Anak Genius : Wanita Tanpa Pria

Anak Genius : Wanita Tanpa Pria
Lingkaran Setan


__ADS_3

"Kenapa? Kau tidak mau tidur denganku ?"


Natsuki masih bergeming. Matanya lincah melirik kanan kiri karena gugup, dia mau, namun agak risih jika harus meladeni Takahiro dengan sikapnya yang aneh seperti itu.


"Ayo buka pakaianku seperti malam itu." Desak Takahiro mulai membuka kancing kerah baju walau tak sampai habis.


Bukannya sigap membantu, Natsuki malah dibuat kebingungan. Selama menikah Takahiro hampir tidak pernah meminta duluan untuk berhubungan suami istri.


"Aku masih belum paham, mengapa tiba tiba kau ingin bercinta?" Natsuki mengulu.m bibirnya sendiri. Dia ragu mengatakan bahwa Takahiro benar benar tidak serius menginginkannya.


"Aku ini masih suamimu, kan? Kau masih mencintaiku kan?" Takahiro terus mendesak Natsuki agar mau melayaninya. Dia sadar selama ini dia telah membiarkan Natsuki tidur sendirian karena sering menginap di kantor.


"Iya aku mencintaimu, tapi..."


"Tapi? Apa aku sudah tidak sesuai dengan ekspektasi mu sekarang?" Takahiro lanjut membuka ikat pinggang, melemparkan benda bermotif LV itu ke ranjang.


"Bukan begitu ! kau terlihat arogan ! Ini tidak seperti dirimu, Taka! " sergah Natsuki mengelak saat tangan Takahiro membimbing tangannya untuk menyentuh tubuh pria maskulin ini.


"Aku atau bukan aku sama saja kan? Kau hanya ingin tubuhku saja kan? Ayo lakukan! Aku rela meladenimu sampai pagi!"


" Dengan begitu, kau bisa menilai siapa yang lebih gagah antara aku atau selingkuhanmu itu!" Sentaknya, mengguncang bahu Natsuki dengan kedua tangan.


Natsuki tidak menyangka kata kata itu keluar dari mulut suaminya. Dia merasa sedang dilecehkan dan langsung saja menampar Takahiro dengan keras.


Dalam sekejap Takahiro berhenti bicara, suasana kamar menjadi hening.


"Tega sekali kau berkata begitu padaku!" Natsuki mulai terisak. Derai air mata sudah tidak bisa lagi di tampung dalam kelopak. "Itu pelecehan! Hiks!"


"Apa kau tidak sadar, bahwa dengan melakukan perbuatan itu yang telah melecehkan dirimu sendiri?"


"Selingkuh dengan sahabatku hingga menutupi kebohongan selama bertahun-tahun, apa itu tidak membuat hidupku hancur?"


"Ampuni aku Taka! Aku sudah melewati batas kesanggupanku untuk setia, berikan aku satu kali kesempatan untuk memperbaikinya! " Natsuki berlari mendekap Takahiro lagi dari belakang. Dia tak mau membiarkan pria itu melepaskan tubuhnya lagi melekat pada punggung Taka yang hangat dan nyaman dihirup.


"Kenapa hanya aku saja yang disalahkan, Taka !"


"Selama ini, aku menderita tiap kali kau menghindar untuk melakukan kontak fisik denganku! "

__ADS_1


"Entah itu hanya pegangan tangan, rangkulan bahkan ciuman sekalipun kau tidak mau membalasnya!" Rengek Natsuki belum selesai sampai di situ.


"Tiap kali ada kesempatan untuk tidur se ranjang kau selalu terburu-buru untuk menyelesaikannya. Setelah itu, kau lebih nyaman tidur di lantai dari pada berbaring dengan istrimu sendiri." Ungkap Natsuki membeberkan sebagian kecil keluh kesahnya yang sudah menggunung.


"Kau tahu aku dengan segala kekuranganku kan? "


"Kau juga tahu aku sangat berdedikasi dengan pekerjaanku sebelum aku bertemu denganmu, kenapa tidak mundur saja jika kau tak mampu menerima?"


"I-i-itu..." Natsuki dibuat linglung. Sejatinya dia hanya terpukau oleh bagian luar Takahiro saja bukan dari dalam kepribadiannya. Takahiro tampan, cerdas dan dermawan. Ada perasaan bangga kala Natsuki bisa menjadi pendamping hidupnya. Ayah dan Kakaknya pun ternyata punya kepentingan dari pernikahan tersebut.


"Aku akan mengampuni kalian atas perselingkuhan ini, " ucap Takahiro berhenti membelakangi Natsuki lalu menatapnya tajam.


"Tapi menyingkirkan Yuko dan anakku ?! Itu sama sekali tidak bisa dimaafkan!" Bentak Takahiro mendorong Natsuki bahkan hampir ingin mencengkeram leher wanita itu jika bukan karena iba melihat raut wajah yang sudah ketakutan.


