
"Sejujurnya aku tidak terlalu paham, apa yang telah terjadi di antara kalian, " Yuko sedikit sedikit buka suara. " Kiyoshi, selama ini mengirimi aku uang untuk keperluan Riota.."
Takahiro terbelalak mendengar penuturan Yuko, jadi selama ini Kiyoshi mengetahui dimana keberadaan Riota dan ibunya.
"Uang itu masih tersimpan dalam rekening, aku belum pernah menggunakan meski dalam keadaan terdesak sekalipun, "
"Lebih baik aku berhutang ke orang lain, daripada harus menggunakannya!"
"Maka dari itu, aku ingin mengembalikan uang itu, karena aku memang tidak butuh belas kasihan dari kalian !!" tegas Yuko, merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membahas keberadaan uang yang berada pada tabungan Riota yang bernilai fantastis.
"Aku benar-benar tidak tahu, aku pikir kau sudah bahagia dengan suami pilihanmu, Ruri dan Takeshi bilang kau sudah menikah dengan pria di desa, "
Ya, itu memang akal akalan Yuko dan kawan kawan untuk mengelabui Takahiro.
"Natsuki ! Ini pasti ulah Natsuki! " tuduh Takahiro jengkel, sampai sekarang dia belum bisa mencerna kenapa Natsuki bisa melahirkan anak Kiyoshi. Sejak kapan mereka selingkuh pun dia tidak tahu.
"Hanya dia yang belum memberikan pengakuan!" Takahiro mengerutkan dahi, sampai saat ini wanita itu belum bisa dihubungi. Naomi sudah pergi mengunjungi rumah orang tua Natsuki berharap dia bisa bertemu ibunya di sana. Namun, setelah tiba di sana, Natsuki pun tidak ada.
Yuko dari awal sempat mencurigai wanita licik itu, tapi baik itu atau Natsuki atau Takahiro, keduanya adalah orang orang yang paling tidak dia sukai. Bisa terlibat lagi dengan mereka merupakan bencana bagi dirinya.
"Siapapun itu, tolong jangan libatkan kami lagi,"
"Sebab kami, akan pergi meninggalkan Jepang..." Yuko bergumam tak mau melihat lawan bicaranya. Tujuh tahun, bukan waktu yang sebentar untuk begitu saja melupakan serangkai kisah menyedihkan. Takahiro sudah dicoret dalam daftar riwayat hidupnya.
"Kalian ingin pergi?" Raut wajah Takahiro makin muram, bulir bulir air dari sela sela mata elangnya tak bisa dibendung lagi. Pada akhirnya, Takahiro akan melanjutkan hidup sebatang kara lagi. "Kemana?"
"Kemana pun itu, kau tidak perlu tahu! " jawab Yuko ketus.
Yuko semakin tak berani menatap Takahiro, padahal isak tangis itu sungguh nyata terdengar di telinga. Sebenarnya Yuko sedang berbohong, dia bahkan melebih-lebihkan bualan itu agar Takahiro tidak perlu mengungkit ungkit lagi kejadian yang sudah berlalu. Yuko harap bisa segera pergi menjauh dari jangkauan Takahiro dan orang orang jahat di sekelilingnya.
Bianglala itu kembali berputar, sebentar lagi mereka akan tiba dibawah dan berpisah untuk selama lamanya. Yuko berharap setelah ini dan seterusnya tidak ada lagi pertemuan di antara mereka.
"Yuko! jawab aku!" Bentak Takahiro geram, hampir membuat jantung Yuko copot.
__ADS_1
" Kau tidak bisa membawa Riota seenaknya saja! Dia masih punya ayah kandung! Dia punya hak untuk mendapat kasih sayang dariku!" Takahiro lepas kendali, emosinya semakin kian tak terkendali sejak semalam.
"Riota tidak butuh---" Yuko dibuat kaget sekali lagi karena Takahiro tiba tiba saja merengkuh tubuhnya sambil menangis. Pria itu memohon agar mereka tidak pergi lagi dari kehidupannya.
"Ku mohon...jangan pergi dulu !" keluhnya tersedu sedu. Semakin Yuko mengelak, maka semakin kuat Takahiro memeluk.
"Lepaskan! " Yuko terus berontak, tapi tiada guna. Beberapa saat lagi mereka akan sampai ke bawah. Terpaksa, Yuko harus menggunakan kekerasan agar bisa segera melepaskan diri. Dia menginjak sepatu pria itu hingga menjerit kesakitan.
"Aaaarrghhhh, saaakiiit !!"
