
Sementara itu, di waktu yang sama namun pada tempat yang berbeda, Taka tidak pernah tahu bahwa Yuko sedang mengenang masa masa mereka pacaran kurang lebih delapan tahun yang lalu.
Taka masih harus bekerja menyelesaikan proyek pengembangan sistem komputerisasi bekerja sama dengan kementerian pendidikan. Kantor sudah menjadi rumah kedua baginya. Meski sudah disediakan kasur di ruang lain, nyatanya Taka lebih nyaman tiduran di lantai dengan seperangkat "alat tempur" yang menjadi sumber penghasilannya.
Dahulu, ada seorang wanita yang selalu menemaninya bekerja sampai pagi di ruangan ini, siapa lagi jika bukan Yuko Harumi. Satu satunya perempuan yang nyaman berlama lama tinggal di tempat membosankan ini, menunggunya selesai bekerja sambil mengetik naskah.
"Hei Direktur, menginap lagi ?!" seorang pria kurus tinggi berkacamata muncul dari balik pintu.
"Ya, mau bagaimana, aku lebih fokus bekerja di sini daripada di rumah, " Keluhnya duduk jongkok di atas mebel lalu menyalakan televisi.
"Maaf, aku tidak bisa menemanimu, malam ini pacarku akan datang," Katanya membungkuk sekalian meminta izin untuk pulang lebih awal.
"Tentu saja, pulanglah. Layani kekasihmu dengan baik ya? hehehe " Ucap Taka dengan tatapan nakal menggoda Kiyoshi.
"Terimakasih Jarvis," Taka membiarkan pria itu pergi dan dia sendirian lagi.
Taka sudah biasa memanggil wakilnya itu dengan panggilan "Jarvis" dalam setiap kesempatan. Itu karena Taka sangat mengagumi seorang tokoh fiksi bernama Tony Stark. Taka kembali melanjutkan pekerjaannya sambil merasakan bayangan Yuko seolah olah masih berada di situ bersamanya seperti waktu dulu. Otaknya adalah mesin waktu terbaik yang mampu mengulang kejadian indah itu sekali lagi.
...Flashback...
"Sejak bayi sampai usia sepuluh tahun, aku tinggal di panti asuhan. Aku di adopsi oleh orang Inggris dan bersekolah di sana. " Ucap Taka saat itu sambil tidur tiduran dipangkuan Yuko. Waktu itu, Taka baru saja mencoba peruntungan baru yaitu merancang game game edukasi khusus untuk anak anak. Perusahaannya, baru baru ini membutuhkan pemasukan lebih karena baru saja gagal memenangkan tender yang diselenggarakan pemerintah.
"Lalu, apa kau masih ingin mencari mereka? " Tanya Yuko menatap iba sambil mengelus-elus rambut Taka.
"Aku tak tahu rupa ibuku ataupun ayahku meski tekhnologi ada di genggaman ku, aku tidak tahu wajah bahkan nama mereka"
__ADS_1
"Sebab mereka meninggalkanku begitu saja di depan pintu panti,"
Yuko menghela nafas, kekayaan memang tidak menjamin kebahagiaan, namun kemiskinan juga tidak lebih baik. Yuko juga mulai berani menceritakan kehidupannya pada Taka. Yuko lahir dalam keluarga miskin yang penuh dengan permasalahan hidup.
"Ayahku selingkuh, orang tuaku bercerai, ibuku meninggal, aku tak pernah akur dengan ibu tiriku, dan ini diriku yang sekarang"
"Sampai sekarang, aku tidak tahu apakah aku mampu membangun sebuah keluarga denganmu,"
Taka dari awal memang ingin menjalin hubungan yang serius, namun Yuko masih memperlakukan Taka layaknya layang layang yang bisa ditarik ulur. Taka bercita cita membangun sebuah keluarga kecil yang berasal dari darah dagingnya sendiri. Taka ingin Yuko yang mengandung anak untuknya.
"Apa kau berniat untuk memutuskan ku sama seperti pacar pacarmu terdahulu? " Gumam Taka lesu memelas.
Yuko diam saja --bangkit dari duduknya-- membiarkan Taka terbaring di sofa. Sudah lewat tenggat waktu dari tiga bulan, Yuko urung menyudahi hubungannya dengan Taka. Bersama Taka, justru dia semakin bersemangat untuk menulis. Selain itu, berat rasanya jika harus memutuskan Taka dengan keadaan seperti ini.
