
^^^Semakin dewasa seseorang, maka akan semakin sulit baginya untuk mengambil keputusan.^^^
***
Kami bersenang-senang di taman hiburan layaknya keluarga normal. Ayah dan ibu bermain bersama seperti tidak ada sekat di antara mereka. Mungkin mereka memang sudah berbaikan atau sekedar berpura-pura saja di depanku.
Ayah dan ibu sengaja biarkan berpasangan sedangkan aku dan Toru menjadi rival mereka. Kami menikmati hampir semua wahana di sana, sampai basah-basahan bermain di wahana air. Ayah membelikan kami semua baju salin agar tidak masuk angin.
"Biar aku yang bayar ! " Ibu menyelak ayah di kasir karena ingin membayar tagihan baju kami.
"Baik Nona," Sang kasir memberikan nota menunggu dibayar.
"Tidak perlu, biar aku saja!" Ayah merebut notanya karena sudah mengeluarkan kartu dari dompetnya.
"Baik Tuan, " Sang kasir tersenyum ramah hendak menerima pembayaran dari pria tampan. Belum sempat diterima, Ibu terlanjur menyenggol ayah dengan kerasa minggir dari hadapan kasir
"Tidak mau ! ini terima saja uang dariku" Ibu memberi uang tunai pada kasir, namun belum sempat kasir itu menerima, ayah menyenggol ibu lagi hingga terhempas. Aksi saling senggol tidak bisa terelakkan.
Mereka bersikukuh ingin membayar tagihan hingga kasir dibuat senewen oleh tingkah dua orang pengunjung yang meresahkan suasana toko. Andai tidak ingat dengan prosedur pelayanan prima, mungkin kasir itu sudah marah-marah karena merasa telah dipermainkan.
"Kau sudah resmi jadi pengangguran! jadi pergunakanlah sisa uangmu dengan hal-hal yang lebih bermanfaat ! " ejek ibu sinis, seolah-olah ayah sudah jatuh miskin karena kehilangan pekerjaannya. Padahal kenyataannya tidak seperti itu juga.
Ayah adalah pria penyabar yang pernah aku temui, dia tidak mungkin melawan meski kata-kata ibu itu terlalu menyakitkan baginya.
"Ya, aku memang pengangguran! tapi untuk membelikan Riota dan Toru pakaian aku masih sanggup! Minggir! " balas ayah jengkel. Nyatanya, ayah hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki perasaan, termasuk rasa tersinggung. Aku merasa, suasana hatinya berubah drastis setelah bicara serius dengan Toru sesaat sebelum menaiki wahana bianglala tadi.
"Kasir, tolong pakai kartu debit ku saja!" desak ayah menghalang halangi ibu mendekati kasir. Kericuhan terjadi lagi, kali ini lebih parah, Ibu mencubit tangan ayah sampai kartu debitnya jatuh.
"Tidak bisa! " sanggah ibuku sudah tinggi hati. "Cepat ambil uangku !" Desak Yuko pada kasir dengan muka sangar. Sang kasir gugup ketakutan, baru dua hari kerja harus berhadapan dengan costumer bar bar.
"Yuko, biarkan aku yang melakukannya! kita sudah membuat orang-orang di belakang menjadi kesal, " desis ayah pada ibuku. Mereka tidak sadar, terlalu lama berdebat, antrian di belakang semakin lama semakin mengular.
"Hei! Bisakah kalian cepat sedikit?! " tegur salah satu pengunjung toko lalu disusul pengantri yang lain ikut ikutan menggerutu. "Pasangan gila!"
__ADS_1
"Kalau mau bertengkar, di luar saja! " sindir ibu ibu tua judes yang berdiri tepat di belakang mereka.
Ayah dan ibu merasa malu sekaligus tidak enak karena telah membuat pelanggan lain tidak nyaman. Mereka meminta maaf dan langsung menyelesaikan pembayaran. Ayah yang akhirnya membayar tagihan itu, meskipun ibu ngotot akan menggantikannya dengan uang tunai setelahnya. Mereka berseteru lagi di luar toko.
"Haduuuuh....ayah dan ibumu seperti bensin dan korek ya? tersulut sedikit, api peperangan langsung berkobar, " keluh Toru tepuk jidat.
Gara gara itu, kami terpaksa ganti baju di tengah keramaian, mencegah agar Ibu tidak meneriaki ayahku 'maling' untuk yang kedua kalinya.
"Aku harus bagaimana? Hiks" aku merengek seperti sedang menyaksikan pertunjukan teater yang penuh dengan prahara yang tak kunjung usai.
"Ngomong ngomong, rasanya lebih seru daripada battle royale game yang sesungguhnya,"
"Ayahmu memainkan karakter Hero, lalu ibumu adalah musuh nya, hehehehe" lanjut Toru bercanda. Dia bersemangat berasa menjadi supporter pertandingan tinju.
