
"Ibu bohong! Ayah baru saja dipecat, mana mungkin punya pekerjaan mendesak! " sergah Riota curiga. Riota melihat ekspresi janggal terpancar dari wajah ibunya. Yuko seperti orang yang sedang dikejar kejar rasa bersalah.
Yuko kikuk salah tingkah, kebohongannya gampang tercium oleh Riota. Dia tak tahu harus bagaimana lagi mengajak Riota pulang. Derap langkah anak itu tiba tiba berhenti ketika akan pergi dari taman hiburan. Toru memilih untuk tidak memihak, dia hanya duduk diam menyaksikan ibu dan anak itu berdebat.
"Pokoknya aku tidak mau pergi sebelum ayah datang!" Riota bersikukuh tidak mau pulang. Dia tahu, Takahiro tak akan pergi begitu saja tanpa pamit. Pasti ada yang tidak beres, Riota harus memastikannya. Dia tidak akan dengan mudah menuruti keinginan ibunya sekarang.
Singkat cerita, Takahiro dibebaskan karena dianggap telah salah paham. Takahiro mulai mencari cari lagi dimana Yuko beserta anaknya.
"RIOTA !" tegapnya memanggil sambil melambaikan tangan. "Ayah! " sahut Riota berlari menghampiri.
Yuko ketar ketir. Belum sempat melarikan diri, Takahiro kembali muncul dari keramaian. Raut wajahnya menyiratkan kekesalan pada Yuko, karena akibat ulahnya, Takahiro hampir saja dijebloskan ke penjara.
"Yuko! Apa apaan kau ini?! kenapa harus pakai cara murahan seperti ini?!" Labrak Takahiro hampir saja di penjara.
"Kau ini berkata apa?! " Tepis Yuko pura pura tidak tahu, sebab jika Riota sampai tahu, anak itu tidak akan mau pulang bersamanya.
"Riota! Ayo kita pulang! Sebelum ibu menggunakan cara kasar untuk menyeretmu!" desak Yuko karena sudah terhimpit.
"Tidak bisa! Aku tidak menginginkan Riota pulang hari ini!" cegah Takahiro sambil menarik tangan anaknya agar tidak menjauh. Dalam hati, dia tidak rela buah hatinya dikasari oleh orang lain, walaupun oleh ibunya sendiri.
"Hei! Lepaskan! Dia anakku! " Yuko melawan, dia ngotot untuk merebut Riota kembali.
" Kau pikir dia bukan anakku?! Serahkan dia padaku! " Sentak Takahiro membalas Yuko. Sudah tidak ada kompromi, kali ini Riota harus ikut dengannya.
Terjadi lah aksi tarik menarik diantara mereka tanpa tahu Riota kesakitan lengan kanan kiri digeser sana sini seperti mau lepas. Riota sedih, setelah sekian lama tidak bertemu, kelakuan orang tuanya bagai minyak dan air yang tidak bisa bersatu.
"Aku jadi rindu orang tuaku....." gumam Toru sedih. Andai saja orang tuanya masih hidup, mungkin mereka juga akan sering bertengkar seperti ini.
"Cukuuuuuuuup!!" Pekik Riota melerai.
"Aku ini bukan boneka! " Protes Riota, menghempas kedua lengannya. Riota heran, mereka lebih kekanak-kanakan dibanding anak anak itu sendiri.
"Toru!" Panggil Riota mengajaknya berdiskusi. "Tolong bantu aku!" pintanya sambil memandangi orang tuanya dengan sengit.
__ADS_1
"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Toru langsung berdiri. Riota membisikkan sesuatu pada telinganya.
"Ha? Apa kau serius?" Toru bergidik ngeri mengetahui Riota memiliki rencana untuk memberikan pelajaran pada orang tuanya. Tak lama kemudian, Toru tiba tiba tertawa geli meski ditahan tahan.
"Ayah...ibu..." panggil Riota dengan nanar muka serius.
"Bagaimana kalau kita adakan perlombaan saja?"
"Lomba?" ucap mereka hampir bersamaan. Keduanya saling melirik sinis, sedang siap siap untuk berdebat lagi.
"Ya benar! Siapa yang menang, dialah yang berhak membawaku! " Cetus Riota tidak main main. Mereka berdua akan bersaing memenangkan permainan jika ingin membawa Riota kembali bersama mereka.
"Jangan bercanda, Nak!"
"Ibu tidak punya banyak waktu untuk main main! " Yuko mengelak, tidak mau di atur atur oleh putranya. Yuko sudah jengah berlama lama di sini bersama mantan kekasih yang memuakkan.
