
"Apa ini rumah pacarmu? "Eriko bertanya sambil menyapu ruang tengah, rumah itu agak sedikit berdebu walau katanya sudah dibersihkan sehari sebelum ditempati.
Eriko menyembunyikan rasa gugupnya karena baru saja mengintip pasangan itu berpelukan di depan. Bahkan si pria hendak mencium, jika si wanita tidak langsung sigap menghindar. Takeshi harus menerima nasib, bahwa tiang pondasi lebih sudi dicium olehnya daripada wanita pujaan.
Yuko menyembunyikan rasa gugupnya. Takeshi tidak pernah berhenti mendapatkan perhatian Yuko. Selama ini Yuko belum siap menjalani hubungan baru dengan pria manapun.
"Dia bukan pacar , dan rumah ini adalah milik...." Yuko berhenti untuk menjelaskan.
"Miliku." lanjut Yuko sesingkat-singkatnya, dia beralih membongkar isi tas besarnya lalu mengeluarkannya satu per satu.
"Oh begitu, aku pikir kalian akan tinggal bersama sebagai sepasang kekasih, hehehe" Untungnya Eriko lekas percaya. Tak disangka sangka ternyata Yuko selama ini sedang dekat dengan pria tampan dan keren seperti Takeshi.
Yuko enggan membahas Takeshi terlebih Takahiro. Dua pria tersebut seakan akan menambah beban pikirannya saat ini.
"Sudah ku bilang dia bukan pacar!" tampik Yuko sambil menatap layar ponselnya yang baru saja menerima pesan masuk.
Wajah lelah Yuko tidak bisa disembunyikan. Sambil menatap layar ponsel, dia sangat merindukan buah hatinya. Riota adalah satu satunya alasan dia bertahan hidup berdampingan dengan serentetan masalah ekonomi dan keluarga.
" Berisitirahat lah Yuko, besok kita harus terlihat fit dan segar dihadapan perekrut, " Saran Eriko, memecahkan lamunan Yuko.
Yuko baru saja menerima pesan singkat, yang pertama dari Riota dan yang kedua dari Ruri. Rencananya, lusa esok Ruri akan mengunjunginya. Sendirian. Ruri dipaksa bersumpah demi langit dan bumi, agar tidak membawa Takahiro turut serta bersamanya ke sini.
"Terimakasih, tapi barang barang ini harus aku rapihkan sebelum itu." Yuko lanjut membereskan bawaannya yang sedikit itu.
"Kau terlihat cemas Yuko, ada apa?" Eriko kembali melayangkan pertanyaan. Yuko bergeming, ada satu hal yang belum dia sampaikan pada Eriko mengenai rumah ini.
"Eriko, mungkin setelah kira mendapatkan pekerjaan, kita akan sewa tempat tinggal saja." jawab Yuko berterus terang.
"Ini bukan rumahku, maksudku, ini adalah pemberian seseorang tapi aku menolak untuk menerimanya. "
Eriko awalnya bingung, tapi tinggal dimana pun bukanlah suatu masalah untuk dirinya. Eriko bisa memakluminya. Yuko jelas sekali sedang banyak pikiran dan tidak sedang baik baik saja.
Yuko adalah pribadi yang tertutup, segalanya dia kerjakan secara mandiri. Membutuhkan pertolongan orang lain adalah jalan terakhir yang dia lakukan saat benar benar terdesak, termasuk keinginan untuk pergi bekerja ke Tokyo meninggalkan anak semata wayangnya di desa.
"Aku kira kau adalah wanita paling tegar yang pernah aku temui. Menerima cercaan dan gosip miring dari tetangga adalah kekuatan super yang kau miliki hehehehe." Eriko berkelakar agar suasana menjadi rileks. Yuko pun akhirnya menunjukkan senyuman mahalnya.
__ADS_1
"Ceritakan saja apa kesulitanmu Yuko, itu akan sangat membantu melepaskan hormon stress yang tertumpuk." Eriko memposisikan duduknya sejajar dengan Yuko.
"Talk Is Cheap, Yuko." rayu Eriko menyinggung bahu Yuko agar lekas bicara.
Eriko prihatin, Yuko pasti merasa tertekan. Tapi, dia tidak bisa begitu saja mengekspresikan kesedihannya secara ekslusif pada orang lain. Sebab, Yuko bukan pribadi yang mudah percaya dengan orang lain.
"Aku hanya merindukan anakku.." gumam Yuko kemudian. Wajahnya memancarkan kerinduan yang mendalam.
"Anak itu menginginkan ayah, " Yuko mulai berani buka suara. Dia ingin cerita pada Eriko mengenai hal ini. Dari sudut pandang seorang anak yang tidak punya ayah, sepertinya Eriko bisa memahami perasaan Riota. Terlebih dia jauh lebih dewasa daripada anaknya.
"Bukankah pria itu mengajakmu untuk menikah?" Eriko memberikan tatapan menggoda. Eriko berharap Yuko segera menemukan laki laki yang tepat yang bisa melindungi harga dirinya.
"Astaga Eriko! Jangan bilang kau juga melihat kami.... aduh !" Yuko tepuk jidat. Bibirnya seketika mengerucut sambil mendengus kasar. Yuko merasa canggung dan malu akan tingkah Takeshi tadi. Padahal dulu Yuko adalah perempuan yang sangat senang bermain cinta.
"Ya aku lihat, mata dan telinga ku masih sangat normal." Akunya tanpa dosa. Eriko menyeringai malu malu seakan dia adalah wanita yang akan diajak menikah.
