AMBIL SAJA BEKASKU

AMBIL SAJA BEKASKU
BAB 16-RENCANA GAGAL.


__ADS_3

Di rumah Dani sudah mulai rame karna para warga satu-persatu datang untuk melayat,begitu juga Mona dan kedua orang tuanya,sementara Tika menatap Mona sinis saat di salami olehnya,namun sesaat semua orang kaget begitu juga dengan Mona.karna Dani tiba-tiba memeluknya dan Mona tidak bisa menghindar.


"Ibu udah nggak ada,Mon.Ibu udah pergi untuk selama-lamanya."Dani menangia di pelukan Mona.


"Sabar Mona,ingat saat ini kamu lagi di tempat yang rame."Mona mencoba menahan kesal.ingin sekali rasanya tangan mulusnya mendarat di pipi Dani karna udah lancang memeluk dia.


"Sabar.ikhlaskan aja agar Ibu tenang di sana."dengan sedikit kasar Mona mendorong tubuh Dani.


"Mas.kamu ini apa-apaan sih?ngapain kamu pake peluk dia segala?bikin malu aja tau nggak."bisik Wina.


"Maafin Mas sayang,Mas hanya reflek saja."ucap Dani lirih,melihat suaminya menangis membuat Wina tak tega untuk memarahinya.


"Sudah-sudah,lain kali kamu nggak boleh gitu lagi ya Mas.karna sekarang kalian nggak ada hubungan apa-apa lagi nanti malah timbul fitnah."suara Wina begitu pelan hingga yang mampu mendengarnya hanya Dani seorang.


"Mas janji sayang,maaf nggak bermaksud buat kamu sedih ssperti ini."


"Aku ngerti kok gimana keadaan Mas saat ini."ucap Wina tersenyum.


Saat ini jenazah bu Rahma sudah di bawa ke tempat peristirahatan terakhir"Ya Allah.tempat kanlah beliau di sisi mu.semoga Ibu tenang di sana,demi Allah aku sudah memaafkan Ibu."gumam Mona menghapus air matanya.


Satu persatu warga mulai pulang kini tinggal Dani dan keluarganya"Bu.kita pulang dulu ya,kami janji akan sering datang kesini."Dani mengecup batu nisan Ibunya.


"Ma.kenapa Nenek pergi sih?nanti nggak ada lagi yang bacain dongeng buat aku."ucap Tia.


Emang selama ini Tia sangat dekat dengan Bu Rahma di bandingkan Tika yang notabenya Mama sendiri. Karena setiap dia minta dibacain dongeng alasan Tika selalu banyak padahal Ia sama sekali nggak sibuk,cuman merasa terganggu aja.


" kamu nggak usah sedih lagi ya nak,Mama janji deh nggak akan nolak lagi kalo Tia minta di bacain dongeng."Tika mengelus kepala Tia.


"Iya Ma."


"Mon.tadi kok Dani tiba-tiba meluk kamu?"ucap Bu Rosa.


" Aku juga nggak tahu Ma. kejadiannya begitu cepat,"saat ini Mona dan kedua orang tuanya baru tiba di rumah.

__ADS_1


Sementara di Cafe Bu Nisa sedang duduk sendirian sambil menikmati minuman yang ia pesan.


"Hay Tan.kok sendirian aja?apa lagi nunggu seseorang?"ucap Karin.


"Eh.kamu Rin,Tante habis ketemu sama teman tadi di Cafe ini,kamu sendiri sama siapa kesini?"


"Aku sih rencananya mau ketemu sama temen tadi,tapi pas sampe sini tiba-tiba dia ngasih kabar kalo nggak bisa datang.pas mau balik aku nggak sengaja lihat Tante duduk sendirian,jadi aku samperin deh."


"Hmmm.ini waktu yang pas buat aku ngasih tau siapa wanita itu sebenarnya."gumam Karin tersenyum.


Beberapa hari yang lalu orang suruhan Karin berhasil mencari identitas Mona.


"Jadi dia seorang janda?dan baru beberapa bulan pisah dengan suaminya?"Karin tersenyum sinis.


"Betul.dan kalo nggak salah penyebab mereka bercerai karna perempuan yang bernama Mona tidak bisa hamil."


