Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Pindah Ke Tokyo


__ADS_3

"Lama tidak bertemu denganmu, adik."


Pagi pagi sekali, Tomoya kedatangan tamu wanita yang tak lain adalah Natsuki. Natsuki baru saja pulang mabuk-mabukan, mampir ke rumah kakaknya untuk membahas sesuatu.


"Kakak! Buat Takahiro kembali padaku!" Sergap Natsuki terisak pada kaki Tomoya. "Aku mohon bantu aku lagi, kak!"


Dengan wajah malas, Tomoya mengayunkan kakinya agar Natsuki tidak bergelayut terus terusan. Tomoya membantu Natsuki berdiri dan menatap dalam dalam pada kedua matanya. Dia tahu bahwa adiknya adalah orang yang paling terpuruk pada musibah yang dialami keluarganya.


"Sudah kubilang berkali kali, Takahiro tidak akan berguna ada di sisimu. Harusnya kau terima saja keberadaan Kiyoshi. Kau membuatku repot! " keluh Tomoya dengan nada frustasi.


"Tapi, aku masih ingin bersamanya.." Natsuki mengguncang lengan Tomoya.


"Persetan! Meskipun aku kakakmu, aku malu punya adik plin plan sepertimu! Kau cinta tapi kau selingkuh juga dengan sahabat suamimu sendiri!"


"Aku benar benar tidak paham sama sekali padamu, Natsuki!" Tomoya menolak untuk meladeni adiknya yang sedang melantur.


Tomoya acuh membiarkan Natsuki bersimpuh dilantai. Hari ini ada agenda besar yang akan dia hadiri, yaitu menjadi undangan sebagai calon komisaris baru Personal Tech. Tomoya muncul ke hadapan publik setelah banyak berkiprah dibalik layar.


" Tunggu! " panggil Natsuki. Wajahnya masih sayu, namun ada suatu hal yang ingin dia tanyakan pada pria yang masih memakai piyama handuk.


" Apa kakak terlibat dalam perencanaan pembunuhan? mantan kekasih Takahiro?" Tanya Natsuki gemetaran.


"Takahiro mungkin akan melakukan sesuatu untuk membalas dendam." Natsuki sama sekali tidak mengetahui apa persisnya yang Kiyoshi lakukan. Kemungkinan besar, Tomoya ikut terlibat.


Tomoya menghentakan kaki tanpa berbalik, dia mengancam bahwa semuanya akan menjadi sulit jika Natsuki mengetahui yang sebenarnya.


"Lebih baik kau tutup mulut, jika kau tidak ingin dipenjara !" ancamnya, beralih ke ruang ganti. Kiyoshi sudah menghubunginya berkali-kali agar tidak datang terlambat.


***


"Apa ibu tidak tanya langsung pada ayah saja?" Riota meyakinkan ibunya untuk yang kesekian kali. Semenjak rumahnya didatangi Ruri kemarin, Yuko jadi lebih sering murung cenderung melamun.

__ADS_1


"Untuk apa? berterima kasih ?" Tanya Yuko congkak.


" Sudah ku bilang, pria itu hobi menghambur - hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna! " tandas Yuko geram.


Yuko sudah tidak mau ambil pusing apapun yang Takahiro lakukan padanya. Rumah itu akan Yuko terima dengan sukarela tanpa banyak protes.


Riota dibuat takut oleh ekspresi ibunya yang Yuko mencacah bawang dengan penuh emosional.


"Ibu marah atau cemburu ayah dekat dengan Mama Ruri?" dengan polosnya, Riota malah membuat suasana hati ibunya bergejolak lagi.


Yuko menghentak pisau pada bawang terakhir yang masih utuh. Yuko melayangkan lirikan tajam khas pembunuh pada Riota yang perlahan-lahan berjalan mundur kabur ke kamar mandi.


"Ng.... sepertinya aku harus cepat cepat ke sekolah." Riota buru buru bersiap pergi ke sekolah, demi menghindari ibunya yang sedang murka.


Tak lama berselang, ayah Yuko pulang setelah jalan jalan pagi bersama kakek Himura. Dia mendapati Yuko sedang cemberut sambil memasak sarapan.


Ayah Yuko panik mencium aroma gosong dari dapur. Air yang Yuko rebus sampai kering-- hingga mengeluarkan asap-- karena terlalu lama didiamkan. Kakek Riota melesat mematikan kompor yang ada persis disebelah putrinya.


