
"Apa Riota sudah tidur? " Takeshi menunggu Yuko dengan duduk di teras rumah.
"Sudah, Paracetamol membuatnya mengantuk,"
"Minumlah ! Ceritakan masalah dengan benar ! " Yuko memberikan segelas kopi panas dan ikut duduk sejajar dengan Takeshi.
"Terimakasih, aku hanya bingung ingin mulai darimana.."
"Dari inti permasalahannya saja," Yuko sudah tidak bisa lebih lama menunggu.
"Kau tahu, sejak menang kejuaraan, Ruri selalu membanggakan Riota di depan teman-temannya, dia sedih Riota kembali di sini,"
"Hari ini, hasil tes kesuburan kami keluar,"
"Ruri ingin kami bercerai, jika Riota tidak ingin ikut dengan kami,"
"Apa?" Yuko menyela sebentar, berita itu sangat tidak nyaman untuk di dengar.
"Salah seorang dari kami tidak bisa memberikan keturunan, Ruri menyalahkan aku atas takdir ini," Urai Takeshi dengan tatapan kosong.
***
Seminggu kemudian,
"Beri kami uangmu, cepat! " Cecar seorang bocah laki laki, membongkar saku celana dan tas sekolah Riota.
"Aku tidak punya uang ! aku harus pulang !" Lawan Riota, mereka tak takut apalagi menyerah. Salah satu dari tiga anak nakal ini tahu, bahwasanya Riota baru saja memenangkan kejuaraan dengan jumlah hadiah besar.
"Apa kau bilang? Kau berani membentak ku?! " Sungut bocah yang paling besar postur tubuhnya. Dia mendorong dan menginjak Riota di bagian leher.
"Pukuli dia ! Jangan kasih ampun! "
"Kecuali dia memberi kita uang! " Titahnya, kesal karena Riota tetap tidak memberikan mereka uang.
__ADS_1
Riota tak berdaya menjadi bulan bulanan segerombolan bocah yang mengganggunya di sekolah atau di mana pun setiap ada kesempatan mereka berpapasan. Riota jadi malas keluar rumah karena hal itu, apalagi untuk sekedar pergi bermain dengan teman teman sebayanya, Riota hampir tidak pernah melakukannya.
"Hentikan! " pergok seorang pria tua kebetulan lewat.
Usai dipukuli, Riota ditinggal kabur begitu saja. Tubuh kecil lemah tak berdaya itu masih mencoba bangkit berdiri walau harus terjatuh lagi dan lagi. Hebatnya, dia tidak meringis bahkan menangis kesakitan pun tidak.
" Apa kau masih sanggup berdiri, Nak?" Tanya pria tua itu membantu Riota berdiri. Riota menggelengkan kepala tanda dia masih sanggup berdiri dan berjalan tak lupa dia juga merapihkan isi tas nya yang berserakan.
"Terimakasih, Kakek sudah membantu saya,"
Baju seragam kotor bercampur tanah dan darah menjadi perhatian siswa siswa lain yang melirik miris. Sakura adalah satu siswa itu, ini sudah kesekian kalinya Riota mendapat kekerasan fisik dan mental. Dia inisiatif melapor pada guru untuk mengadu. Dia lari mencari guru yang berwenang untuk menindaklanjuti kasus bullying seperti ini. Di tengah perjalanan Sakura menabrak rombongan pria dewasa yang sedang berkunjung ke sekolah mereka.
Sakura melihat ID card yang mereka gunakan, salah satu di antara mereka menegur memastikan dia baik baik saja.
"Kau baik baik saja, Nak?"
"Maafkan aku paman, aku buru buru. Ada anak yang dipukuli di jalan dekat sekolah, aku harus melaporkannya! "
Sakura memandu pria itu ke tempat dimana dia menemukan Riota dengan kondisi lusuh, sayangnya setelah di cari kemana mana Riota sudah tidak terlihat lagi. Mereka berdua kecewa tidak sempat membantu. Mereka kembali setidaknya akan melapor perihal ini pada pihak sekolah.
Riota sendiri sebetulnya belum pergi meninggalkan sekolah, dia bersembunyi di kamar mandi membersihkan luka dan pakaiannya. Dia tidak mau ibu tahu dan berharap dia tidak sedang di rumah ketika Riota pulang ke rumah.
Riota memberanikan diri pulang setelah bersih bersih. Dia berjalan terseok-seok karena kaki kakinya tak luput dari serangan. Sakura, akhirnya bisa menemukan Riota di lorong kelas melipir hendak pulang. Gadis kecil itu membantu membawakan tas milik Riota dengan memindahkan tas gendongan miliknya menghadap depan dan tas Riota menghadap belakang.
