Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Ayah Sambung


__ADS_3

"Yuko Harumi ....." sebutnya lirih. Jantung berdegup kencang, tapak kaki terasa goyah seperti tidak seimbang menahan bobot tubuh. Takahiro yakin, wanita yang ada dihadapannya sekarang adalah mantan kekasihnya.


"Paman, dia ibu Riota! " Tunjuk Sakura. Dia heran kenapa kedua orang itu bertatapan cukup lama.


"Ibu?" Takahiro menelan ludah. Ternyata Yuko benar telah menikah, pikir Taka.


Lalu, dimana ayah dari anak itu?


Yuko masih belum memberikan respon yang berarti, dia hanya tidak percaya melihat Takahiro berada di sini sementara Riota sedang kritis di dalam. Takahiro datang kesini dalam rangka uji coba penggunaan software penunjang pendidikan yang akan diterapkan secara resmi di sekolah sekolah beberapa bulan ke depan. Selain itu, dia juga memberikan bantuan pendidikan pada anak-anak yang kurang mampu.


"Harumi, maafkan aku, ini salahku!" Takahiro gugup tak tahu bagaimana menjelaskan duduk perkaranya. Demi menolong anak malang itu, Taka mangkir dari rapat pemegang saham karena lebih mementingkan nyawa Riota. Taka merasa dialah yang harus bertanggung jawab akan apa yang menimpa Riota dan keluarganya.


"Pergilah ! Aku tidak butuh kau di sini! " Yuko menolak mendengarkan apalagi sampai memberi maaf, dia mengusir Taka detik itu juga. Wajah pilunya tak bisa dibohongi, bahwa luka masa lalu Yuko pada mantan kekasihnya masih membekas tidak lekang oleh waktu. Yuko benci bisa bertemu dengan Taka lagi.


"Yuko, aku berjanji, Riota akan kembali pulih, izinkan aku merawat anakmu hingga sembuh! " Taka memohon, setidaknya Yuko memberikannya kesempatan untuk Taka bicara sepatah dua patah lagi padanya.


"SUDAH KU BILANG PERGI !!" Usir Yuko geram. Taka bergeming langsung meninggalkan Yuko dari lokasi.


Taka mengalah, merasa maklum dengan suasana hati Yuko yang sedang tidak terkendali. Dia pergi, lagipula dia belum sempat berganti pakaian. Ada gelagat aneh yang membuat Taka bertanya tanya mengapa Yuko lebih terlihat seperti orang ketakutan dari pada sekedar marah karena kecewa.


"Bibi.... Riota tertabrak mobil karena mengejar Paman itu, " Sakura mengungkapkan apa yang tidak sempat Taka ucapkan pada Yuko tadi.


"Bibi ? Apa benar paman itu adalah ayah Riota?" Sakura kembali bertanya, dia masih ingat betul Riota berteriak memanggil-manggil "ayah" pada iring-iringan mobil Takahiro dan juga di detik detik terakhir Riota tergeletak lalu tak sadarkan diri.


"Nak! Demi apapun ! Apa kau sudah menceritakan ini padanya?!" Yuko terbelalak menyudutkan Sakura yang tampak ketakutan. Sakura hanya menggelengkan kepala lalu lari keluar rumah sakit.


***


Menjelang sore, Takeshi datang melihat keadaan Riota dan Yuko. Takeshi tahu bahwa Yuko bertemu dengan Takahiro di sana. Dia cemas, dan langsung mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah sakit.


"Yuko bagaimana Riota?" Takeshi lari tergopoh-gopoh menemukan Yuko sedang duduk bersandar seorang diri.Yuko pun belum bisa melihat anaknya yang masih dirawat di ruang Unit Gawat Darurat. Tim dokter masih melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Riota. Yang bisa Yuko lakukan hanya berdoa sambil sesekali tanpa sadar meneteskan air mata.

__ADS_1


"Dimana dia?" tanya Takeshi lagi sambil melihat ke arah sekitarnya. Takeshi tidak menemukan Takahiro di sana.


"Dia sudah pergi, " gumam Yuko dengan tatapan kosong.


"Tidak, aku masih di sini," Takahiro baru saja menampakan wujud -- entah dari mana asalnya-- membuat Takeshi tersentak kaget.


"Apa apaan ini?! " Cerca Takeshi dengan wajah menantang.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK KAMI?!" Takeshi menarik kerah kaos Takahiro lalu mendorongnya merapat ke dinding rumah sakit.