"Sekali lagi kau ketahuan menguping apalagi mengintip, aku akan mendorong mu ke jurang, Eriko!" Yuko berdecak kesal, namun itu tidak membuat Eriko merasa terusik sama sekali.
"A- aku tak tahu harus jawab apa." imbuh Yuko lirih.
"Sudahlah, jangan menyembunyikan perasaanmu, Yuko." Ledek Eriko melontarkan senyum nakal. Dia tahu, Yuko pasti merasa kesepian karena telah lama menjadi orang tua tunggal.
"Entahlah, tapi dia pria baik. Dia sangat menyayangi Riota."
"Lantas? Apa yang membuatmu terlihat gelisah sekarang? Bukankah itu bagus? " Eriko bingung. Seperti ada celah yang membuat Yuko sampai sedemikian rupa.
"Ng..itu. Ya, aku akan mempertimbangkannya lagi." jawab Yuko terbata bata. Pikirannya sudah bercabang cabang hanya karena Ruri ingin menemuinya.
"Baik lah, semua keputusan ada ditanganmu, tapi.."
"Hidup tanpa pria bukan hal yang mudah dilalui, lagi pula Riota masih butuh sosok seorang ayah untuk melindungi dan bertanggung jawab atas dirinya, " ucap Eriko bijaksana.
"Ya, aku tahu. Riota adalah prioritas ku. " gumam Yuko merunduk. Apa yang dikatakan Eriko sebelumnya sudah tertanam dihatinya. Hanya saja, Yuko belum yakin akan perasaannya.
"Ikuti saja apa kata hatimu, jangan pernah menampik atau melawan. Sebab, jika kau tidak bahagia, Riota pun akan merasakan perasaan yang sama. " Pungkas Eriko lanjut berdiri.
__ADS_1
Ungkapan Eriko tidak ditanggapi lagi olehnya. Yuko tahu apa yang Erko katakan tidak salah. Cukup dengan mengangguk perlahan, Eriko tahu Yuko pasti sudah memahami saran saran darinya.
Eriko melenggang menuju kamar mandi dengan handuk menggantung di leher. Belum lima langkah terlampaui, Eriko terpaksa balik lagi karena lupa membawa peralatan mandi.
Eriko terpaksa meminjam peralatan mandi milik Yuko. Selagi Yuko mengambilnya dari tas, Eriko menilik layar ponsel Yuko yang masih menyala. Mata jahil Eriko tidak bisa menahan nahan rasa ingin tahunya.
Meski sudah diperingatkan, Eriko sudah melihat siapa orang orang yang terpampang pada layar. Dia melihat dua anak yang salahnya ada Riota. Fokusnya lanjut menelisik siapa pria dewasa yang berada diapit dua anak itu. Eriko hanya bisa menebak bahwa foto itu diambil dari sebuah taman hiburan.
***
Keesokan harinya..
Hari ini, Yuko dan Eriko akan pergi ke beberapa tempat untuk melakukan wawancara kerja, pagi pagi mereka sudah berangkat dengan transportasi umum. Mereka harus tiba paling tidak tiga puluh menit sebelum jadwal yang telah dijanjikan.
Perjalanan mereka yang semula lancar menjadi terhambat karena tiba tiba saja ada pria pingsan dihadapan mereka. Pria itu tertabrak mobil yang dengan sengaja menerobos lampu merah.
"Astaga! Apa itu masih hidup?!" Eriko mengerjap ketakutan melihat sesosok tubuh tergeletak dipinggir jalan. Yuko bergegas memeriksa keadaan pria muda itu dan meminta Eriko untuk mencari bantuan.
"Bertahanlah! Bantuan akan segera datang." Ucap Yuko tidak berani mengubah posisi si korban tabrak lari tersebut. Dia lebih memilih mendampingi pria tadi sambil menunggu ambulans datang.
"Yuko, apa sebaiknya kita tidak pergi saja? Kita bisa terlambat." Ajak Eriko karena jadwal mereka untuk wawancara sudah hampir tiba. Lagipula, sudah ada polisi yang mengamankan keadaan.
Yuko masih belum merespon, walau banyak sudah darah mengucur dari dahi, wajah pria ini familiar sekali dimata Yuko. Mereka sempat bertemu beberapa waktu yang lalu.
"Eriko, kau hampir terlambat. Pergilah sana!" Yuko malah menyuruh rekannya untuk tetap mengikuti wawancara kerja.
"Aku akan mendampingi pria ini ke rumah sakit." Yuk bertahan disitu menjaga pria itu sampai dia benar benar mendapat perawatan.
"Ha?"
"Tapi Yuko, sebentar lagi ambulans akan datang, pria itu akan baik baik saja sekarang! " Eriko bersikeras mengajak Yuko pergi walau Yuko tetap tidak mau beranjak dari tempatnya.
"Eriko, aku kenal siapa orang ini.." gumam Yuko mengamati lekuk wajah sang pria. Eriko terkejut, ingin tahu siapa sebenarnya pria ini.
"Siapa dia?" tanya Eriko penasaran.
__ADS_1
"Dia adalah teman dari ayah Riota" jawab Yuko ragu ragu. Yuko mengenali wajahnya namun tidak dengan namanya. Sebelumnya, Toru mungkin pernah memberitahu nama pria itu namun Yuko sudah terlanjur waktu itu Yuko sudah terlanjur kesal dengan Takahiro begitu pula dengan orang-orang suruhannya.
Pria itu sempat mendatangi rumah nya beberapa waktu yang lalu. Dia datang untuk menjemput Takahiro saat dia sedang dalam keadaan terluka. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Kenji.