"Darimana kau mendapatkan ini?!" Riota melihat sebuah benda menggantung pada tas milik Sakura. Sakura memberitahu bahwa seseorang telah memberikan benda itu baru saja. Tak lupa, Sakura juga menyebutkan nama orang itu.
Riota ambil langkah seribu tak peduli kakinya sakit seakan mau lepas. Riota berlari mengejar orang yang memberikan Sakura gantungan kunci berlogo Personal Tech. Setiba di depan sekolah, Takahiro sudah terlanjur pergi menaiki iring iringan mobil sedan berjumlah tiga unit. Tak mau ketinggalan, Riota berlari ke arah lain dengan maksud mengambil jalan pintas mencegat rombongan itu. Sakura pun mengikuti kemana Riota pergi karena penasaran.
Seakan tidak peduli dengan bunyi peringatan palang kereta yang sudah setengah tertutup Riota menerjang kayu pembatas berbarengan dengan kereta yang sudah terlihat mengancam nyawa bocah kecil yang ngotot ingin menemui bapaknya.
"Riota tunggu! Itu berbahaya!" Teriak Sakura meringis.
Hanya karena beruntung, Riota bisa melewati rel sebelum kereta benar benar melintas. Nyaris saja nyawa bocah itu melayang sia sia. Riota lanjut berlari lebih cepat, rasa sakit di sekujur tubuh apalagi kaki sudah tidak dirasa rasa lagi. Riota masih diselimuti rasa penasaran untuk bicara dengan ayahnya.
__ADS_1
Sakura tidak menyerah menyusul Riota, di persimpangan Riota sudah berdiri di tengah jalan untuk mencegat mobil Takahiro. Sesampainya Sakura di sana, tubuh tak berdaya itu sudah tergeletak di atas aspal setelah jatuh berguling-guling dan kepalanya bocor membentur marka jalan yang terbuat dari beton. Riota tak sadarkan diri.
"RIOOTAAAAAAA!!!!" Jerit Sakura tidak kuat melihat darah berceceran dan berkubang di area kepala bocah malang itu
Suara decit ban terdengar sangat nyaring menghentak tubuh Takahiro karena sang supir menginjak rem mendadak dengan kuat.
"Ada apa pak?"
"Pak, mobil rombongan depan menabrak seseorang, " Supir itu melihat kejadian nahas itu lewat kaca jendela yang terbuka. Seorang anak gadis kecil menangisi sesosok tubuh yang telungkup di jalanan. Semua kendaraan yang melintas berhenti serempak , baik dari lajur yang sama maupun berlawanan arah.
"Jalan terus pak! Pak Direktur sedang terburu-buru ! " Kiyoshi ngotot ingin lanjut, mencegah Takahiro keluar mobil. Para petinggi perusahaan sudah menantikan kehadiran mereka. Tidak waktu untuk mengurus jasad itu, apalagi jika harus berurusan dengan polisi sekarang.
"Biar Nakamura yang mengurus korban," Imbuhnya, membuat Takahiro tidak mampu berkata kata lagi.
***
Yuko berlari sekencang-kencangnya --kabur di tengah tengah jam kerja -- tak peduli toko swalayan saat itu sedang ramai pengunjung. Dijalan, dia menangis sejadi-jadinya mengetahui putra sedang sekarat di rumah sakit. Bayangan wajah Riota telah memenuhi isi kepala Yuko, dia tak bisa membayangkan jika harus kehilangan satu satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini.
Sakura masih tertegun menunggu sanak keluarga Riota datang, dia sudah mengenali wajah ibu Riota yang berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dia hampir tiba, namun langkahnya terhenti karena tidak tahu dimana keberadaan Riota persisnya. Yuko panik, binar matanya tidak dapat disembunyikan lagi bahwa dia depresi.
"Apa anda orang tua dari Riota Kamiya? " Sapa seorang perawat yang menangani putranya.
"Ya benar, saya ibunya, dimana anakku? bagaimana kondisinya sekarang?"
" Di sana, masih diruang operasi, dia mengalami pendarahan hebat di kepala, "
Yuko melihat Sakura berdiri menyambut dirinya. Dia ikutan menangis, karena telah tahu kondisi Riota lebih dulu. Gadis kecil itu memanggil orang yang telah membawa Riota ke sini. Dengan kemeja putih yang kotor dan berlumuran darah Riota, pria rupawan berhati malaikat itu menyapanya dengan penuh penjiwaan.
"Harumi......" panggil pria itu, tak menyangka bahwa kerinduannya pada sosok perempuan ini telah berakhir di sini.
"Tidak mungkin...." Yuko terbelalak, menampik bahwa pria yang lihat itu adalah Takahiro.
***
__ADS_1