Begitu terlepas, Yuko membuka slot pintu kabin bianglala sendiri tanpa dibantu petugas. Dia bahkan nekat melompat sebelum kabin benar benar mendarat dengan sempurna. Dia tidak peduli dengan peringatan bahaya yang telah diberitahu oleh petugas.
"Tolong aku! Pria itu mau mencuri dompetku! " teriak Yuko panik, berkilah pada petugas taman hiburan.
"Cepat tangkap dia !" Yuko berlagak seperti orang ketakutan demi meyakinkan semua orang yang ada di sana.
"Yuko! Tunggu ! " panggil Takahiro sambil menahan sakit. Sebelum keluar kabin, Takahiro sudah dicegat oleh petugas yang bersiap menahannya.
"Pak, aku bukan copet, ini salah paham pak...." sanggahnya berusaha tidak kehilangan jejak Yuko.
"Yuko! Tunggu Yuko!!!!!" Terlambat, Takahiro surat diseret seret agar tidak kabur.
Akhirnya, Takahiro diboyong ke kantor keamanan karena sempat melawan petugas. Dia didesak untuk memberikan klarifikasi lebih lanjut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sudah jatuh tertimpa tangga, baru saja dia dipecat, kini Takahiro harus mendekam di kantor polisi.
Cih! Kau pikir aku akan hanyut dalam bujuk rayuanmu lagi !
Yuko pergi mencari Riota dan Toru agar bisa segera pulang, mungkin rencana untuk benar benar pergi dari desa harus segera dia wujudkan, demi ketenangan dan kenyamanan hidup mereka berdua. Selain itu, Takahiro pun pasti akan membalas perbuatannya hari ini di lain waktu.
"Ayo kita pulang Riota! Ayahmu tidak bisa menemuimu karena harus pergi.." Ajak Yuko tergesa gesa, dia menemukan mereka baru selesai naik Carousel.
Yuko mengatakan bahwa Takahiro ada pekerjaan mendadak yang harus segera diselesaikan sehingga tidak bisa pamitan pada mereka. Untung saja, kedua bocah itu percaya dan langsung menuruti perintahnya.
Sementara di pos pengamanan, Takahiro digeledah oleh satuan pengamanan taman hiburan untuk mencari barang bukti yang berhasil dia curi, namun hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan apa apa selain barang barang milik Takahiro pribadi. Itu karena, Takahiro tidak benar-benar mencuri.
__ADS_1
"Kemana wanita yang tadi melaporkanmu?" tanya petugas heran. Mereka tak habis pikir, kenapa si korban malah pergi begitu saja tanpa memberi kesaksian.
"Pak, aku bukan copet ! tolong biarkan aku pergi mengejar wanita itu! Aku sudah difitnah! " bujuk Takahiro membela diri. Seumur umur, baru kali ini dia berurusan dengan polisi.
"Apa dia istrimu? Ku dengar dari petugas, kau sebelumnya datang bersama anak anak kalian, " lanjut petugas menginterogasi. " Lalu kemana anak anak kalian?"
"Bukan, dia bukan istriku, dia ibunya anakku,"
"Kalau begitu kalian sudah bercerai ya?" tanya petugas yang satunya lagi. mereka berasumsi ini adalah urusan internal keluarga.
"Tidak juga,"
"Lalu?" petugas itu tambah penasaran.
"Ng.....itu....." Takahiro gelagapan, tak bisa merunut cerita dari awal sampai akhir. Lagi pula petugas keamanan itu terlalu ingin tahu urusan keluarga orang lain.
Dua orang petugas dihadapannya terlihat bingung, bahkan salah satu dari mereka seperti pernah melihat Takahiro di suatu tempat.
"Anda ini... pengusaha IT yang terkenal itu ya?" petugas itu baru ingat sekarang, dia mengambil sesuatu di loper koran dan mencocokkan wajah yang terpampang di halaman paling depan dengan wajah Takahiro yang asli.
"Astaga! ternyata benar! Dia orangnya, " Dia menyerahkan koran itu pada rekan disebelahnya. Berita itu memuat informasi mengenai kebocoran data yang terjadi di perusahaannya.
"Wah, ternyata ada pengusaha terkenal itu ya?" decak mereka kagum.
Takahiro hanya tersenyum kaku, karena mereka tidak tahu bahwa per hari ini, Takahiro sudah resmi dikeluarkan dari Personal Tech.
"Boleh kami berfoto denganmu?"
Takahiro pun akhirnya dibebaskan sebagai imbalan permintaan ber- swafoto yang dia kabulkan pada petugas petugas narsis tersebut. Takahiro kembali mengejar Yuko untuk merebut Riota sebagai balasan atas apa yang telah dia lakukan padanya.
"Tunggu pembalasanku, Yuko!"
***
__ADS_1