Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Ibu Baru


__ADS_3

Kenji menjadi korban tabrak lari. Pelipisnya terus mengeluarkan darah segar, Kenji terhempas jauh dari marka jalan sehingga benturan keras pada aspal tidak bisa dihindari. Yuko masih duduk menunggu bersama Eriko yang tidak jadi ikut wawancara.


"Jadi pria itu bernama Kenji?" Yuko mengangguk. Eriko heran, sudah selama ini kerabat Kenji belum ada yang muncul satu pun. Eriko tidak betah berlama-lama berada di sini.


"Apa kau yakin sudah menghubungi kerabat Kenji?" Yuko mengangguk lagi. Sesekali dia melirik jam tangannya gelisah, karena khawatir pada Kenji, Yuko terpaksa menghubungi Takahiro untuk datang. Sekarang dia ragu, tetap menunggu di sini atau tidak. Yuko enggan bertemu apalagi cuma bertegur sapa tapi Yuko juga akan menjadi manusia tak tahu diri, menghindar dari orang yang telah memberikannya rumah dengan cuma-cuma.


Atensi Yuko beralih pada suara langkah sepatu saling beriringan di koridor rumah sakit. Seorang pria berpakaian formal kantoran datang mendekat melihat dua wanita berpakaian hitam putih duduk didepan ruangan gawat darurat.


Eriko membalas senyuman lalu merapat pada Yuko. "Apa dia kerabat Kenji?" bisiknya.


"Aku tak tahu, bukan dia orang yang aku hubungi. " Jawab Yuko berdiri menyambut.


"Saya Nakamura, orang yang ada di dalam adalah teman dekatku." Eriko mencatat nama itu baik baik dalam ingatan. Mudah mudahan setelahnya ini dia akan mengetahui berapa nomot ponselnya. Yuko lega, ternyata yang datang bukanlah Takahiro.


"Anda pasti, Nona Yuko?" Yuko mengiyakan. "Kenji mendapat beberapa jahitan, karena luka nya cukup serius." jelas Yuko pada orang yang telah membuat Eriko tertegun tanpa berkedip.


"Aku mengerti. Aku sangat berterimakasih pada kalian berdua."


"Sama sama. Kalau begitu, kami pamit ya?" Yuko terpaksa menyikut lengan Eriko agar segera sadar dari lamunan. Eriko kecewa, Yuko mengajaknya pulang. Eriko patuh padahal ingin tinggal lebih lama lagi di sini.


"Tunggu, " Mereka dicegah untuk pulang. Eriko senang meskipun tidak kenal siapa orang yang baru saja datang menghadang.


"Taka! Disini! " panggil Nakamura. Yuko salah sangka, dia pikir Takahiro tidak akan datang. Andai saja Yuko bisa berjalan secepat kilat, mungkin Yuko tidak akan berpapasan. Takahiro datang bersama sang kekasih.


Eriko familiar dengan wajah yang ada dihadapannya. Yuko semalam memandangi foto pria itu sendirian layaknya orang yang sedang memendam kerinduan. Tapi anehnya, hari ini Yuko tidak ada senang senang nya sama sekali bertemu dengan pria terlihat tampan dan mapan ini.


"Yuko!" panggil Ruri muncul di belakang Takahiro, suara perempuan itu menambah suram wajah Yuko yang sudah suram dari awal Takahiro menampakkan wajah.


"Ruri?" desis Yuko lirih.


"Bagaimana keadaan, Kenji?" Tanya Takahiro pada Nakamura. Takahiro melewatkan Yuko begitu saja. Sebenarnya itu wajar, tapi menyaksikan Ruri berjalan berdampingan Takahiro secara tidak sadar membuat Yuko sedikit risih.


"Kenji sedang dalam pemeriksaan lebih lanjut, khawatir ada luka dalam. " Takahiro baru bisa bernafas lega mendengar kabar itu, berharap Kenji bisa segera ditemui.

__ADS_1


"Syukurlah! Sudah kubilang jangan temui aku hari ini, aku sedang banyak pekerjaan." sesal Takahiro sudah tidak artinya lagi sekarang. Saat kejadian, Kenji ngotot ingin berjumpa dengan Takahiro sebab ada sesuatu yang hendak dia bicarakan panjang lebar.


"Kenji menemukan kendala dalam pembuatan software, kau tahu perusahaan baru tidak boleh membuat klien menunggu, bukan?" jelasnya pada Takahiro dengan rasa penyesalan tertoreh di wajahnya.


Sementara Takahiro bicara pada Nakamura, Ruri menahan Yuko agar tidak curi curi mengambil langkah untuk pergi. Ada yang hendak Ruri sampaikan mumpung ketiganya dipertemukan di sini.


"Yuko, apa kau baik baik saja?" sapa Ruri pada Eriko sekalian.


"Ya aku baik, apa aku boleh pergi sekarang?"


Meski tak tahu apa yang pernah terjadi diantara mereka berdua, Eriko merasa bahwa Yuko sedang ketiban sial bertemu dengan wanita ini.


