Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Mimpi Buruk Melihat Hantu


__ADS_3

"Riota.." Panggil Takahiro.


"Tinggallah bersama ayah, Nak" Ajak Taka menggandeng tangan Riota dengan penuh kasih sayang.


"Tunggu, " Riota menghentikan langkahnya. Merasa sesuatu telah tertinggal. Siapa lagi kalau bukan Yuko.


"Apa ibu boleh ikut?" Tanya Riota. Taka menoleh dan tersenyum sumringah memandang Yuko.


"Tentu saja, mari kita pergi bersama"


Suara tembakan itu menggema di udara. Tak lama kemudian, selongsong peluru panas menembus punggung Yuko hingga terkapar.


"TIIIIIIIIDAAAAAAAAKKK!!"


Riota teriak histeris menyaksikan ibunya meregang nyawa lalu tewas. Perempuan yang bernama Natsuki kabur membawa serta Taka dan Naomi menjauh dari kehidupan Riota selama lamanya.


***


" IBUUUU!!"


Aku terhempas jatuh dari kasur. Nafasku menjadi tidak beraturan, seluruh tubuh menggigil mengeluarkan keringat berlebih. Ibu yang masih terjaga, berlari menghampiri kamar sebelah setelah mendengar teriakan dan bunyi dentuman benda jatuh.


Aku masih tergeletak ketakutan dan langsung memeluk ibu ketika mendekat. Aku lega ibuku ternyata masih hidup. Aku kehausan, meminta ibu mengambilkan air minum.


"Apa kau mimpi buruk?" Ibu menyentuh dahi ku dengan telapak tangan. Dia balik lagi ke dapur untuk mencari obat penurun panas serta air untuk mengompres.


"Kau demam, Riota" Ibu segera memberikan aku obat dalam syrup agar demam mereda.


"Ibu, aku melihat ayah dengan wanita itu dan dan adikku, " Ungkap aku. Ibu yang tadinya sibuk merawat ku, tiba tiba berhenti bergerak.


Dia mendelik mendongak ke arah ku menganggap aku sedang ngelantur. Ibu mungkin akan mengamuk jika tidak ingat aku sedang sakit. Sebelum ibu terkena serangan jantung, lebih baik aku mengakui kesalahanku lebih awal.


"Maafkan aku bu, aku kapok, tidak mau lagi mencari ayah untuk selama-lamanya," aku memohon ampun supaya ibu tidak marah. Ibu memang tidak marah, dia justru diam seribu bahasa. Menurutku, itu lebih menyeramkan dibandingkan ketika ibu sedang mengoceh marah marah.


"Tapi, ada yang harus ibu tahu," lanjut aku, sudah kepalang tanggung. Lebih baik jujur meski itu menyakitkan.


"Selama ini ayah masih buku-buku karangan ibu,"


Ibu masih duduk dengan tatapan kosong, mulai menggeser bola matanya melihat ke arahku. Seperti nya dia tertarik mendengar ceritaku lebih lanjut.


"Sebagian justru masih dia baca, buku yang belum sempat di sampul tergeletak di atas mejanya, " lanjut aku, sebelum pergi meninggalkan ruangan itu, aku melihat draft novel terakhir ibu yang batal terbit.


"Cukup !"

__ADS_1


" Alangkah lebih baik kita urusi hidup kita sendiri dan bersiap untuk menyongsong masa depan,"


" Kau bisa hidup lebih baik meski tanpa ayah di sisimu," Ibu kembali melanjutkan aktivitasnya mengompres kepalaku sambil menahan kesal.


"Bu, apakah kau sempat berpikir untuk menikah lagi?" Pertanyaan aku selanjutnya makin menambah kekesalan.


"Menikah itu bukan urusan sehari atau dua hari.." jawabnya asal tidak jelas arahnya, tapi sepertinya wajah ibu memerah sejak awal aku bercerita tentang ayah.


" Apa mungkin ibu masih mencintai ayah?"


Ada orang yang mengetuk pintu rumah kami tengah malam, ibu memilih membuka pintu ketimbang menjawab pertanyaan ku. Takeshi datang di tengah hujan malam, dia menerobos masuk lalu menuju ke kamarku. Dia menggendong dan membawa aku pergi dengan tergesa-gesa.


"Riota, kembali lah ke Tokyo ! Ruri ingin bertemu denganmu," Ajak Takeshi menggendongku di punggung.


"Apa? Malam malam begini?! " Omel ibu tidak paham akan tingkah laku Takeshi.


"Ya, sekarang! " Takeshi berani membentak ibu, dia terlihat seperti orang panik. Wajahnya muram putus asa. Ibu tentu saja melarang dan mencegah permintaan konyol membawa aku yang sedang sakit pergi ke rumah Takeshi.


"Riota sedang demam! Turunkan dia sekarang!" Ibu balas membentak, lalu Takeshi kalah bersaing memperebutkan ku.


"Bolehkah kami mengasuh Riota mulai dari sekarang?" Ini perdana aku melihat Takeshi menangis mengemis ngemis pada ibuku. Aku masih di atas punggung ayah angkat ku mendengarkan setengah tiap kalimat yang membingungkan.