"Wah.ini berita sangat bagus.dan aku pengen lihat bagaimana reaksi keluarga Marsel mengetahui kalo calon istri Marsel wanita mand*l."


"Rin.Karin?"


"Kamu kenapa sih?dari tadi Tante perhatikan kamu senyum-senyum sendiri?".


"Maaf Tan.oh iya apa kalian semua udah yakin sama perempuan yang akan menjadi calon istri Marsel itu?"


"Sangat yakin.dan Tante sangat yakin kalo Marsel nggak akan salah pilih."jawaban Bu Nisa membuat Karin dongkol.


"Tapi Tan.menurut info yang aku dapat dari teman aku,perempuan itu seorang janda apa Tante nggak malu?"


"Malu.kenapa harus malu hanya karna dia seorang janda?menurut Tante ya mau dia gadis atau janda nggak masalah yang penting hatinya baik."ucap Bu Nisa.


Sebelum Karin memberitahu Bu Nisa sudah lebih dulu mengetahui penyebab Mona jadi janda,justru ia malah kasihan.


"Lupakan soal masalah status itu,Tan.tapi bagaimana kalo ternyata dia mand*l? apa Tante nggak malu nanti memiliki seorang menantu yang tak sempurna.belum lagi perkataan orang-orang."Karin terus berusaha menjatuhkan Mona.

__ADS_1


Semakim kesini Bu Nisa semakin paham bagaimana sifat asli Karin.ia sangat bersyukur karna tidak jadi menjadikan ia menantunya.


"Terserah kamu mau bilang apapun tentang Mona?intinya Tante udah menyukai dia saat pertama kali bertemu."


Karin marah karna rencana ingin menjatuhkan Mona malah nggak berhasil.ia pikir Bu Nisa akan langsung membatalkan niatnya untuk menikahkan Marsel dengan Mona.namun ternyata dugaan Karin salah besar.


"Kalo nggak ada lagi yang ingin kamu bicarakan,Tante pulang duluan."Bu Nisa meletak uang di meja sebagai bayaran minumannya.


"Kalo cara ini nggak berhasil,maka dengan cara terakhir adalah pilihannya.meskipun harus membunuhnya."gumam Karin menatap punggung bu Nisa yang semakin menjauh.


Keinginan Karin untuk memiliki Marsel sangat besar,menurutnya Marsel adalah separuh nafasnya.


"Nis.kamu kenapa pulang-pulang kok kesal seperti itu?"tanya Oma Tari.


"Gimana nggak kesal,Ma.tadi pas di Cafe aku nggak sengaja ketemu sama Karin.lebih tepatnya sih dia nyamperin aku."


"Mama tau nggak.dia menceritakan semua tentang Mona.dia pikir kita belum ada yang tau saol status Mona."Bu Nisa pun mulai bercerita mengenai di Cafe tadi.


"Itu kan calon menantu idaman kamu."ejek Oma Tari.


"Itu kan dulu Ma.sekarang yang akan menjadi menantu ku hanya Mona,nggak akan ada yang lain."ucap Bu Nisa cemberut.


"Dari dulu Mama itu udah nggak suka sama dia.karna udah tau sifatnya seperti apa,kamu saja yang nggak bisa membedakan yang baik sama yang buruk."


"Dulukan dia itu gadis yang baik dan lugu Ma.tau-taunya itu hanya topeng aja."


"Percaya deh sama Mama,kalo Karin nggak akan tinggal diam pasti dia akan mencari seribu cara agar Marsel tidak jadi menikah."


"Betul.kalo gitu nanti aku akan suruh Marsel buat jagain Mona."


"Harus itu.kalo pergi suruh Marsel antar jemput Mona saat pulang dan pergi kerja.kalo nggak suruh pengawal aja yang memantau dari jarak jauh,agar Mona nggak merasa risih."


Pengajian di rumah Dani baru aja selesai,rumah kembali sepi saat para warga mulai pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Masih seperti mimpi.padahal kemarin Ibu masih baik-baik aja,sekarang yang dapat kita padang hanya fotonya aja."


"Udah Kak.kita harus ikhlas agar Ibu bisa tenang di sana.kita nggak boleh terus-menerus larut dalam kesedihan."Wina memeluk Tika.


__ADS_2