"Yuko, maaf sepertinya besok aku tidak bisa datang ke tempatmu. Takahiro dan aku akan bekerja sampai larut malam."


"Jadi kalian sekarang rekan kerja?" Tanya Yuko spontan. Ruri tersenyum membenarkan. " Sudah sebulan" imbuhnya.


"Ya, tidak apa apa itu bukan masalah besar. " Yuko menyunggingkan sudut bibirnya, senyum karena terpaksa itu menyebalkan juga untuk dilakukan.


"Yuko, akan lebih baik aku menunggumu di luar saja ya?" Eriko tahu, Ruri ingin membicarakan hal yang tidak ingin didengar orang lain.


"Minta izin apa?" Tanya Yuko kesal. Eriko meninggalkannya begitu saja. Yuko menyadari dirinya canggung bertemu dengan Ruri pasca bercerai. Terlebih mantan suami Ruri terus menerus mendekati Yuko.


"Aku ingin membawa Riota ke Tokyo," jawab Ruri sambil menoleh ke arah Takahiro.


"Untuk apa?" Yuko terkejut sekaligus penasaran. "Dia sedang menghadapi ujian." Yuko mencari cari alasan untuk menolak.


"Aku tahu, tapi semalam dia mengatakan tidak keberatan ikut denganku liburan ke taman hiburan dengan ayahnya," Ruri belum menyerah.


Yuko mulai menunjukan rasa sentimen, Riota sama sekali belum membicarakan perihal itu padanya. Makin kesini hati Yuko semakin tidak nyaman, kedekatan Ruri dan Riota kini membuat Yuko resah.


"Ruri, Maaf. Untuk kali ini aku tidak mengizinkan anakku pergi dengan ayahnya apalagi dengan dirimu. tolaknya lantang hingga terdengar oleh Takahiro dan Nakamura.


"Aku akan pergi dari rumah itu hari ini juga! " Yuko marah memalingkan muka lalu mencari jalan keluar rumah sakit.

__ADS_1


Mengetahui hal itu, Takahiro segera mencari tahu apa yang telah Yuko dan Ruri bicarakan hingga Yuko bisa marah pada temannya sendiri. Terlalu fokus mendengar kabar dari Nakamura, Takahiro tidak sempat bicara apa apa padanya. Sejak mendapat pekerjaan lagi, Takahiro belum punya waktu untuk menemui Riota dan Yuko.


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Takahiro pada Ruri. Takahiro berniat mengejar tapi Ruri mencegatnya. Ruri akan segera menjelaskan apa yang terjadi setelah melihat keadaan Kenji yang sudah bisa ditemui.


***


"Eriko! Ayo kita berkemas! " Eriko berjalan mengikuti Yuko keluar rumah sakit sambil marah marah.


"Hari ini?" Eriko mengerjap keheranan. Rencana menyewa apartemen lebih cepat dari yang dia kira, bahkan sebelum mereka mendapat pekerjaan. Yuko sedang tidak bisa dimintai keterangan lebih lanjut, tapi semakin Yuko diam semakin Eriko penasaran.


"Yuko ada masalah apa? Apa kau bertengkar dengan wanita tadi?" Eriko pelan pelan mulai berani bertanya lagi saat Yuko sudah mulai tenang. Mereka sudah sampai rumah dan langsung mengemasi barang-barang.


"Walau mungkin tidak membantu, setidaknya aku akan mendengarkan apapun keluh kesahmu," lanjut Yuko meyakinkan berharap Yuko akan lebih tenang setelah mencurahkan isi hatinya.


"Eriko, perempuan itu ingin mengambil hati Riota, " Ungkap Yuko melemah dan khawatir.


"Perempuan itu siapa?" tanya Eriko antusias sembari mendekatkan diri.


"Dia kekasih pria yang datang bersamanya tadi, "


"Aku tidak mengizinkan Riota ikut liburan dengan mereka. Apa aku sudah keterlaluan? " sambungnya lagi duduk sambil memeluk dua lututnya.


"Apa ? maksudmu Riota kenal dengan mereka?" Eriko bingung, tapi sudah mengantongi petunjuk. " Apa pria itu ayah dari Riota?"


Yuko tertunduk mengakui. Dia dihantui rasa takut akan kehilangan orang yang dia sayangi untuk yang kedua kali. Sebab, yang kedua ini adalah yang paling paling.


"Yuko, sebelum aku menjawab, aku ingin bertanya dulu padamu, " Ada hal yang perlu Eriko luruskan, sebelum berlanjut ke tahap berikutnya.


"Apa?" Yuko pasrah. Yuko dan Eriko saling tatap. Eriko sudah tak sabar ingin menodong Yuko dengan sebuah pertanyaan kontroversial yang sudah terkonsep dengan apik dipikirannya.


"Kau tidak suka kehadiran ibu baru, "


" Atau istri baru, Yuko?"

__ADS_1


__ADS_2