
"Ceritakan padaku, apa yang kau alami selama ini?!"
Takahiro menggiring mereka ke tempat yang lebih tenang untuk melakukan musyawarah. Rencana awal Takahiro dan Riota adalah mengajak Yuko bicara perihal tuduhan yang selama ini disematkan pada Taka.
"Ayo Bu, tolong katakan ! Buat semuanya menjadi jelas!" Desak Riota merengek seperti minta jajan.
"Iya bibi, untuk bicara dengan paman saja apa sulitnya sih?" imbuh Toru mendukung penuh Takahiro. Dia salut pada kegigihan Takahiro untuk pantang menyerah merebut hati Yuko walau Takeshi sudah punya niatan menjadi ayah sambung Riota.
"Kalian masih anak anak! Ini urusan orang dewasa!" Sentak Yuko kesal disudutkan terus menerus.
"Riota, Toru, bisakah kami bicara berdua saja?" Takahiro merendahkan badan bicara pada anak anak untuk menunggu di suatu tempat.
"Ibumu benar, kalian belum cukup umur untuk mencerna permasalahan orang dewasa." tuturnya lemah lembut melirik Yuko yang sedang cemberut.
"Janji ya? Jangan sampai kalian bertengkar lagi !" kecam Riota, berharap semua berjalan sesuai dengan apa diharapkan oleh dirinya sendiri dan juga ayahnya.
Alhasil, Riota dan Toru rela menunggu mereka di sebuah gerai makanan sambil menikmati es krim gelato. Takahiro kembali ke taman menemui Yuko. Ini lah saat yang dia tunggu tunggu setelah melewati serangkaian peristiwa nahas yakni dituduh pencopet hingga membuat kegaduhan di muka umum.
"Kenapa diam saja?" tegur Takahiro gundah didiamkan terlalu lama.
"Kau mau aku cerita apa?" tantang Yuko mengulur ngulur waktu. Yuko malas membuka luka masa lalu yang masih belum mengering sampai sekarang.
"Tolong, " Takahiro memelas.
"Aku cuma tidak ingin anakku mengira aku adalah sosok penjahat semasa hidupnya. Kau tahu, tuduhan itu secara tidak langsung merusak mental ku sekarang,"
"Kau pasti tahu bagaimana rasanya dikhianati kan? Mungkin Inilah karma yang harus aku terima atas dosa dosaku pada kalian..."
"Jarvis " sebut Yuko tanpa ancang ancang lantas buka suara, terbayang sekilas wajah yang sangat dia benci selain Takahiro. Yang tak lain adalah Kiyoshi. Saking bencinya, Yuko tidak bisa bernafas mengulas peristiwa delapan tahun silam di memori otak.
"Kenapa? Ada apa dengan Jarvis?" tanya Takahiro mengerjap penasaran.
"Hei! Harusnya kau tanya saja dia! Aku rasa dialah yang paling tahu alasannya berbuat begitu padaku! " jawab Yuko ketus sinis.
"Setelah apa yang telah dia perbuat dengan Natsuki, aku sudah tidak percaya lagi apapun yang dia katakan, " Takahiro menghela nafas panjang.
"Aku mohon, Yuko.." pintanya penuh harap.
Yuko berpikir panjang sebelum melanjutkannya, memilah milah apa saja yang akan dia ungkap.
"Malam itu, aku diserang dua orang pria tegap dengan penutup wajah setelah gagal mengancam menggugurkan kandungan, " Yuko langsung bercerita pantang terlihat cengeng walau pedih dirasakan. Dia menceritakan kejadian itu dengan tempo cepat agar tidak terlalu terbawa suasana.
__ADS_1
"Mereka menganiaya aku saat kandunganku masih muda, beruntung Takeshi datang lagi ke rumahku karena ada barang yang tertinggal, "
"Apa Kiyoshi yang melakukan semua itu?!" Matanya membulat. Takahiro bisa merasakan bagaimana penderitaan Yuko saat itu.
"Akan ku beri dia perhitungan !! " Takahiro marah, tanpa permisi dia bersiap untuk mendatangi Kiyoshi saat itu juga.
Dia bersumpah akan membuat perhitungan pada Kiyoshi setelah ini. Perbuatannya kini tidak bisa dimaafkan.
"Tunggu! Kau mau kemana?!" cegah Yuko menarik lengan kemeja Takahiro.
"Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang!" geramnya, sambil lanjut berjalan.
"Tidak! Tunggu! Ada satu hal yang belum aku ceritakan! Pikirkan dulu sebelum bertindak !" Kali ini Yuko meraih tangan Takahiro agar dia tidak benar benar pergi jauh.
"Jarvis datang membantu kami melawan orang orang itu sendirian, aku tidak bisa menilai apa itu alibi atau bukan," lanjut Yuko, dia berhasil mengalihkan perhatian Takahiro lagi.
"Takeshi kewalahan melawan orang orang suruhan itu, aku hampir kehilangan bayiku, "
"Nyatanya dia pun ikut terluka karena menolong kami," Fakta itu harusnya Yuko ungkap di awal.
"Jarvis membawa kami ke rumah sakit, tapi Takeshi tidak terima dan mengatakan padaku bahwa itu adalah ulah mu!"
