
Takahiro terbenam dalam pelukan mantan kekasihnya. Ini kesekian kalinya Yuko berulah di luar dugaan. Walau sudah berkali kali dia sudah mematahkan hatinya, Takahiro tak bisa bergeming, dia membalas pelukan saat wanita itu hendak melepaskannya.
"Jangan menjauh! biarkan tetap begini, aku tidak mau cepat cepat berakhir!" ucap Takahiro meraih kembali tubuh Yuko dalam dekapan.
Terkadang menyesal tapi mau bagaimana lagi?
Yuko merasa bodoh karena sudah melakukan hal yang berlawanan dengan prinsipnya. Tiba tiba saja dia ingin menenangkan suasana hati pria itu sampai timbul keinginan untuk memeluk seperti waktu dulu saat mereka saling mencurahkan keluh kesahnya bersama sama.
"Jangan salah paham, A-aku hanya..." Yuko tidak bisa bernafas lega, Takahiro merengkuhnya kuat sekali.
"Ya, aku senang sekali kau mengerti perasaanku, " ucap Takahiro terbata bata masih mengatur emosi.
"Percayalah! Aku tidak akan sampai hati membiarkan kalian menderita. " imbuhnya tak mau lepas.
"Ya, anggap saja aku percaya padamu..." Yuko berusaha menjauh. Aroma tubuh Yuko membuat Takahiro sedikit tenang .
Untung saja, ponsel di saku Yuko bergetar dan perlahan Takahiro mau melepaskan. Yuko segera merogoh ponsel itu dan melihat siapa yang telah menghubunginya di layar. Matanya terbelalak melihat sepenggal nama telah menanti suara Yuko untuk segera menjawab.
Astaga! Aku melupakan janjiku pada Takeshi!
"Hallo...." jawab Yuko perlahan lahan berpaling dari Takahiro yang sedang memperhatikan gerak geriknya.
"Maafkan aku Takeshi, sepertinya aku tidak bisa menemui mu sekarang" Takahiro mendengar Yuko menyebut nama Takeshi dan seketika itu dia kecewa.
"Kenapa? kau ada dimana? " Takeshi kecewa, jauh jauh dari Tokyo mendatangi Yuko namun setibanyadi sana ternyata rumah Yuko dalam keadaan kosong.
"Ah..aku... sedang dalam perjalanan" Jawab Yuko tersendat sendat. Wajahnya terlihat gugup melirik lirik pada Takahiro yang sedang duduk menunggu.
"Sampai dimana? aku jemput ya?
"Ng, aku, aku sedang menemui seseorang..." Yuko bimbang ingin jujur atau terus berbohong.
"Siapa? "
"........" Yuko bergeming.
"Yuko, aku akan menelpon mu lagi"
__ADS_1
Tut ... Tut ..Tut..
Yuko menghembuskan nafas panjang, Takeshi mengirimi pesan singkat karena rumah Yuko kedatangan tamu yang belum Takeshi kenal sebelumnya.
***
"Paman, apa kau sedang mencari seseorang?" Takeshi dikejutkan oleh kedatangan seorang pria paruh baya di rumah Yuko. Takeshi memperhatikan pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Apa Yuko dan anaknya ada di rumah?" jawab Pria itu melongok ke arah pintu rumah dan lampu teras yang lupa dinyalakan.
"Oh, mereka kebetulan sedang pergi mungkin sebentar lagi akan kembali,
"Ngomong ngomong, paman ini siapa ya kalau boleh tahu?" Tanya Takeshi menyipitkan mata merasa baru kali ini melihat pria bertopi memakai setelan jaket dan celana lusuh seperti seorang pelancong tersesat.
"Apa kau sudah tidak apa apa, Nak? Malam itu kau babak belur dipukuli oleh pria yang ingin membunuh Yuko kan?" Pria itu malah balik bertanya, dia melihat luka Takeshi sudah memudar.
"Hah? J-jadi kau yang telah memukul Takahiro sampai pingsan, paman? " Mata nya membulat waktu pria itu mengangguk perlahan membernarkan.
"Maaf, aku pikir dia orang jahat, makanya aku nekat melumpuhkannya, "
"Sebenarnya aku kesini ingin bertemu dengan Yuko dan anaknya, sekaligus memastikan sesuatu.." gumamnya lirih karena merasa sungkan.
"Apa dia pria yang aku pukul waktu itu?" Tanya pria itu penasaran.
Koran pagi ini memuat berita perihal Takahiro dan Personal Tech. Takeshi sudah mengetahui itu dari media online.
"Benar, " ucapnya melirik gambar Takahiro terpampang di headline. Takeshi curiga jangan jangan Yuko pergi menemui pria itu karena kebetulan dia mengetahui Toru pergi bersama Riota ke Tokyo dari kemarin pagi.
