
...Bisakah ku tukar hadiah itu dengan waktu untuk bisa bertemu ayah sekali lagi?...
***
"Dimana kau sekarang?
"Maaf aku sedang bersama pacarku, tapi sebentar lagi aku akan segera menyusul,"
"Ck ck ck, sepertinya kau sangat merindukan kekasihmu,"
"Dia pasti akan senang jika kau menikahinya, Jarvis"
"Maunya begitu, tapi dia akan kembali ke London dalam waktu dekat,"
Kiyoshi saat itu sedang berada di kamar hotel bersama dengan wanita. Sesosok yang masih tertidur dalam keadaan tidak berbusana itu terusik obrolan antara Taka dan Kiyoshi lewat telepon. Sudah seminggu ini, mereka sering bertemu menghabiskan waktu untuk sekedar bermesraan bahkan berhubungan lebih intim.
"Aku harus pergi rapat,"
"Pergilah, sampaikan salam ku padanya ya? hehehe" Pesan wanita itu menyeringai. Kiyoshi hanya tersenyum, namun dalam hati dongkol, Natsuki masih belum bisa melupakan Takahiro.
Selama berbincang dengan Kiyoshi, supir pribadi --yang mengantarkan Taka ke tempat tujuan-- menangkap seseorang sedang berlari di belakang mobil dari kaca spion tengah. Riota mengejar mobil Taka yang sudah melaju kencang. Beberapa lama kemudian bayangan Riota menghilang di kaca spion samping kanan kiri. Riota jatuh pingsan karena kelelahan juga tidak bisa mengimbangi laju kendaraan Taka.
Riota nyatanya tidak siap berpisah lagi dengan Taka. Sehari sebelum kembali ke desa, Riota menyambangi rumah Takahiro bersama Toru. Takeshi dan Ruri sedang mengurus pengambilan hadiah mobil.
__ADS_1
"Ayolah, lebih baik kita pulang saja," rengek Toru. Dia sudah tidak betah berlama-lama di Tokyo. Dia sudah merindukan kakeknya di desa.
"Kita telah melanggar janji pada ibumu! " tegas Toru supaya Riota mengurungkan niatnya.
"Toru, kumohon untuk sekali ini saja Aku ingin bicara pada ayah, terserah dia mau menerimaku atau tidak yang penting keberadaan ku diakui saja, aku sudah merasa tenang, " Ucap Riota dengan wajah memelas. Setelah berpikir panjang kali lebar, Toru setuju. Tapi dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
"Baiklah, berkat kau, aku bisa kembali bersekolah,"
"Tapi, beri aku modal usaha untuk kakekku berjualan mainan ya? hehehe" rayu Toru cengengesan. Riota mengajak Toru "tos" tanda sepakat.
Sesampainya di sana, mereka ditolak oleh penjaga gerbang. Pria berpakaian seragam petugas keamanan itu berdalih Taka sedang tidak ada di rumah padahal jelas-jelas mereka melihat dengan mata kepala sendiri, Taka baru saja pulang. Riota dan Toru hanya dianggap gelandangan yang ingin minta sumbangan.
Tidak kehabisan akal, mereka mengendap-ngendap masuk saat penjaga sedang lengah. Mereka menyadari bahwa kamera CCTV akan menjadi masalah jika tidak dimatikan lebih lebih dulu. Toru melakukan mirrorring screen membuat seolah olah CCTV masih menyala dan juga memutus koneksi internet rumah itu untuk sementara waktu. Bak mata-mata profesional, mereka menyusup ke dalam tanpa ada yang mencurigai.
"Apa ruangan itu sangat rahasia sehingga harus menggunakan smart lock seperti ini?" Dengus Toru kesal. Dia bingung, bagaimana caranya masuk ke sana sementara mereka harus bersembunyi agar tidak terlihat penghuni rumah yang lain.
"Toru, seperti nya kita ketahuan...." Riota bergumam dengan tatapan ngeri, salah satu penghuni rumah ini memergoki mereka bersembunyi. Sesosok makhluk berbulu bertubuh pendek dan bergigi taring siap untuk menerkam jika mereka tidak segera pergi.