"Ceritakan apa yang terjadi! Buat alasanmu membawa Riota pergi menjadi masuk akal ! " Ibu malah memaki tak peduli Takeshi sudah minta maaf berkali-kali.


"Ada apa, Papa? " Aku pun penasaran, apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu angkat ku.


"Ruri mengancam akan memberitahu keberadaan Riota pada Takahiro,"


***


Ditempat lain, di jam yang sama....


"Boss, bisa minta waktu nya sebentar? " Menjelang larut malam -- sebelum pulang -- Kenji menyempatkan diri datang ke ruangan Direktur. Taka menghentikan aktivitasnya memeriksa hasil kerja para programmer. "Masuklah, "


"Aku tak mengira sebelumnya, kau suka membaca novel, Boss" Lirik Kenji, ketika masuk melihat satu novel terselip di antara buku buku panduan software.


"Ya, hanya jika aku senggang, aku membacanya, " Taka duduk di sofa tamu yang berada di hadapan meja kerja Direktur yang selalu terlihat berantakan. " Ada yang bisa aku bantu?"


"Begini,"


"Ada yang aneh dengan Kiyoshi akhir akhir ini," Ungkap Kenji tiba tiba, menarik perhatian Taka untuk tahu lebih lanjut.


"Oh ya? Bagaimana mungkin?" Taka mendelik heran. Dia bahkan masih menganggap tidak ada yang aneh pada sahabatnya.

__ADS_1


"Entahlah, belakangan ini dia sering pulang lebih awal bahkan terlalu banyak menyisakan pekerjaan, " keluhnya yang mewakili keluhan staff staff yang lain.


"Selain itu, ada yang tidak beres dengan laporan keuangan perusahaan pada semester ini," Imbuh Kenji, berwajah serius seperti seorang pemikir. Kenji memang tidak bekerja di bagian keuangan, namun akhir akhir ini beberapa bawahan Kiyoshi mengeluhkan perihal ini padanya.


"Aku akan bicara empat mata padanya, ini juga salahku, setiap hari aku harus bertemu orang orang perwakilan kementerian pendidikan, " Lontar Taka. Walau bagaimana, Kiyoshi adalah orang yang sangat membantu Taka sejak awal perusahaan ini berdiri.


"Ngomong ngomong, sudah sejauh mana kalian mempersiapkan diri?" Tanya Taka mengalihkan pembicaraan.


"Huaaaah, studi kelayakan bisnis membuatku muak !" rengek Kenji sambil mengambil menggaruk-garuk kepala. Taka selalu terkekeh jika sudah melihat Kenji mengeluh seperti itu, padahal Taka sangat yakin Kenji dan Nakamura mampu melewati proses ini.


"Kalian hanya butuh lebih berani, tanpa kalian sadari, bisnis adalah sebuah permainan yang paling menyenangkan hehehe,"


" Kau memang pandai memotivasi ya?" Celetuk Kenji sambil minta izin menyalakan rokok di ruangan ber AC.


" Kau dan Nakamura adalah refleksi dari Aku dan Jarvis saat baru merintis perusahaan ini," Jelasnya Taka lagi, dia membiarkan anak buah nya merokok di ruangan, karena Kenji sudah terlalu sering melanggar peraturan.


"Selain itu, kejujuran dan kepercayaan adalah aset utama bagi seorang pebisnis ," sambung Taka kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


"Lalu, apa kau pernah dikhianati oleh orang terdekat mu?" Tanya Kenji dengan maksud menyindir Kiyoshi.


Malam itu juga, masih di hotel yang sama, Kiyoshi kembali tidur dengan istri dari sahabatnya. Mereka selalu berbincang di sela sela rehat sebelum berlanjut ke ronde berikutnya, sampai keduanya benar benar lemas bergelut.


"Apa Taka tidak mencurigai mu?" Tanya Kiyoshi sambil merokok.


"Tidak, justru aku selalu dicampakkan ketika dia di rumah," Keluh Natsuki baru keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk putih.


"Aku tidak bisa melepaskan hasrat seksualku, dia lebih mencintai pekerjaan dibanding aku, " keluhnya menyingkap handuk dan membiarkan tubuh polosnya di jamah Kiyoshi lagi berulang ulang kali.


Kebiasaan Taka yang selalu menginap di kantor dijadikan peluang bagi mereka memadu kasih setiap malam.


Setiap malam pula Naomi selalu tidur sendirian, terkadang sang baby sitter menemaninya hingga tertidur lelap sambil membacakan buku cerita.


"Nanny, apa kau pernah melihat hantu?" Tanya Naomi setelah selesai mendengarkan baby sitter membacakan dongeng.


"Hantu itu menyeramkan, nanti kau tidak bisa tidur. " jawabnya cepat cepat menyelimuti Naomi.


"Tidak, hantu yang aku lihat markas ayah kali ini tidak menyeramkan, Nanny" Bantah Naomi.


" Dia malah menangis sendirian di sudut rak buku waktu itu, hiks hiks hiks" sambung Naomi memeragakan bagaimana hantu itu menangis.


Baby sitter itu merinding, ini adalah kali kedua Naomi bercerita tentang hantu, yang pertama sesosok laki laki bertubuh kurus kering bersembunyi dibalik tanaman dan yang kedua anak kecil menangis di pojok ruangan.


***

__ADS_1


__ADS_2