Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Menanti Ayah Baru


__ADS_3

Setelah beberapa hari diberhentikan dari pekerjaan, ibuku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Entah kenapa, hariku kini lebih berwarna setiap pergi dan pulang sekolah aku bisa melihat rupa ibu. Ada satu lagi yang lebih menggembirakan, yakin aku ternyata masih memiliki kakek.


Kakek sudah tinggal bersama kami selama satu minggu. Aku bersyukur ibu masih mau mengajak kakek tinggal bersama kami. Kakekku pensiunan polisi, dan nenekku sudah lama meninggal. Selain Kakek, sekarang aku punya teman baik selain Toru, yakni Sakura.


Sepulang sekolah, aku melihat ibu sedang serius membaca koran. Sambil memegang bolpoin, ibu melingkari dan menyalin sesuatu dari halaman koran yang ternyata adalah iklan lowongan kerja.


"Ibu sedang apa?" Tanyaku, mendekati ibu di teras. Ibu berhenti berjibaku, meletakkan koran itu untuk sementara.


" Apa kau sudah makan?" sapa ibu ramah. Ibu tentu sudah menyiapkan makan siang untuk kami sekeluarga.


Aku menggeleng. " Aku belum lapar, Bu. Sakura membawakan aku roti isi tadi di sekolah." Jelasku pada ibu.


"Sakura?" tanya ibu meraba raba pikirannya. Dia ingat, dia pernah memarahi seorang gadis kecil waktu aku dirawat.


"Teman sekolahku." jawab aku singkat setengah malu malu. Baru kali ini aku punya teman dekat di sekolah yang kebetulan perempuan.


"Ah ya, ya, aku tahu. Ibu jadi tidak enak, sempat menggertak anak itu. Lain kali ajak dia main ke sini ya?" pesan ibu padaku.


Aku tidak tahu apakah aku akan mengabulkannya atau tidak. Berteman dengan perempuan itu agak sedikit merepotkan.


"Lalu bekalmu bagaimana? sudah habis?"


"Sudah aku berikan pada Toru, " Ungkapku terus terang.


Semenjak Toru sekolah lagi, aku tahu tidak ada yang bisa menyiapkan bekal untuknya. Kakeknya sekarang sudah sakit sakitan, jadi Toru tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan bekal makan siang. Aku merelakan jatah makan siang milikku walau harus berbohong bahwa aku punya bekal lain untuk dimakan.


"Mungkin, mulai besok ibu juga akan membuatkan dia bekal makan siang, " ucapan ibu membuatku sangat sangat gembira.


"Kemana kakek?" Aku celingak-celinguk memperhatikan tidak ada siapa-siapa orang dalam rumah.


"Dia di rumah Toru. Kakekmu sekarang membantu Kakek Himura menjaga toko mainan." jelas ibu, melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.


"Bu, jadi benar ibu sudah tidak bekerja lagi?"


Hari ini di sekolah, Aku dan Sakura tidak sengaja mendengar gosip miring lagi mengenai ibu. Tetangga yang kebetulan adalah ibu dari teman sekelasku, menyebar informasi bahwa ibuku telah dipecat karena berselingkuh dengan bossnya.


Aku sedih, tapi mau bagaimana lagi. Walau tidak mengerti apa itu selingkuh, tapi dari yang pernah aku baca, selingkuh itu artinya mencurangi seseorang.


Ayahku bilang, mencurangi orang lain bukan lah cermin dari sebuah kecerdasan. Aku menyimpulkan, selingkuh itu adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang orang yang tidak cerdas.

__ADS_1


Aku yakin, ibuku bukan orang bodoh..


"Ya benar, tapi tenang saja. Ibu akan segera mendapatkan pekerjaan baru, " ujar ibu menyeringai.


"Ingat, apapun yang terjadi. Jangan pernah merasa putus asa." lanjut ibu mencolek hidungku.


Aku tertawa kecil karena teringat akan sesuatu yang menggelitik sanubariku.


"Kenapa tertawa?" Ibu heran, melihat aku cengengesan.


"Jadi, ibu resmi jadi pengangguran seperti ayah dong?" ledek aku tergelak sambil menutup mulut. Ibuku terhuyung ke belakang karena dia sempat mengolok-olok ayah yang lebih dulu menjadi pengangguran.


"Hei, ayahmu itu pintar. Dia tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan baru." balas ibu dengan wajah masam.


"Oh, berarti ibu mengakui kehebatan ayah ya?"


Ibu mendelik tajam ke arahku, ingin membantah tapi dalam hati mengakui kemampuan mantan kekasihnya memang tidak bisa diremehkan. Terkadang ibuku masih gengsi untuk memuji Takahiro di depan anaknya.


"Sudah ah, kenapa tiba tiba jadi bahas dia?" omel ibu salah tingkah.