Yuko mengaku, dia telah bertekuk lutut pada kegigihan Taka merebut perhatiannya. Taka seperti dewa dalam hidupnya. Dia merasa tenang hidup berdampingan dengan Taka.
Seperti malam yang sudah sudah, mereka melakukan hubungan penuh perasaan kasih sayang yang menggebu gebu. Di tempat yang sama, pada malam malam berikutnya mereka tidak lagi menggunakan alat kontrasepsi. Yuko mengizinkan Taka menanamkan benih di rahimnya. Benar, Taka berencana menikahi Yuko dalam waktu dekat.
Suatu pagi --setelah berhubungan intens semalam suntuk-- Yuko terbangun mendengar suara dering ponsel yang mengusik tidurnya. Berkali kali berdering, namun Taka tak kunjung membuka mata. Berkat Yuko, Taka bisa tidur pulas di atas ranjang.
Sebuah nama terpampang dari layar ponsel Taka, nama yang di yakini Yuko adalah seorang perempuan. Natsuki Nanami. Awalnya Yuko menyangka itu hanya sebatas rekan atau relasi Taka semata. Yuko tak mengindahkan malah bergegas bersiap berangkat menemui editor di kantor penerbitan.
Natsuki Nanami adalah tunangan Taka yang baru saja menyelesaikan studi S2 di London. Pada hari kepulangannya, dia memergoki Yuko keluar dari rumah Taka pagi pagi buta.
"Apa sekarang Taka sudah berani mengundang p3lacur ke rumah? " Labrak Natsuki menghempas koper tersulut emosinya.
__ADS_1
" Natsuki, dia cuma seorang tamu," Jelas Kiyoshi yang ternyata telah menjemput Natsuki di bandara.
"Tamu kau bilang? " Yuko bingung, jelas jelas Taka mengakui Yuko adalah kekasihnya pada Kiyoshi si Jarvis sialan.
"Tamu macam apa baru pulang pagi pagi buta begini?!" cerca Natsuki bertolak pinggang.
" Tubuhnya wangi parfum milik calon suamiku! " Pernyataan yang membagongkan itu telah menusuk menghujam jantung Yuko. Terakhir, saat dua perempuan itu adu mulut mempertahankan posisi mereka, Natsuki akhirnya memperjelas kenyataan pahit itu dengan menunjukkan cincin dan juga melempar foto foto acara pertunangan Taka dan Natsuki ke wajah Yuko.
Yuko kecewa, kebetulan Taka sudah di sana menyaksikan dua orang perempuan yang sama sama mencintainya bertikai. Taka gugup karena selama ini dia telah membohongi Yuko perihal Natsuki. Ada alasan tertentu mengapa Taka belum berani jujur soal Natsuki yang kembali tiba tiba setelah Taka memutuskan pertunangan via telepon.
" Tolong, dengarkan penjelasan aku dulu... " Taka berlutut menengadah, berharap Yuko bisa lebih tenang.
PLAK PLAK PLAK !
Mana sempat, tangan garang Yuko telah mendarat di pipi Taka hingga merah merona. Apapun alasannya, Yuko sudah tidak mau dengar. Dia pergi dan tak akan pernah mau lagi menginjakkan kaki apalagi bertemu dengan si pengkhianat. Sang dewa palsu, Takahiro Hiroki.
Tidak sampai disitu, hampir setiap hari Taka menunggui Yuko keluar rumah layaknya penguntit. Bahkan Taka nekat melanggar privasi dengan cara menyadap alat komunikasi milik Yuko demi bisa bicara pada mantan kekasihnya. Puncaknya, Yuko benar benar murka melabrak Taka saat ketahuan sedang mengintai rumah Yuko.
"Aku benar benar benar cinta padamu! " Tegasnya berulang ulang.
"Ku mohon maafkan aku," Wajah Taka pucat memelas pada Yuko agar bisa kembali.
"Aku sudah memaafkan, dan juga melupakan. Tapi aku sudah tidak bisa menerimamu lagi."
Kira kira itulah kata kata terakhir yang Taka dengar dari Yuko. Dia berdiri di depan pagar rumah Yuko selama berjam jam tak peduli rintik hujan perlahan lahan jatuh menerpa tubuh bumi yang panas. Air matanya mengalir deras menyatu dengan derasnya air hujan mengguyur tubuhnya yang mulai kelelahan. Kiyoshi datang memayungi sahabatnya yang sampai hari ini detik ini dihantui rasa bersalah belum bisa melupakan Yuko dalam hidupnya.
__ADS_1