Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Di Pecat !


__ADS_3

"Kebocoran data pelanggan e-commerce beberapa waktu yang lalu telah membuat kredibilitas perusahaan dipertaruhkan. Mereka hampir hampir memutuskan jalinan kerja sama dengan Personal Tech,"


Ulasan itu dibahas oleh pemimpin rapat yang juga salah satu anggota Direksi, Tuan Himura.


"Personal Tech telah mengalami kerugian yang luar biasa, selain itu pihak kementerian merespon kebocoran data adalah salah satu tindakan ceroboh yang harus dipertanggungjawabkan," lanjutnya memberi sindiran keras pada Direktur Utama.


"Untung saja, mereka masih memberikan toleransi untuk memperbaiki kekacauan yang sudah terjadi." Sambungnya, meremehkan Takahiro yang dari tadi duduk diam mendengarkan. Setelah berita kebocoran data mencuat ke media, setelah ini Takahiro masih akan menghadapi para pencari berita.


"Oleh karena itu, aku punya agenda yang ingin aku usulkan, "


"Untuk memastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi di kemudian hari, maka merombak keseluruhan manajemen Personal Tech adalah jalan yang mesti ditempuh,"


"Kami mengajukan mosi mendesak untuk memberhentikan Takahiro Hiroki sebagai presdir Personal Tech"


Semua peserta rapat riuh saling pandang merasa ini terlalu mendadak, beberapa ada yang pro, ada yang juga yang kontra. Apa jadinya Personal Tech jika ditinggalkan oleh Takahiro?


"Tapi selain Takahiro Hiroki, siapa lagi yang akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan project dengan kementerian?


" Bakat dan kreativitas nya tidak bisa dikesampingkan begitu saja, " Sanggah salah satu peserta rapat yang tidak menyetujui pemberhentian Takahiro. Perdebatan menjadi semakin sengit ketika Nakamura dan Kenji berhasil memberikan masukan pada peserta rapat yang hadir.


"Kami akan pertimbangkan menjadikan Takahiro Hiroki sebagai staf ahli, dengan kata lain dia masih bisa menjadi bagian dari Personel Tech meski tidak lagi menjabat sebagai Direktur, " Direksi lain memberi solusi, namun masih ditolak.


" Apa apan itu! Takahiro seperti sampah yang sudah dibuang lalu dipungut lagi." Desis Kenji kesal, dia dan Nakamura duduk dibelakang notulen.


"Untuk mempersingkat waktu, mari kita adakan voting untuk memastikan nasib personal tech ke depan " Ajak pimpinan rapat, agar situasi bisa terkendali.


"Baiklah, bagi siapa saja yang setuju Takahiro digantikan, silakan angkat tangan ! "


Mayoritas peserta rapat memberikan respon yang memaksa Takahiro hengkang dari perusahaan yang telah dia dirikan bersama sahabatnya, Kiyoshi. Kiyoshi sudah lebih dahulu menghasut jajaran Direksi untuk satu suara. Dia merasa dirinya telah menang.


Sampai saat ini Takahiro masih belum bisa mencerna dengan akal sehatnya, Kiyoshi dan Natsuki bisa sampai tega mengkhianati dan juga berniat mencelakai Yuko dan anaknya. Takahiro masih bisa terima jika harus diberhentikan, namun dia tidak bisa akan menerima bahwasanya pengkhianatan itu justru datang dari orang terdekatnya. Kiyoshi seperti menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya terkuak.


"Takahiro Hiroki, silahkan anda keluar, " Pemimpin rapat menyuruh Takahiro keluar meninggalkan ruang rapat. Seluruh pegawai heboh setelah mendapat newsletter pada email mereka masing masing, mengumumkan bahwa mulai hari ini Takahiro resmi dipecat.


"Kenji! Kenapa kita harus ikut mengangkat tangan !"

__ADS_1


"Astaga! Aku cuma ingin angkat bicara, bukan tanda setuju!" Nakamura tepuk jidat. Dia kecewa dengan putusan Direksi. Dua orang itu berbisik bisik sambil melirik Kiyoshi yang masih duduk di ruang rapat dengan para Direksi.


"Ayo kita susul Takahiro !" Mereka lari bergegas menyusul atasannya. Kiyoshi menyaksikan dua anak kesayangan Takahiro keluar. Dia tersenyum puas atas pencapaian yang telah dia dapatkan.


"Setelah Takahiro, kalian akan aku keluarkan...." desis Kiyoshi, kembali melanjutkan rapat yang sudah mau selesai.


Kenji dan Nakamura sadar, jika saham milik Takahiro sudah sepenuhnya terjual, maka wewenang Presdir akan jatuh ke tangan wakilnya, yakni Kiyoshi. Kepercayaan itu telah disalahgunakan.