" Takeshi! Hentikan ! " Yuko terkesima, dua pria itu bersitegang hampir hampir membuat kegaduhan. " Jangan buat keributan di sini! "


Selagi Yuko menengahi, seorang petugas medis berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka. Riota telah kehilangan banyak darah, kondisi tubuhnya melemah seiring belum mendapatkan pendonor. Pasokan kantong darah yang cocok untuk Riota pun stok nya menipis.


"Kami membutuhkan pendonor untuk pasien, " Pihak rumah sakit biasanya akan melibatkan keluarga pasien untuk mengganti pasokan dari bank darah di pusat provinsi. Kebetulan golongan darah Riota adalah golongan darah yang langka dan jarang dimiliki kebanyakan orang.


"Aku ayahnya, Takeshi Sawada " Takeshi dengan bangga akan jadi pendonor.


"Bagaimana denganmu, Yuko?" Bisik Takeshi, dia malu atas kesombongannya sendiri.


"Apakah golongan darah O bisa?" Tanya Yuko ragu ragu.


"Golongan darahku B Rhesus Negatif, Takahiro Hiroki " Semua perhatian tertuju padanya.


"Baik pak, mari ikut dengan kami, "


Taka mengikuti kemana petugas medis membawa. Kedua orang itu masih tertegun satu sama lain. Dengan begini, sandiwara murahan Takeshi tidak mungkin bisa diterima Takahiro dengan masuk akal.


Sementara menunggu informasi lebih lanjut mengenai keadaan Riota, Yuko ingin tahu bagaimana kabar rumah tangga Takeshi dengan Ruri. Takeshi menjelaskan, mereka sudah tidak tinggal serumah, Ruri lebih memilih tinggal di mess perusahaan. Sudah seminggu mereka tidak saling berkomunikasi, bahkan Takeshi tidak memberikan kabar tentang Riota pada ibu angkatnya.


"Yuko, aku akan membantumu merawat Riota, " Tiba tiba saja Takeshi melemah, sebenarnya kedatangan dia kali ini mempunyai maksud tersendiri.

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan merasa sangat terbantu, " celetuk Yuko tidak peka.


"Ng... maksud ku lebih spesifik lagi, "


"Yuko, aku tahu ini terlalu mendadak dan tergesa-gesa " Papar Takeshi sangat hati- hati sekali, dia terpaksa mengatakan ini lebih awal. Kemunculan Takahiro seakan mendesak Takeshi untuk buru-buru mengatakannya, sebelum keduluan.


"Aku ingin secara resmi menjadi ayah sambung Riota, dengan cara menikahi mu...." Ucapnya perlahan lahan. Takeshi sudah bisa menebak bahwa Yuko pasti tidak akan langsung menerima permintaannya.


"Ha? Apa kau sudah putus asa Takeshi?" Yuko menggerutu, situasi dan kondisinya sangat tidak pas untuk membicarakan hal sakral ini.


"Iya benar ! Aku memang putus asa! " tegas Takeshi.


"Dari awal, aku sudah putus asa mengejar cintamu, pria brengsek itu sudah membuatku mengalah berkali-kali ! "


"Jangan bicara keras kerasa Takeshi!" cegah Yuko, agar Takeshi tidak bicara yang tidak tidak lagi.


"Aku...aku hanya tak ingin dia masuk lagi ke kehidupan mu! " Takeshi ngeyel dan terus saja mengungkapkan perasaannya tanpa kenal tempat.


***


" Bibi Ruri ? Mau kemana? " Sapa Toru bertemu dengan Ruri di lobby rumah sakit.


Toru melihat Ruri berlari sambil mengusap air mata. Ruri datang karena Toru mengabari bahwa Riota masuk rumah sakit karena kecelakaan. Belum sempat menjenguk, Ruri sudah disuguhkan pemandangan yang membuat mentalnya terpukul. Takeshi berlutut memohon - memegang tangan Yuko dengan penuh harap. Takeshi ingin menikahi Yuko. Ruri bahkan tidak sanggup lagi menyaksikan adegan menyesakkan itu lebih lanjut. Toru juga tercengang, terheran heran ada apa antara Yuko, Takeshi dan Ruri.


Begitu menoleh ke belakang Toru masih harus dibuat terkaget-kaget melihat Takahiro ada dibelakangnya, turut menyaksikan adegan Takeshi yang tiba tiba memeluk Yuko dari belakang.


"Alamak, kenapa bisa begini?" gumam Toru merasa canggung.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2