Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Rollercoaster Kehidupan


__ADS_3

"Kalian tidak naik?" Ucap Taka saat akan mengantri dengan Yuko. Riota dan Toru sengaja memisahkan diri dari balik pagar pembatas.


"Kami menilai kalian dari bawah, lagi pula umur dan tinggi badanku masih kurang beberapa inchi.." gumam Riota, padahal tinggi badannya sudah lebih dari cukup, terlebih Toru. Hanya saja Toru takut ketinggian.


"Lalu kau, Toru?" tegur Yuko, berharap bisa duduk bersebelahan dengan Riota atau Toru asal bukan dengan Taka.


"Tidak Bi, aku ikut dengan Riota saja" Toru menjauhi arena karena menghalangi pengunjung lain yang hendak mengantri. Riota menyusul Toru ke belakang meninggalkan Yuko dan Taka yang sudah masuk antrian.


"Apa kau tidak salah memilih, Riota?" Desis Toru, merasa prihatin akan nasib kedua orang dewasa itu. Riota diam saja namun sempat tersenyum jahil melihat orang tuanya melangkah maju sedikit demi sedikit.


"Hanya karena memperebutkan mu, orang tuamu sampai begitu.." lanjut Toru bergumam.


"Setidaknya mereka berdua bisa punya waktu lebih lama di sini, " Kata Riota menaikkan dua alis matanya yang hanya segaris jika sedang tertawa.


"Kau tahu? Ini adalah pemandangan sangat langka dalam hidupku, Toru" Ungkapnya datar.


Toru mengerti, susah payah proses yang telah mereka lalui, hari ini adalah wujud dari kerja kerasnya dengan Riota. Toru sengaja mengabadikan momen-momen tersebut dengan mengambil gambar dari kamera ponsel.


"Hoiii...paman bibi! berbalik lah!" Pekik Toru dengan cepat membidik mereka dalam satu foto yang hasilnya tidak karu karuan. Itu karena Yuko selalu menutup nutupi wajah nya seperti buronan polisi.


"Sudahlah ! Kau tidak akan bisa mengambil foto mereka secara benar, Toru! " Ujar Riota putus asa. Ibunya paling tidak suka difoto kecuali jika terpaksa.


Sementara di tengah tengah antrian, Yuko dan Taka saling mendiamkan. Mereka semakin dekat dengan wahana karena pengunjung taman hiburan di hari kerja jumlahnya sedikit dibandingkan di akhir pekan. Yang mengantri di depan dan belakang mereka adalah pasangan pasangan muda yang tak malu malu menunjukkan kemesraan di depan umum.


"Ck! aku muak melihat pasangan norak ..."celetuk Yuko lirih, namun dapat didengar dengan jelas oleh Taka. Secepat kilat Taka memperhatikan pengantri yang sedang berpegangan tangan bahkan berpelukan mesra.


"Apa kau tidak ingat? Kita pernah bertingkah seperti itu kan?" ledek Taka senyum senyum. Yuko malah semakin muak ada orang yang selalu mengungkit di sebelahnya. Dipikir-pikir, Yuko terkadang menyesal bisa berpacaran dengan makhluk menyebalkan seperti Taka.


"Kau bahkan nekat mencium ku di keramaian kan?!" Taka makin gencar membuat Yuko salah tingkah. Otaknya dipaksa memuntahkan segala macam kenangan indah yang pernah dilalui oleh mantan kekasihnya.


Saat masih berpacaran,Yuko adalah wanita yang agresif untuk Taka yang sangat pendiam dan kaku. Bahkan Yuko selalu menyentuh, memeluk, menggandeng kekasihnya dengan bangga dihadapan wanita wanita yang terpesona dengan ketampanan Takahiro.

__ADS_1


Ide kencan ke taman hiburan awalnya adalah insiatif Yuko sendiri. Yuko prihatin dengan kekasih nya yang 1x24 selalu bekerja berada di depan komputer. Waktu itu, Takahiro sedang habis habisan menggarap pengajuan tender yang ujung ujungnya ternyata ditolak oleh pemerintah.


"STOP !!" sergah Yuko marah karena merasa tidak nyaman mengingat adegan romantis mereka saat berkencan tempo dulu.


"Aku yang dulu, berbeda dengan yang sekarang! " tegasnya buang muka. Tanpa sadar hentakannya kini membuat semua orang yang ada di situ menoleh karena terganggu.


" M-Maaf, Maaf" ucap Yuko dan Takahiro pada orang orang itu.


"Apa sebaiknya kita tidak perlu naik? Hal ini bisa dibicarakan baik baik kan?" ucap Takahiro, bermaksud untuk mengurungkan niat. Dia merasa cemas jika harus menaiki wahana itu dengan Yuko.


"Kenapa? Kau takut?" ledek Yuko besar kepala.


" Jangan pernah berani lagi mengungkit ungkit yang telah lama berlalu!" lanjutnya dengan nada mengancam.


