
Berminggu-minggu waktu terlewat begitu saja. Takahiro harus kembali mengurus perusahaan, sebab dia adalah mesin penggerak, semua konsep tersimpan di otaknya. Takahiro masih belum merampungkan proyek pengembangan sistem dengan kementerian. Jika tidak selesai tepat waktu, maka jangan harap ada nama Personal Tech dalam tender pemerintah tahun tahun berikutnya.
Tanpa mengesampingkan mereka, Takahiro tetap fokus bekerja demi menghidupi perusahaan. Setiap malam, saat bekerja lembur dengan Kenji dan Nakamura serta staff lainnya, sesekali dia berbalas pesan singkat dengan Ruri.
"Boss, jika ini rampung. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa Personal Tech di tahun tahun berikutnya, " Kenji berseloroh di tengah tengah kesibukan.
"Seluruh Jepang akan melihat kita, bahkan dunia! Benar bukan? " Nakamura pun tak kalah antusiasnya.
Semua bekerja dengan semangat kegembiraan, sebab bonus besar akan segera menanti jika mereka berhasil menuntaskan tugas kenegaraan ini. Ya, Taka dan orang orang itu memang pribadi yang berkompeten di bidangnya. Selain perihal kenegaraan, Taka belum juga bisa menuntaskan masalah secara kekeluargaan dengan Yuko. Taka belum menemukan cara bagaimana meraih simpatik Yuko dan anak laki-lakinya. Di dalam ponselnya kini, tersimpan foto Riota yang sedang tersenyum bahagia dengan sang mantan pacar, Yuko, wanita yang seharusnya dia nikahi sebelum Riota di lahirkan.
***
Taka pulang karena juga merindukan anak perempuannya di rumah, dia senang Naomi masih dalam keadaan sehat masih terjaga se larut ini bermain sendirian sementara ibunya sudah tertidur pulas.
"Daddy ! " Teriak Naomi berhamburan menyambut ayahnya yang jarang pulang.
"Kau belum tidur nak? apa kau sudah makan?" Naomi mengangguk, memeluk Taka melepas rindu. Natsuki terbangun mendengar suaminya pulang.
"Kau mau tidur di sini?" Tanya istrinya berharap Taka Sudi menemaninya tidur di ranjang karena setiap hari mereka tidur terpisah.
"Tidak, aku mungkin akan melanjutkan pekerjaan di ruangan pribadiku, "
"Taka, penyakitmu ternyata belum sembuh juga ya?!" ketusnya. Natsuki tidak bisa jika harus tidur di lantai mengikuti kebiasaan aneh suaminya.
Taka sebenarnya tersinggung, Natsuki tidak tahu bahwa Taka sudah tidur dilantai dingin beralas kain sejak baru dilahirkan. Di panti asuhan hingga tumbuh dewasa di negeri orang pun dia hanya bisa lelap tidur di atas di lantai, tak peduli cuaca sedang dingin dinginnya di Eropa.
Natsuki yang kecewa, kembali tidur membiarkan Naomi bermain bersama ayahnya, tengah malam suara tawa Naomi merasuki seisi rumah. Taka berkhayal andai Riota juga ada di sini bermain bersama mereka, dia pasti akan lebih bergembira lagi. Naomi sampai ketiduran di lantai karena kelelahan bermain, dia menolak untuk pindah ke ranjang karena lebih nyaman tidur dipelukkan Taka. Jadilah mereka berdua tidur di bawah ranjang dan menemukan sesuatu yang aneh di sana.
...**...
Beberapa hari kemudian.....
"Bibi, apa ini obat yang kau maksud?"
"Bukankah aku sudah memberikan resep obat nya?" Yuko memastikan lagi obat obatan yang beli oleh Toru.
__ADS_1
"Itu terjatuh dan hilang saat aku dikejar kejar orang mabuk.." Ungkapnya, resep obat itu jatuh dari saku celana saat sedang berlari terbirit-birit.
"Pantas, kau melupakan salep luka" keluh Yuko.
"Waduh, perlukah aku balik lagi ke sana?"
"Tentu saja, kau harus bertanggung jawab, cepat sana pergi !"
Toru mau tak mau balik lagi ke apotik untuk membeli salep pengering luka yang dia lewatkan. Toru berharap tidak bertemu lagi dengan bapak tua pemabuk yang menghalangi perjalanannya.
Toru masuk lagi ke dalam rumah --padahal belum sampai ada seperempat jalan-- dia malah bersembunyi ketakutan. Di luar ada seseorang yang sudah dua harian ini berkeliaran di daerah pemukiman mereka.
"Toru, untuk apa kau kembali? Kenapa kau menutup semua pintu dan semua jendela?" tanya Yuko terheran-heran.
"Bibi, lebih baik jangan keluar! " cegah Toru cemas tak karuan.
"Ada orang mencurigakan!" Serunya bersandar dibalik pintu, sesekali dia mengintip ke luar.
"Kau ini ya? bilang saja kau malas untuk kembali ke apotik, ya kan?" Yuko tak serta merta percaya.