"J-ja-di, dia ayah dari anak Yuko?" dia menelan ludah, pria kaya itu memberikan Yuko keturunan.
Sehari setelah peristiwa pemukulan, polisi mendatangi rumahnya atas laporan seseorang yang bernama Kenji. Dia ketakutan jika harus menghabiskan sisa hidupnya di penjara.
Namun, belum sempat dia memberikan keterangan lebih lanjut. Dia dibebaskan di hari yang sama karena tiba tiba saja Kenji mencabut laporannya karena pelapor sudah memaafkannya via telepon.
"Paman, namaku Takahiro Hiroki, temui aku jika kau berada dalam kesulitan." Itulah kata kata terakhir yang dia dengar sebelum sambungan telepon di putus.
Kenji sempat memberikan kartu nama padanya. Lalu, tanpa sengaja kartu nama itu terendam air bersama cucian baju hingga hancur tak bersisa. Untuk itu, dia memberanikan diri datang ke sini sekali lagi, dengan maksud mencari informasi dimana keberadaan Takahiro pada Yuko.
__ADS_1
"Sebenarnya paman ini siapa? Ada perlu apa malam malam datang kesini?" Cecar Takeshi terlanjur berburuk sangka. Jangan jangan pria ini adalah orang suruhan entah Natsuki atau Kiyoshi.
"Namaku Harumi Tadashi .." ucapnya singkat. Sontak membuat Takeshi bingung.
***
Yuko sudah tidak bisa berlama-lama lagi berada di Tokyo. Dia harus segera kembali sebelum gelap, dia akan pulang naik kereta menyusul Takeshi. Selain itu, Takeshi sedang menerima tamu Yuko sambil menunggunya pulang.
"Aku harus kembali, membawa anak anak, besok aku harus bekerja,"
"Terimakasih untuk hari ini. " Yuko membungkuk memberi salam perpisahan berjalan terburu buru menghampiri anak anak. Takahiro mengekor pada Yuko bermaksud ingin minta penjelasan lebih lanjut atas apa yang telah mereka bicarakan panjang lebar. Pembicaraan itu masih terasa mengganjal di hatinya. Susah payah mengejar, akhirnya Takahiro bisa menangkap tangan Yuko.
"Ada apa?" Yuko berubah ke sikapnya yang semula. Dalam sekejap tangan Yuko lepas dari pegangan Takahiro.
"Tetap di sini..." gumam Takahiro gamang, berharap Yuko tetap bersamanya meskipun di sana telah ada Takeshi sedang menunggunya.
"Jangan berharap lebih, kita tidak bisa seperti dulu lagi, " ucap Yuko mempercepat langkahnya. Dia semakin dekat dengan Riota dan Toru.
"Yuko, apa kau mencintai Takeshi?" hadang Takahiro di depan pintu. Takahiro harus memastikan perasaan itu saat ini juga, mungkin ini terlalu terburu-buru, namun setidaknya jawaban Yuko bisa membuat dia tidur nyenyak malam ini.
"Cinta atau tidak, itu bukan urusanmu!" tegas Yuko sebelum masuk kedai. Takahiro tertunduk lesu, Yuko membuat harapannya luntur lagi.
"Aku sudah bicara dengan ayahmu, kami baik baik saja sekarang " ucap Yuko mengemasi barang-barang yang dititipkan pada mereka.
"Benarkah? " Riota mengerjap senang ketika melihat Takahiro tersenyum padanya. Riota memang tidak tahu bagaimana detailnya, tapi senyum ayahnya itu mengisyaratkan bahwasanya mereka sudah berbaikan.
"Ya Nak, kalian pulanglah. Bukankah kalian sekolah besok?" ucap Takahiro santai walau hati berat berpisah lagi dengan jagoan kecilnya. Satu satunya keturunannya yang masih hidup.
"Ya, tapi bolehkah aku mengunjungi ayah di sini, Ibu?" Pinta Riota merasa perlu menemani Takahiro yang kini hidup sendiri. Yuko mengiyakan saja demi mempersingkat waktu. Teleponnya bergetar, Takeshi menelepon lagi.
"Ya Takeshi, siapa yang datang? Aku di Tokyo. " Ucap Yuko akhirnya jujur. Riota dan Toru kompak melirik Takahiro. Untuk urusan hati, Takahiro tidak bisa menampik dirinya sedang dibakar api cemburu.
"Yuko, segeralah kemari, ini mendesak!" Takeshi terdengar sedang mencemaskan sesuatu.
"Apa yang terjadi?" Yuko terhenyak setelah pertanyaannya itu mendapat jawaban.
"Seseorang datang mengaku ngaku bahwa dia adalah ayahmu." Ungkap Takeshi dengan nada tidak percaya.
__ADS_1
***