Taka sadar, dia telah berlebihan mengungkit ungkit masa lalu. Asal Yuko tahu, Yuko adalah orang yang selalu membuat dia tertawa saat sedang jatuh yang tak tahu kapan bisa bangkit kembali. Berharap seperti dulu, Taka menginginkan wanita itu dapat berada di sisinya melalui hari hari buruk bersama setelah sederet masalah hidup yang sedang dia alami sekarang. Terlebih kini Riota telah hadir di tengah tengah mereka.


"Mungkinkah kalian bisa tinggal disini? bersamaku ?" Takahiro mengeluh pelan, sedang Yuko berpura pura tidak mendengarkan bergerak begitu saja mengikuti langkah pengunjung yang ada di depannya.


Demi putranya, Yuko memberanikan diri untuk melawan rasa takut. Rasa takut itu tidak ada apa apanya dibandingkan rasa takut akan kehilangan anak semata wayangnya. Yuko mulai melangkah, walau dia tidak menjamin dapat melewati tantangan ini dengan apik.


Taka sudah tidak tahan lagi, dia tidak bisa membiarkan Yuko menang. Namun, karena cintanya lebih besar daripada ego, Taka menarik tangan Yuko dan membelit pinggul wanita itu --dengan satu tangan yang lain--mencegah agar dia tidak perlu memaksakan diri.


"Ayo kita pergi ! " Taka membelah antrian dibelakang mereka, meminta izin agar pengunjung lain memberi jalan.


"Lebih baik aku mengalah , daripada membuat mu menderita," ucap Takahiro sebelum membawa Yuko pergi. Yuko yang sudah pucat gemetaran pasrah mengikuti kemana Taka membawa.


Riota menyaksikan itu dengan penuh rasa haru. Riota sepenuhnya tahu bahwa Yuko itu tidak berani naik rollercoaster, semalam Takahiro tidak sadar bahwa dia telah bercerita banyak tentang ibunya, termasuk perihal tersebut.


Riota kekeuh ingin sekali diajak pergi ke taman hiburan oleh ayahnya. Semua skenario itu sudah dia siapkan demi bisa melihat kedua orangtuanya bersama. Selain itu, Riota ingin Takahiro memenangkan pertandingan, walau usahanya kini sia sia karena ayahnya sudah menyadarinya lebih dulu.


Takahiro membawa Yuko pada Riota. Mereka tidak bisa melanjutkan pertandingan dan memilih untuk bicara baik baik. Yuko melepaskan genggaman tangan Taka di depan anaknya.

__ADS_1


"Maaf Nak, ayah tidak bisa melanjutkannya" ucap Takahiro sambil menatap ke arah Yuko.


"Jadi ayah menyerah?" Tanya Riota resah. Melihat kondisi ayahnya, Riota ingin sekali menemani setidaknya sampai beberapa hari ke depan. Dibalik senyuman itu, Riota tahu ayahnya tidak sedang baik baik saja. Dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Taka pasti butuh dukungan dari orang orang yang dia kasihi.


"Ya nak, aku serahkan kau pada ibumu, " Senyum palsu Taka terlihat menganggu bagi semua yang melihatnya. Riota lemas, pupus sudah harapan.


"Kau akan lebih baik bersamanya, " sambungnya berlutut bicara pada Riota yang mulai terisak. Cara mereka menangis ternyata sama di mata Yuko. Pemandangan yang sangat mengharukan khususnya untuk Toru, seolah tidak rela Riota berpisah lagi dengan ayahnya.


"Jagalah ibumu baik baik, ini perintah! " Taka tersenyum mengacak acak lembut rambut Riota yang warnanya mirip dengan milik Yuko.


"T-tapi ayah ..."


"Ssstttt..."


"Aku yakin kau adalah anak paling pengertian yang selalu ayah banggakan ! " bisik Takahiro pada telinga kecil Riota.


"Kau anak genius, kelak kita akan menciptakan teknologi yang bisa membuat kita bisa saling terhubung setiap waktu, " Takahiro berusaha menenangkan. Selain mengandalkan teknologi, apa lagi yang bisa menghubungkan mereka ketika jarak menjadi sebuah penghalang.


"Tatap muka adalah hal yang paling berkesan daripada teknologi virtual apapun ayah .." gurau anak kecil yang harus pasrah menerima takdir.


"........" Yuko tertegun melihat ayah dan anak itu berpelukan erat sampai tidak terlepas selama beberapa menit .


"Bi? Apa kau tidak tersentuh walau cuma sedikit ?" tegur Toru ikut ikutan membela.


Yuko masih belum merespon. Akan tetapi , hatinya saat ini seperti sedang dicongkel, ada celah kosong yang membuat pertahanannya lemah. Dua pria itu berhasil melumatkan dinding hati yang sudah lama membeku.


"Hei kalian! " panggil Yuko. Taka dan Riota melepas peluk dan menoleh pada perempuan yang sangat berpengaruh bagi hidup mereka.


" Tunggu sebentar Bu! aku belum selesai bicara pada ayah! " sambil sesenggukan, Riota mengomel karena tidak suka di ajak buru-buru.


"Ada apa, Yuko?" Takahiro mendelik sayu, mungkin sudah waktunya mereka berpisah.

__ADS_1


"Tidak, hanya saja...aku ingin naik itu lagi bersama sama " kata Yuko menunjuk ke arah bianglala.


__ADS_2