Orang itu pun tidak menyangka bahwa ini bukanlah rumah Toru melainkan rumah Yuko dan Riota. Tidak sia sia perjuangannya membuntuti Toru saat berpapasan di jalan. Toru sudah mengantarkannya ke tempat tujuan.
"Sial, ternyata memang orang jahat! " Yuko bergegas mengambil senjata untuk pertahanan diri, sapu ijuk pun dianggap mampu untuk melukai Takahiro di depan pintu.
"Yuko maafkan aku! "
" Tidak mau ! eeeeerrrrrrr......." Yuko melotot seperti kerasukan setan ular naga. Dia tidak mau Taka membuat keributan di sini, sementara Riota perlahan lahan berjalan keluar dengan kaki pincang mendengar Yuko mengomel.
"Toru ! Kunci pintu kamar ! " suruh Yuko garang.
" Toru? ada apa di luar? kenapa pintu tidak bisa di buka?" Riota bertanya tanya keributan apa yang terjadi di luar.
"Maafkan aku Riota, ibu mu lebih galak daripada singa...." Toru terpaksa mencegah Riota keluar. Riota sengaja dikurung di kamar. Toru bingung kok bisa Takahiro yang muncul di balik pintu.
"Biarkan aku bertemu dengannya, Yuko..."
__ADS_1
"Aku mohon...."
"Aku sudah tahu semuanya, maafkan aku!" Taka berlutut memohon pada ibu dari putranya.
Bagai petir menggelegar di telinga, Yuko kaget setengah mati. Seharusnya, Yuko tidak hanya membawa Riota pergi dari rumah sakit, melainkan pindah ke suatu tempat yang jauh dari rumah.
"Tahu apa kau ? pembunuh !" Yuko pura pura tidak mengerti, Yuko menggiring Taka menjauhi pintu rumah dengan gagang sapu, dia hampir saja keluar dari teras jika tidak segera menangkap pukulan sapu dari tangan Yuko.
"Kenapa kau menuduh aku pembunuh?! "Taka tidak tahan lagi, Ruri tidak bisa menjelaskannya secara benar --melalui pesan singkat--membuat Taka ingin meminta klarifikasi langsung dari sumbernya. Selain itu, dia juga sangat ingin mengetahui bagaimana keadaan anaknya sekarang. Taka sedih, selama ini Yuko menuduhnya sebagai pelaku kriminal, padahal setiap hari Taka selalu merindukan sosok Yuko seorang.
"Jangan pikir aku tidak tahu !" Balas Yuko ambigu. Taka semakin bingung dibuatnya.
Yuko bersyukur, ditengah tengah ketakutannya menghadapi Taka, Takeshi kebetulan datang berkunjung. Melihat Takahiro berada sedekat itu dengan Yuko, Takeshi marah besar. Dia tak segan segan memukul Takahiro dibagian wajah hingga hidung nya mengeluarkan darah segar.
"Jangan ganggu mereka! " Gertak Takeshi mengepalkan tangan sambil menyingsingkan lengan baju. Dia ingin sekali membuat perhitungan pada si penganggu.
"Menyingkirkanlah ! Kau terlalu banyak ikut campur, Takeshi !!!"
Taka tidak kalah murka, dia balik menyerang Takeshi dengan kekuatan yang lebih besar. Takeshi luka di bagian bibir. Perkelahian di antara mereka tidak bisa dihindari. Mereka berduel demi mempertahankan pendirian mereka masing masing.
"Riota, ayahmu sedang berkelahi dengan paman Takeshi..." bisik Toru dari sela sela bawah pintu. Dia kebingungan, kemana bapak tua yang tadi mencegat Toru di jalan?
"Toru, Toru ! Ku mohon bukanya pintunya! " Riota berontak dari dalam mengebrak gebrak pintu. Dia tahu ayahnya di sana sedang baku hantam.
"JANGAN HALANGI AKU !! INI BUKAN URUSAN MU!! "
Takahiro meledak ledak saat Takeshi sudah tidak berdaya tersungkur babak belur. Amarah Taka sudah tidak bisa ditahan tahan lagi, sudah terlalu sering dia bersabar dan mengalah.
"SUDAH CUKUP!!" Yuko berteriak melindungi tubuh Takeshi yang sudah kehabisan tenaga.
"Jelas ini urusanku, kep@rat! " sahut Takeshi, pandangannya mulai kabur. Malam ini sangat sangat melelahkan.
Dulu ingin kau membunuh anak itu, kenapa sekarang kau malah menginginkannya?! " Ungkap Takeshi dengan nafas terpenggal penggal lalu sesaat kemudian ambruk.
Toru memberanikan diri keluar dari rumah, untuk membantu ibunya Riota menengahi dua orang yang sedang bertikai. Waktu berlangsung sangat cepat, Toru tidak lekas menyadari bapak tua itu --yang menguntit mereka sebelum Takahiro datang -- berjalan perlahan-lahan memukul bahu Takahiro dengan balok sampai pingsan.
__ADS_1
Bersambung..