"Apa?" Takahiro terkesiap tak menyangka. Takeshi sempat mendatangi dia di kantor namun hanya bisa bertemu dengan Kiyoshi di sana.
"Aku lebih percaya Takeshi, "
Sejujurnya saat itu, Takahiro ingin sekali memeluk dan menenangkan wanita itu layaknya pria sejati. Akan tetapi, Yuko telah menghapus Takahiro dalam hidupnya. Ucapan itu telah mematahkan hatinya hingga ke bagian terkecil.
"Jadi itu alasanmu mengatakan aku sudah mati?" Bibirnya bergetar, orang yang paling menderita selain Yuko adalah Riota.
"Paling tidak, itulah caraku melindungi anakku, " Yuko mengusap air matanya. Terlihat lemah di depan orang yang telah menyakitinya itu sangat memalukan.
"Yuko, aku minta maaf. Aku tahu, beribu ribu ucapan maaf dariku tidak akan ada artinya, tapi aku tidak mengetahuinya sama sekali,
"Kau bahkan tidak hadir pada pernikahan Takeshi dan Ruri, padahal aku berharap bisa bertemu denganmu di sana!"
"Bertemu? Apa kau sudah gila? Kau masih berani menemui ku setelah punya anak dan istri?"
"Aku tidak menikah dengannya karena masih berharap padamu, Yuko! Aku pertaruhkan semuanya hanya demi mendapatkan mu kembali!"
"Cih! Jangan kira aku akan percaya! " cela Yuko sangsi.
__ADS_1
"Baik !Akan aku beberkan sejelas - jelasnya padamu sekarang!"
"Aku didesak menikahi Natsuki oleh Kiyoshi karena wanita itu sudah lama menyukaiku, aku pikir dengan menikah aku bisa mempunyai keluarga sedarah daripada harus hidup sebatang kara sampai tua. Aku tidak sempat mencari pasangan hidup karena terlalu sibuk membangun perusahaan, "
Perlahan tapi pasti, Yuko mulai mendengarkan kisah perjalanan hidup mantan kekasihnya.
"Lalu semua berubah ketika aku melihat dan mendengar penuturan mu saat seminar. Aku terpukau dan aku sadar saat itu juga aku jatuh cinta padamu, "
"Selain itu, aku rasa kau lah yang pantas menjadi sosok ibu untuk anakku, dibandingkan Natsuki yang lebih suka hura hura daripada membina keluarga, "
Entah kenapa hati Yuko terhenyuh merasa kasihan tapi masih gengsi untuk mengungkapkannya. Dia tahu Takahiro adalah tipe orang yang penuh spontanitas.
"Aku mencari mu kemana mana sampai akhirnya aku menyerah, kau ternyata telah menikah dengan pria lain!"
"Aku membuktikannya dengan datang ke desa dan melihat kau sedang merawat dua anak dengan seorang duda kan?" lanjutnya. Secara tak terduga, selama ini Takahiro tahu dimana Yuko tinggal.
Pria itu adalah mendiang kakak ipar Takeshi dan dua anak itu adalah Riota dan Toru.
"Omong kosong! pada akhirnya aku tetap menikahinya juga kan?!" sanggah Yuko angkuh. Dia mengultimatum dirinya sendiri agar tidak luluh pada pendiriannya.
"Ya! Aku terlalu rapuh sehingga gampang dikelabui !"
"Aku mabuk hingga tidak sadar telah meniduri Natsuki,"
Takahiro tidak tahu, Yuko tidak nyaman mendengar bagian cerita ini. Entah cemburu atau bukan, Yuko belum bisa mendefinisikannya secara gamblang.
"Karena ulah Natsuki, aku terpaksa menikah hingga aku baru tahu bahwa itu sebenarnya tidak pernah terjadi,"
"Aku telah menjadi ayah dari anak biologis Kiyoshi!"
" Jadi anak itu?" Yuko mengerutkan dahi, percaya tidak percaya, bagian yang ini membuat dia turut merasakan bagaimana perasaan Takahiro saat tahu Naomi bukan anak kandungnya.
"Bertahun-tahun aku dibohongi oleh orang yang paling aku percaya,"
"Kau tahu Yuko? Saat ini sejujurnya kesehatan mental ku sudah terganggu!" Rasa kecewa itu terlukis di wajah Takahiro. Yuko mengakui Takahiro sangat lihai menyembunyikan kesedihannya.
Yuko termangu, dikira selama ini hanya dirinya saja yang menderita. Mereka adalah korban keegoisan segelintir orang yang ingin dipenuhi keinginannya. Kali ini Yuko memberanikan diri untuk melihat dari dekat wajah pilu Takahiro untuk menyakinkan sesuatu.
"Luapkan semua! aku akan mendengarkan mu, Takahiro." ucap Yuko sambil menatap mata lawan bicaranya.
"Jika ini terjadi sebelum aku menemukan kalian, "
__ADS_1
"Mungkin hidupku sudah berakhir di tiang gantungan atau berbaring di atas rel menunggu kereta melindas tubuhku.." Tandasnya, kemudian menangis saat Yuko memeluk tubuhnya.