"Ayolah, cerita sedikit tentang ayahku Bu, aku ingin tahu bagaimana ayah di mata ibu," desak aku sambil membujuk tak lupa menarik narik lengan kaos yang sedang ibu pakai.


"Memangnya kau mau aku bercerita apa?"


"Tidak ada hal menarik yang bisa aku ceritakan mengenai ayahmu." jawab ibu ogah ogahan.


"Apa saja, mungkin kebiasaan ayah yang belum aku ketahui, misalnya. "


Ibu diam sebentar, menimbang nimbang permintaanku yang sederhana tapi sulit untuk dikabulkan. Semuanya masih tersimpan rapih dalam ingatan, bagaimana tingkah laku pria itu selama menjadi tambatan hatinya.


"Ayahmu itu, paling tidak suka diganggu saat sedang bekerja,


" Dan...dia lebih nyaman tidur di lantai daripada pada di kasur." Ungkap ibu perlahan lahan mengernyitkan sudut mata sebelah kiri. Ibu kelihatan masih risih bercerita tentang mantan.


"Iya aku tahu itu, tapi tidur di lantai bersama ayah itu menyenangkan !" seruku antusias.


"Iya benar, padahal harga kasurnya lebih mahal daripada harga sewa rumah ini selama satu tahun." sindir ibu walau yang bersangkutan tidak ada disekitarnya.


"Ayahmu terlalu boros untuk sekedar membeli ikat pinggang, atau bahkan ikat rambut untuk aku, jika saja aku menjadi istrinya, aku tak segan segan memukulinya jika ketahuan membeli barang rongsokan dengan harga selangit!"

__ADS_1


"Apa ibu bilang? Jadi istrinya?" Aku tertawa puas, bahagia lahir dan batin mengetahui ibu sedang berandai andai menjadi istri ayah.


"......"


Ibu sontak mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia keceplosan sekaligus menyesal sudah bercerita panjang lebar padaku. Ibu termakan oleh omongannya sendiri.


"Bu, apa ibu masih mencintainya?" tanyaku spontan, menengadah pada wajahnya. Ibu merah padam ditodong lagi oleh pertanyaanku.


"Kelihatannya kalian sedang serius membicarakan ayah ya?" Tiba tiba datang seorang perempuan, ikut nimbrung dalam obrolan kami. Aku mengerjap kegirangan, melihat siapa yang datang mengunjungi kami.


"Mama Ruri!" pekik aku berlari berhamburan menghampirinya.


"Aku rindu padamu, Riota!" peluk Ruri membungkuk agar sejajar. Tanganku melingkar pada lehernya, Ruri mengecup kening dan pangkal rambutku lalu mengusap usap punggungku lembut.


""Lama tak berjumpa denganmu, Yuko" sapa Ruri tak lupa menyapa ibu.


"Riota, bisa bantu buatkan minuman untuk Mama Ruri?" Pinta Ibu padaku. Dengan sigap, aku berlari ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.


***


"Ruri, kenapa selama ini kau tidak membalas pesan pesanku?"


"Apa kau marah padaku?" Ibuku selama ini turut mengkhawatirkan keadaan Ruri pasca bercerai dengan Takeshi.


"Tidak, tidak, kami berpisah karena memang sudah jalannya, kau tidak perlu merasa khawatir, " jawab Ruri menenangkan kegelisahan ibu.


"Aku tidak keberatan jika kau dan Takeshi bersatu" Ungkap tanpa beban.


" Sebab, saat ini aku sudah mulai dekat dengan pria lain." lanjut dengan wajah berseri-seri.


"Oh ya? " Ibuku masih tidak menyangka Ruri bisa secepat itu melupakan Takeshi.


"Ya benar, kebetulan pria itu menitipkan sesuatu sekalian aku melepaskan rindu pada Riota." Ruri menyerahkan sertifikat atas kepemilikan rumah ibu di Tokyo, berikut dengan dokumen dokumen pendukung lainnya.


"Kenapa masih atas namaku? Bukankah kau sudah menjualnya pada rekan mu?" Mata ibu membulat. Dia masih belum paham, mengapa sertifikat rumah itu masih ada pajak atas rumah itu masih rutin dibayarkan atas nama ibu.


"Ya, aku memang menjual rumahmu pada rekan kerjaku, "Tapi dengan satu alasan dia enggan membalikan nama." Tutur Ruri sambil menarik nafas dalam.


" Takahiro ingin mengembalikan rumah itu padamu, Yuko"

__ADS_1


Aku dan ibu sama sama terperanjat, aku sampai kehilangan keseimbangan saat membawa nampan berisi air teh panas hingga oleng. Secara tidak langsung pria yang sedang dekat dengan mama Ruri adalah ayahku.


__ADS_2