Semua pandangan tertuju pada Takahiro, seluruh pegawai melihat dengan tatapan tidak percaya jika hari ini adalah akhir bagi Takahiro memimpin perusahaan. Tak ada sepatah dua patah kata yang bisa dia ucapkan pada mereka.


"Boss, tetaplah berada disini!" Cegat Kenji.


"Kami butuh ide brilian mu," Nakamura menimpali mewakili suara pegawai yang selalu setia mendukungnya.


Takahiro hanya menebar senyum. Senyum palsu yang tidak bisa menutup nutupi kesedihannya. Dia hanya ingin pegawainya tetap bekerja secara profesional apapun hasil keputusan direksi.


"Terimakasih atas kerjasamanya, selamat tinggal..." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Personal Tech.


***


"Personal Tech ..." Yuko menatap sebuah logo di salah satu gedung yang ada di sana. Logo itu sama persis dengan apa yang dia lihat di koran selama perjalanan menuju ke sini. Semua media massa menyoroti kasus kebocoran data yang disebabkan oleh kelalaian manusia (human error). Takahiro adalah sosok yang bertanggung jawab akan insiden ini. Dari situ, Yuko tahu Takahiro juga di desak untuk mengundurkan diri.


Yuko berjalan menjauhi gedung itu, rasanya akan lebih baik jika dia menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan Takahiro.


"Lebih baik aku menunggu di halte bus saja..." Yuko kembali mendatangi halte bus dan duduk di sana.


"Ibumu tidak mau menunggu di situ, " bisik Toru pada Riota yang sama sama sembunyi dibalik pohon.


"Aku belum melihat ayah keluar dari gedung itu," sahut Riota kebingungan. Mungkin saja Takahiro sengaja keluar lewat pintu lain agar terhindar dari kejaran wartawan.


"Padahal baru saja ayah bilang akan menemui kita di luar..." Riota mendesis kecewa, rencana untuk mempertemukan orang tuanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Riota dan Toru tidak tahu mesti bagaimana lagi.


Yuko duduk sambil mengetik sebuah pesan untuk anaknya agar segera datang kemari. Dia tahu dirinya sedang di akal akali Riota, entah apa maksudnya. Yang jelas, Yuko tidak mau bertemu apalagi sekedar berpapasan dengan ayah Riota.


"Maaf Nona, apa kau melihat......"

__ADS_1


"Yuko?" Takahiro terhenyak, menemukan Yuko sedang duduk sendirian di halte, begitupula sebaliknya. Yuko terlalu fokus menatap layar ponsel sehingga tidak menyadari bahwa pria yang mondar mandir sedari tadi adalah Takahiro.


"K-kau? " Bibir Yuko gemetar. Dia melihat ke arah sekitar, memastikan ini pasti ulah anaknya dan Toru, atau mungkin Takahiro sendiri.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Takahiro canggung. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Yuko disini setelah serentetan masalah hidup menerpa dirinya. Perasaannya saat itu menjadi lebih baik.


"Riota ingin aku menjemputnya, tapi dia belum juga datang.." Jawab Yuko berwajah masam.


"Aneh, baru saja mereka mengirimiku pesan bahwa mereka sedang berada di sini.."


"Oh.... begitu ya?"


"Kau tidak sedang memanfaatkan mereka kan?" cecar Yuko curiga.


"Yuko, kau sama sekali tidak berubah ya?! " sergahnya malah ikutan kesal.


" Selalu saja berburuk sangka padaku..." Takahiro menghembuskan nafas panjang. Dia sudah terlalu kesal untuk dibuat kesal lebih lanjut.


"Maaf kalau kau tersinggung, memang lebih baik aku tidak ada disini... " Yuko murung lalu melengos begitu saja.


"Tunggu dulu !" Hadang Takahiro menghentikan gerak langkah kaki Yuko. Takahiro menangkap tangan Yuko agar tidak menjauh.


"Jika memang keadaan memaksa kita untuk bertemu, kenapa tidak kau bisa meluangkan waktu untuk bicara padaku? "


"Bicara apa lagi?!" Keluh Yuko bernada kesal. Yuko tahu bicara dengan Takahiro di sini bukanlah waktu yang tepat. Saat masih bersitegang, tiba tiba saja Riota menelepon Yuko dari radius 50 meter.


"DIMANA KALIAN?! SUDAH CUKUP MAIN MAINYA! " Omel Yuko ingin buru buru kabur dari hadapan Takahiro.


"Ibu, kalian perlu bicara berdua saja, aku akan menunggu kalian jika sudah selesai! " Cepat cepat Riota mengakhiri sambungan telepon, sebelum Yuko tambah marah.


"Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu, Yuko.."


"Tolong berikan aku kesempatan satu kali saja..aku mohon.."


Sebenarnya Yuko sudah tahu bahwa Takahiro sedang mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Atas dasar rasa kasihan, akhirnya Yuko Sudi memberikan sedikit waktunya berbicara dengan ayah Riota.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita bicara !"


__ADS_2