
"Kami hanya mengizinkan dua orang perwakilan keluarganya untuk melihat pasien..."
Taka dibiarkan menunggu di luar karena dianggap bukan bagian keluarga. Yuko dan Takeshi masuk melihat kondisi Riota di dalam ruang ICU. Toru bersyukur keadaan masih berjalan kondusif setelah dia melihat drama cinta segiempat yang sepertinya lebih rumit dibandingkan memenangkan kompetisi game musim depan.
Toru sesekali melirik Takahiro dengan wajah nestapa memandangi pintu ruang perawatan dari luar. Toru merasa iba, yang seharusnya ada di dalam adalah Takahiro.
Mulut Toru seakan terkunci rapat rapat. Jika tidak ingat dengan janjinya, Toru mungkin akan memberitahu bahwa Riota adalah anak kandung Takahiro.
"Nak...." panggil Takahiro padanya. Toru pucat, sesaat Takahiro mulai membalas lirikannya.
Ya Tuhan....Semoga dia tidak bertanya yang macam macam padaku.
Toru berdoa komat kamit menghadap arah lain. Demi apapun, dia tidak mau dilibatkan dalam urusan ikatan tali kasih keluarga yang penuh dengan lika liku ini. Dia tidak habis pikir, untuk sekedar memberitahu siapa ayah Riota yang sebenarnya bukan hal yang sulit. Riota nyaris meninggal hanya karena ingin bicara sepatah dua patah kata padanya.
"Ya, paman..." jawab Toru gugup gemetar. Dalam posisi serba salah begini alangkah lebih baik jika Toru bersikap netral, walau sesungguhnya dia kasihan pada nasib Riota seperti terombang-ambing di lautan.
Toru tidak bisa berbuat banyak di sini, lebih baik dia permisi pulang saja, daripada salah ambil langkah. Takahiro pasti akan bertanya sesuatu pada dirinya.
"Maaf paman, sepertinya aku harus pulang. Aku permisi...." Toru membungkukkan badan sebelum akhirnya ambil ancang-ancang untuk balik kanan bubar jalan.
"Tunggu !" Takahiro berhasil menarik jaket Toru, mencegah anak itu pergi. "A- a - ada apa lagi paman?"
"Apa kau sudah makan?" lanjut Taka memberi senyuman. Entah kenapa Taka menjadi lapar setelah menjadi pendonor darah, untuk itu dia hendak mengajak Toru makan malam bersama.
"Rasanya.. tidak enak jika harus makan malam sendirian di sini, " imbuhnya menarik Toru ke arah kantin.
"Hah?" Toru hampir jatuh terjengkang, dikira Taka akan menginterogasi dirinya. "Tu-tu-tunggu paman, aku sudah kenyang! "
Dengan berbagai macam cara telah Toru lakukan untuk menolak ajakannya, nyata Takahiro sudah berhasil membawa anak itu pergi dari situ.
***
Di dalam ruang perawatan, Riota masih belum juga sadarkan diri dan hal ini berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Yuko, Toru dan Takeshi bergantian menunggu kapan Riota bisa sadar. Suatu hari, ketika Takeshi tidak bisa datang dan Yuko harus bekerja long shift, Toru memanfaatkan waktu tersebut untuk mengundang Takahiro datang untuk menjenguk.
Saat di ajak makan malam, Toru kecolongan, saat Taka meminjam ponsel Toru untuk menelepon supir pribadi agar datang untuk menjemput. Taka berhasil mendapatkan nomor ponsel Toru, sebab yang Taka hubungi adalah nomor Taka sendiri.
Aku terjerembab dalam jebakan Betmen :(
Takahiro datang sendirian menyelinap masuk atas bantuan Toru. Selama ini Takahiro tidak diperkenankan untuk menjenguk apalagi untuk sekedar tahu bagaimana perkembangan kondisi Riota. Tak tanggung-tanggung, bahkan jika kondisinya tidak mengalami perubahan, Takahiro akan memindahkan anak itu ke rumah sakit yang lebih bagus pelayanannya.
__ADS_1
"Dua hari yang lalu, alat bantu nafas sudah di lepas oleh perawat, "Ungkap Toru basa basi dan Takahiro tidak menanggapi.
"Toru, sebenarnya Riota itu siapa? Darimana asalnya?" Takahiro melirik tajam, nada suaranya tiba tiba menjadi berat.
Toru seperti sedang di interogasi. Dia tak menyangka ini akan berbuntut panjang, itu karena Toru selalu me-reject telepon dari Taka. Untuk mencari informasi sepele seperti itu, seharusnya Taka tak perlu repot-repot menteror Toru setiap hari, sebab itu adalah hal yang mudah dilakukan apalagi oleh para penggiat IT.
"Mengaku saja Toru, kalian berdua pernah menyusup ke rumahku kan?" Taka seperti sedang mendakwa Toru dengan kejam.
"B-ba-bagaimana kau bisa bicara begitu, Paman?!" Toru ternganga.