" Aku mengundangmu kesini, untuk membuatmu mengaku dan menceritakan sejelas-jelasnya padaku, apa yang telah kalian perbuat pada mereka! " jelasnya beralih duduk di sofa. Natsuki lemas, duduk bersimpuh beralasan karpet persis di muka ranjang.


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini sebelum aku mengizinkannya!"


"Hah?" Natsuki bergumam pelan dengan tatapan kosong.


"Aku tidak tahu apa apa, perihal pembunuhan yang dikatakan Kiyoshi"


"Sayangnya, aku sudah tidak lagi mempercayaimu, Natsuki! " Takahiro menyatukan jari jari tangannya untuk menopang dagunya yang lancip. Dia sedang menginterogasi istrinya sebagai seorang tersangka kejahatan.


"Kalau kau sudah tidak percaya, untuk apa kau repot repot mendesak aku untuk bicara?! Kau cerdas, tapi gampang dibodohi orang lain!" sindir Natsuki balas mencerca.


"Kiyoshi sudah menutup semua akses untuk aku bertemu dengannya!" sahut Takahiro mengerang kesal.


"Sebelum kau melakukan hal yang serupa, aku harus bergerak cepat agar kau tidak lari dari tanggung jawab!"


"Aku dengar dari anakku, kau datang untuk menyuruh mereka pergi meninggalkan Tokyo bukan?!" Cecar Takahiro berupaya memaksa Natsuki lekas masuk pada inti pembicaraan.


"Ya benar! Aku memang datang menemui mereka! Aku muak karena lagi lagi mereka merebut perhatianmu. Sebanyak apapun uang yang aku beri, mereka tidak goyah juga ternyata!" Ungkap Natsuki jujur jika sudah terpojok.


"Dulu, aku frustasi karena wanita itu telah merebutmu dariku. Aku sudah payah setia padamu, tapi kau malah berkhianat!


"Tak sampai disitu, kau malah memutuskan pertunangan hanya karena wanita itu telah berhasil membuatmu tidur nyenyak di ranjang?" .

__ADS_1


"Apa bagusnya wanita murahan itu? "


"Dia hanya dijadikanmu objek halusinasi saja!"


"Dia sudah banyak berhubungan dengan laki laki layaknya pelacoer!"


"Cukup!" Sanggah Takahiro geram. Urat dahinya keluar, dia marah. Natsuki telah menghina ibu dari anak kandungnya.


"Apa kau buta? lebih memilih sampah ketimbang berlian?"


"Natsuki!" teriaknya murka, tapi Natsuki tetap lanjut menuduh Yuko yang tidak-tidak.


"Setelah dapat perhatianmu, wanita tak tahu malu itu datang ke rumahmu meminta pertanggungjawaban atas pengkhianatan yang kalian lakukan padaku?"


"Aku bukan dewa, Taka! Aku manusia ! Aku sakit hati!" Natsuki melontarkan curahan hatinya meledak ledak sampai alat penyadap itu bisa merekam pembicaraan mereka dengan jelas dari dalam tas milik Natsuki.


"Ya, kau benar. Tapi membalas sakit hati dengan cara yang tidak baik itu tidak bisa dibenarkan sama sekali. Siapa orang yang menyuruh orang-orang itu melukai Yuko?! "


"Jika kau tidak mengatakannya sekarang, maka aku akan membawa kasus ini ke ranah hukum! "


"Aku tidak tahu menahu, karena, aku hampir saja bunuh diri jika Kiyoshi dan Kakakku tidak menjanjikan aku untuk mendapatkan mu, apapun caranya!".


"Yaitu, dengan cara meminta pertanggungjawabanmu karena telah merenggut keperawananku! " Pungkasnya mengaku bahwa insiden yang terjadi di hotel ini beberapa tahun yang lalu adalah berkat campur tangan Kiyoshi dan Tomoya. Takahiro langsung berdiri tegas mengerutkan dahi karena semua ini telah direncanakan dengan sedemikian rupa. Semata mata untuk menjebaknya masuk dalam lingkaran setan.


Brengsek!


Takahiro tidak bisa mencegah wanita itu berjalan keluar meninggalkan kamar hotel. Sambil menangis, Natsuki menyusuri jalan keluar gedung hotel kembali pulang.


Takahiro sudah tidak berdaya lagi saat ini. Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan akses bertemu dengan dua terduga pelaku lainnya?


"Tomoya?" desis Takahiro. "Kiyoshi?"


Menyebutkan namanya saja Takahiro benci, apalagi saat wajah mereka terngiang-ngiang dalam alam bawah sadarnya.


"Aaaarrrghhh! " Dia memukul kepalanya sendiri, merasakan bodoh menaruh kepercayaan pada pengkhianat itu.


Saat ini Takahiro sudah tidak punya power untuk mendesak orang orang itu untuk terus terang. Terlebih Tomoya. Orang yang selalu memaksa Takahiro berbagi saham Personal Tech juga melakukan praktek bisnis kotor yang tidak ada dalam kamusnya selama ini. Takahiro menyadari, Personal Tech menjadi satu satunya alasan mereka menjerat dirinya hingga hingga tumbang seperti sekarang.

__ADS_1


__ADS_2