"Ayo paman semangat!" pekik Toru kelepasan. Aku langsung menginjak kakinya karena dianggap telah memperkeruh suasana.
"Bisa diam tidak?! Biar bagaimanapun juga, mereka adalah orang tuaku!" Aku menggerutu jengkel memikirkan bagaimana caranya membuat mereka berhenti berdebat.
"Yuko! Sudah cukup hari ini kau telah membuatku kesal!" decak ayah menahan emosi.
"Terus? kau kira aku bersuka ria gitu seharian bersamamu?!" ledek ibu sarkas.
"Sudah cukup sandiwaranya! Aku lelah!" Ibu memalingkan wajahnya ke arahku sebentar lalu melototi ayah sampai paling maksimal.
"Tapi Yuko, urusan kita belum selesai! Kau pergi kemanapun akan aku cari! "
"Halah! Urus saja urusanmu sendiri bedebah! Jangan sangkut pautkan aku ataupun anakku !" Ibu makin menjadi jadi. Mata ayah membulat saking tak tahu dengan cara apa bicara baik baik.
"Anakmu kau bilang? Jangan kira aku tidak bisa merebut hak asuh Riota ya?!" balas ayah juga memalingkan wajah padaku, mereka bahkan tak peduli orang orang yang ada disitu telah sadar mereka sedang bertengkar dari tadi.
"Apa?! Jadi itu tujuanmu?! " Yuko geram, seperti ada dua tanduk merah besar keluar dari kepalanya.
"Bu-bukan itu maksudnya...." Ayah keceplosan. Sejujurnya dia sudah putus asa, tak berdaya ketika tahu ibu dan Takeshi akan membawaku pergi untuk membina keluarga baru. Toru telah membeberkannya di belakangku.
__ADS_1
"Sial! aku tertipu lagi olehmu, pendusta!" Bentak ibu mendorong ayah kuat kuat. Ibuku memang ahli dalam hal kabur kaburan, tapi kali ini aku berusaha untuk mencegahnya.
"Ayah ! Ibu! " Hentak aku, menengahi mereka. Uang yang ada di tangan Ibu aku ambil dan aku berikan kepada ada seorang anak kecil yang sedang melintas. Karena merasa tidak rela, Toru mengambil lagi uang itu dari tangan bocah tadi. anak kecil tadi nangis sebab telah diberikan harapan palsu
"Lumayan untuk beli kuota internet, hihihihi" gumam Toru lirih, merasa paling diuntungkan di atas penderitaan orang lain.
Aku melerai mereka dengan berdiri membentangkan tangan di tengah tengah mereka. Sebelum bicara, aku menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya kuat kuat.
"Kenapa kalian bertengkar terus sih?!
"Bukankah aku ada disini karena pernah cinta di antara kalian?" ucapku terbata bata.
"Atau...aku ini bukan anak yang kalian harapkan kehadirannya?!"
Demi apapun, sekarang aku sudah tidak tahan lagi. Aku tahu semua yang telah terjadi di antara mereka. Menurutku, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan penghakiman.
Deg!
Ayah dan Ibu bungkam detik itu juga, pertanyaanku telah mengusik hati sanubari mereka. Mereka mengakhiri sengketa dan langsung mengambil sikap, yaitu beriringan mendekatiku dengan wajah panik.
"Nak, jangan bicara seperti itu, kami sangat menyayangimu!" ibu buka suara pertama kali. Dia datang menghampiriku dan memelukku erat erat. Ayah datang menyusul setelahnya.
"Riota, maafkan kami--" ucap ayah langsung aku selak saat itu juga.
"Ayah! Apa benar, kau ingin mencelakai aku dan ibu?" tanyaku langsung pada intinya. Mereka pun tidak mampu menuntaskan misteri yang telah mereka lalui di masa lampau. Sudah banyak peristiwa yang kami alami saat bertemu lagi dengan ayah kandungku.
Mulai dari perseteruan ayah dengan Takeshi, ibu dengan Natsuki lalu ayah dengan Kiyoshi. Sungguh, jika tahu kejadiannya akan seperti ini maka akan lebih baik aku tidak pernah tahu siapa ayah seumur hidupku. Tidak cuma aku dan ibu kini ayah juga harus menanggung dari tanya sendiri.
"Ibu! Jika kau sudah tahu ayah pelakunya, kenapa kau tidak melapor pada polisi saja?! Itu lebih baik kan dari pada mengatakan ayah telah meninggal selama ini?!"
Toru terbelalak mendengar aku berkata seperti sedang menuntut kebenaran. Di tempat ramai seperti ini, tidak seharusnya Riota mengungkap fakta-fakta yang belum dia ketahui secara pasti kebenarannya.
"Sudah tidak ada waktu lagi! Ayah dan Ibu harus menuntaskan kesalahpahaman ini ! " desak ku tak mau tahu.
__ADS_1