"Mirrorring screen, memutuskan jaringan internet, serta mengkloning telepon seluler milikku adalah perbuatan kalian, bukan?"
"Apa kalian juga merentas website perusahaan kami?"
"Jika benar, kemenangan kalian di anulir, dan hadiah kalian akan kami tarik kembali dalam keadaan utuh! " ancam Taka.
Toru menelan ludah, sebagian hadiah yang dia dapatkan sudah dipakai untuk modal usaha, renovasi rumah, memberikan kakek gigi palsu, alat bantu dengar dan juga rambut palsu untuk menutupi kepalanya yang botak, beli gadget mahal dan juga foya foya. Mungkin, hanya hadiah Riota saja yang kelihatannya masih banyak. Hadiah mobil miliknya pun sudah dia sewakan ke rental mobil di dekat rumahnya. Keluarga nya memang gemar berhemat.
"Kalian memang genius mengingat usia kalian yang masih sangat muda, tapi perlu kalian ingat, melakukan kejahatan cyber seperti itu bisa membuat kalian dipenjara, lho?"
Benar paman, tapi kau belum tahu bahwa itu diprakarsai oleh anakmu sendiri !
"Benarkah?" Delik Taka tak percaya.
"Saat kalian mematikan server dari pos penjagaan rumahku, maka server yang lain akan otomatis berkoneksi, "
"Benar juga, " sesal Toru. Dia lupa bahwa Takahiro adalah orang kaya dan pintar, yang tidak mungkin kesulitan untuk mendapatkan sinyal WiFi dari server lain. Apalah daya Toru yang miskin kuota internet ini.
"Dan CCTV yang ada di pintu masuk ruang pribadiku tidak akan pernah mati meski jaringan internet atau listrik tidak berfungsi sekalipun,"
"Di sana, tersimpan banyak harta dan data yang menjadi aset berharga bagiku. Jadi, meski pintu itu kalian bobol sekalipun, kalian tidak bisa pergi tanpa meninggalkan jejak,"
" Astaga....aku tidak percaya...." Toru tepok jidat.
"Kami tidak ada niat jahat paman, kami bukan pencuri, " Toru tidak berdaya lagi. Hidupnya mungkin akan berakhir dipenjara atau mau tak mau harus berkata jujur.
"Aku tahu, jika kalian mencuri sesuatu yang ada di dalam, alarm detector tersembunyi di pintu keluar pasti akan berbunyi sebagai peringatan. Semua benda berharga milikku sudah terlindungi oleh sistem sehingga tidak mudah untuk di curi. "
"Meski hanya sebuah buku panduan, hehehehe" Takahiro mulai menikmati permainannya.
__ADS_1
"Awalnya, aku tidak menaruh curiga, tapi Naomi, anak perempuan ku, terus terusan bercerita tentang hantu di rumah kami"
"Hantu yang Naomi lihat ternyata adalah kalian."
Aku ingin mati saja....bibi Yuko pasti akan memakan ku hidup hidup seperti gurita.
"Ini kalian kan?" Toru memperlihatkan layar ponselnya pada Toru. Terpampang wajah Toru dan Riota sedang kabur dari pintu keluar.
"Matilah...aku...." rengek Toru gemetaran.
This is the real end game of my life....
" The Game is over, Toru! "
"Jadi, bisakah kau beritahu aku, apa motif kalian menyusup ke rumahku? Apa yang kalian ingin sampaikan padaku?"
"Itu....Ng....?"
"Apa ya?"
"Mungkin......" Toru gugup ingin menjelaskan dari mana dulu.
"Hei ! Lekas jawab pertanyaan ku ! Apa kau ingin ku laporkan pada polisi?" kecam Taka paling tidak suka bertele - tele.
"Jangan, jangan, jangan, jangan, paman...aku mohon! " Toru berlutut menyembah nyembah memohon ampunan. " Baiklah, aku akan mengatakan yang sejujurnya hiks hiks !"
"Cepat katakan!"
"Aku akan mengatakannya, tapi..."
"Setelah kau berhadapan dengan ibunya Riota lebih dulu hehehehe..." Toru berhasil mengulur ngulur waktu, dia sudah melihat Yuko dari jendela luar rumah sakit saat masih berbicara dengan Taka. Terlambat bagi Taka, Yuko sudah berada ambang pintu.
"Aku pulang dulu, paman! " Toru ambil langkah seribu berhasil meloloskan diri dari Taka dan bersembunyi dibalik tubuh Yuko.
"Bibi, paman itu ingin membawa Riota kabur!" Lapor Toru balik menyerang Taka dengan fitnah keji.
"Apa?!" Taka berhasil dikelabui. Kini, dia harus berhadapan dengan Yuko yang sudah mulai murka.
"The game is not over, paman...." Toru melontar senyum licik lalu melarikan diri membawa rahasia yang masih belum terungkap. Kini, tinggallah Takahiro dan Yuko saling berhadap-hadapan.
__ADS_1