wina rasakan setelah lemarinya kosong melompong.
"Perhiasan itu juga hilang,padahal itu barang yang aku idamkan sejak dulu, benar-benar kurang ajar Bu Yuni."pikir Wina.
"Masih nggak percaya,lebih baik sekarang kamu keluar dari sini.entar kami terkenal sial gara-gara kamu."Tika menarik tangan Wina dengan kasar.
"Sakit tau."cicit Wina.
"Pergi kamu wanita gatal."
"Awas kamu,tunggu aja balasan dari hinaan kamu itu."ucap Wina marah.
Selama dalam perjalanan Wina terus menangis lantaran perhiasannya hilang.
Brak!.
"Kamu kenapa sayang? apa mantan suami mu menyakiti kamu?"
"Bukan Om, tapi ini semua gara-gara Bu Yuni."Wina masih terisak.
"Yuni.."
"Betul Om,dia menyuruh anak buahnya mengambil semua barang milik ku di rumah Dani termasuk perhiasan ku."
"Jadi gara-gara perhiasan toh."
"Om tau sendiri itu barang yang aku idamkan sejak dulu,sekarang malah hilang begitu aja."ucap Wina cemberut..
"Udah nggak usah cemberut gitu dong,entar cantiknya hilang gimana? lebih baik sekarang kita olah raga siang aja,biar pikiran kita lebih tenang sayang."
"Om nakal deh."ucap Wina manja ketika tangan Bram mulai menyusup ke dalam baju dresnya.
"Om udah kangen dengan servisan mu sayang."Bram menggigit telinga Wina.
"Aku juga Om,tapi apa kita akan main disini?"
"Emang kenapa? kan di rumah ini hanya kita berdua sayang.jadi kita bebas mau bermain di mana aja."
"Oh iya,aku lupa Om."
Karna sudah tak tahan Bram langsung ******* b*b*r Wina,tak tinggal diam ia juga membalas dengan penuh nafsu,suara ******* memenuhi ruang tamu.kini kedua manusia yang tidak muhrim itupun sudah sama-sama polos.
"Ahhh."Wina mendesah saat Bram menciumi setiap inci tubunya.
"Masukin aja sekarang Om,aku udah nggak tahan."
"Bersiaplah sayang,habis ini pasti kamu akan melayang."ucap Bram dengan suara serak.
Sementara di tempat lain,tepatnya di sebuah pasar tradisional, Mona dan Marsel sedang berbelanja di temani dua anak buahnya.
"Dasar sih Bos,hilang sudah harga diri ku sebagai laki-laki."ucap salah satu pengawal mereka.
"Betul bangat,masa kita di suruh pake daster begini,mana warna pink lagi."
Ya,saat ini mereka ber empat sedang memakai daster warna pink,siapa lagi yang meminta kalo bukan Mona.
"Hay ganteng,mau beli pepaya nggak? ada yang besar ada yang sedang dan ada juga yang kecil.atau mau pepaya ku aja."ucap seorang penjual buah.
"Maaf Bu,di rumah masih ada pepaya belum habis-habis.mana rasanya bikin kita ketagihan lagi."ucap Marsel.
__ADS_1
"Bang.boleh pinjam dasternya nggak? kebetulan aku nggak punya daster yang seperti."
Masih banyak lagi godaan yang Marsel dengar membuat dia ngeri, setelah selesai membeli yang mereka cari, Mona mengajak mereka makan bakso di pinggir jalan.