"Yuko? Apa kau baik baik saja?" tanya nya cemas. Yuko masih merenung padahal ulahnya itu hampir saja membuat rumah kontrakan itu habis dilalap si jago merah.


"Yuko?"


"Ayah tidak akan mengerti! " Akhirnya Yuko buka suara.


"Baiklah, jika memang kau belum sepenuhnya menerima keberadaan ku di sini.." gumam pria itu kecewa. Dia tahu diri bahwa kesalahannya terdahulu tidak bisa begitu saja dilupakan.


Dia merasa kedatangannya di sini malah akan menjadi beban Yuko, terlebih Yuko akhir akhir ini gampang tersulut emosinya.


"Tunggu! " panggil Yuko kembali. Ada yang perlu Yuko bicarakan padanya.


Yuko akhirnya mengungkapkan keluh hatinya, hampir putus asa karena belum juga mendapatkan pekerjaan, sedangkan uang tabungannya hanya cukup untuk menutupi biaya sewa rumah hingga bulan depan. Yuko tidak mau menjual mobil dan menggunakan uang hasil turnamen Toru dan Riota karena itu bukan haknya. Lagipula, itu semua adalah tabungan untuk membiayai pendidikan kedua anak itu.

__ADS_1


Yuko menyampaikan maksudnya sekaligus memohon bantuan pada ayahnya selama tinggal di sini. Yuko ingin ikut Eriko bekerja di Tokyo sekalian mengunjungi rumah lamanya. Untuk sementara, dia akan menggunakan rumah itu sebagai tempat tinggal sementara dia mencari pekerjaan baru. Urusan dengan Takahiro dia sisipkan di urutan paling belakang saja.


"Ayah, aku titip Riota selama aku tidak berada di sini, jangan biarkan dia main jauh jauh dan jauhi dia dari orang asing."


pinta Yuko walau dibenaknya masih ada keraguan, antara pergi atau tidak pergi.


"Baiklah, tentu saja aku akan menjaga cucuku baik baik." jawab ayahnya dengan nada meyakinkan.


Berangkat dari situ, Yuko mulai bicara pada putranya bahwa dia akan baik baik saja tinggal bersama kakeknya. Riota mengerti kondisi ibunya dan patuh akan perintah fokus menghadapi ujian di musim panas. Yuko berjanji akan sering pulang untuk menjenguk keluarganya di desa.


Takeshi yang akan menjaga Yuko selama berada di Tokyo. Takeshi senang, bisa bertemu setiap hari dengan wanita itu karena jarak yang berdekatan.


Pada hari keberangkatan, Eriko datang dan ikut menumpang pada mobil Takeshi bersama Yuko. Selama perjalanan, Takeshi baru diberitahu bahwa tempat tinggal mereka sementara adalah rumah Yuko yang dulu. Tidak ada perubahan yang berarti dari rumah itu, hanya cat yang sudah diganti dengan warna putih dan sedikit pemugaran dibagian pagar. Selama ini Yuko tidak tahu rumah ini selalu dirawat.


"Rumah yang bersih, untuk ukuran rumah kosong." gumam Eriko setibanya di halaman rumah itu.


"Masuklah lebih dulu, Eriko." titah Yuko memberikan kunci rumah itu.


"Apa kau yakin pria itu memberikan rumah itu secara cuma cuma, Yuko?" Ungkap Takeshi khawatir.


"Kenapa kau tidak memberitahuku, Takeshi! Kalian berdua sebenarnya sedang merahasiakan apa saja sih?" sindir Yuko berkacak pinggang. Takeshi gugup, kebingungan.


"Yuko, aku tahu ini bukan waktu yang pas, tapi sampai kapan kau menggantung perasaanku.." Takeshi sudah tidak tahu lagi bagaimana menagih perasaan wanita itu padanya.


"Apa kau masih mengharapkan sesuatu dari pria itu?" Yuko bergeming. Saat itu yang terlintas dipikiran Yuko adalah kedekatan Ruri dan Takahiro.


"Tidak. " jawab Yuko lirih.


"Apa kau masih belum membuka pintu hatimu untukku?"


"Yuko, aku sudah lama menanti saat saat dimana aku bisa mencurahkan hatimu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." lanjut Takahiro.

__ADS_1


Yuko menatap Takeshi yang selama ini memberikan support system. Ada baiknya jika Yuko memberikan kesempatan pada pria ini.


"Aku akan menjawabmu, dalam waktu dekat.." pungkasnya, melirik pintu rumah yang terbuka. Eriko mengintip mereka dari balik gorden.


__ADS_2