Binatang itu menggonggong berontak ketika tahu Riota dan Toru bersembunyi di samping kandang yang sengaja ditutupi kain. Anjing ras terkecil di dunia itu, membuat mereka panik berhamburan walaupun kandang anjing itu masih dikunci. Anjing Chihuahua seakan memanggil penghuni lain untuk menangkap hasil temuannya.
"Anjing sial! " Decak Toru pindah ke balik tanaman hias yang besarnya cukup untuk menutup postur tubuhnya yang kurus kering. Sementara Riota memilih bersembunyi di balik gorden.
"Hei bleki !" seorang perempuan tua berpakaian pelayan mengomel mendatangi sumber suara. Berkali-kali beliau memanggil dengan sebutan blacky, padahal sudah jelas-jelas warna bulu hewan itu cokelat keemasan. Pelayan itu memindahkan si blacky ke tempat yang lebih jauh agar tuan rumah tidak terganggu.
__ADS_1
Riota tahu bahwa pintu dengan kunci digital itu membutuhkan sinkronisasi bluetooth dari si pemilik otoritas. Mereka pernah membajak (mobile tracker) ponsel Taka untuk mencari alamat dan saat ini dia terpaksa melakukan kloning ponsel-- menyalin keseluruhan data, aplikasi, dan lain sebagainya-- untuk mendukung aksinya. Kali ini Riota melakukan kejahatan cyber terhadap ayahnya sendiri. Tak peduli, asalkan pintu itu bisa dibuka.
"Riota, cepatlah! sepuluh menit lagi CCTV dan Internet akan berfungsi, keluarlah sebelum waktunya habis?!" Toru berbisik keras, padahal Riota memang berniat ingin tampil di hadapan ayahnya.
Riota mengangguk paham, dia berhasil masuk dan mencari ayahnya berada. Namun, tak lama berselang, Riota nyaris ketahuan oleh seorang gadis kecil yang ikut membuntuti Riota --menyelonong masuk-- mengetahui pintu ruang pribadi Taka terbuka. Riota bersembunyi lagi dibalik rak buku. Dia mengatur nafas takut tertangkap basah.
"Naomi? Bagaimana kau bisa masuk?" Taka heran kenapa Naomi bisa membuka kunci. Belum sempat Naomi menjawab, Taka menelepon ibu dari gadis kecil itu dari interkom. Naomi tahu Riota ada disudut rak buku sedang akan menunjukkan diri.
"Natsuki? " Taka melihat ibu dari Naomi datang.
"Pintu mu terbuka, Taka." Natsuki sudah bisa menebak Naomi berada di situ.
Aksi Riota gagal lagi. Toru merinding ketakutan memikirkan nasib Riota di dalam. Natsuki mencari putrinya yang terbangun karena suara lolongan anjing.
"Mommy..Daddy..." panggil Naomi naik ke gendongan Taka.
Mereka berdua tampak bahagia membawa Naomi keluar untuk mengajaknya bermain. Naomi termangu melihat Riota masih di tempatnya, menangis tanpa suara. Riota duduk lesu bersandar, deras air matanya jatuh membasahi kardus kardus berisi novel karangan ibunya, Yuko Carissa. Hati Riota hancur berkeping-keping, mengetahui Taka sudah memiliki keluarganya sendiri.
Toru menyelinap masuk mengajak Riota pergi karena waktu sudah habis. Toru tidak ingin mereka berakhir di penjara karena sudah berani menyusupi rumah orang. Apalagi perangai Natsuki --yang sangat antagonis-- membuat Toru sempat cemas, bahwasanya wanita itu pasti penghuni rumah yang paling galak melebihi anjing Chihuahua tadi.
Susah payah sembunyi sembunyi, mereka berhasil meloloskan diri pada detik detik CCTV dan Internet kembali menyala. Dalam perjalanan pulang, Riota menyesal tidak mendengarkan kata kata ibunya. Kenyataan yang Riota terima ternyata lebih menyakitkan dibandingkan saat dia belum mengenal siapa Taka dalam hidupnya. Hidup memang tidak semulus dahi Chihuahua. Adakalanya, kita harus menyerah dengan realita.
Kemarahan ibu selama ini adalah bentuk perlindungan terbaik, untuk aku yang terlalu keras kepala.
__ADS_1