"Baiklah! Ayah setuju! " Tanpa pikir panjang, Takahiro dengan senang hati menerima tantangan itu. Dia menantang Yuko agar mau bertanding. " Lawan aku kalau berani! "
"Jika bibi menolak, maka otomatis Riota akan ikut dengan paman!" Toru yakin, Yuko akan mudah terpancing jika dikompor kompori.
Yuko tidak lekas menjawab, dia berpikir lama sekali sambil mondar mandir. Dia hanya memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dia terima, yaitu membiarkan Riota pergi dengan ayahnya. Disisi lain, Yuko harus pulang ke rumah, sebab Takeshi akan menunggunya di sana malam ini. Yuko sengaja tidak memberitahu perihal ini padanya, demi menghindari perkelahian jilid kedua.
"Ya, baiklah! Aku terima tantangan itu! " ucap Yuko terpaksa, karena sudah diburu waktu. Ini lebih baik daripada menyerah putra secara sukarela.
"Kali ini, aku tidak akan mau mengalah! " Takahiro mendesis menarik lengan baju layaknya orang ingin menantang berkelahi.
"MEMANGNYA KAU BISA MENANG MELAWANKU?!!" Omel Yuko, sudah tidak sabar tantangan apa yang akan mereka terima.
"Hadeeh...terkadang aku masih tidak percaya kalian ternyata i ini pernah saling mencintai... "celetuk Toru geleng geleng kepala.
"Baiklah, pertandingan pertama adalah itu! " Tunjuk Riota pada sebuah wahana permainan. Takahiro dan Yuko terpana melihat wahana yang menegangkan itu.
"Rollercoaster?" Takahiro tercengang. Begitupula dengan rivalnya.
__ADS_1
"Ya Ayah! Kalian harus menaiki itu...."
"Lalu?" Yuko mendelik penasaran. "Hanya naik saja kan?"
Riota menggelengkan kepala. Tidak cukup hanya menaiki wahana itu saja, melainkan mereka tidak diperbolehkan menutup mata atau membuka mulut saat sedang bermain.
"Paman dan bibi tidak boleh berteriak atau mengeluarkan suara !" Jelas Toru menyeringai. Dua orang dewasa itu pura pura tidak keberatan, walau dalam hati ketar ketir.
"Bagaimana Yuko, apa kau sanggup?!" Tanya Takahiro meremehkan. Yuko bergeming tak berkata kata, cukup membalas ledekan itu dengan gerakan menyembelih leher.
***
"Aku sudah membeli saham Personal Tech dengan harga murah..."
"Baiklah, selanjutnya ambil alih projek kementerian itu! "
Kiyoshi mengakhiri sambungan telepon berdiskusi singkat dengan seseorang. Ada agenda penting yang harus Kiyoshi kabulkan berkenaan dengan kebijakan tender yang selama ini selalu ditentang oleh Takahiro.
"Tuan Kiyoshi, para Direksi memutuskan bahwa anda lah yang paling cocok untuk menggantikan Takahiro." ucap assiten rapat mendatangi Kiyoshi di ruangan milik Takahiro.
"Terimakasih atas kepercayaannya, "
"Personal Tech bisa lebih baik walau tanpa Takahiro.." ucapnya sambil menebar senyum percaya diri.
Kiyoshi termenung kembali melihat papan nama Takahiro Hiroki masih ada di meja tercatat sebagai Direktur Utama. Sudah berkali kali dia mencoba menghubungi Natsuki namun tidak berhasil. Natsuki hilang bagai di telan bumi. Sesungguhnya, Kiyoshi masih berharap wanita itu bisa tinggal bersamanya dan juga puteri mereka.
Kiyoshi tak menampik, Natsuki tidak bisa berhenti mencintai Takahiro walau bertahun-tahun cintanya tidak pernah dibalas. Setiap kali wajah Takahiro muncul dalam ingatan, Kiyoshi semakin membenci dan berambisi untuk menghancurkan kehidupan sahabatnya sendiri.
"Arrrrggggghhh, bedebah !" Kiyoshi mengamuk melempar papan nama itu ke tembok. Mengacak acak apa yang ada di atas meja, termasuk foto keluarga Takahiro bersama Natsuki.
Tak puas sampai disitu, dia menyobek nyobek lembar kerja milik Takahiro dan melempar laptop miliknya sampai rusak.
Sekuat apapun Kiyoshi membenci, dia tidak akan mendapatkan kepuasan atas apa yang telah dia kerjakan. Alih alih berakhir sempurna, justru yang hadir adalah perasaan dilema. Kiyoshi benci karena tidak mampu membenci sahabatnya sendiri. Takahiro terlalu bodoh untuk dikelabui, hatinya terlalu bersih untuk dikotori.
__ADS_1